Sunday, December 20, 2015

Coram Deo Episode 6 - Teman Sekolah


Coram Deo
(Episode 6)

TEMAN SEKOLAH

Jonas melangkahkan kaki memasuki gerbang sekolah YeSKu. Memang ia cukup melangkahkan kaki untuk tiba ke sekolah. Mengingat jarak dari rumahnya ke sekolah sangat dekat. Itu juga yang menjadi alasan mama Jonas untuk menyekolahkan anaknya di sana. Tujuannya hanya satu yaitu untuk menghemat ongkos transport. Karena suasana hatinya sedang riang, ia melangkah ringan memasuki kelasnya. Ia pun menaruh tas dan kemudian duduk di bangkunya.

“Hai Jonas!” Anton salah seorang teman sekelas menyapanya.

Anton inilah yang ditelpon Yakob untuk berteman dengannya.

“Eh…Hai…” Jonas membalas. Agak terkejut karena biasanya jarang ada yang menegur dirinya.

“Kamu datangnya pagi juga ya” Anton coba mencari topik pembicaraan.

“Kamu lebih pagi!” Jonas membantah.

“He…he… Kan ketua kelas! Harus ngontrol kelas!” Anton mengingatkan.

“Wah ketua teladan…!” Jonas memuji.

“Nah kamu dong bantu ketua…..” Anton mengajak.

“Wah….. nanti saya pikir dulu!” Jonas ragu-ragu.

“Hallo…” tiba-tiba terdengar suara menegur.

“Eh… pagi Johny!” Anton membalas, “Kamu sendiri? Mana Budiman?” Anton melanjutkan.

“Hmm…. Dia lagi di parkiran. Sedang ngobrol dengan anak sebelah!” Johny menjelaskan.

“Maksudmu Terry? Wah hati-hati tuh. Jangan sampai di-bully” Anton mengkonfirmasi.

“Masa?” Johny jadi khawatir. Cepat-cepat dia keluar kelas.

“Jonas, saya permisi dulu ya. Saya mau lihat Budiman dan Johny” Anton melambaikan tangannya langsung keluar kelas.

Jonas dapat memaklumi.Memang Terry terkenal sebagai biang masalah di sekolah. Dia sangat mengenal Terry karena dia dahulu adalah….. sahabat karibnya!

-o0o-

“Eh…Eh… ada apa nih?” Anton yang baru saja sampai di parkiran motor memisahkan Terry dan Budiman yang tampaknya sedang bersitegang.

“Kamu jangan ikut campur!” Terry yang gampang dikenali dengan wajah sangarnya memperingatkan.

“Kalau begitu, sebaiknya cepat-cepat masuk kelas. Sebentar lagi kelas akan dimulai!” Anton coba memisahkan keduanya.

“Kamu jangan pikir bisa lolos dari saya!” Terry melirik Budiman sambil berlalu.

“Memang saya takut?” Budiman menjawab.

“Sudah…! Sudah….!” Anton dan Johny kemudian menarik Budiman untuk masuk ke kelas.

“KRING…!!KRINGG….!!” bunyi bel masuk kelas menolong suasana. Mau tidak mau Terry dan Budiman harus bubar.

Anton, Johny dan Budiman berjalan ke kelas.. Terry dari kelas di sebelahnya memandang geram ke arah tiga nya, terutama Budiman.  Budiman tadi sempat membuatnya kesal dan hampir membuatnya malu. Saat ia ingin menghajarnya, Budiman mengeluarkan bubuk putih ke arah wajahnya. Bubuk itulah yang membuat dirinya sempat bersin-bersin. Memang Budiman penggemar cerita detektif dan mengoleksi berbagai peralatan detektif.

-o0o-

Sementara itu beberapa mahluk gelap, demon,  mengelilingi Terry.Mereka sudah siap untuk memanipulasi Terry agar tunduk pada nafsu kedagingannya.

-o0o-

KRING…!!KRINGG….!!

Bel tanda istirahat berbunyi. Para siswa merapikan buku dan memasukkan ke dalam tas masing-masing. Setelah guru mata pelajaran keluar, mereka pun berhamburan ke luar.

-o0o-

“Budiman, Johny , Jonas! Ayo kita ke kantin” ajak Anton.

“Ayo!” Budiman dan Johny dengan antusias langsung berdiri dan saling melakukan hi-five.

“Eh… saya tidak ikut…!” dengan lambat Jonas menjawab.

Sebenarnya ia ingin ikut ke kantin tapi ia tahu ke kantin tanpa mengeluarkan uang, tidak mungkin!

“Ayolah!” Anton membujuknya.

Come on friend!” Budiman juga membujuknya.

“Kalian saja! Saya… di kelas saja!” Jonas menolak.

“Ya sudah. Kami ke kantin dulu!” akhirnya Anton menghentikan usaha mengajak Jonas.

Anton, Budiman dan Johny melangkahkan kaki ke kantin diikuti dengan pandangan sedih Jonas. Jonas menghela nafas.

“Mengapa saya tidak mengakui saja bahwa saya tidak punya uang?” gumam Jonas dalam hati.

Walau demikian Jonas tetap keluar kelas walau bukan ke kantin. Tujuannya apalagi kalau bukan ke toilet.

-o0o-


Jonas masuk ke toilet hampir bersamaan dengan masuknya Terry. Ia pun sengaja memperlambat langkahnya agar Terry bisa masuk terlebih dahulu.

“Eh culun…. Ngapain loe di sini?” Terry berkata sambil melotot ke Jonas.

“Hm….. mau buang air …” Jonas pun membuntuti langkah Terry menuju urinoir.

“Culun…. Bagi gue duit!” Terry minta sambil buang air.

“Maaf saya tidak punya” Jonas berdiri di depan urinior agak jauh dari Terry.

“Dasar culun! Sudah culun… kere lagi…. Buat apa sih loe hidup?” Terry mengejek.

Jonas diam, tidak menjawab. Sebenarnya hatinya sakit, tapi ia sudah biasa menerimanya. Jadi diabaikannya saja perasaannya.

“Eh culun! Loe tidak punya mulut ya?” Terry merasa diabaikan.

Jonas kembali diam saja.Tiba-tiba….. BUGHH!!

Jonas yang dalam posisi berdiri tidak dapat bertahan. Tubuhnya terdorong ke depan sehingga menyentuh urinoir di depannya.

“Rasakan loe!” Terry memandang sinis ke Jonas yang cepat-cepat kembali ke posisi berdiri.

Jonas cepat-cepat menyelesaikan panggilan alamnya. Ia tidak peduli dengan air seni yang mengotori sebagian celana dan sepatunya. Jonas pun langsung ke luar toilet. Terry tidak rela melepaskannya. Kakinya pun sengaja disodorkan dengan sengaja agar bisa mengait kaki Jonas yang sedang melangkah.

“BRUKKKK!!”

 Jonas tidak bisa menjaga keseimbangannya sehingga tubuhnya terdorong ke depan.
Tanpa dapat dicegah ia pun jatuh tertelungkup dengan wajah menghadap ke lantai.

“HA…HA….HA….!” Terry tertawa senang melihat korbannya jatuh sesuai dengan rencananya.

Jonas terpaksa dengan cepat berdiri kembali. Ia malu karena banyak orang yang melihatnya jatuh. Sekarang bukan saja celana dan sepatunya yang kotor tapi bajunya pun menjadi kotor. Jonas memandang sedih pada seragamnya.

“Makanya kalau diajak ngomong, harus jawab!” Terry memperingati.

Jonas bangkit berdiri dan dengan cepat berlalu. Air matanya menggenang. Ia memang seorang anak yang sentimental. Dia pun berlari ke kelas dan dengan cepat minta ijin pulang ke wali kelas.

“Mengapa pulang? Ada apa dengan pakaianmu?” wali kelasnya bingung.

“Maaf guru, tadi saya terjatuh sehingga baju saya kotor. Saya harus mencuci baju ini dulu!” Jonas menjelaskan.

“Oh? Kamu tidak punya baju cadangan?” wali kelas heran.

“Eh… ada Pak. Sedang dicuci” Jonas malu-malu menjawab.

“Ya sudah. Kalau begitu, kamu boleh pulang. Tapi pelajarannya kamu pinjam dari yang lain ya.” Wali kelas tidak lupa memberi tugas.

“Baik Pak. Terima kasih, sekalian saya pamit!” Jonas pun mengundurkan diri dan kembali ke kelas.

-o0o-

“KRINGG……. “

Tiba-tiba bel tanda istirahat berakhir bergaung. Para siswa berebut masuk ke dalam kelas.

“Jonas, kamu mau ke mana?” Anton yang sudah kembali ke kelas melihat Jonas mengambil tas seperti ingin pergi.

“Saya tadi jatuh sehingga baju kotor. Jadi saya minta ijin ke wali kelas untuk pulang!” Jonas terpaksa menjelaskan.

“Oh….” Anton agak heran. “Kalau begitu nanti pulang, saya ke rumahmu agar kamu bisa mencatat pelajaran yang tertinggal”Anton langsung menawarkan.

“Hmm…. Terima kasih” Jonas bersyukur ia sudah mengenal Anton. Ia pun beranjak pergi.

“Lho…. Mana alamatmu?” Anton menahan langkah Jonas.

“Oh iya…. Jl. Teguh no 11C” Jonas menyebutkan alamatnya.

“Thanks. Hati-hati bro di jalan!” Anton menyalami teman barunya itu .

Salamnya itu tidak dibalas. Sepertinya Jonas ingin cepat-cepat keluar dari sekolah. Ia tidak ingin banyak siswa lainnya mengetahui kondisinya. Budiman dan Johny sempat melihatnya keluar.

“Mau ke mana Jonas?” Johny sempat bertanya.

Namun Jonas sepertinya tidak mendengar. Langkahnya sudah menjauh.

“Dia mau pulang karena bajunya kotor akibat terjatuh” terdengar suara Anton yang menjawab.

“Oh begitu!” Johny mencoba memahami.

Sementara para siswa lain pun sudah masuk ke kelas.Tak lama kemudian pelajaran pun dimulai.

-o0o-

“KRINGGGG!!! “

Bel pulang berbunyi. Semua siswa bergegas membereskan tas dan buku-bukunya.
Budiman dan Johny sudah pamit ke Anton.

“Anton… tunggu sebentar!” seorang teman sekelasnya memanggil.

Langkah Anton terhenti. Ia pun berpaling ke belakang

“Eh ada apa Jenny?”Anton menyapanya.

“Tadi waktu istirahat pertama, saya lihat ada yang aneh di toilet cowo!” Jenny melaporkan.

“Maksudnya?” Anton ingin tahu. Ia pun menghentikan langkah menunggu Jenny.

“Saat itu saya sedang ke toilet perempuan, baru selesai hendak keluar. Tiba-tiba dari toilet cowo, ada bunyi orang jatuh!” Jenny membuka laporannya.

“Siapa yang jatuh?” Anton terkejut.

“Awalnya saya juga tidak tahu. Sampai akhirnya Jonas keluar dari toilet dengan baju yang kotor!”

“Oh iya pasti itu penyebab Jonas pulang!” Anton teringat pertemuannya dengan Jonas tadi.

“Yang mengherankan, Terry juga keluar dari toilet. Mukanya sepertinya orang sedang happy.. Pasti ada kaitannya dengan dia!” Jenny menduga-duga.

“Bagaimana kamu menduga seperti itu?” Anton ingin kejelasan.

“Setelah suara orang terjatuh. Saya sepertinya mendengar ada suara cowo bicara : ‘Makanya kalau diajak ngomong, harus jawab!’” Jenny mengingat-ingat.

“Kamu kenal suaranya?” Anton menggali ingatan Jenny.

“Yang pasti bukan Jonas. Saya rasa Terry, karena hanya mereka berdua yang keluar dari toilet!” Jenny mengutarakan analisanya.

“Oke. Terima kasih informasinya. Pasti ini ulah Terry!” Anton tiba-tiba punya firasat.

“Saya juga merasa begitu” Jenny pun pamit pulang bersama teman-teman lainnya.

“Hm… pasti ada apa-apanya. Pantas Jonas mukanya muram!” Anton menarik benang merahnya.

Dia pun melangkahkan kaki meninggalkan sekolah menuju rumah Jonas.

-o0o-

“Jonas! Jonas!” panggil Anton dari luar rumah.

“Tunggu…!” tak lama kemudian Jonas keluar membukakan pintu.

“Bagaimana bajumu? Sudah kering?” Anton masuk ke dalam.

“Belum. Kan belum lama saya cuci!” Jonas menutup pintu

“Kamu punya baju seragam yang satu lagi kan?” Anton ingin memastikan teman barunya ini punya seragam untuk besok.

“Bajunya juga baru saya cuci. Saya lupa mencucinya kemarin. Saya pikir baju hari ini bisa saya pakai lagi besok” Jonas dengan malu-malu mengungkapkan kondisinya.

“Nah kalau begitu kamu perlu pakai kipas angin , agar cepat kering!” Anton mengusulkan sambil duduk di bangku yang ada.

“Hmm… Kipas anginnya sedang rusak” Jonas berkata terpaksa.

“Tidak diperbaiki?” Anton bertanya heran.

“Memang kipas anginnya sudah sangat lama. Jadi sering rusak. Tukang servis bilang, kalau rusak lagi sebaiknya beli yang baru. Yang lama sudah sulit diperbaiki karena spare-part nya sudah tidak ada lagi” Jonas menjelaskan malu-malu.

“Kalau begitu , nanti saya bawa pulang saja. Di rumah akan saya taruh di depan kipas angin agar cepat kering. Jadi besok sebelum sekolah saya bawakan lagi!” Anton mengusulkan.

“Eh….” Jonas bingung mau berkata apa. Memang bantuan yang ditawarkan Anton sangat diperlukan, namun di sisi lain menerima kebaikan seorang teman baru membuatnya merasa tidak nyaman.

“Nah ini catatan hari pelajaran tadi. Kamu bisa meminjamnya. Besok dibawa ya!” Anton menyerahkan buku-buku catatannya.

“Terima kasih ya” hanya itu yang Jonas bisa ucapkan.

Jonas mengambil gelas untuk diberikan ke temannya itu.

“Tidak perlu Jonas! Saya sudah harus pulang. Nanti mama cari” Anton memang tidak bisa berlama-lama.Cuaca sudah mulai gelap.

“Eh… tidak apa! Kan hanya minum saja” Jonas mendesak sambil membawa gelas dan menyodorkannya ke Anton

“Ya sudah.. Terima kasih bro!” Anton menerima gelas dan meminum isinya.

“Banyak catatan hari ini?” Jonas membuka-buka buku catatan Anton.

“Lumayan! Ngomong-ngomong kamu bagaimana bisa jatuh tadi?” Anton ingin mengetahui kejadian sebenarnya.

“Eh tidak apa-apa. Tidak hati-hati saja!” Jonas mengelak.

“Maaf bro, ada yang melihat kamu dan Terry… Ayo dong cerita ada apa!” minta Anton.

“Hmh….” Jonas terdiam.

Hatinya terkejut. Ada orang yang melihat dia dengan Terry. Berarti…?

“Bro, apakah Terry mem-bully kamu?” Anton mendesaknya.

“….” Jonas tidak menjawab, hanya matanya menjadi merah.

Anton yang melihatnya, tidak tega melihatnya.

“Maaf bro. Saya terlalu mendesakmu. Saya hanya berharap dapat berbagi denganmu” Anton menyesal.

“Tidak apa. Saya memang terlalu sentimental. Memang itu ulah Terry!” akhirnya Jonas berani berkata dengan jujur.

“Terry lagi-lagi membuat ulah. Jadi dia yang menjorokkan kamu sehingga jatuh?” Anton memancing penjelasan lebih dalam.

“Memang dia selalu mencari gara-gara. Saat saya buang air dia menekan badan saya ke uronior sehingga celana dan sepatu saya terkena air seni. Lalu saat saya mau keluar toilet, ia menyengkat kaki saya hingga jatuh!” akhirnya Jonas mau juga menceritakan pengalamannya.

“Kurang ajar! Berani sekali dia berbuat begitu di sekolah! Kita laporkan saja ke sekolah!” Anton berkata dengan geram.

“Jangan! Jangan! Nanti dia semakin cari gara-gara dengan saya!” Jonas memohon.

“Tapi kalau tidak dilaporkan, maka dia akan terus mem-buly kamu!” Anton mengingatkan.

“Jangan! Kalau pun dia dihukum dan tidak berani di sekolah, ia akan mem-bully saya di luar sekolah” Jonas semakin khawatir.

“Baiklah. Kalau begitu, kamu ikut saja dengan saya. Jangan dekat-dekat dengan Terry!” Anton mengusulkan.

“Boleh. Asal kamu tidak merasa terganggu saja” Jonas senang tapi juga cemas. Ia tidak ingin menjadi beban buat temannya ini.

“Sudah.. tenang saja. Nah sekarang saya balik dulu ya.” Anton pamit

“Eh…. Oke. Terima kasih ya sudah mau datang!” Jonas bersyukur.

“Oh iya, masukan pakaian sekolahmu yang masih basah ke plastik. Nanti di rumah saya keringkan. Besok kamu datang pagian, jadi bisa ganti baju !” Anton teringat baju Jonas.

“Hmh… tidak usahlah. Nanti merepotkan kamu!” Jonas tidak enak.

“Jiah…. Kan yang kerja nanti kipas angin… tenang aja lagi!” Anton menenangkan.

Akhirnya Jonas memasukkan baju dan celananya ke dalam plastik. Kemudian diserahkannya plastik itu ke Anton.

“Ngomong-ngomong, kamu sendirian di rumah?” Anton ingin pamit.

“Ada mama. Tetapi sedang tidur” Jonas menjelaskan.

“Oh begitu. Tolong sampaikan saya permisi dulu ya!” Anton melangkah menuju pintu.

“Oke… akan saya sampaikan!” Jonas berjanji.

Anton pun melangkah ke luar rumah Jonas.

“Sampai besok!” salamnya.

-o0o-

“Jonas!” terdengar mamanya memanggil.

Jonas yang baru masuk rumah setelah mengantar Anton ke luar, cepat-cepat masuk ke kamar mamanya.

“Iya Ma. Mama sudah bangun? Ada apa?” Jonas dengan penuh perhatian menantikan permintaan mamanya.

“Tadi ada siapa yang datang?” mamanya rupanya tahu ada tamu yang datang.

“Teman sekelas di sekolah Ma” jawab Jonas.

“Mama senang kamu sekarang sudah punya teman. Sepertinya ia anak baik. Mama dapat merasakannya” Mama Jonas bersyukur.

“Dia memang baik. Dia jadi ketua kelas. Barusan ia pulang setelah meminjamkan catatan pelajaran” Jonas menjelaskan.

“Mama setuju kamu berteman dengan orang seperti dia” mamanya bersyukur.

“Ia juga mengambil baju seragam yang baru dicuci. Katanya mau dikeringkan di rumahnya agar besok bisa dipakai” Jonas memberitahu mamanya.

“Wah ia sungguh baik. Siapa namanya?” mamanya ingin tahu.

“Anton. Selain Anton, hari ini saya juga berteman dengan Budiman, Johny dan Jenny. Mereka teman Anton juga” Jonas bercerita tentang teman-temannya.

“Siapa nama orang yang telah berbuat jahat denganmu?” mamanya juga ingin tahu.

“Hm… dia Terry. Ia bukan teman sekelas, tapi kelas sebelah Ma” Jonas menjelaskan.

“Terry? Bukannya ia dulu sahabat kamu sendiri? Kamu jangan bergaul lagi dengan Terry! Kamu harus belajar agar tidak mengalah pada orang seperti dia. Mama percaya kamu bisa mengatasinya!” mamanya berkata sambil menatap sayang ke arah Jonas.

“Masalahnya walau saya sudah menjauhkan diri, tetapi setiap kali bertemu dengannya, Terry selalu mem-bully saya Ma!” Jonas sepertinya putus asa.

“Terry pasti anak bermasalah. Sementara ini kamu bergaul dengan Anton dengan teman-temannya saja. Semoga mereka bisa melindungi kamu!” mamanya hanya bisa berharap.

“Tentu Ma. Saya senang berteman dengan Anton dan teman-temannya.” Jonas menatap mamanya yakin.

“Kamu sudah makan Jonas?”

“Belum Ma. Rencananya kan Kak Yakob akan membawakan bubur! Pasti sebentar lagi ia datang.” Entah mengapa Jonas menaruh kepercayaan pada Yakob.

“Jonas! Jonas!” dari arah depan rumahnya terdengar suara memanggil.

“Nah itu pasti Kak Yakob!” Jonas yakin.

“Kalau begitu kamu bukakan pintu dulu” mamanya meminta anaknya agar cepat membuka pintu.

Segera Jonas beranjak meninggalkan mamanya.

-o0o-

“Sore Jonas!” sapa Yakob saat melihat Jonas muncul dari dalam rumah.

“Sore Kak!” balas Jonas sambil membukakan pintu.

“Bagaimana sekolahmu hari  ini?” Yakob masuk ke dalam.

“Hmm… parah!” Jonas bergumam sambil mengunci pintu.

“Ada apa?” Yakob jadi heran.

“Nanti saja saya ceritanya. Ayo Kak masuk dulu!” Jonas mempersilahkan Yakob duduk di bangku yang dia tarik dari bawah meja makan.

“Jonas, sesuai janji saya bawakan bubur untukmu dan mamamu. Karena sekarang sudah hampir malam, sebaiknya kamu dan mamamu makan dulu ya!” Yakob menyerahkan rantang berisi bubur.

“Terima kasih banyak ya Kak!” Jonas menerima rantang itu dan menaruhnya di atas meja makan yang merangkap sebagai meja multi fungsi karena hanya satu-satunya di rumah itu.

“Kalau gitu, Kakak bantu kamu siapkan mangkuk untuk mamamu ya!” Yakob langsung mengambil 2 mangkuk dari rak piring yang ada dekat tempat cuci piring.

“Waduh… maaf Kak jadi merepotkan!” Jonas merasa tidak enak hati.

“Sudah tenang saja. Kamu bantu menyiapkan minuman dan obat untuk mamamu ya!” Yakob membuka rantang dan menuang isinya ke mangkuk.

“Nah yang ini untuk kamu!” Yakob menyodorkan 1 mangkok bubur untuk Jonas.

“Sedangkan yang ini saya bawakan ke kamar mamamu ya!” Yakob meminta ijin.

“Eh…. Maaf ya Kak. Jadi tidak enak hati.” Jonas merasa sungkan.

Dia tidak pernah mendapat pengalaman seperti itu.

“Permisi!” Yakob berkata sambil mengetuk pintu.

“Silahkan masuk!” terdengar suara dari dalam.

“Selamat sore Tante!” sapa Yakob saat masuk dan melihat mama Jonas sedang terbaring.

“Selamat sore Yakob. Silahkan masuk!” mama Jonas balas menyapa.

“Tante, saya bawakan bubur. Karena sudah hampir malam, sebaiknya makan bubur dulu ya. Ini saya buat sendiri. Semoga tidak mengecewakan!” Yakob pun menyodorkan mangkok buburnya.

“Wah Yakob pintar buat masakan ya?” mama Jonas mengambil mangkok dan mencium aroma buburnya.

“Waduh… malu deh. Saya belum lama belajar buat buburnya. Minta petunjuk tante untuk penilaiannya” Yakob ingin mengetahui masukan dari mama Jonas.

“Rasanya pas. Tante suka sekali!” mama Jonas memberi pujian setelah mencicipinya.

“Terima kasih Tante. “ Yakob bersyukur masakannya tidak mengecewakan.

Tidak lama berselang Jonas masuk sambil membawa minuman dan obat mamanya.

“Jonas, kamu bawa saja buburmu ke mari. Temani mamamu makan!” Yakob memberi saran.

“Hm….” Jonas ragu.

“Betul saran Yakob. Bawa saja kemari Jonas! Kita makan bersama.” Mama Jonas setuju.

Jonas pun keluar untuk segera kembali lagi membawa mangkuk buburnya. Mama Jonas berdua dengan Jonas menikmati bubur yang dibuat Yakob. Tampaknya mereka menyukainya. Dengan cepat buburnya sudah habis. Yakob pun membawa bubur yang masih ada di rantang ke dalam.

“Tambah ya Tante?” Yakob menawarkan.

Mama Jonas mengangguk lemah.
Yakob pun menyendok bubur lalu memasukkannya ke mangkuk mama Jonas.

“Kamu juga ya Jonas?” Yakob bertanya sambil menyodorkan tambahan bubur ke mangkuk Jonas.

Jonas tidak keberatan. Setelah itu mama Jonas dan Jonas kembali menikmati buburnya. Yakob senang melihat keduanya makan dengan lahap. Masih ada sisa bubur di rantang yang dibawa. Memang sengaja dia membuatnya banyak. Karena bila tidak habis, mereka bisa menikmatinya malam-malam. Akhirnya selesai juga acara makan malamnya.

Jonas mengumpulkan mangkuk mamanya, lalu membawanya keluar bersama mangkuknya sendiri  untuk dicuci.

-o0o-

“Maaf Tante lupa bertanya, kamu sendiri sudah makan Yakob?” mama Jonas bertanya.

“Sudah Tante. Bagaimana kondisi Tante sekarang?” Yakob bertanya.

“Sekarang sudah jauh membaik. Hanya Tante punya kekhawatiran sedikit!” mama Jonas sepertinya memiliki pergumulan sendiri.

“Oh ada apa Tante?” Yakob sedikit terkejut mendengar mama Jonas mau berbicara tentang rasa khawatirnya.

“Jonas anak Tante yang baik. Sangat baik malah. Namun sayangnya saya tidak mampu membiayai hidupnya seperti teman-teman sekolahnya. Akibatnya ia menjadi minder.” Mama Jonas mencurahkan penyebab rasa khawatirnya.

“Oh begitu. Memang tidak mudah menerima kondisi seperti itu. Namun sebagai seorang anak, ia harus belajar beradaptasi dalam kondisi lingkungannya” Yakob memberi pendapat.

“Betul. Kalau lingkungan mau mengajarnya, ia tentu bisa mengatasinya. Namun yang lebih berat adalah ia harus menghadapi temannya yang suka mem-bully-nya.” Mama Jonas menambahkan.

“Oh sampai separah itukah pergaulan siswa sekarang?” Yakob tercengang.

“Begitulah kenyataannya. Hari ini Jonas kembali di-bully temannya itu!” mama Jonas merasa kesal.

Tiba-tiba Jonas masuk membawa minuman dan obat untuk mamanya.

“Jonas, coba kamu cerita tentang peristiwa kamu di-bully temanmu!” mama Jonas meminta

“Eh….?!” Jonas terkejut atas permintaan mamanya itu. “Ma… minum dulu. Ini obatnya” Jonas coba menenangkan diri.

“Terima kasih Jonas” mamanya mengambil obat lalu menelannya beserta minuman yang disodorkan Jonas.

Jonas sudah berhasil menenangkan diri, namun belum langsung bercerita.

“Nah.. coba kamu cerita sekarang Jonas!” mamanya mengulangi permintaannya.

Jonas pun meneguk lidahnya dan berdehem.


“Hm…. Di sekolah memang ada seorang siswa yang paling banyak membuat masalah…. Namanya Terry….. Badannya memang besar dan mukanya jutek!” Jonas membuka kisahnya secara perlahan dan terputus-putus.

“Sudah lama kamu satu sekolah dengannya?”Yakob coba membantu Jonas.

“Cukup lama. Dulu sejak SMP saya sudah satu sekolah dengan dia. Tapi awalnya dia sama sekali tidak seperti itu!” Jonas mengingat-ingat.

“Oh begitu. Pasti ada penyebabnya di belakangnya. Apakah sebelumnya dia bersikap baik denganmu?” Yakob coba menggali.

“Hmm…. Dia baik. Bahkan baik sekali. Dulu ia merupakan seorang teman baik satu-satunya yang saya miliki!” Jonas menjelaskan.

“Jadi sejak kapan ia suka mem-bully mu?” Yakob penasaran.

“Sepertinya sejak keluarganya pecah. Papa dan mamanya berpisah. Sejak itu ia ikut papanya dan ia merasa sangat marah” Jonas menjawab.

“Pasti ada kaitannya dengan perpisahan papa dan mamanya” Yakob menduga.

“Sejak itu ia sepertinya ingin menghancurkan diri saya. Ia terus mem-bully diri saya. Ia senang membuat saya menangis.” Jonas menjelaskan.

“Jadi…. Hari ini dia mem-bully kamu lagi?” Yakob meminta penjelasan.

“Benar. Saat kami bertemu di toilet, ia mencari gara-gara lalu menjoroki badan saya ke urinoir sehingga celana dan sepatu saya menjadi kotor terkena air seni saya sendiri. Lalu saat saya bergegas ingin keluar toilet, kaki saya disengkatnya sehingga saya terjatuh. Baju dan celana saya semuanya kotor sehingga saya malu dan memutuskan pulang.” Jonas menjelaskan panjang lebar.

“Kalau begitu untuk sementara kamu jangan dekat dengan Terry. Usahakan kamu dekat dengan teman yang lain sehingga ia tidak berani mem-bully kamu!” Yakob mengusulkan.

“Betul! Kalau begitu kamu dekat dengan Anton saja. Dia anak baik. Dia pasti bisa melindungi kamu!” mama Jonas juga mengusulkan.

“Kamu dekat dengan Anton?” Yakob ingin tahu.

“Eh… baru hari ini kami bergaul dekat. Tadi Anton bahkan ke rumah untuk pinjamkan saya buku catatannya!” Jonas menjelaskan.

“Bagus. Kamu memang sebaiknya bergaul dengan teman-teman yang baik. Pergaulan yang buruk akan merusak.” Yakob setuju.

“Anton itu gerejanya di GeYeSKu. Kakak kenal dengannya kan?” Jonas memastikan.

“Tentu saja Kakak kenal. Dia kan aktif pelayanan di gereja.” Yakob menjelaskan.

“Oh pantas.” Jonas bersyukur mengenal Anton.

“Kalau bisa, kamu juga datang ke persekutuan remaja di gereja seperti Anton. Harapannya agar kamu dapat teman-teman yang lain” Yakob memberi saran.

“Hm…. Saya akan pikirkan dulu ya Kak.” Jonas tidak lantas menyetujui.

Tiba-tiba Jonas terkejut.Yakob yang sedang memperhatikannya ikut terkejut.

“Ada apa Jonas?” Yakob ingin tahu.

“Eh…..” Jonas ragu menjawabnya.

“Kamu melihat apa Jonas?” akhirnya mamanya bertanya.

“Mmmm….. dia datang lagi ma.” Jonas tidak berbicara dengan jelas.

“Dia siapa Jonas?” Yakob bingung.

“….” Jonas terdiam.

“Jonas jelaskan saja kepada Yakob. Mungkin ia bisa menolong kita.” Mamanya membujuk.

“Mahluk hitam yang sudah hilang tadi pagi, datang kembali.  Bahkan sekarang ia datang bersama 7 mahluk serupa lainnya!” Jonas menjelaskan.

“Astaga…. “ mamanya sekarang yang khawatir. Terbayang penderitaannya akan bertambah.

“Maaf saya belum paham. Siapa mahluk hitam dan temannya? Saya tidak melihat ada mahluk hitam.” Yakob masih tidak mengerti.

“Jonas punya kemampuan untuk melihat roh .” Mama Jonas menjelaskan.

“Oh begitu…. Jadi sekarang kamu melihat mahluk itu?” Yakob sudah paham.

Jonas menganggukkan kepala.Yakob sendiri hanya memiliki perasaan tidak enak tapi tidak memiliki kemampuan melihat roh.

“Lalu apa pengaruh kehadiran mahluk itu?” Yakob menggali.

“Saat mahluk itu ada, mama menjadi sakit. Mahluk itu yang menjadi penyebab mama sakit selama ini!” Jonas menjawab.

“Lalu kenapa sekarang Tante belum sakit?” Yakob penasaran.

“Karena ada Kakak di sini” jawab Jonas mengejutkan Yakob.

“Saya belum mengerti” Yakob meminta penjelasan tambahan.

“Dalam diri Kakak ada pancaran sinar yang membuat para mahluk itu tidak berani mendekat ke mama”

“Oh begitu rupanya. Sungguh kasih Tuhan luar biasa. Dia telah melindungi Kakak dengan sinar kasihNya yang luar biasa. Ia melindungi orang-orang yang percaya!” Yakob menjelaskan.

“Maksud Kakak?” Jonas gantian bingung.

“Tuhan telah berfirman. Dia berjanji akan melindungi orang-orang percaya kepadaNya.” Yakob menjelaskan.

“Bagaimana agar bisa menjadi orang percaya?” mama Jonas cepat-cepat bertanya.

“Mengakui dosa-dosa kita, bertobat dan meminta pengampunan, mengakui Yesus sebagai Juruselamat, mengundang Yesus maksud ke dalam hati kita dan menyucikan segala dosa kita alias lahir baru dan  memulai hidup baru yakni hidup yang diubahkan sesuai dengan kehendak Tuhan.” Yakob memberi intisari penjelasannya.

“Semudah itu?” mama Jonas penasaran.

“Betul. Keselamatan itu gratis. Tidak dipungut biaya apa pun. Jadi Tuhan tidak perlu dibujuk dengan melakukan perbuatan baik apa pun agar kita bisa memperoleh keselamatan.” Yakob terus membagi imannya.

“Permisi…! Permisi….!” Tiba-tiba dari luar terdengar suara.

“Jonas… sepertinya ada orang datang! Tolong lihat ke depan.” Mama Jonas juga mendengar panggilan itu.

“Baik Ma…” Jonas bangkit ditemani oleh Yakob.

Sepertinya Yakob sudah menduga siapa yang datang.

-o0o-

“Mau cari siapa Pak?” tanya Jonas saat melihat tamu yang tidak dikenalnya.

“Malam. Saya dari GeYeSKu, gereja yang di depan jalan” sang tamu memperkenalkan diri.

“Halo Pak Simon!” Yakob muncul sambil menyapa. Benar dugaannya yang datang Pak Simon, salah seorang diaken GeYeSKu.

“Halo Yakob. Rupanya kamu sudah duluan ya” sapa Simon.

“Iya. Nah kenalkan ini Jonas.” Yakob memperkenalkan keduanya.

“Halo Jonas. Saya Simon. Dan ini istri saya Maria” Gantian Simon yang memperkenalkan istrinya.

“Malam Jonas. Senang bisa berkenalan denganmu” Maria langsung menyapanya.

“Malam Pak Simon dan Ibu Maria. Silahkan masuk ke dalam.” Jonas mempersilahkan tamunya sekaligus menutup pintu depan rumahnya.

“Yuk..” Yakob juga mempersilahkan Simon dan Maria masuk ke dalam.

“Jonas, Pak Simon dan Ibu Maria ini adalah majelis GeYeSku. Mereka datang khusus untuk membesuk mamamu yang sedang sakit” Yakob menjelaskan.

“Oh begitu. Kalau begitu langsung saja masuk ke dalam!” Jonas kembali mempersilahkan tamunya masuk.

Akhirnya kamar mama Jonas dipenuhi oleh Yakob, Simon, Maria dan Jonas. Karena kamarnya kecil, maka kondisinya jadi sempit. Namun hal ini tidak mengurangi kegembiraan yang dirasakan mama Jonas dan Jonas sendiri. Sudah lama sekali tidak ada yang berkunjung ke rumah mereka apalagi jumlahnya 3 orang sekaligus.

“Perkenalkan , ini Pak Simon dan istri Ibu Maria. Mereka berdua dari Gereje Yesus Satu-Satunya Juruselamatku. Dan ini Mama Jonas  dan Jonas sendiri” Yakob berinisiatif memperkenalkan keduanya.

Keempatnya saling berjabat tangan.

“Ngomong-ngomong saya belum tahu nama Ibu. Boleh tahu namanya Ibu?” Yakob tiba-tiba sadar.

“Oh…. Nama saya Amy” mama Jonas menjawab.

“Ibu Amy, saya mengundang Pak Simon dan Ibu Maria datang ke mari karena sebenarnya mereka tinggal dekat dengan rumah Ibu. Jadi kalau Ibu ada keperluan bisa minta bantuan mereka berdua” Yakob menjelaskan.

“Terima kasih banyak ya sudah mau bersusah-susah memperhatikan saya. Saya merasa tidak enak hati.. “Amy merasa sungkan.

“Tidak apa Ibu. Kami senang berkenalan dengan tetangga. Jadi kalau Ibu butuh sesuatu silahkan hubungi kami. Saya tinggal di gang Terong no. 1.” Simon menjelaskan.

“Oh yang rumahnya warna biru ya?” Jonas tiba-tiba memotong.

“Benar. Nah kamu sudah tahu kan? Kamu bisa datang kalau sempat ke rumah kami.” Simon mengundang Jonas.

“Eh… iya. Terima kasih” Jonas agak gugup. Ia juga sangat jarang ke rumah orang lain.

“Nah… roti ini buat kamu dan mamamu” Simon mengambil roti yang disodorkan istrinya untuk diserahkan ke Jonas.

“Hmh…. Terima kasih” Jonas mengambil dan membawanya keluar.

“Kalau begitu, kita lanjutkan ke topik semula ya Bu Amy? Kita mau berdoa untuk keselamatan jiwa Ibu” ujar Yakob “Kebetulan Pak Simon juga hadir. Jadi kita bisa besama-sama berdoa untuk Ibu Amy” ajak Yakob.

“Iya” Amy menjawab.

“Pak Simon, Ibu Amy sudah bertekad untuk mengikut Yesus sebagai Juruselamatnya. Mari Ibu Amy, silahkan Ibu berdoa mengikuti saya” Yakob membimbing Amy.

“Baik” Amy mengangguk.

“Bapa di dalam sorga” Yakob memulai doanya.

“Bapa di dalam sorga” Amy mengikuti.

“Pada saat ini, saya Amy berdoa kepadaMu memohon ampun atas segala dosa-dosa saya” Yakob menyambung dan Amy mengikuti.

“Saya memohon Engkau untuk masuk ke dalam hati saya dan menjadi Juruselamat saya pribadi” Yakob menuntun Ibu Amy.

Ibu Amy tetap mengikuti perkataan Yakob. Simon dan Maria meng-amin-kan nya.
Yakob terus membimbing Amy dalam doa.

Sementara malaikat di sorga bersorak-sorai karena satu orang diselamatkan.

Bila bunyi sangkakala, bila bunyi sangkakala
Bila bunyi sangkakala, bila bunyi sangkakala ‘ku ada   

Bila zaman ini lalu pada hari kiamat
Bila sangkakala Allah terdengar
Bila orang yang selamat berkeliling tahtaNya
Bila namaku dipanggil ‘ku ada.


-o0o-

Jonas yang menyaksikan dan mendengarkan doa Yakob dan mamanya tiba-tiba terkejut.Dia melihat sinar terang mengelilingi kamar mamanya.Ia tidak tahu sinar apakah itu.Namun dampaknya sangat dahsyat!Sinar itu membuat demon dan ke tujuh temannya tidak berani mendekat.Mereka rupanya tidak tahan dengan sinar itu.
Akhirnya mereka pun menyingkir pergi.

Sinar itu pernah dilihatnya semalam saat para demon bersatu hendak masuk ke GeYeSku. Sinar itu tidak berhasil ditembus oleh para demon itu. Berbeda dengan penampakan demon yang menyeramkan, Sinar itu membuatnya sangat nyaman.Ia tidak pernah merasakan kedamaian seperti itu.Seperti ada nyanyian yang sangat merdu dikumandangkan. Sorakan-sorakan dan pekik kemenangan menggema.

Jonas sangat heran. Tidak ada sebuah mahluk pun yang hadir di luar mama dan Yakob cs. Jadi siapakah yang bernyanyi dengan begitu indah?Yang juga mengherankan adanya Yakob, Simon , Maria dan mamanya.Sepertinya mereka berada dalam satu kesatuan. Sinar memancar dari mereka berempat.Jonas sungguh takjub. Biasanya mamanya hanya memancarkan keredupan. Mengapa sekarang dari tubuh mamanya bisa terpancarkan sinar yang sama dengan Yakob cs?

-o0o-

Dari rumah Jonas keluar 8 mahluk hitam. Mereka dengan cepat melesat ke suatu tempat yang dituju. Di sana sudah menanti Sang Bos.

“Lapor Bos!” demom pengganggu Amy , mama Jonas, melapor.

“Bagaimana? Sudah berhasil?” Sang Bos berkata dengan suara tinggi.

“Maaf Bos. Kami gagal! Sang demon melaporkan.

“APA??!!” Sang Bos mulai membelalakkan matinya.

Tiba-tiba dengan kecepatan kilat dihantamnya ke delapan bawahannya itu!

“DUKKKKK!!” Para demon terpental jauh.

Belum sempat mereka bangun, tiba-tiba terlontar hawa panas dari Sang Bos.

“AHHHHHH” terdengar raungan kesakitan dari ke delapan mahluk hitamitu.

Rupanya sinar panas itu membakar tubuh mahluk hitam itu.Tampak tubuh mereka seperti berasap dan berwarna kemerahan! Mereka berusaha untuk mengipaskan sayap mereka ke arah tubuh mereka yang terluka. Namun Sang Bos tidak puas. Dari tangannya terlontar enersi yang mengeluarkan hawa panas luar biasa!

“DERRRR!!!”

Ke delapan anak buahnya terlontar lebih jauh dibanding yang pertama.

Mereka seperti diterbangkan angit ribut.Seolah daun yang diterbangkan angin. Begitu ringan!

“BRUGGHHH!!” Tubuh mereka berjatuhan secara serempak.

Mereka berusaha bangkit. Mereka semua bukanlah mahluk lemah. Tetapi kekuatan mereka seakan-akan hilang tak berbekas. Bahkan untuk berdiri saja sepertinya sudah tidak mungkin. Berulang kali mereka berusaha bangkit, namun kembali ambrug.Wujud mereka tidak lagi seperti awal. Tubuh mereka sudah hangus di sana sini, terluka lebar dan berwarna merah.

Sang Bos pun kemudian dengan cepat melesat ke arah mereka. Lalu tangannya diacungkan dengan pengerahan enersi jahat. Kekuatan enersi jahat itu sangat luar biasa. Ke delepan anak buah nya pasti tidak ada yang bertahan.Hal ini berarti maut akan melanda mereka.

“Ampun…. Bos! Ampun…. Bos! Kami mengaku salah. Hukumlah kami tapi selamatkanlah kami!” mereka merengek-rengek.

“Sudah berulang kali gagal dan masih minta dimaafkan? Saya akan kirim kamu ke Hades selamanya!” Sang Bos kemudian mengubah cara pengerahan enersinya.

Tiba-tiba keluar enersi aneh dari tangannya yang melanda kedelapan anak buahnya.
Anak buahnya hanya bisa menjerit dan tidak lama kemudian mereka menghilang. Sang Bos sudah memindahkan mereka ke tempat yang sangat jauh. Tempat untuk menghukum para anak buahnya yang tidak berprestasi!

Setelah itu dipanggilnya demon lainnya.

“Kamu ikuti Amy. Buat dia menjadi goyah dan berbalik tidak percaya!” perintah Sang Bos.

Anak buahnya itu hanya bisa menerimanya. Tidak berani membantah sedikit pun. Dia tahu apa konsekuensi kalau membantah dan tidak berhasil melaksanakan perintah Sang Bos! Siksaan abadi sudah pasti menanti.

-o0o-

“Ibu Amy. Setelah Ibu percaya, maka Ibu harus belajar mengenal Yesus. Besok saya akan datang kembali setelah mengajar di Sekolah YeSKu untuk membawa Alkitab.” Jelas Yakob.

“Baik. Saya akan belajar dan berdoa. Saya akan sungguh-sungguh belajar mengenal Yesus!” Amy mukanya seperti berseri dan bersinar.

“Kalau begitu saya permisi dulu. Saya mau ke rumah sakit. Ada supir gereja yang sedang dirawat di rumah sakit” Yakob menjelaskan.

“Iya, saya juga mau permisi dulu. Sekalian mau ke rumah sakit juga” Simon dan Maria juga mohon diri. “Oh iya.. ini ada buku renungan harian untuk Ibu Amy baca-baca.” Simon mengeluarkan sebuah buku tipis.

“Terima kasih ya dan terima kasih juga sudah mau datang.” Amy dengan semangat kemudian bangkit duduk dan berdiri.

Jonas memandang takjub. Bagaimana mungkin mamanya sudah lesu dan sakit sekarang seolah-olah mendapatkan kembali kekuatannya? Mamanya seperti sudah melupakan sakitnya. Apakah memang mamanya sudah sembuh?

“Bu Amy tidak usah repot-repot mengantar kami. Biar Jonas saja yang nanti mengunci pintu” Simon memberi saran.

“Tidak apa-apa. Saya rasanya sudah pulih kembali. Jiwa raga saya seakan sudah sehat. Saya percaya ini pertolongan Tuhan.” Amy matanya menyorotkan rasa syukurnya.

“Puji Tuhan. Tuhan maha pengasih!” Yakob berseru takjub.

Akhirnya Yakob, Simon dan Maria keluar dari rumah Amy. Jonas mengembalikan rantang berisi bubur yang tadi dibawa oleh Yakob. Bubur yang  masih tersisa sudah dipindahkannya. Jonas dan Amy membalas lambaian tangan dari kedua tamunya itu.

--o0o—


“Ma… mama sudah sembuh?” Jonas bertanya tidak percaya.

“Mama tidak tahu Jonas. Hanya perasaan sukacita ada dalam diri mama. Perasaan ini membuat seakan tubuh mama sudah pulih. Tidak ada lagi rasa lemah tak berdaya.” Amy juga tidak percaya.

“Mama mau kembali ke kamar?” Jonas tidak tahu bagaimana menyikapi kondisi mamanya.

“Iya. Mama ingin membaca buku renungan yang diberikan. Mama sepertinya tidak sabar untuk membacanya. Sudah lama mama ingin membacanya. Entah apa yang membuat mama tertahan tidak membacanya.” Amy yang terikat kegelapan tidak menyadarinya.

“Wah bersyukur sekali mama bisa pulih seperti ini. Itu berarti mama mendapat mujizat!” Jonas menyimpulkan.

“Benar! Mama sungguh bersyukur. Mama berharap kamu juga mau menjadi pengikut Kristus.” Amy melontarkan keinginannya.

“Iya mama. Jonas akan mulai belajar juga seperti mama. Hanya Jonas tunggu sampai Jonas siap!”Jonas terkesan masih ingin sedikit menunda.

“Jonas apa yang tadi kamu lihat saat mama dan Yakob berdoa?” Amy ingin tahu.

“Jonas melihat sinar terang melingkupi mama dan yang lainnya. Bahkan Jonas seperti mendengar ada suara bersorak-sorai seperti menyambut kemenangan. Suara itu juga bernyanyi dengan gembira!” Jonas menceritakan apa yang dia lihat.

“Ah… apakah itu suara malaikat? Bukankah tadi Yakob sempat menceritakan bahwa para malaikat dan melindungi dan berkemah di sekeliling orang percaya?” Amy hanya bisa menduga-duga.

“Kalau mama sendiri , apa yang mama rasakan?” Jonas gantian bertanya.

“Perasaan mama seperti meluap-luap. Ada rasa sukacita dan damai dalam hati mama! Mama tidak pernah memiliki perasaan seperti itu. Semua beban dan penderitaan mama dari dulu seakan terlepas begitu saja!” Amy mengutarakan apa yang dirasakannya.

“Bagaimana dengan enersi yang terpancar saat mama berdoa menerima Yesus sebagai Juruselamat?” Jonas masih penasaran. Ia tahu mamanya seperti dirinya punya talenta untuk merasakan enersi yang terpancar dari tubuh seseroang.

“Enersi kasih dari Yakob, Simon dan Maria mengalir begitu deras. Mama dapat merasakan ketulusan dan kesatuhatian dengan mereka. Namun mama percaya itu bukan enersi biasa. Tidak ada manusia yang bisa memiliki enersi seperti itu. Entahlah … mungkin itu enersi dari Tuhan sendiri yang menyatukan orang-orang percaya.” Amy menceritakan apa yang dirasakannya.

“Sungguh luar biasa!” Jonas semakin takjub namun ada suatu hal yang ingin ia yakinkan lebih dahulu sebelum ia benar-benar menerima Yesus sebagai Juruselamatnya pribadi.

“Kita sungguh-sungguh bersyukur, bisa mengenal Jonas, Simon dan Maria. Mereka benar-benar bukan orang biasa.” Amy lagi-lagi bersyukur. Mereka berdua bersukacita.

“Mari Jonas, kita belajar bersama dari buku renungan ini.” Amy mengajak anaknya.

“Iya Ma.”

Malam ini ibu dan anak benar-benar memiliki pengalaman luar biasa.Namun apakah jalan di depan lurus tanpa masalah? Tidak ada yang menjamin!

--o0o—

Di tempat lain Anton menaruh baju dan celana Jonas di depan kipas angin.

“Baju siapa itu, Anton?” mamanya heran.

“Baju teman sekolah Ma. Ia tidak punya baju seragam lagi yang kering. Karena di rumahnya tidak punya kipas angin, Anton bermaksud menolongnya” Anton menceritakan kondisi temannya.

“Nah , itu baru anak mama!” mama Anton memuji anaknya.

“Ma, kasihan teman Anton itu. Namnya Jonas. Ia di-bully oleh siswa kelas sebelah. Akibatnya baju dan celananya kotor sehingga ia pulang karena malu.” Anton membagi kisah Jonas.

“Wah kamu harus membantu Jonas agar jangan di-bully oleh siswa nakal lainnya!” mama Anton memberi dukungan.

“Iya Ma. Anton tadi sempat ke rumah Jonas. Rumahnya sangat kecil dan sederhana. Mamanya juga sedang sakit. Papanya sudah tidak ada.”Anton menambahkan informasi.

“Kalau begitu , kamu harus benar-benar memperhatikannya. Anak seperti itu perlu didukung oleh teman-temannya bukannya di-bully!” mamanya bersimpati.

“Iya Ma.” Anton setuju.

“Nah sekarang kamu mandi dan makan dulu. Nanti kalau baju dan celana Jonas sudah kering, akan mama setrika agar rapi!” mamanya segera berlalu untuk menyiapkan makan malam untuk keluarganya.

“Terima kasih Ma!” Anton pun bergegas mengambil handuk untuk mandi. Ia pun menembangkan lagu “Bagaimana Dengan Mereka” gubahan One Way.

Oh betapa indahnya hidup kita jalani
Tiada waktu terlewat tanpa bahagia
Mari lihat ke luar, terkadang kita lupa
Kita tak sendiri
Menikmati indahnya hidup yang diberikan
Oleh Sang Pencipta

Bagaimana dengan mereka yang menjerit karena lapar
Dan hidup dari belas kasihan orang s’perti kita
Bagaimana dengan mereka yang tak punya apa-apa
Apa yang t’lah kita buat
Karna kita diciptakan
Untuk berbagi hidup dengan mereka

--o0o—




No comments:

Post a Comment