Saturday, December 19, 2015

Coram Deo Ep 5 - Sang Pengemudi (2)


CORAM DEO
(Episode 5)

SANG PENGEMUDI (2)

“Yakob cepat ke rumah sakit!” Hasan, berseru saat melihat kedatangan Yakob.

Hasan memang bertugas menjaga pintu gerbang gereja.

“Ada apa?” Yakob jadi was-was.

“Arman ditabrak mobil dan kondisinya gawat! Ia sepertinya tidak ada harapan! Cepat susul ke sana!” Hasan berbicara sekaligus tanpa sempat bernafas.

“Eh… kenapa tidak menelpon saya sebelumnya?” Yakob heran.

“Sepertinya kamu tidak bawa? Karena dari tadi shi mu dan mu shi menghubungimu tapi tidak diangkat!” Hasan menjelaskan.

Yakob meraba kantong celananya. Benar saja ia baru ingat ia lupa membawa handphone-nya! Tanpa membuang waktu lagi, Yakob segera kembali ke kamar mengambil handphone lalu dengan mengendarai motor gereja dan langsung ke RS Karmel. Dengan memacu motornya, Yakob ingin sesegera mungkin sampai di rumah sakit. Kalau bisa saat itu juga ia sudah sampai. Namun ia tetap memperhatikan kondisi lalu lintas. Ia tidak mau sampai membahayakan pengguna jalan lainnya dan juga dirinya sendiri.

“Yakob, cepat! Arman ingin bicara denganmu!” Ev. Debora langsung berpesan saat melihat Yakob.

“Baik shi mu!” Yakob segera masuk ke ruang UGD.

--o0o—

Arman tampak terbaring. Tubuhnya berlumuran darah. Ia sedang menunggu tim dokter untuk mengoperasinya. Namun sebelum itu ia ingin berbicara dengan Yakob.

“Pak Arman!” panggil Yakob.

Arman membuka matanya. Ia berusaha tersenyum.Yakob yang melihatnya merasa hatinya teriris. Baru saja ia berpisah sebentar, mengapa Pak Arman sudah seperti ini?
Ia belum sempat menanyakan kejadiannya. Yang penting sekarang ia ingin berbicara dengan Pak Arman.

“Yakob, waktu Bapak sudah sempit….” Arman berkata perlahan.

“Tenang Bapak…. Dokter akan berusaha sebaik-baiknya!” Yakob berusaha membangkitkan semangat.

“Saya tahu… saya ingin menanyakan kamu satu hal…. Apakah saya sudah diselamatkan?” Arman tampak mengerahkan tenaga untuk berkata-kata.

“Pak Arman, keselamatan itu sudah tertulis dalam Kitab Suci. Dikatakan bahwa Sebab jika kamu mengaku dengan mulutmu, bahwa Yesus adalah Tuhan, dan percaya dalam hatimu, bahwa Allah telah membangkitkan Dia dari antara orang mati, maka kamu akan diselamatkan. Karena dengan hati orang percaya dan dibenarkan, dan dengan mulut orang mengaku dan diselamatkan!” Jadi kunci keselamatan bukan pada perkataan manusia atau manusia yang menentukan manusia lain sudah diselamatkan. Namun Allah yang mempunyai kriterianya sendiri. Kuncinya sangat sederhana. Hanya Allah dan diri kita yang tahu bahwa kita sudah benar-benar sudah percaya!” Yakob mencoba menjelaskan sesederhana mungkin.

Mata Arman bersinar terang. Ia mengamini perkataan Yakob.

“Yakob, saya sudah menyerahkan hidup saya 100% kepada Yesus, tapi saya belum bisa melayaniNya…. Saya takut…. Saya takut… saya tidak sempat lagi melayani” rupanya masih ada hal yang mengganggu pikiran Arman.

“Perbuatan baik tidak membuat seseorang masuk sorga. Itu merupakan ucapan syukur orang percaya atas keselamatan yang diberikan oleh Allah! Pelayanan merupakan anugerah yang diberikan kepada setiap orang percaya, wujudnya berbeda-beda. Bahkan orang yang sakit pun bisa melayani dengan berdoa untuk orang-orang yang mungkin sedang dalam pergumulan! Luar biasa bukan?” Yakob mencoba menjelaskan.

Arman merenung sejenak, lalu ia berkata lagi.

“Kalau saya meninggal sedangkan di keluarga saya tidak ada yang percaya, bagaimana jenazah saya akan dikuburkan?” pikiran Arman sudah sampai sejauh ini.

“Maksud Pak Arman kalau keluarga Pak Arman tidak mau menerimanya bagaimana? Jangan kuatir Pak Arman. Gereja tentu akan membantu untuk penguburannya! Bukankah kita semua orang percaya menjadi saudara seiman? Jadi Pak Arman otomatis sudah mempunyai keluarga tambahan!” Yakob menerangkan.

Tampak Arman terdiam sejenk , namun wajahnya seperti sudah tenang. Tidak ada kegalauan di hatinya.

“Yakob, kondisi saya sudah parah. Maukah kamu merekam pesan-pesan saya kepada keluarga saya?” Arman meminta bantuan Yakob.

“Eh…. Tentu saja! Tapi Pak Arman jangan banyak berpikir tentang kematian. Kalau Tuhan belum ijinkan, tidak ada yang bisa merampas hidup Pak Arman!” Yakob kemudian mengeluarkan handphone-nya.

“Maksud saya, ambillah handphone saya sekalian. Jadi nanti kalau ada apa-apa, berikan handphone saya kepada keluarga saya. Sedangkan untuk kamu , sebagai bukti atas semua keinginan saya!” Arman mengutarakan maksudnya.

“Oh begitu. Baik akan saya lakukan!” Yakob mengeluarkan handphone Arman dari kantong celananya. Lalu handphone nya dan milik Arman dinyalakan perekam nya.  Karena handphone Yakob bisa merekam gambar, ia sekalian membuat videonya.

“Silahkan Pak Arman mulai!” Yakob memberi aba-aba.

Lalu Arman mulai menyampaikan pesan-pesannya kepada anggota keluarganya satu per satu. Nafasnya memang tersenggal-senggal. Ia memang sudah mengerahkan tenaganya habis-habisan untuk berbicara.

“Terima kasih Yakob! Saya sekarang sudah siap!” Arman benar-benar tenang.

“Baiklah Pak Arman. Sebelum operasi, mari kita sama-sama berdoa! Saya yang memimpinnya.” Yakob melihat ke Arman yang begitu mendengar permintaannya langsung menutup mata dan berusaha melipat tangannya.

“Bapak di dalam sorga. Puji syukur kami panjatkan kepadamu kalau Pak Arman telah kau berikan keteguhan untuk boleh percaya kepada Yesus Kristus. Semua ini hanya anugerah semata. Hidup di dunia ini hanyalah sementara. Dengan percaya kepadaMu, maka setiap orang percaya akan memperoleh anugerah kehidupan kekal. Sebentar lagi Pak Arman akan menjalani operasi untuk memulihkan kembali kondisinya. Kami ingin serahkan seluruh dokter, perawat , obat-obatan dan peralatan yang akan digunakan, agar dapat berfungsi dengan baik. Namun satu hal yang kami kami percaya, Engkau akan memberikan yang terbaik kepada anak-anakMu! Bila memang Pak Arman akan Kau anugerahkan hidup yang panjang, biarlah ia dapat dipulihkan seutuhnya. Namun sebaliknya, memang bila sudah waktunya, kiranya Engkau persiapkan segalanya dengan mudah! Dalam nama Tuhan Yesus kami berdoa dan mengucap syukur! Amin!” Yakob menutup doanya.

“Pak Arman sebelum saya keluar, saya ingin mengajarkan satu lagu rohani. Kiranya Pak Arman dapat menyanyikannya dalam hati. Lagu ini yang Pak Arman dengar semalam” Yakob lalu menyanyikan perlahan-lahan.

Ada kuasa dalam darahNya, darah Domba Allah
Ada kuasa dalam darahNya, dalam darah Domba Allah

Arman mendengar lagu itu, sudah dapat mengikutinya. Ia bahkan sudah dapat menghafalnya. Lagu ini sudah sering ia dengar.

“Oh iya Pak Arman, satu hal yang perlu Bapak ingat. Bila nanti Bapak melihat ada mahluk hitam yang ingin mengajak Bapak pergi, jangan mau. Itu adalah demon atau iblis. Atau pun bila ada orang yang Bapak ketahui sudah meninggal mengajak Bapak pergi, Bapak tolak juga. Itu adalah iblis yang menyamar. Bapak dapat menguji roh-roh yang ada dengan meminta mereka bersaksi bahwa Yesus Kristus adalah Tuhan dan Juruselamat satu-satunya!” Yakob berpesan terakhir kalinya. Dilihatnya Arman menganggukkan kepala.

Akhirnya Yakob beranjak keluar. Sebelum berpisah, Arman sempat berpesan.

“Tolong sampaikan salam saya untuk semua jemaat GeYesKu, terutama Pastor Peter dan ibu yang telah begitu baik menerima saya bekerja di gereja. Terima kasih untuk perhatian dan doa-doa nya…”Arman tampaknya sudah terlalu lelah… mukanya terlalu pucat.

Setelah itu Yakob pamit untuk menunggu di luar. Arman melambaikan tangannya. Seakan-akan ia sudah tidak akan bertemu lagi.

--o0o—

Yakob pun keluar dari kamar dan bertemu dengan Pastor Peter, Ev. Debora, dan beberapa jemaat lainnya. Yakob menceritakan percakapannya dengan Arman dan salam serta ucapan terima kasih dari Arman. Yakob juga menceritakan pertobatan Arman.

“Puji Tuhan! Haleluya! Tak berkesudahan kasih setiaNya!” Pastor Peter dan yang lainnya mengucap syukur.

Mereka kemudian bersatu dalam doa ucapan syukur dan penyerahan kondisi Arman kepada Allah Sang Pencipta Langit dan Bumi! Selama ini berita kabar baik sudah sering disampaikan.  Sudah puluhan tahun berlalu. Baru di usianya yang sudah lebih dari 50 tahun, Arman menerima Yesus Kristus sebagai Juruselamatnya! Itu memang bukan pekerjaan manusia. Sudah terbukti banyak hamba Tuhan yang berusaha meyakinkan Arman. Hanya Roh Kudus yang mampu mengubah hati sekeras batu menjadi lembut. Bukankah di dalam Dia tidak ada yang mustahil?

--oo0oo—

Tidak lama kemudian , istri Arman dan 2 orang anaknya datang.

“Tami, apa kabar? Ini Bayu dan Ayu? Sudah besar ya!” Pastor Peter menyapa saat melihat mereka datang.

“Baik, mu shi. Betul ini Bayu dan Ayu. Bagaimana kondisi suami saya?” Tami, istri Arman , langsung menanyakan kabar suaminya. Bayu dan Ayu langsung mencium tangan Pastor Peter, Ev. Debora, Yakob dan pembesuk lainnya.

“Sedang di bawa ke kamar operasi. Jadi sementara kita tunggu di sini ya” Pastor Peter menjelaskan.
“Baik mu shi.” Tami menjawab dengan wajar khawatir.

Sambil menunggu selesainya operasi pembedahan, Ev Debora pun menceritakan awal mula kecelakaan.

-o0o-

Sesuai dengan tugasnya, Arman diminta bantuan oleh sekretariat gereja untuk mengirim surat ke kantor pos. Karena merasa lebih praktis menggunakan sepeda, maka Arman memakai sepeda. Dia pun menjemput sepedanya. Namun saat ingin mengendarainya, ban sepeda tersebut kempes. Dengan terpaksa Arman memompa dahulu bannya. Arman merasa heran, ban sepeda itu tidak pernah kempes sebelumnya.

Saat ingin melewati pintu gerbang Arman bertemu dengan Hasan.

“Pak Arman, sebaiknya jangan pakai sepeda. Pakai mobil saja Pak, karena berbahaya. Di sini sering ada kecelakaan!” Hasan mengingatkan.

“Eh… tidak apa-apa. Soalnya jalannya dekat!” Arman tetap bersikeras.

Hasan mengangkat bahunya.

Saat akan keluar pintu gerbang, tiba-tiba ada mobil membunyikan klakson. Arman terkejut. Beruntung dia belum mengayuhkan sepedanya. Arman heran. Sepertinya hari ini , ia banyak menemukan hal-hal yang aneh. Hari-harinya tidak berjalan dengan mudah. Apakah ini merupakan suatu pertanda? Apakah mimpinya semalam akan benar-benar terjadi?

Sesosok mahluk bersinar terang tidak kasat mata melihat aksi Arman. Dia telah berusaha memberi tanda agar Arman tidak menggunakan sepeda.Namun tampaknya Arman tetap berusaha memakainya. Padahal ban sepedanya telah dibuat kempes.Tanda kedua pun telah disampaikan melalui Hasan, yang sepertinya tergerak untuk berpesan agar Arman tidak memakai sepeda. Belum lagi Arman sudah diingatkan dengan klakson mobil.Arman belum terbiasa membaca tanda-tanda yang diberikan.

Sayangnya ada pengemudi motor yang ngebut. Karena sedang terburu-buru, ia menjalankan motornya sangat cepat. Ia tidak mempertimbangkan bahwa jalan di gang agak sempit. Ia juga tidak mengurangi kecepatan saat belokan. Setelah ia berbelok, ternyata di depannya ada sepeda yang dikayuh oleh Arman.

“CCCIIIIITTTTTT…!!”

Pengemudi motor berusah merem motornya. Namun tetap saja tidak berhasil karena jaraknya terlalu dekat. Arman yang tidak menyadari bahaya dari belakang, tiba-tiba dilanggar oleh motor tersebut. Karena pengemudi motor itu ngebut, maka dampaknya menjadi besar. Sepeda yang dikayuh Arman hancur. Arman sendiri terlempar beberapa meter ke depan.

“DUUGGGG…”

Karena ia tidak mengenakan helm, maka ketika terpental mukanya menghantam jalanan. Belum lagi motor yang menabraknya ikut jatuh.

“GUBRRAAGGG..!!”

Motor tersebut mendarat tepat di atas tubuh Arman juga. Luka yang sudah diderita Arman pun bertambah parah. Arman langsung pingsan di tempat. Pengemudi motor masih selamat walau jatuh karena memakai helm. Dia lebih beruntung. Walau tubuhnya terpental, namun wajah dan tubuhnya tidak terlalu parah. Karena terlindung helm dan jaket tebal yang dikenakan. Arman yang hanya mengenakan pakaian biasa, menderita luka parah. Wajahnya dan tubuhnya berlepotan darah. Ia pun pingsan di tempat!

Demon pengganti demon sebelumnya tersenyum senang. Ia telah melaksanakan tugas yang diemban dari Sang Bos. Ia memang telah bekerja extra keras.Beruntung, ia dapat membonceng orang yang sedang terburu-buru dan lengah. Kabar ini dengan cepat disampaikan ke Sang Bos.

“Bagus! Bagus!” Sang Bos berkata senang lalu melanjutkan, “Sekarang kamu awasi Arman sampai dia benar-benar menghadap demon maut.”

“Siap!!” demon ini senang dipuji Sang Bos dan langsung melakukan tugasnya.

Masyarakat sekitar kejadian tabrakan langsung berkerumun. Mereka mengangkat tubuh Arman dan pengemudi motor. Sewaktu melihat Arman membawa surat dengan kops gereja GeYesKu, sebagian memberi kabar ke Gereja Yesus Satu-Satunya Juruselamatku! Sebagian masyarakat sekitar membawa Arman ke Rumah Sakit Karmel. Di gereja mereka diterima oleh petugas sekretariat, James.

Segera James memberi kabar ke Pastor Peter. Pastor Peter pun cepat-cepat mengambil tindakan. Diinformasikannya Ev. Debora. Mengingat kakinya bermasalah, maka Pastor Peter menghubungi Yakob. Sayangnya walau nada telpon- nya masuk, Yakob tidak mengangkat telepon. Karena mendesak, akhirnya Pastor Peter meminta James untuk membantu mengurusnya.

James pun menutup pintu ruang sekretariat. Ia lalu memakai motor gereja untuk mengurus administrasi di RS Karmel. Setelah itu menyusul Pastor Peter dan Ev. Debora tiba dengan mobil gereja yang dikemudikan oleh Ev. Debora. Ev. Debora memang pernah belajar mengemudi. Karena di gereja sudah tidak ada lagi yang bisa mengemudi, maka terpaksalah Ev. Debora dengan nekat mengemudi. Ia kebetulan memang punya SIM A. Biasanya kalau Pastor Peter tidak sakit, Pastor Peter-lah yang mengemudi. Hasan pun dipesankan agar memberitahu Yakob bila ia kembali.

-o0o-

Setelah menunggu beberapa saat, Arman dibawa ke ruang operasi.James yang telah selesai mengurus administrasi rumah sakit, kembali ke gereja.

“James hubungi semua diaken dan para pemimpin kelompok sel (komsel). Minta mereka untuk menghubungi semua anggota kelompok selnya!’Pastor Peter berpesan.

“Baik mu shi! Saya permisi dulu.” James langsung kembali ke sekretariat gereja.

Sesampainya di gerja, ia pun menghubungi para diaken dan pemimpin kelompok sel. Mereka semua merasa terkejut mendengar berita kecelakaan yang menimpa Arman.
Mereka berjanji untuk berdoa agar operasi pembedahan Arman berlangsung lancar.
Satu per satu jemaat GeYesKu bergabung berdoa bagi keberhasilan operasi Arman!

Di rumah sakit , Pastor Peter, Ev. Debora, Yakob sendiri bersatu hati mendoakan Arman.

-o0o-

“Lapor Bos!” demon pengganti yang ditugaskan Sang Bos mengawasi Arman ingin memberi laporan.

“Ada perkembangan apa?” Sang Bos memberi perhatian.

“Arman sebentar lagi dioperasi. Saya perlu bantuan rekan-rekan lain untuk mengganggu jalannya operasi!” demon tersebut meminta bantuan.

“Hm… kalau begitu kamu cepat mengontak semua demon yang bisa kamu hubungi agar secepatnya pergi ke rumah sakit!” Sang Bos memberi perintah. “Pakaiah tanda ini sebagai bukti bahwa kamu memegang perintah saya!” Sang Bos berkata sambil melempar semacam jimat.

“Baik Bos!” sang demon menangkap jimat tersebut.

Tanpa basa-basi lagi ia langsung menghubungi para demon.Dalam waktu singkat sudah ratusan demon yang terkumpul. Mereka siap melaksanakan misi yang membawa maut untuk korban yang diincarnya.

-o0o-

Tidak jauh dari kamar operasi, tampak seorang malaikat yang ditugaskan menjaga Arman. Dialah malaikat yang sudah berusaha memperingati Arman untuk tidak menggunakan sepeda.Sayangnya Arman mengabaikannya. Sejak Arman mengaku percaya dan menyerahkan hidupnya kepada Tuhan Yesus, dia diutus menjaga Arman. Sayang upayanya gagal dan sekarang ia menunggu dekat kamar operasi. Setelah kamar operasi ditutup, ia tetap menyertai Arman. Ia tadi sudah mendorong dokter kepala untuk menangani Arman. Dokter kepala adalah seorang yang telah percaya kepada Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat!

Awalnya, ia hanya sendirian.Tiba-tiba datang mahluk hitam yang menjadi musuh dari para malaikat. Itulah demon!Demon yang diutus oleh Sang Bos untuk menggagalkan upaya operasi Arman. Jumlah mereka semakin lama semakin banyak.

Pada saat itu dokter anastesi sedang menyuntik obat penenang dengan dosis tinggi agar Arman tertidur selama operasi berlangsung. Langkah ini sukses membuat Arman tertidur untuk waktu beberapa jam.

“Dok, semua alat sudah tersedia. Ini scapel nya” suster memberi alat yang diperlukan pada dokter yang akan membedah Arman.

“Bagaimana kondisi pasien?” dokter ingin memastikan.

“Buruk dok. Tekanan darahnya melemah. Kalau tidak cepat dioperasi, dikhawatirkan akan meninggal!” suster memberi laporan.

“Berapa ampul darah sudah dimasukkan?” dokter ingin memastikan kondisi darah pasien.

“Sudah 2 ampul dok. Luka dalam yang dideritanya parah. Dikhawatirkan organ –organ dalamnya terluka dan berdarah. Dokter kepala segera memeriksa hasil ronsen Arman. Kondisi luka Arman benar-benar parah. Berbagai luka di dalam dan tubuh luarnya menyebabkan pendarahan hebat. Dua ampul darah yang telah diberikan tidak akan cukup!

“Rekan-rekan.. kondisi pasien sangat berbahaya. Kemungkinan besar kita tidak mampu menyelamatkannya. Kita hanya manusia biasa. Mari sebelum mulai operasi, kita menyerahkan pasien ini ke dalam tangan kasih Tuhan! Kalau memang Tuhan akan memberinya kehidupan, tidak akan ada yang bisa merampasnya. Namun kalau Tuhan menghendaki pasien ini mati, maka tidak ada yang bisa mencegahnya. Mari kita mulai berdoa!” dokter kepala ini segera memimpin operasi dengan doa.

Ini merupakan hal yang langka di rumah sakit di Jakarta! Mungkin tidak ada. Namun dokter kepala yang menyadari kondisi pasien yang kritis memohon bimbingan dan bantuan Tuhan.Ia sendiri tadi merasa heran. Sepertinya ia terbeban untuk menangani pasien ini.Hatinya terdorong entah kenapa. Padahal cukup banyak pasien lain yang memerlukan penanganannya!

Setelah selesai berdoa, maka para dokter pun mulai melakukan operasi.
Operasi yang dilakukan membutuhkan waktu berjam-jam.
Maklum dengan pecahnya berbagai organ dalam ditambah tulang yang patah, belum lagi luka-luka luar yang perlu dijahit, benar-benar perlu ketekunan dan ketelitian.
Mereka berjuang mati-matian untuk menyelamatkan jiwa Arman.
Namun demikian reaksi tubuh Arman seperti berlawanan dengan keinginan para dokter tersebut. Dilihat dari layar monitor, denyut jantung Arman semakin melemah.
Setelah para dokter berjuang mati-matian, akhirnya hanya terlihat garis datar pada denyut jantung Arman.

“Dokter… pasien semakin kritis!” suster memberi informasi “sudah tidak ada denyut nya!”

Dokter kepala melirik ke arah layar monitor. Benar apa yang dikatakan suster. Berarti perjuangan mereka sia-sia! Dokter kepala kemudian meminta alat pacu jantung elektrik.Di tempelkannya dua handel-nya pada dada Arman lalu dikejutkan jantungnya. Namun percuma. Garis di layar masih tampak datar. Tidak ada perubahan sedikit pun.

“Rekan-rekan, kita sudah melakukan yang terbaik  yang mampu kita lakukan. Namun hasilnya tidak seperti apa yang kita inginkan. Allah pasti tahu yang terbaik untuk hasil operasi ini. Mari kita berdoa untuk mengucapkan syukur bahwa Tuhan telah mampukan kita melakukan yang terbaik!” Dokter kepala pun mengajak rekan-rekannya satu tim untuk berdoa.

Semuanya tidak ada yang bertanya, mengapa kegagalan pun harus diserahkan kepada Tuhan dengan hati yang mengucap syukur. Demikianlah sang dokter kepala. Seluruh rekan kerjanya sudah tahu prinsipnya. Dalam segala keadaan ucapkanlah syukur!

Setelah itu Dokter Kepala membuka pintu dan menyampaikan kabar duka ke para penunggu.

“Siapakah yang mewakili keluarga Arman?” Dokter Kepala bertanya.

“Saya dokter” Tami , istri Arman, maju menghadap Dokter Kepala dengan ditemani Pastor Peter.

“Kami memohon maaf. Kami sudah melakukan yang terbaik yang dapat kami lakukan, namun Sdr. Arman tidak tertolong!” Dokter Kepala mengumumkan kegagalan timnya.

Semua yang mendengarnya terdiam. Itu berita yang mengejutkan walau mereka sudah perkirakan kemungkinannya melihat parahnya luka yang dialami Arman.

“Jadi sudah tidak ada yang dapat dilakukan apa-apa lagi Dok?” Ev. Debora bertanya dengan nada sedih.

Baik Ev. Debora dan suaminya, Pastor Peter, mengenal Arman sekitar 30 tahun yakni sejak berdirinya GeYesKu. Saat itu untuk pertama kalinya Arman membantu pelayanan gereja. Walau usia nya masih sangat muda dan belum menikah! Sekarang semuanya tinggal kenangan.

“Mohon maaf!” dokter kepala hanya dapat menjawab dengan 2 patah kata. Lalu ia pun kembali ke ruang operasi untuk menyelesaikan operasi yang tersisa.

“Mari kita berdoa sekali lagi. Rencana Tuhan pasti luar biasa. Tidak semua orang bisa memahami. Kita mengucap syukur apapun yang terjadi. Arman telah percaya kepada Yesus Kristus. Jadi bila ia pun kembali kepada Bapa, maka ia akan berada di tempat yang telah disediakaNya!” Pastor Peter kembali memipin doa. Ia pun memulainya dengan menyanyikan lagu “Di HadiratMu , Aku Puas”.

Di hadiratMu, aku puas
Di hadiratMu, aku bebas
Di hadiratMu ada trang kehidupanku
Pernyataan kuasa kekuatanMu
Di hadiratMu kudatang persembahkan lagu
Di hadapan Rajaku

Pastur Peter memang sudah mencapai level kerohanian yang tinggi. Dia tahu kehendak Allah luar biasa. Pikiran manusia tidak mampu menyelami pikiran Allah. Manusia yang tidak sempurna tidak mungkin mencapai Allah yang sempurna!

-o0o-

Demon yang bertugas mengawasi operasi Arman, merasa senang.Dia benar-benar sudah mengerahkan daya untuk membuat hidup Arman berakhir.Dibaginya tugas kepada para demon.Memang dia tidak ingin langsung melawan para malaikat yang berada di sekeliling Arman. Malaikat yang merupakan buah dari doa-doa para jemaat GeYesKu. Dia tahu tidak akan menang melawan mereka.Dia sudah mengatur agar obat-obatan yang digunakan adalah obat yang keliru.Memang betul obat itu adalah obat yang sering dipakai pihak rumah sakit. Namun tidak ada yang menyadari bahwa obat itu sebenarnya obat yang tepat. Itu adalah kesalahan dari pabrik obat pembuatnya! Sehingga waktu obat itu digunakan tadi, efek sebaliknya yang terjadi. Bukannya Arman membaik, malah ia semakin sakit sehingga akhirnya….

-o0o-

Para malaikat yang menyaksikan kejadian ini sangat bingung. Bagaimana mungkin hal ini terjadi. Tiba-tiba muncul malaikat pendamping orang yang meninggal. Malaikat yang menjaga Arman maklum bahwa tugasnya sudah selesai. Arman sudah tiada, sehingga malaikat penjemput itu sekarang yang mengambil alih. Di samping itu ada juga demon maut yang berusaha menyesatkan. Arwah Arman pun keluar dari raganya. Ia bingung melihat ada 2 mahluk yang menjemputnya. Yang satu berwarna hitam dan yang lain putih. Dia merasa takut melihat mahluk hitam itu dan tidak berani mendekat. Namun untuk mahluk putih bercahaya itu pun ia belum berani ikut.Ia merasa ragu.

“Apakah benar, harus ada yang menjemput?” arwah Arman bingung.“Bukankah kalau benar, seharusnya tinggal arwahnya saja melayang?”

Tiba-tiba ia teringat pesan dari Yakob dan untuk memastikannya ia pun bertanya,

“Apakah kamu percaya bahwa Yesus adalah Anak Allah dan Allah itu sendiri?”

Malaikat itu tersenyum lebar dan menjabat,”Tentu saja saya percaya dari dulu, sekarang sampai selamanya!”

Akhirnya Arman melangkah mantap. Ia pun mengikuti langkah malaikat itu.

“Tunggu sebentar Arman!” perkataan malaikat itu menghentikan langkah Arman.

“Ada apa?” Arman kembali bingung.

“Saya diutus untuk memberitahu bahwa kamu akan tetap hidup! Memang sekarang tubuhmu sedang mati suri. Namun beberapa saat lagi kamu akan kembali hidup untuk memberi kesaksian kepada orang-orang lain!”

Malaikat itu kemudian menghilang!Dan arwah Arman kembali masuk ke dalam raganya. Arwah Arman merasa sukacita. Arwah yang ingin menyanyikan lagu pujian yang diajarkan Yakob :

Ada kuasa dalam darahNya, darah Domba Allah
Ada kuasa dalam darahNya, dalam darah Domba Allah

Malaikat penjaganya kembali mengawasi Arman. Itu bukan perkara biasa! Tidak banyak orang yang setelah mati suri , lalu hidup kembali! Malaikat penjaganya maklum bahwa kehadiran Arman dalam dunia masih diperlukan Allah sendiri yang menghendaki agar ia tetap hidup! Sama seperti waktu Yakob mengalaminya dulu. (baca kisah Yakob dalam novel yang berbeda).
Ini pasti karena besarnya kuasa doa orang-orang percaya di bumi.Mereka bersatu hati memohon kepada Allah agar Arman diselamatkan nyawanya. Allah pun mendengarkan doa mereka! Bukankah doa orang benar besar kuasanya?

-o0o-

Suster yang sedang membereskan peralatan operasi mendengar bunyi.Ia pun menoleh ke sumber bunyi. Ternyata itu berasal dari mesin pemindai detak jantung. Ia merasa heran akan asal dari bunyi tersebut. Bukankah itu pertanda bahwa mesin tersebut …? Matanya pun kemudian beralih ke layar monitor.

Matanya pun terbelalak. Bagaimana mungkin? Bukankah tadi garis pada layar monitor sudah datar? Mengapa??

“Dokter….! Dokter…!” suster itu langsung memanggil para dokter yang akan keluar.

“Ada apa Sus?” dokter kepala mewakili rekan-rekannya ingin tahu.

“Lihat Dok!” Suster menunjuk ke arah monitor.

Para dokter pun memalingkan pandangan ke layar monitor.

“??? Bukankah tadi…?” Dokter kepala menggeleng-gelengkan kepala.

“Ini pasti keajaiban!” katanya menyimpulkan.

Mereka semua tadi sudah berjuang mati-matian untuk menyelamatkan Arman, namun hasilnya terlihat di layar monitor bahwa detak jantung pasien sudah tidak ada!
Bagaimana mungkin setelah cukup lama mereka bercakap-cakap mendiskusikan hasil operasinya kemudian garis itu kembali bergelombang?

“Cepat teman-teman. Periksa semua tanda-tanda kehidupan dan hasil operasi!” Dokter Kepala langsung memberi komando.

Semua dokter dan staf yang terlibat langsung memperhatikan tubuh Arman. Tampak  dada Arman sudah bergerak turun naik! Bukankah itu pertanda bahwa memang Arman sudah bernafas kembali? Mereka pun memeriksa hasil operasi mereka! Ternyata luka-luka yang tadi mereka kerjakan sudah tertutup rapat. Bukan itu saja pendarahan sudah berhenti sama sekali. Yang paling jelas kelihatan adalah hasil penyambungan tulang! Tulang itu sudah melekat sempurna! Bagaimana mungkin? Itu hanya bisa terjadi karena MUJIZAT! Luar biasa! Allah telah memberikan nyawa kedua bagi Arman. Apakah gerangan misi yang harus diembannya?

Para dokter tampak lega.  Mereka bersyukur bisa menyaksikan mujizat yang terjadi.

“Rekan-rekan, kita memahami jalan Tuhan bukan jalan manusia. Apa yang Tuhan kehendaki terjadilah. Manusia hanya dapat mensyukuri saja!” dokter kepala tidak berhenti terkagum-kagum akan rencana dan jalanNya.

Dia membayangkan bila operasi tadi langsung berhasil, maka tim dokter akan berbangga dengan hasil mereka dan itu meniadakan keindahan karya ilahi dari Sang Pencipta. Sungguh luar biasa makna peristiwa ini.

-o0o-

“Apa? Arman masih hidup?” Sang Bos mendelik murka.

“Betul Bos. Tepatnya hidup kembali!” sang demon melaporkan.

“Maksudmu dia sebenarnya sudah mati?” Sang Bos mengkonfirmasi.

“Betul. Jiwanya sudah meninggalkan tubuhnya dan tinggal memilih sorga atau neraka!” jelas sang demon.

“Berarti…?” Sang Bos sudah bisa menangkap makna kejadian ini.

“Betul Bos. Ada kuasa dari sorga yang menghidupkannya kembali!” sang demon melapor.

“Hmm… kalau begitu Allah kembali melakukan mujizatnya. Kalau sudah begini, maka raja demon alias sang iblis atau setan tidak dapat berbuat apa-apa!” Sang Bos menyimpulkan.

Meski demikian, Sang Bos  butuh penyaluran.Ditendangnya sang demon yang tidak memiliki kesalahan apa pun untuk melampiaskannya.

-o0o-

Dokter kepala pun sekali lagi keluar dari ruang operasi. Kali ini wajahnya mencerminkan sukacita. Ia sempat menunggu selesainya doa dari Pastor Peter dan rekan-rekannya.

“Jadi Arman hidup kembali?” Pastor Peter terkejut.

“Benar! Mujizat baru saja terjadi. Dunia kedokteran tidak mampu menjelaskan peristiwa ini. Tidak mungkin orang yang mati hidup kembali. Itu pasti mujizat!” dokter kepala menjelaskan.

Pastor Peter, Ev. Debora dan Yakob sangat bersukacita. Allah sungguh baik. Ia mengabulkan doa anak-anakNya. Bahkan bila jawabanNya tidak pun, Dia tetap Allah yang teramat baik. Maka aku akan memuji Allah dengan nyanyian, mengagungkan Dia dengan nyanyian syukur.( Mazmur 69:31 –BIS)

“Baiklah, karena Arman sudah berhasil operasinya, saya dan shi mu akan balik ke gereja. Kamu bagaimana Yakob? Saya rasa ada baiknya kita semua pulang istirahat dan mandi dahulu!” Pastor Peter mengusulkan.

“Iya benar juga. Tapi kalau nanti  Pak Arman sadar bagaimana?” Yakob menggali kesiapan setelah operasi.

“James sudah mengaturnya. Jangan khawatir! Oh iya Yakob, saya tadi menerima telepon dari sekolah menanyakan kesediaan kamu untuk menjadi guru agama. Bagaimana , apakah kamu sudah memutuskan?” Pastor Peter menanyakan walau ia tahu baru tadi pagi ia menyampaikannya.

“Saya sudah putuskan, mu shi. Saya terima pelayanan sebagai guru agama. Saya rasa itu juga ladang yang sudah Tuhan sediakan bagi gerejaNya” Yakob berkata dengan mantap. Ia sudah memutuskan sejak mengenal Jonas tadi.

“Syukurlah. Kalau tidak sekolah tidak punya guru agama. Karena kamu sudah bersedia, maka mulai besok, kamu mengajar di sekolah!” Pastor Peter menyimpulkan.

“Baiklah mu shi.” Yakob memasukkan skedul tambahan ini dalam memorinya.

Akhirnya mereka bertiga balik ke gereja. Mereka meninggalkan Tami, Bayu dan Ayu untuk menjaga Arman bila ia sadar. Mereka juga berpesan untuk memberi kabar, bila Arman sudah sadar.





-o0o-

No comments:

Post a Comment