(Episode
6)
TEMAN
SEKOLAH
Jonas
melangkahkan kaki memasuki gerbang sekolah YeSKu. Memang ia cukup melangkahkan
kaki untuk tiba ke sekolah. Mengingat jarak dari rumahnya ke sekolah sangat
dekat. Itu juga yang menjadi alasan mama Jonas untuk menyekolahkan anaknya di
sana. Tujuannya hanya satu yaitu untuk menghemat ongkos transport. Karena
suasana hatinya sedang riang, ia melangkah ringan memasuki kelasnya. Ia pun
menaruh tas dan kemudian duduk di bangkunya.
“Hai
Jonas!” Anton salah seorang teman sekelas menyapanya.
Anton
inilah yang ditelpon Yakob untuk berteman dengannya.
“Eh…Hai…” Jonas
membalas. Agak terkejut karena biasanya jarang ada yang menegur dirinya.
“Kamu datangnya
pagi juga ya” Anton coba mencari topik pembicaraan.
“Kamu lebih
pagi!” Jonas membantah.
“He…he… Kan
ketua kelas! Harus ngontrol kelas!” Anton mengingatkan.
“Wah ketua
teladan…!” Jonas memuji.
“Nah kamu dong
bantu ketua…..” Anton mengajak.
“Wah….. nanti
saya pikir dulu!” Jonas ragu-ragu.
“Hallo…”
tiba-tiba terdengar suara menegur.
“Eh… pagi Johny!”
Anton membalas, “Kamu sendiri? Mana Budiman?” Anton melanjutkan.
“Hmm…. Dia lagi
di parkiran. Sedang ngobrol dengan anak sebelah!” Johny menjelaskan.
“Maksudmu Terry?
Wah hati-hati tuh. Jangan sampai di-bully” Anton mengkonfirmasi.
“Masa?” Johny
jadi khawatir. Cepat-cepat dia keluar kelas.
“Jonas, saya
permisi dulu ya. Saya mau lihat Budiman dan Johny” Anton melambaikan tangannya
langsung keluar kelas.
Jonas dapat memaklumi.Memang
Terry terkenal sebagai biang masalah di sekolah. Dia sangat mengenal Terry
karena dia dahulu adalah….. sahabat karibnya!
-o0o-
“Eh…Eh… ada apa
nih?” Anton yang baru saja sampai di parkiran motor memisahkan Terry dan
Budiman yang tampaknya sedang bersitegang.
“Kamu jangan
ikut campur!” Terry yang gampang dikenali dengan wajah sangarnya
memperingatkan.
“Kalau begitu,
sebaiknya cepat-cepat masuk kelas. Sebentar lagi kelas akan dimulai!” Anton
coba memisahkan keduanya.
“Kamu jangan
pikir bisa lolos dari saya!” Terry melirik Budiman sambil berlalu.
“Memang saya
takut?” Budiman menjawab.
“Sudah…!
Sudah….!” Anton dan Johny kemudian menarik Budiman untuk masuk ke kelas.
“KRING…!!KRINGG….!!”
bunyi bel masuk kelas menolong suasana. Mau tidak mau Terry dan Budiman harus
bubar.
Anton, Johny dan
Budiman berjalan ke kelas.. Terry dari kelas di sebelahnya memandang geram ke
arah tiga nya, terutama Budiman. Budiman
tadi sempat membuatnya kesal dan hampir membuatnya malu. Saat ia ingin menghajarnya,
Budiman mengeluarkan bubuk putih ke arah wajahnya. Bubuk itulah yang membuat
dirinya sempat bersin-bersin. Memang Budiman penggemar cerita detektif dan
mengoleksi berbagai peralatan detektif.
-o0o-
Sementara
itu beberapa mahluk gelap, demon, mengelilingi
Terry.Mereka sudah siap untuk memanipulasi Terry agar tunduk pada nafsu
kedagingannya.
-o0o-
KRING…!!KRINGG….!!
Bel tanda
istirahat berbunyi. Para siswa merapikan buku dan memasukkan ke dalam tas
masing-masing. Setelah guru mata pelajaran keluar, mereka pun berhamburan ke
luar.
-o0o-
“Budiman, Johny
, Jonas! Ayo kita ke kantin” ajak Anton.
“Ayo!” Budiman
dan Johny dengan antusias langsung berdiri dan saling melakukan hi-five.
“Eh… saya tidak
ikut…!” dengan lambat Jonas menjawab.
Sebenarnya ia ingin
ikut ke kantin tapi ia tahu ke kantin tanpa mengeluarkan uang, tidak mungkin!
“Ayolah!” Anton
membujuknya.
“Come on friend!” Budiman juga
membujuknya.
“Kalian saja!
Saya… di kelas saja!” Jonas menolak.
“Ya sudah. Kami
ke kantin dulu!” akhirnya Anton menghentikan usaha mengajak Jonas.
Anton, Budiman
dan Johny melangkahkan kaki ke kantin diikuti dengan pandangan sedih Jonas. Jonas
menghela nafas.
“Mengapa saya tidak
mengakui saja bahwa saya tidak punya uang?” gumam Jonas dalam hati.
Walau demikian
Jonas tetap keluar kelas walau bukan ke kantin. Tujuannya apalagi kalau bukan ke
toilet.
-o0o-
Jonas masuk ke
toilet hampir bersamaan dengan masuknya Terry. Ia pun sengaja memperlambat
langkahnya agar Terry bisa masuk terlebih dahulu.
“Eh culun….
Ngapain loe di sini?” Terry berkata sambil melotot ke Jonas.
“Hm….. mau buang
air …” Jonas pun membuntuti langkah Terry menuju urinoir.
“Culun…. Bagi
gue duit!” Terry minta sambil buang air.
“Maaf saya tidak
punya” Jonas berdiri di depan urinior agak jauh dari Terry.
“Dasar culun!
Sudah culun… kere lagi…. Buat apa sih loe hidup?” Terry mengejek.
Jonas diam,
tidak menjawab. Sebenarnya hatinya sakit, tapi ia sudah biasa menerimanya. Jadi
diabaikannya saja perasaannya.
“Eh culun! Loe
tidak punya mulut ya?” Terry merasa diabaikan.
Jonas kembali
diam saja.Tiba-tiba….. BUGHH!!
Jonas yang dalam
posisi berdiri tidak dapat bertahan. Tubuhnya terdorong ke depan sehingga menyentuh
urinoir di depannya.
“Rasakan loe!”
Terry memandang sinis ke Jonas yang cepat-cepat kembali ke posisi berdiri.
Jonas
cepat-cepat menyelesaikan panggilan alamnya. Ia tidak peduli dengan air seni
yang mengotori sebagian celana dan sepatunya. Jonas pun langsung ke luar
toilet. Terry tidak rela melepaskannya. Kakinya pun sengaja disodorkan dengan
sengaja agar bisa mengait kaki Jonas yang sedang melangkah.
“BRUKKKK!!”
Jonas tidak bisa menjaga keseimbangannya
sehingga tubuhnya terdorong ke depan.
Tanpa dapat
dicegah ia pun jatuh tertelungkup dengan wajah menghadap ke lantai.
“HA…HA….HA….!”
Terry tertawa senang melihat korbannya jatuh sesuai dengan rencananya.
Jonas terpaksa
dengan cepat berdiri kembali. Ia malu karena banyak orang yang melihatnya
jatuh. Sekarang bukan saja celana dan sepatunya yang kotor tapi bajunya pun menjadi
kotor. Jonas memandang sedih pada seragamnya.
“Makanya kalau
diajak ngomong, harus jawab!” Terry memperingati.
Jonas bangkit
berdiri dan dengan cepat berlalu. Air matanya menggenang. Ia memang seorang
anak yang sentimental. Dia pun berlari ke kelas dan dengan cepat minta ijin
pulang ke wali kelas.
“Mengapa pulang?
Ada apa dengan pakaianmu?” wali kelasnya bingung.
“Maaf guru, tadi
saya terjatuh sehingga baju saya kotor. Saya harus mencuci baju ini dulu!”
Jonas menjelaskan.
“Oh? Kamu tidak
punya baju cadangan?” wali kelas heran.
“Eh… ada Pak.
Sedang dicuci” Jonas malu-malu menjawab.
“Ya sudah. Kalau
begitu, kamu boleh pulang. Tapi pelajarannya kamu pinjam dari yang lain ya.”
Wali kelas tidak lupa memberi tugas.
“Baik Pak.
Terima kasih, sekalian saya pamit!” Jonas pun mengundurkan diri dan kembali ke
kelas.
-o0o-
“KRINGG……. “
Tiba-tiba bel
tanda istirahat berakhir bergaung. Para siswa berebut masuk ke dalam kelas.
“Jonas, kamu mau
ke mana?” Anton yang sudah kembali ke kelas melihat Jonas mengambil tas seperti
ingin pergi.
“Saya tadi jatuh
sehingga baju kotor. Jadi saya minta ijin ke wali kelas untuk pulang!” Jonas
terpaksa menjelaskan.
“Oh….” Anton
agak heran. “Kalau begitu nanti pulang, saya ke rumahmu agar kamu bisa mencatat
pelajaran yang tertinggal”Anton langsung menawarkan.
“Hmm…. Terima
kasih” Jonas bersyukur ia sudah mengenal Anton. Ia pun beranjak pergi.
“Lho…. Mana
alamatmu?” Anton menahan langkah Jonas.
“Oh iya…. Jl.
Teguh no 11C” Jonas menyebutkan alamatnya.
“Thanks.
Hati-hati bro di jalan!” Anton menyalami teman barunya itu .
Salamnya itu
tidak dibalas. Sepertinya Jonas ingin cepat-cepat keluar dari sekolah. Ia tidak
ingin banyak siswa lainnya mengetahui kondisinya. Budiman dan Johny sempat
melihatnya keluar.
“Mau ke mana Jonas?”
Johny sempat bertanya.
Namun Jonas
sepertinya tidak mendengar. Langkahnya sudah menjauh.
“Dia mau pulang
karena bajunya kotor akibat terjatuh” terdengar suara Anton yang menjawab.
“Oh begitu!”
Johny mencoba memahami.
Sementara para
siswa lain pun sudah masuk ke kelas.Tak lama kemudian pelajaran pun dimulai.
-o0o-
“KRINGGGG!!! “
Bel pulang
berbunyi. Semua siswa bergegas membereskan tas dan buku-bukunya.
Budiman dan
Johny sudah pamit ke Anton.
“Anton… tunggu
sebentar!” seorang teman sekelasnya memanggil.
Langkah Anton
terhenti. Ia pun berpaling ke belakang
“Eh ada apa Jenny?”Anton
menyapanya.
“Tadi waktu
istirahat pertama, saya lihat ada yang aneh di toilet cowo!” Jenny melaporkan.
“Maksudnya?”
Anton ingin tahu. Ia pun menghentikan langkah menunggu Jenny.
“Saat itu saya
sedang ke toilet perempuan, baru selesai hendak keluar. Tiba-tiba dari toilet
cowo, ada bunyi orang jatuh!” Jenny membuka laporannya.
“Siapa yang
jatuh?” Anton terkejut.
“Awalnya saya
juga tidak tahu. Sampai akhirnya Jonas keluar dari toilet dengan baju yang
kotor!”
“Oh iya pasti
itu penyebab Jonas pulang!” Anton teringat pertemuannya dengan Jonas tadi.
“Yang
mengherankan, Terry juga keluar dari toilet. Mukanya sepertinya orang sedang happy.. Pasti ada kaitannya dengan dia!”
Jenny menduga-duga.
“Bagaimana kamu
menduga seperti itu?” Anton ingin kejelasan.
“Setelah suara
orang terjatuh. Saya sepertinya mendengar ada suara cowo bicara : ‘Makanya
kalau diajak ngomong, harus jawab!’” Jenny mengingat-ingat.
“Kamu kenal
suaranya?” Anton menggali ingatan Jenny.
“Yang pasti
bukan Jonas. Saya rasa Terry, karena hanya mereka berdua yang keluar dari
toilet!” Jenny mengutarakan analisanya.
“Oke. Terima
kasih informasinya. Pasti ini ulah Terry!” Anton tiba-tiba punya firasat.
“Saya juga
merasa begitu” Jenny pun pamit pulang bersama teman-teman lainnya.
“Hm… pasti ada
apa-apanya. Pantas Jonas mukanya muram!” Anton menarik benang merahnya.
Dia pun
melangkahkan kaki meninggalkan sekolah menuju rumah Jonas.
-o0o-
“Jonas! Jonas!”
panggil Anton dari luar rumah.
“Tunggu…!” tak
lama kemudian Jonas keluar membukakan pintu.
“Bagaimana
bajumu? Sudah kering?” Anton masuk ke dalam.
“Belum. Kan
belum lama saya cuci!” Jonas menutup pintu
“Kamu punya baju
seragam yang satu lagi kan?” Anton ingin memastikan teman barunya ini punya
seragam untuk besok.
“Bajunya juga
baru saya cuci. Saya lupa mencucinya kemarin. Saya pikir baju hari ini bisa
saya pakai lagi besok” Jonas dengan malu-malu mengungkapkan kondisinya.
“Nah kalau
begitu kamu perlu pakai kipas angin , agar cepat kering!” Anton mengusulkan
sambil duduk di bangku yang ada.
“Hmm… Kipas
anginnya sedang rusak” Jonas berkata terpaksa.
“Tidak
diperbaiki?” Anton bertanya heran.
“Memang kipas
anginnya sudah sangat lama. Jadi sering rusak. Tukang servis bilang, kalau
rusak lagi sebaiknya beli yang baru. Yang lama sudah sulit diperbaiki karena spare-part nya sudah tidak ada lagi”
Jonas menjelaskan malu-malu.
“Kalau begitu ,
nanti saya bawa pulang saja. Di rumah akan saya taruh di depan kipas angin agar
cepat kering. Jadi besok sebelum sekolah saya bawakan lagi!” Anton mengusulkan.
“Eh….” Jonas
bingung mau berkata apa. Memang bantuan yang ditawarkan Anton sangat
diperlukan, namun di sisi lain menerima kebaikan seorang teman baru membuatnya
merasa tidak nyaman.
“Nah ini catatan
hari pelajaran tadi. Kamu bisa meminjamnya. Besok dibawa ya!” Anton menyerahkan
buku-buku catatannya.
“Terima kasih
ya” hanya itu yang Jonas bisa ucapkan.
Jonas mengambil
gelas untuk diberikan ke temannya itu.
“Tidak perlu
Jonas! Saya sudah harus pulang. Nanti mama cari” Anton memang tidak bisa
berlama-lama.Cuaca sudah mulai gelap.
“Eh… tidak apa!
Kan hanya minum saja” Jonas mendesak sambil membawa gelas dan menyodorkannya ke
Anton
“Ya sudah..
Terima kasih bro!” Anton menerima gelas dan meminum isinya.
“Banyak catatan
hari ini?” Jonas membuka-buka buku catatan Anton.
“Lumayan!
Ngomong-ngomong kamu bagaimana bisa jatuh tadi?” Anton ingin mengetahui
kejadian sebenarnya.
“Eh tidak
apa-apa. Tidak hati-hati saja!” Jonas mengelak.
“Maaf bro, ada
yang melihat kamu dan Terry… Ayo dong cerita ada apa!” minta Anton.
“Hmh….” Jonas
terdiam.
Hatinya
terkejut. Ada orang yang melihat dia dengan Terry. Berarti…?
“Bro, apakah
Terry mem-bully kamu?” Anton mendesaknya.
“….” Jonas tidak
menjawab, hanya matanya menjadi merah.
Anton yang
melihatnya, tidak tega melihatnya.
“Maaf bro. Saya
terlalu mendesakmu. Saya hanya berharap dapat berbagi denganmu” Anton menyesal.
“Tidak apa. Saya
memang terlalu sentimental. Memang itu ulah Terry!” akhirnya Jonas berani
berkata dengan jujur.
“Terry lagi-lagi
membuat ulah. Jadi dia yang menjorokkan kamu sehingga jatuh?” Anton memancing
penjelasan lebih dalam.
“Memang dia
selalu mencari gara-gara. Saat saya buang air dia menekan badan saya ke uronior
sehingga celana dan sepatu saya terkena air seni. Lalu saat saya mau keluar
toilet, ia menyengkat kaki saya hingga jatuh!” akhirnya Jonas mau juga
menceritakan pengalamannya.
“Kurang ajar!
Berani sekali dia berbuat begitu di sekolah! Kita laporkan saja ke sekolah!”
Anton berkata dengan geram.
“Jangan! Jangan!
Nanti dia semakin cari gara-gara dengan saya!” Jonas memohon.
“Tapi kalau
tidak dilaporkan, maka dia akan terus mem-buly kamu!” Anton mengingatkan.
“Jangan! Kalau
pun dia dihukum dan tidak berani di sekolah, ia akan mem-bully saya di luar
sekolah” Jonas semakin khawatir.
“Baiklah. Kalau
begitu, kamu ikut saja dengan saya. Jangan dekat-dekat dengan Terry!” Anton
mengusulkan.
“Boleh. Asal
kamu tidak merasa terganggu saja” Jonas senang tapi juga cemas. Ia tidak ingin
menjadi beban buat temannya ini.
“Sudah.. tenang
saja. Nah sekarang saya balik dulu ya.” Anton pamit
“Eh…. Oke.
Terima kasih ya sudah mau datang!” Jonas bersyukur.
“Oh iya, masukan
pakaian sekolahmu yang masih basah ke plastik. Nanti di rumah saya keringkan.
Besok kamu datang pagian, jadi bisa ganti baju !” Anton teringat baju Jonas.
“Hmh… tidak
usahlah. Nanti merepotkan kamu!” Jonas tidak enak.
“Jiah…. Kan yang
kerja nanti kipas angin… tenang aja lagi!” Anton menenangkan.
Akhirnya Jonas memasukkan
baju dan celananya ke dalam plastik. Kemudian diserahkannya plastik itu ke
Anton.
“Ngomong-ngomong,
kamu sendirian di rumah?” Anton ingin pamit.
“Ada mama.
Tetapi sedang tidur” Jonas menjelaskan.
“Oh begitu.
Tolong sampaikan saya permisi dulu ya!” Anton melangkah menuju pintu.
“Oke… akan saya
sampaikan!” Jonas berjanji.
Anton pun
melangkah ke luar rumah Jonas.
“Sampai besok!”
salamnya.
-o0o-
“Jonas!”
terdengar mamanya memanggil.
Jonas yang baru
masuk rumah setelah mengantar Anton ke luar, cepat-cepat masuk ke kamar
mamanya.
“Iya Ma. Mama
sudah bangun? Ada apa?” Jonas dengan penuh perhatian menantikan permintaan
mamanya.
“Tadi ada siapa
yang datang?” mamanya rupanya tahu ada tamu yang datang.
“Teman sekelas
di sekolah Ma” jawab Jonas.
“Mama senang
kamu sekarang sudah punya teman. Sepertinya ia anak baik. Mama dapat
merasakannya” Mama Jonas bersyukur.
“Dia memang
baik. Dia jadi ketua kelas. Barusan ia pulang setelah meminjamkan catatan
pelajaran” Jonas menjelaskan.
“Mama setuju
kamu berteman dengan orang seperti dia” mamanya bersyukur.
“Ia juga
mengambil baju seragam yang baru dicuci. Katanya mau dikeringkan di rumahnya
agar besok bisa dipakai” Jonas memberitahu mamanya.
“Wah ia sungguh
baik. Siapa namanya?” mamanya ingin tahu.
“Anton. Selain
Anton, hari ini saya juga berteman dengan Budiman, Johny dan Jenny. Mereka
teman Anton juga” Jonas bercerita tentang teman-temannya.
“Siapa nama
orang yang telah berbuat jahat denganmu?” mamanya juga ingin tahu.
“Hm… dia Terry.
Ia bukan teman sekelas, tapi kelas sebelah Ma” Jonas menjelaskan.
“Terry? Bukannya
ia dulu sahabat kamu sendiri? Kamu jangan bergaul lagi dengan Terry! Kamu harus
belajar agar tidak mengalah pada orang seperti dia. Mama percaya kamu bisa
mengatasinya!” mamanya berkata sambil menatap sayang ke arah Jonas.
“Masalahnya
walau saya sudah menjauhkan diri, tetapi setiap kali bertemu dengannya, Terry
selalu mem-bully saya Ma!” Jonas sepertinya putus asa.
“Terry pasti
anak bermasalah. Sementara ini kamu bergaul dengan Anton dengan teman-temannya
saja. Semoga mereka bisa melindungi kamu!” mamanya hanya bisa berharap.
“Tentu Ma. Saya
senang berteman dengan Anton dan teman-temannya.” Jonas menatap mamanya yakin.
“Kamu sudah
makan Jonas?”
“Belum Ma.
Rencananya kan Kak Yakob akan membawakan bubur! Pasti sebentar lagi ia datang.”
Entah mengapa Jonas menaruh kepercayaan pada Yakob.
“Jonas! Jonas!”
dari arah depan rumahnya terdengar suara memanggil.
“Nah itu pasti
Kak Yakob!” Jonas yakin.
“Kalau begitu
kamu bukakan pintu dulu” mamanya meminta anaknya agar cepat membuka pintu.
Segera Jonas
beranjak meninggalkan mamanya.
-o0o-
“Sore Jonas!”
sapa Yakob saat melihat Jonas muncul dari dalam rumah.
“Sore Kak!”
balas Jonas sambil membukakan pintu.
“Bagaimana
sekolahmu hari ini?” Yakob masuk ke
dalam.
“Hmm… parah!”
Jonas bergumam sambil mengunci pintu.
“Ada apa?” Yakob
jadi heran.
“Nanti saja saya
ceritanya. Ayo Kak masuk dulu!” Jonas mempersilahkan Yakob duduk di bangku yang
dia tarik dari bawah meja makan.
“Jonas, sesuai
janji saya bawakan bubur untukmu dan mamamu. Karena sekarang sudah hampir
malam, sebaiknya kamu dan mamamu makan dulu ya!” Yakob menyerahkan rantang
berisi bubur.
“Terima kasih banyak
ya Kak!” Jonas menerima rantang itu dan menaruhnya di atas meja makan yang
merangkap sebagai meja multi fungsi karena hanya satu-satunya di rumah itu.
“Kalau gitu,
Kakak bantu kamu siapkan mangkuk untuk mamamu ya!” Yakob langsung mengambil 2
mangkuk dari rak piring yang ada dekat tempat cuci piring.
“Waduh… maaf Kak
jadi merepotkan!” Jonas merasa tidak enak hati.
“Sudah tenang
saja. Kamu bantu menyiapkan minuman dan obat untuk mamamu ya!” Yakob membuka
rantang dan menuang isinya ke mangkuk.
“Nah yang ini
untuk kamu!” Yakob menyodorkan 1 mangkok bubur untuk Jonas.
“Sedangkan yang
ini saya bawakan ke kamar mamamu ya!” Yakob meminta ijin.
“Eh…. Maaf ya
Kak. Jadi tidak enak hati.” Jonas merasa sungkan.
Dia tidak pernah
mendapat pengalaman seperti itu.
“Permisi!” Yakob
berkata sambil mengetuk pintu.
“Silahkan
masuk!” terdengar suara dari dalam.
“Selamat sore
Tante!” sapa Yakob saat masuk dan melihat mama Jonas sedang terbaring.
“Selamat sore
Yakob. Silahkan masuk!” mama Jonas balas menyapa.
“Tante, saya
bawakan bubur. Karena sudah hampir malam, sebaiknya makan bubur dulu ya. Ini
saya buat sendiri. Semoga tidak mengecewakan!” Yakob pun menyodorkan mangkok
buburnya.
“Wah Yakob
pintar buat masakan ya?” mama Jonas mengambil mangkok dan mencium aroma
buburnya.
“Waduh… malu
deh. Saya belum lama belajar buat buburnya. Minta petunjuk tante untuk
penilaiannya” Yakob ingin mengetahui masukan dari mama Jonas.
“Rasanya pas.
Tante suka sekali!” mama Jonas memberi pujian setelah mencicipinya.
“Terima kasih
Tante. “ Yakob bersyukur masakannya tidak mengecewakan.
Tidak lama
berselang Jonas masuk sambil membawa minuman dan obat mamanya.
“Jonas, kamu
bawa saja buburmu ke mari. Temani mamamu makan!” Yakob memberi saran.
“Hm….” Jonas
ragu.
“Betul saran Yakob.
Bawa saja kemari Jonas! Kita makan bersama.” Mama Jonas setuju.
Jonas pun keluar
untuk segera kembali lagi membawa mangkuk buburnya. Mama Jonas berdua dengan
Jonas menikmati bubur yang dibuat Yakob. Tampaknya mereka menyukainya. Dengan
cepat buburnya sudah habis. Yakob pun membawa bubur yang masih ada di rantang
ke dalam.
“Tambah ya
Tante?” Yakob menawarkan.
Mama Jonas
mengangguk lemah.
Yakob pun
menyendok bubur lalu memasukkannya ke mangkuk mama Jonas.
“Kamu juga ya
Jonas?” Yakob bertanya sambil menyodorkan tambahan bubur ke mangkuk Jonas.
Jonas tidak
keberatan. Setelah itu mama Jonas dan Jonas kembali menikmati buburnya. Yakob
senang melihat keduanya makan dengan lahap. Masih ada sisa bubur di rantang
yang dibawa. Memang sengaja dia membuatnya banyak. Karena bila tidak habis,
mereka bisa menikmatinya malam-malam. Akhirnya selesai juga acara makan
malamnya.
Jonas
mengumpulkan mangkuk mamanya, lalu membawanya keluar bersama mangkuknya sendiri
untuk dicuci.
-o0o-
“Maaf Tante lupa
bertanya, kamu sendiri sudah makan Yakob?” mama Jonas bertanya.
“Sudah Tante.
Bagaimana kondisi Tante sekarang?” Yakob bertanya.
“Sekarang sudah
jauh membaik. Hanya Tante punya kekhawatiran sedikit!” mama Jonas sepertinya
memiliki pergumulan sendiri.
“Oh ada apa Tante?”
Yakob sedikit terkejut mendengar mama Jonas mau berbicara tentang rasa
khawatirnya.
“Jonas anak
Tante yang baik. Sangat baik malah. Namun sayangnya saya tidak mampu membiayai
hidupnya seperti teman-teman sekolahnya. Akibatnya ia menjadi minder.” Mama
Jonas mencurahkan penyebab rasa khawatirnya.
“Oh begitu.
Memang tidak mudah menerima kondisi seperti itu. Namun sebagai seorang anak, ia
harus belajar beradaptasi dalam kondisi lingkungannya” Yakob memberi pendapat.
“Betul. Kalau
lingkungan mau mengajarnya, ia tentu bisa mengatasinya. Namun yang lebih berat
adalah ia harus menghadapi temannya yang suka mem-bully-nya.” Mama Jonas
menambahkan.
“Oh sampai
separah itukah pergaulan siswa sekarang?” Yakob tercengang.
“Begitulah
kenyataannya. Hari ini Jonas kembali di-bully temannya itu!” mama Jonas merasa
kesal.
Tiba-tiba Jonas
masuk membawa minuman dan obat untuk mamanya.
“Jonas, coba
kamu cerita tentang peristiwa kamu di-bully temanmu!” mama Jonas meminta
“Eh….?!” Jonas
terkejut atas permintaan mamanya itu. “Ma… minum dulu. Ini obatnya” Jonas coba
menenangkan diri.
“Terima kasih
Jonas” mamanya mengambil obat lalu menelannya beserta minuman yang disodorkan
Jonas.
Jonas sudah
berhasil menenangkan diri, namun belum langsung bercerita.
“Nah.. coba kamu
cerita sekarang Jonas!” mamanya mengulangi permintaannya.
Jonas pun
meneguk lidahnya dan berdehem.
“Hm…. Di sekolah
memang ada seorang siswa yang paling banyak membuat masalah…. Namanya Terry…..
Badannya memang besar dan mukanya jutek!” Jonas membuka kisahnya secara
perlahan dan terputus-putus.
“Sudah lama kamu
satu sekolah dengannya?”Yakob coba membantu Jonas.
“Cukup lama.
Dulu sejak SMP saya sudah satu sekolah dengan dia. Tapi awalnya dia sama sekali
tidak seperti itu!” Jonas mengingat-ingat.
“Oh begitu.
Pasti ada penyebabnya di belakangnya. Apakah sebelumnya dia bersikap baik
denganmu?” Yakob coba menggali.
“Hmm…. Dia baik.
Bahkan baik sekali. Dulu ia merupakan seorang teman baik satu-satunya yang saya
miliki!” Jonas menjelaskan.
“Jadi sejak
kapan ia suka mem-bully mu?” Yakob penasaran.
“Sepertinya
sejak keluarganya pecah. Papa dan mamanya berpisah. Sejak itu ia ikut papanya
dan ia merasa sangat marah” Jonas menjawab.
“Pasti ada
kaitannya dengan perpisahan papa dan mamanya” Yakob menduga.
“Sejak itu ia
sepertinya ingin menghancurkan diri saya. Ia terus mem-bully diri saya. Ia
senang membuat saya menangis.” Jonas menjelaskan.
“Jadi…. Hari ini
dia mem-bully kamu lagi?” Yakob meminta penjelasan.
“Benar. Saat
kami bertemu di toilet, ia mencari gara-gara lalu menjoroki badan saya ke
urinoir sehingga celana dan sepatu saya menjadi kotor terkena air seni saya
sendiri. Lalu saat saya bergegas ingin keluar toilet, kaki saya disengkatnya
sehingga saya terjatuh. Baju dan celana saya semuanya kotor sehingga saya malu
dan memutuskan pulang.” Jonas menjelaskan panjang lebar.
“Kalau begitu
untuk sementara kamu jangan dekat dengan Terry. Usahakan kamu dekat dengan
teman yang lain sehingga ia tidak berani mem-bully kamu!” Yakob mengusulkan.
“Betul! Kalau
begitu kamu dekat dengan Anton saja. Dia anak baik. Dia pasti bisa melindungi
kamu!” mama Jonas juga mengusulkan.
“Kamu dekat
dengan Anton?” Yakob ingin tahu.
“Eh… baru hari
ini kami bergaul dekat. Tadi Anton bahkan ke rumah untuk pinjamkan saya buku
catatannya!” Jonas menjelaskan.
“Bagus. Kamu
memang sebaiknya bergaul dengan teman-teman yang baik. Pergaulan yang buruk
akan merusak.” Yakob setuju.
“Anton itu
gerejanya di GeYeSKu. Kakak kenal dengannya kan?” Jonas memastikan.
“Tentu saja
Kakak kenal. Dia kan aktif pelayanan di gereja.” Yakob menjelaskan.
“Oh pantas.”
Jonas bersyukur mengenal Anton.
“Kalau bisa,
kamu juga datang ke persekutuan remaja di gereja seperti Anton. Harapannya agar
kamu dapat teman-teman yang lain” Yakob memberi saran.
“Hm…. Saya akan
pikirkan dulu ya Kak.” Jonas tidak lantas menyetujui.
Tiba-tiba Jonas
terkejut.Yakob yang sedang memperhatikannya ikut terkejut.
“Ada apa Jonas?”
Yakob ingin tahu.
“Eh…..” Jonas
ragu menjawabnya.
“Kamu melihat
apa Jonas?” akhirnya mamanya bertanya.
“Mmmm….. dia
datang lagi ma.” Jonas tidak berbicara dengan jelas.
“Dia siapa
Jonas?” Yakob bingung.
“….” Jonas
terdiam.
“Jonas jelaskan
saja kepada Yakob. Mungkin ia bisa menolong kita.” Mamanya membujuk.
“Mahluk hitam
yang sudah hilang tadi pagi, datang kembali.
Bahkan sekarang ia datang bersama 7 mahluk serupa lainnya!” Jonas
menjelaskan.
“Astaga…. “
mamanya sekarang yang khawatir. Terbayang penderitaannya akan bertambah.
“Maaf saya belum
paham. Siapa mahluk hitam dan temannya? Saya tidak melihat ada mahluk hitam.”
Yakob masih tidak mengerti.
“Jonas punya
kemampuan untuk melihat roh .” Mama Jonas menjelaskan.
“Oh begitu….
Jadi sekarang kamu melihat mahluk itu?” Yakob sudah paham.
Jonas
menganggukkan kepala.Yakob sendiri hanya memiliki perasaan tidak enak tapi
tidak memiliki kemampuan melihat roh.
“Lalu apa
pengaruh kehadiran mahluk itu?” Yakob menggali.
“Saat mahluk itu
ada, mama menjadi sakit. Mahluk itu yang menjadi penyebab mama sakit selama
ini!” Jonas menjawab.
“Lalu kenapa
sekarang Tante belum sakit?” Yakob penasaran.
“Karena ada
Kakak di sini” jawab Jonas mengejutkan Yakob.
“Saya belum
mengerti” Yakob meminta penjelasan tambahan.
“Dalam diri
Kakak ada pancaran sinar yang membuat para mahluk itu tidak berani mendekat ke
mama”
“Oh begitu
rupanya. Sungguh kasih Tuhan luar biasa. Dia telah melindungi Kakak dengan
sinar kasihNya yang luar biasa. Ia melindungi orang-orang yang percaya!” Yakob
menjelaskan.
“Maksud Kakak?”
Jonas gantian bingung.
“Tuhan telah
berfirman. Dia berjanji akan melindungi orang-orang percaya kepadaNya.” Yakob
menjelaskan.
“Bagaimana agar
bisa menjadi orang percaya?” mama Jonas cepat-cepat bertanya.
“Mengakui
dosa-dosa kita, bertobat dan meminta pengampunan, mengakui Yesus sebagai
Juruselamat, mengundang Yesus maksud ke dalam hati kita dan menyucikan segala
dosa kita alias lahir baru dan memulai
hidup baru yakni hidup yang diubahkan sesuai dengan kehendak Tuhan.” Yakob
memberi intisari penjelasannya.
“Semudah itu?”
mama Jonas penasaran.
“Betul.
Keselamatan itu gratis. Tidak dipungut biaya apa pun. Jadi Tuhan tidak perlu
dibujuk dengan melakukan perbuatan baik apa pun agar kita bisa memperoleh
keselamatan.” Yakob terus membagi imannya.
“Permisi…!
Permisi….!” Tiba-tiba dari luar terdengar suara.
“Jonas…
sepertinya ada orang datang! Tolong lihat ke depan.” Mama Jonas juga mendengar
panggilan itu.
“Baik Ma…” Jonas
bangkit ditemani oleh Yakob.
Sepertinya Yakob
sudah menduga siapa yang datang.
-o0o-
“Mau cari siapa
Pak?” tanya Jonas saat melihat tamu yang tidak dikenalnya.
“Malam. Saya
dari GeYeSKu, gereja yang di depan jalan” sang tamu memperkenalkan diri.
“Halo Pak
Simon!” Yakob muncul sambil menyapa. Benar dugaannya yang datang Pak Simon,
salah seorang diaken GeYeSKu.
“Halo Yakob.
Rupanya kamu sudah duluan ya” sapa Simon.
“Iya. Nah
kenalkan ini Jonas.” Yakob memperkenalkan keduanya.
“Halo Jonas.
Saya Simon. Dan ini istri saya Maria” Gantian Simon yang memperkenalkan
istrinya.
“Malam Jonas.
Senang bisa berkenalan denganmu” Maria langsung menyapanya.
“Malam Pak Simon
dan Ibu Maria. Silahkan masuk ke dalam.” Jonas mempersilahkan tamunya sekaligus
menutup pintu depan rumahnya.
“Yuk..” Yakob
juga mempersilahkan Simon dan Maria masuk ke dalam.
“Jonas, Pak
Simon dan Ibu Maria ini adalah majelis GeYeSku. Mereka datang khusus untuk
membesuk mamamu yang sedang sakit” Yakob menjelaskan.
“Oh begitu.
Kalau begitu langsung saja masuk ke dalam!” Jonas kembali mempersilahkan tamunya
masuk.
Akhirnya kamar
mama Jonas dipenuhi oleh Yakob, Simon, Maria dan Jonas. Karena kamarnya kecil,
maka kondisinya jadi sempit. Namun hal ini tidak mengurangi kegembiraan yang
dirasakan mama Jonas dan Jonas sendiri. Sudah lama sekali tidak ada yang
berkunjung ke rumah mereka apalagi jumlahnya 3 orang sekaligus.
“Perkenalkan ,
ini Pak Simon dan istri Ibu Maria. Mereka berdua dari Gereje Yesus Satu-Satunya
Juruselamatku. Dan ini Mama Jonas dan
Jonas sendiri” Yakob berinisiatif memperkenalkan keduanya.
Keempatnya
saling berjabat tangan.
“Ngomong-ngomong
saya belum tahu nama Ibu. Boleh tahu namanya Ibu?” Yakob tiba-tiba sadar.
“Oh…. Nama saya
Amy” mama Jonas menjawab.
“Ibu Amy, saya mengundang
Pak Simon dan Ibu Maria datang ke mari karena sebenarnya mereka tinggal dekat
dengan rumah Ibu. Jadi kalau Ibu ada keperluan bisa minta bantuan mereka
berdua” Yakob menjelaskan.
“Terima kasih
banyak ya sudah mau bersusah-susah memperhatikan saya. Saya merasa tidak enak
hati.. “Amy merasa sungkan.
“Tidak apa Ibu.
Kami senang berkenalan dengan tetangga. Jadi kalau Ibu butuh sesuatu silahkan
hubungi kami. Saya tinggal di gang Terong no. 1.” Simon menjelaskan.
“Oh yang
rumahnya warna biru ya?” Jonas tiba-tiba memotong.
“Benar. Nah kamu
sudah tahu kan? Kamu bisa datang kalau sempat ke rumah kami.” Simon mengundang
Jonas.
“Eh… iya. Terima
kasih” Jonas agak gugup. Ia juga sangat jarang ke rumah orang lain.
“Nah… roti ini
buat kamu dan mamamu” Simon mengambil roti yang disodorkan istrinya untuk
diserahkan ke Jonas.
“Hmh…. Terima
kasih” Jonas mengambil dan membawanya keluar.
“Kalau begitu,
kita lanjutkan ke topik semula ya Bu Amy? Kita mau berdoa untuk keselamatan
jiwa Ibu” ujar Yakob “Kebetulan Pak Simon juga hadir. Jadi kita bisa
besama-sama berdoa untuk Ibu Amy” ajak Yakob.
“Iya” Amy
menjawab.
“Pak Simon, Ibu Amy
sudah bertekad untuk mengikut Yesus sebagai Juruselamatnya. Mari Ibu Amy,
silahkan Ibu berdoa mengikuti saya” Yakob membimbing Amy.
“Baik” Amy
mengangguk.
“Bapa di dalam
sorga” Yakob memulai doanya.
“Bapa di dalam
sorga” Amy mengikuti.
“Pada saat ini,
saya Amy berdoa kepadaMu memohon ampun atas segala dosa-dosa saya” Yakob
menyambung dan Amy mengikuti.
“Saya memohon
Engkau untuk masuk ke dalam hati saya dan menjadi Juruselamat saya pribadi”
Yakob menuntun Ibu Amy.
Ibu Amy tetap
mengikuti perkataan Yakob. Simon dan Maria meng-amin-kan nya.
Yakob terus
membimbing Amy dalam doa.
Sementara
malaikat di sorga bersorak-sorai karena satu orang diselamatkan.
Bila bunyi
sangkakala, bila bunyi sangkakala
Bila bunyi
sangkakala, bila bunyi sangkakala ‘ku ada
Bila zaman ini
lalu pada hari kiamat
Bila sangkakala
Allah terdengar
Bila orang yang
selamat berkeliling tahtaNya
Bila namaku
dipanggil ‘ku ada.
-o0o-
Jonas
yang menyaksikan dan mendengarkan doa Yakob dan mamanya tiba-tiba terkejut.Dia
melihat sinar terang mengelilingi kamar mamanya.Ia tidak tahu sinar apakah
itu.Namun dampaknya sangat dahsyat!Sinar itu membuat demon dan ke tujuh
temannya tidak berani mendekat.Mereka rupanya tidak tahan dengan sinar itu.
Akhirnya
mereka pun menyingkir pergi.
Sinar
itu pernah dilihatnya semalam saat para demon bersatu hendak masuk ke GeYeSku. Sinar
itu tidak berhasil ditembus oleh para demon itu. Berbeda dengan penampakan
demon yang menyeramkan, Sinar itu membuatnya sangat nyaman.Ia tidak pernah
merasakan kedamaian seperti itu.Seperti ada nyanyian yang sangat merdu
dikumandangkan. Sorakan-sorakan dan pekik kemenangan menggema.
Jonas
sangat heran. Tidak ada sebuah mahluk pun yang hadir di luar mama dan Yakob cs.
Jadi siapakah yang bernyanyi dengan begitu indah?Yang juga mengherankan adanya
Yakob, Simon , Maria dan mamanya.Sepertinya mereka berada dalam satu kesatuan. Sinar
memancar dari mereka berempat.Jonas sungguh takjub. Biasanya mamanya hanya
memancarkan keredupan. Mengapa sekarang dari tubuh mamanya bisa terpancarkan
sinar yang sama dengan Yakob cs?
-o0o-
Dari
rumah Jonas keluar 8 mahluk hitam. Mereka dengan cepat melesat ke suatu tempat
yang dituju. Di sana sudah menanti Sang Bos.
“Lapor
Bos!” demom pengganggu Amy , mama Jonas, melapor.
“Bagaimana?
Sudah berhasil?” Sang Bos berkata dengan suara tinggi.
“Maaf
Bos. Kami gagal! Sang demon melaporkan.
“APA??!!”
Sang Bos mulai membelalakkan matinya.
Tiba-tiba
dengan kecepatan kilat dihantamnya ke delapan bawahannya itu!
“DUKKKKK!!”
Para demon terpental jauh.
Belum
sempat mereka bangun, tiba-tiba terlontar hawa panas dari Sang Bos.
“AHHHHHH”
terdengar raungan kesakitan dari ke delapan mahluk hitamitu.
Rupanya
sinar panas itu membakar tubuh mahluk hitam itu.Tampak tubuh mereka seperti
berasap dan berwarna kemerahan! Mereka berusaha untuk mengipaskan sayap mereka
ke arah tubuh mereka yang terluka. Namun Sang Bos tidak puas. Dari tangannya terlontar
enersi yang mengeluarkan hawa panas luar biasa!
“DERRRR!!!”
Ke
delapan anak buahnya terlontar lebih jauh dibanding yang pertama.
Mereka
seperti diterbangkan angit ribut.Seolah daun yang diterbangkan angin. Begitu
ringan!
“BRUGGHHH!!”
Tubuh mereka berjatuhan secara serempak.
Mereka
berusaha bangkit. Mereka semua bukanlah mahluk lemah. Tetapi kekuatan mereka
seakan-akan hilang tak berbekas. Bahkan untuk berdiri saja sepertinya sudah
tidak mungkin. Berulang kali mereka berusaha bangkit, namun kembali
ambrug.Wujud mereka tidak lagi seperti awal. Tubuh mereka sudah hangus di sana
sini, terluka lebar dan berwarna merah.
Sang
Bos pun kemudian dengan cepat melesat ke arah mereka. Lalu tangannya diacungkan
dengan pengerahan enersi jahat. Kekuatan enersi jahat itu sangat luar biasa. Ke
delepan anak buah nya pasti tidak ada yang bertahan.Hal ini berarti maut akan
melanda mereka.
“Ampun….
Bos! Ampun…. Bos! Kami mengaku salah. Hukumlah kami tapi selamatkanlah kami!”
mereka merengek-rengek.
“Sudah
berulang kali gagal dan masih minta dimaafkan? Saya akan kirim kamu ke Hades
selamanya!” Sang Bos kemudian mengubah cara pengerahan enersinya.
Tiba-tiba
keluar enersi aneh dari tangannya yang melanda kedelapan anak buahnya.
Anak
buahnya hanya bisa menjerit dan tidak lama kemudian mereka menghilang. Sang Bos
sudah memindahkan mereka ke tempat yang sangat jauh. Tempat untuk menghukum
para anak buahnya yang tidak berprestasi!
Setelah
itu dipanggilnya demon lainnya.
“Kamu
ikuti Amy. Buat dia menjadi goyah dan berbalik tidak percaya!” perintah Sang
Bos.
Anak
buahnya itu hanya bisa menerimanya. Tidak berani membantah sedikit pun. Dia
tahu apa konsekuensi kalau membantah dan tidak berhasil melaksanakan perintah
Sang Bos! Siksaan abadi sudah pasti menanti.
-o0o-
“Ibu Amy.
Setelah Ibu percaya, maka Ibu harus belajar mengenal Yesus. Besok saya akan
datang kembali setelah mengajar di Sekolah YeSKu untuk membawa Alkitab.” Jelas
Yakob.
“Baik. Saya akan
belajar dan berdoa. Saya akan sungguh-sungguh belajar mengenal Yesus!” Amy
mukanya seperti berseri dan bersinar.
“Kalau begitu
saya permisi dulu. Saya mau ke rumah sakit. Ada supir gereja yang sedang
dirawat di rumah sakit” Yakob menjelaskan.
“Iya, saya juga
mau permisi dulu. Sekalian mau ke rumah sakit juga” Simon dan Maria juga mohon
diri. “Oh iya.. ini ada buku renungan harian untuk Ibu Amy baca-baca.” Simon
mengeluarkan sebuah buku tipis.
“Terima kasih ya
dan terima kasih juga sudah mau datang.” Amy dengan semangat kemudian bangkit
duduk dan berdiri.
Jonas memandang
takjub. Bagaimana mungkin mamanya sudah lesu dan sakit sekarang seolah-olah
mendapatkan kembali kekuatannya? Mamanya seperti sudah melupakan sakitnya. Apakah
memang mamanya sudah sembuh?
“Bu Amy tidak
usah repot-repot mengantar kami. Biar Jonas saja yang nanti mengunci pintu”
Simon memberi saran.
“Tidak apa-apa.
Saya rasanya sudah pulih kembali. Jiwa raga saya seakan sudah sehat. Saya
percaya ini pertolongan Tuhan.” Amy matanya menyorotkan rasa syukurnya.
“Puji Tuhan.
Tuhan maha pengasih!” Yakob berseru takjub.
Akhirnya Yakob,
Simon dan Maria keluar dari rumah Amy. Jonas mengembalikan rantang berisi bubur
yang tadi dibawa oleh Yakob. Bubur yang
masih tersisa sudah dipindahkannya. Jonas dan Amy membalas lambaian
tangan dari kedua tamunya itu.
--o0o—
“Ma… mama sudah
sembuh?” Jonas bertanya tidak percaya.
“Mama tidak tahu
Jonas. Hanya perasaan sukacita ada dalam diri mama. Perasaan ini membuat seakan
tubuh mama sudah pulih. Tidak ada lagi rasa lemah tak berdaya.” Amy juga tidak
percaya.
“Mama mau
kembali ke kamar?” Jonas tidak tahu bagaimana menyikapi kondisi mamanya.
“Iya. Mama ingin
membaca buku renungan yang diberikan. Mama sepertinya tidak sabar untuk
membacanya. Sudah lama mama ingin membacanya. Entah apa yang membuat mama
tertahan tidak membacanya.” Amy yang terikat kegelapan tidak menyadarinya.
“Wah bersyukur
sekali mama bisa pulih seperti ini. Itu berarti mama mendapat mujizat!” Jonas
menyimpulkan.
“Benar! Mama
sungguh bersyukur. Mama berharap kamu juga mau menjadi pengikut Kristus.” Amy
melontarkan keinginannya.
“Iya mama. Jonas
akan mulai belajar juga seperti mama. Hanya Jonas tunggu sampai Jonas
siap!”Jonas terkesan masih ingin sedikit menunda.
“Jonas apa yang
tadi kamu lihat saat mama dan Yakob berdoa?” Amy ingin tahu.
“Jonas melihat sinar
terang melingkupi mama dan yang lainnya. Bahkan Jonas seperti mendengar ada
suara bersorak-sorai seperti menyambut kemenangan. Suara itu juga bernyanyi dengan
gembira!” Jonas menceritakan apa yang dia lihat.
“Ah… apakah itu
suara malaikat? Bukankah tadi Yakob sempat menceritakan bahwa para malaikat dan
melindungi dan berkemah di sekeliling orang percaya?” Amy hanya bisa
menduga-duga.
“Kalau mama
sendiri , apa yang mama rasakan?” Jonas gantian bertanya.
“Perasaan mama
seperti meluap-luap. Ada rasa sukacita dan damai dalam hati mama! Mama tidak
pernah memiliki perasaan seperti itu. Semua beban dan penderitaan mama dari
dulu seakan terlepas begitu saja!” Amy mengutarakan apa yang dirasakannya.
“Bagaimana
dengan enersi yang terpancar saat mama berdoa menerima Yesus sebagai
Juruselamat?” Jonas masih penasaran. Ia tahu mamanya seperti dirinya punya
talenta untuk merasakan enersi yang terpancar dari tubuh seseroang.
“Enersi kasih
dari Yakob, Simon dan Maria mengalir begitu deras. Mama dapat merasakan
ketulusan dan kesatuhatian dengan mereka. Namun mama percaya itu bukan enersi
biasa. Tidak ada manusia yang bisa memiliki enersi seperti itu. Entahlah …
mungkin itu enersi dari Tuhan sendiri yang menyatukan orang-orang percaya.” Amy
menceritakan apa yang dirasakannya.
“Sungguh luar
biasa!” Jonas semakin takjub namun ada suatu hal yang ingin ia yakinkan lebih
dahulu sebelum ia benar-benar menerima Yesus sebagai Juruselamatnya pribadi.
“Kita
sungguh-sungguh bersyukur, bisa mengenal Jonas, Simon dan Maria. Mereka
benar-benar bukan orang biasa.” Amy lagi-lagi bersyukur. Mereka berdua
bersukacita.
“Mari Jonas,
kita belajar bersama dari buku renungan ini.” Amy mengajak anaknya.
“Iya Ma.”
Malam ini ibu
dan anak benar-benar memiliki pengalaman luar biasa.Namun apakah jalan di depan
lurus tanpa masalah? Tidak ada yang menjamin!
--o0o—
Di tempat lain
Anton menaruh baju dan celana Jonas di depan kipas angin.
“Baju siapa itu,
Anton?” mamanya heran.
“Baju teman
sekolah Ma. Ia tidak punya baju seragam lagi yang kering. Karena di rumahnya
tidak punya kipas angin, Anton bermaksud menolongnya” Anton menceritakan
kondisi temannya.
“Nah , itu baru
anak mama!” mama Anton memuji anaknya.
“Ma, kasihan
teman Anton itu. Namnya Jonas. Ia di-bully oleh siswa kelas sebelah. Akibatnya
baju dan celananya kotor sehingga ia pulang karena malu.” Anton membagi kisah
Jonas.
“Wah kamu harus
membantu Jonas agar jangan di-bully oleh siswa nakal lainnya!” mama Anton
memberi dukungan.
“Iya Ma. Anton
tadi sempat ke rumah Jonas. Rumahnya sangat kecil dan sederhana. Mamanya juga
sedang sakit. Papanya sudah tidak ada.”Anton menambahkan informasi.
“Kalau begitu ,
kamu harus benar-benar memperhatikannya. Anak seperti itu perlu didukung oleh
teman-temannya bukannya di-bully!” mamanya bersimpati.
“Iya Ma.” Anton
setuju.
“Nah sekarang
kamu mandi dan makan dulu. Nanti kalau baju dan celana Jonas sudah kering, akan
mama setrika agar rapi!” mamanya segera berlalu untuk menyiapkan makan malam
untuk keluarganya.
“Terima kasih
Ma!” Anton pun bergegas mengambil handuk untuk mandi. Ia pun menembangkan lagu “Bagaimana
Dengan Mereka” gubahan One Way.
Oh betapa
indahnya hidup kita jalani
Tiada waktu terlewat
tanpa bahagia
Mari lihat ke
luar, terkadang kita lupa
Kita tak sendiri
Menikmati
indahnya hidup yang diberikan
Oleh Sang Pencipta
Bagaimana dengan
mereka yang menjerit karena lapar
Dan hidup dari
belas kasihan orang s’perti kita
Bagaimana dengan
mereka yang tak punya apa-apa
Apa yang t’lah
kita buat
Karna kita
diciptakan
Untuk berbagi
hidup dengan mereka
--o0o—

No comments:
Post a Comment