(Episode
5)
SANG
PENGEMUDI (2)
“Yakob cepat ke
rumah sakit!” Hasan, berseru saat melihat kedatangan Yakob.
Hasan memang
bertugas menjaga pintu gerbang gereja.
“Ada apa?” Yakob
jadi was-was.
“Arman ditabrak mobil
dan kondisinya gawat! Ia sepertinya tidak ada harapan! Cepat susul ke sana!”
Hasan berbicara sekaligus tanpa sempat bernafas.
“Eh… kenapa
tidak menelpon saya sebelumnya?” Yakob heran.
“Sepertinya kamu
tidak bawa? Karena dari tadi shi mu
dan mu shi menghubungimu tapi tidak
diangkat!” Hasan menjelaskan.
Yakob meraba
kantong celananya. Benar saja ia baru ingat ia lupa membawa handphone-nya! Tanpa
membuang waktu lagi, Yakob segera kembali ke kamar mengambil handphone lalu
dengan mengendarai motor gereja dan langsung ke RS Karmel. Dengan memacu
motornya, Yakob ingin sesegera mungkin sampai di rumah sakit. Kalau bisa saat
itu juga ia sudah sampai. Namun ia tetap memperhatikan kondisi lalu lintas. Ia
tidak mau sampai membahayakan pengguna jalan lainnya dan juga dirinya sendiri.
“Yakob, cepat!
Arman ingin bicara denganmu!” Ev. Debora langsung berpesan saat melihat Yakob.
“Baik shi mu!” Yakob segera masuk ke ruang
UGD.
--o0o—
Arman tampak
terbaring. Tubuhnya berlumuran darah. Ia sedang menunggu tim dokter untuk
mengoperasinya. Namun sebelum itu ia ingin berbicara dengan Yakob.
“Pak Arman!”
panggil Yakob.
Arman membuka
matanya. Ia berusaha tersenyum.Yakob yang melihatnya merasa hatinya teriris. Baru
saja ia berpisah sebentar, mengapa Pak Arman sudah seperti ini?
Ia belum sempat
menanyakan kejadiannya. Yang penting sekarang ia ingin berbicara dengan Pak
Arman.
“Yakob, waktu
Bapak sudah sempit….” Arman berkata perlahan.
“Tenang Bapak….
Dokter akan berusaha sebaik-baiknya!” Yakob berusaha membangkitkan semangat.
“Saya tahu… saya
ingin menanyakan kamu satu hal…. Apakah saya sudah diselamatkan?” Arman tampak
mengerahkan tenaga untuk berkata-kata.
“Pak Arman,
keselamatan itu sudah tertulis dalam Kitab Suci. Dikatakan bahwa Sebab jika kamu mengaku
dengan mulutmu, bahwa Yesus adalah Tuhan, dan percaya dalam hatimu, bahwa Allah
telah membangkitkan Dia dari antara orang mati, maka kamu akan diselamatkan.
Karena dengan hati orang percaya dan dibenarkan, dan dengan mulut orang mengaku
dan diselamatkan!” Jadi
kunci keselamatan bukan pada perkataan manusia atau manusia yang menentukan
manusia lain sudah diselamatkan. Namun Allah yang mempunyai kriterianya
sendiri. Kuncinya sangat sederhana. Hanya Allah dan diri kita yang tahu bahwa
kita sudah benar-benar sudah percaya!” Yakob mencoba menjelaskan sesederhana
mungkin.
Mata Arman bersinar terang. Ia mengamini perkataan Yakob.
“Yakob, saya
sudah menyerahkan hidup saya 100% kepada Yesus, tapi saya belum bisa
melayaniNya…. Saya takut…. Saya takut… saya tidak sempat lagi melayani” rupanya
masih ada hal yang mengganggu pikiran Arman.
“Perbuatan baik
tidak membuat seseorang masuk sorga. Itu merupakan ucapan syukur orang percaya
atas keselamatan yang diberikan oleh Allah! Pelayanan merupakan anugerah yang
diberikan kepada setiap orang percaya, wujudnya berbeda-beda. Bahkan orang yang
sakit pun bisa melayani dengan berdoa untuk orang-orang yang mungkin sedang
dalam pergumulan! Luar biasa bukan?” Yakob mencoba menjelaskan.
Arman merenung
sejenak, lalu ia berkata lagi.
“Kalau saya
meninggal sedangkan di keluarga saya tidak ada yang percaya, bagaimana jenazah
saya akan dikuburkan?” pikiran Arman sudah sampai sejauh ini.
“Maksud Pak
Arman kalau keluarga Pak Arman tidak mau menerimanya bagaimana? Jangan kuatir
Pak Arman. Gereja tentu akan membantu untuk penguburannya! Bukankah kita semua
orang percaya menjadi saudara seiman? Jadi Pak Arman otomatis sudah mempunyai
keluarga tambahan!” Yakob menerangkan.
Tampak Arman
terdiam sejenk , namun wajahnya seperti sudah tenang. Tidak ada kegalauan di
hatinya.
“Yakob, kondisi
saya sudah parah. Maukah kamu merekam pesan-pesan saya kepada keluarga saya?”
Arman meminta bantuan Yakob.
“Eh…. Tentu
saja! Tapi Pak Arman jangan banyak berpikir tentang kematian. Kalau Tuhan belum
ijinkan, tidak ada yang bisa merampas hidup Pak Arman!” Yakob kemudian
mengeluarkan handphone-nya.
“Maksud saya,
ambillah handphone saya sekalian. Jadi nanti kalau ada apa-apa, berikan
handphone saya kepada keluarga saya. Sedangkan untuk kamu , sebagai bukti atas
semua keinginan saya!” Arman mengutarakan maksudnya.
“Oh begitu. Baik
akan saya lakukan!” Yakob mengeluarkan handphone Arman dari kantong celananya.
Lalu handphone nya dan milik Arman dinyalakan perekam nya. Karena handphone Yakob bisa merekam gambar,
ia sekalian membuat videonya.
“Silahkan Pak
Arman mulai!” Yakob memberi aba-aba.
Lalu Arman mulai
menyampaikan pesan-pesannya kepada anggota keluarganya satu per satu. Nafasnya
memang tersenggal-senggal. Ia memang sudah mengerahkan tenaganya habis-habisan
untuk berbicara.
“Terima kasih
Yakob! Saya sekarang sudah siap!” Arman benar-benar tenang.
“Baiklah Pak
Arman. Sebelum operasi, mari kita sama-sama berdoa! Saya yang memimpinnya.”
Yakob melihat ke Arman yang begitu mendengar permintaannya langsung menutup
mata dan berusaha melipat tangannya.
“Bapak di dalam
sorga. Puji syukur kami panjatkan kepadamu kalau Pak Arman telah kau berikan
keteguhan untuk boleh percaya kepada Yesus Kristus. Semua ini hanya anugerah
semata. Hidup di dunia ini hanyalah sementara. Dengan percaya kepadaMu, maka
setiap orang percaya akan memperoleh anugerah kehidupan kekal. Sebentar lagi
Pak Arman akan menjalani operasi untuk memulihkan kembali kondisinya. Kami
ingin serahkan seluruh dokter, perawat , obat-obatan dan peralatan yang akan
digunakan, agar dapat berfungsi dengan baik. Namun satu hal yang kami kami
percaya, Engkau akan memberikan yang terbaik kepada anak-anakMu! Bila memang
Pak Arman akan Kau anugerahkan hidup yang panjang, biarlah ia dapat dipulihkan
seutuhnya. Namun sebaliknya, memang bila sudah waktunya, kiranya Engkau
persiapkan segalanya dengan mudah! Dalam nama Tuhan Yesus kami berdoa dan
mengucap syukur! Amin!” Yakob menutup doanya.
“Pak Arman
sebelum saya keluar, saya ingin mengajarkan satu lagu rohani. Kiranya Pak Arman
dapat menyanyikannya dalam hati. Lagu ini yang Pak Arman dengar semalam” Yakob
lalu menyanyikan perlahan-lahan.
Ada
kuasa dalam darahNya, darah Domba Allah
Ada
kuasa dalam darahNya, dalam darah Domba Allah
Arman mendengar
lagu itu, sudah dapat mengikutinya. Ia bahkan sudah dapat menghafalnya. Lagu
ini sudah sering ia dengar.
“Oh iya Pak
Arman, satu hal yang perlu Bapak ingat. Bila nanti Bapak melihat ada mahluk
hitam yang ingin mengajak Bapak pergi, jangan mau. Itu adalah demon atau iblis.
Atau pun bila ada orang yang Bapak ketahui sudah meninggal mengajak Bapak
pergi, Bapak tolak juga. Itu adalah iblis yang menyamar. Bapak dapat menguji
roh-roh yang ada dengan meminta mereka bersaksi bahwa Yesus Kristus adalah
Tuhan dan Juruselamat satu-satunya!” Yakob berpesan terakhir kalinya. Dilihatnya
Arman menganggukkan kepala.
Akhirnya Yakob
beranjak keluar. Sebelum berpisah, Arman sempat berpesan.
“Tolong
sampaikan salam saya untuk semua jemaat GeYesKu, terutama Pastor Peter dan ibu
yang telah begitu baik menerima saya bekerja di gereja. Terima kasih untuk
perhatian dan doa-doa nya…”Arman tampaknya sudah terlalu lelah… mukanya terlalu
pucat.
Setelah itu
Yakob pamit untuk menunggu di luar. Arman melambaikan tangannya. Seakan-akan ia
sudah tidak akan bertemu lagi.
--o0o—
Yakob pun keluar
dari kamar dan bertemu dengan Pastor Peter, Ev. Debora, dan beberapa jemaat
lainnya. Yakob menceritakan percakapannya dengan Arman dan salam serta ucapan
terima kasih dari Arman. Yakob juga menceritakan pertobatan Arman.
“Puji Tuhan!
Haleluya! Tak berkesudahan kasih setiaNya!” Pastor Peter dan yang lainnya
mengucap syukur.
Mereka kemudian
bersatu dalam doa ucapan syukur dan penyerahan kondisi Arman kepada Allah Sang
Pencipta Langit dan Bumi! Selama ini berita kabar baik sudah sering
disampaikan. Sudah puluhan tahun
berlalu. Baru di usianya yang sudah lebih dari 50 tahun, Arman menerima Yesus
Kristus sebagai Juruselamatnya! Itu memang bukan pekerjaan manusia. Sudah
terbukti banyak hamba Tuhan yang berusaha meyakinkan Arman. Hanya Roh Kudus
yang mampu mengubah hati sekeras batu menjadi lembut. Bukankah di dalam Dia
tidak ada yang mustahil?
--oo0oo—
Tidak lama
kemudian , istri Arman dan 2 orang anaknya datang.
“Tami, apa
kabar? Ini Bayu dan Ayu? Sudah besar ya!” Pastor Peter menyapa saat melihat
mereka datang.
“Baik, mu shi. Betul ini Bayu dan Ayu.
Bagaimana kondisi suami saya?” Tami, istri Arman , langsung menanyakan kabar
suaminya. Bayu dan Ayu langsung mencium tangan Pastor Peter, Ev. Debora, Yakob
dan pembesuk lainnya.
“Sedang di bawa
ke kamar operasi. Jadi sementara kita tunggu di sini ya” Pastor Peter
menjelaskan.
“Baik mu shi.” Tami menjawab dengan wajar
khawatir.
Sambil menunggu selesainya
operasi pembedahan, Ev Debora pun menceritakan awal mula kecelakaan.
-o0o-
Sesuai dengan
tugasnya, Arman diminta bantuan oleh sekretariat gereja untuk mengirim surat ke
kantor pos. Karena merasa lebih praktis menggunakan sepeda, maka Arman memakai
sepeda. Dia pun menjemput sepedanya. Namun saat ingin mengendarainya, ban
sepeda tersebut kempes. Dengan terpaksa Arman memompa dahulu bannya. Arman
merasa heran, ban sepeda itu tidak pernah kempes sebelumnya.
Saat ingin
melewati pintu gerbang Arman bertemu dengan Hasan.
“Pak Arman,
sebaiknya jangan pakai sepeda. Pakai mobil saja Pak, karena berbahaya. Di sini
sering ada kecelakaan!” Hasan mengingatkan.
“Eh… tidak
apa-apa. Soalnya jalannya dekat!” Arman tetap bersikeras.
Hasan mengangkat
bahunya.
Saat akan keluar
pintu gerbang, tiba-tiba ada mobil membunyikan klakson. Arman terkejut. Beruntung
dia belum mengayuhkan sepedanya. Arman heran. Sepertinya hari ini , ia banyak
menemukan hal-hal yang aneh. Hari-harinya tidak berjalan dengan mudah. Apakah
ini merupakan suatu pertanda? Apakah mimpinya semalam akan benar-benar terjadi?
Sesosok
mahluk bersinar terang tidak kasat mata melihat aksi Arman. Dia telah berusaha
memberi tanda agar Arman tidak menggunakan sepeda.Namun tampaknya Arman tetap berusaha
memakainya. Padahal ban sepedanya telah dibuat kempes.Tanda kedua pun telah
disampaikan melalui Hasan, yang sepertinya tergerak untuk berpesan agar Arman
tidak memakai sepeda. Belum lagi Arman sudah diingatkan dengan klakson
mobil.Arman belum terbiasa membaca tanda-tanda yang diberikan.
Sayangnya ada
pengemudi motor yang ngebut. Karena sedang terburu-buru, ia menjalankan
motornya sangat cepat. Ia tidak mempertimbangkan bahwa jalan di gang agak
sempit. Ia juga tidak mengurangi kecepatan saat belokan. Setelah ia berbelok,
ternyata di depannya ada sepeda yang dikayuh oleh Arman.
“CCCIIIIITTTTTT…!!”
Pengemudi motor
berusah merem motornya. Namun tetap saja tidak berhasil karena jaraknya terlalu
dekat. Arman yang tidak menyadari bahaya dari belakang, tiba-tiba dilanggar
oleh motor tersebut. Karena pengemudi motor itu ngebut, maka dampaknya menjadi
besar. Sepeda yang dikayuh Arman hancur. Arman sendiri terlempar beberapa meter
ke depan.
“DUUGGGG…”
Karena ia tidak
mengenakan helm, maka ketika terpental mukanya menghantam jalanan. Belum lagi
motor yang menabraknya ikut jatuh.
“GUBRRAAGGG..!!”
Motor tersebut
mendarat tepat di atas tubuh Arman juga. Luka yang sudah diderita Arman pun
bertambah parah. Arman langsung pingsan di tempat. Pengemudi motor masih
selamat walau jatuh karena memakai helm. Dia lebih beruntung. Walau tubuhnya
terpental, namun wajah dan tubuhnya tidak terlalu parah. Karena terlindung helm
dan jaket tebal yang dikenakan. Arman yang hanya mengenakan pakaian biasa,
menderita luka parah. Wajahnya dan tubuhnya berlepotan darah. Ia pun pingsan di
tempat!
Demon
pengganti demon sebelumnya tersenyum senang. Ia telah melaksanakan tugas yang
diemban dari Sang Bos. Ia memang telah bekerja extra keras.Beruntung, ia dapat
membonceng orang yang sedang terburu-buru dan lengah. Kabar ini dengan cepat
disampaikan ke Sang Bos.
“Bagus!
Bagus!” Sang Bos berkata senang lalu melanjutkan, “Sekarang kamu awasi Arman
sampai dia benar-benar menghadap demon maut.”
“Siap!!”
demon ini senang dipuji Sang Bos dan langsung melakukan tugasnya.
Masyarakat
sekitar kejadian tabrakan langsung berkerumun. Mereka mengangkat tubuh Arman
dan pengemudi motor. Sewaktu melihat Arman membawa surat dengan kops gereja
GeYesKu, sebagian memberi kabar ke Gereja Yesus Satu-Satunya Juruselamatku! Sebagian
masyarakat sekitar membawa Arman ke Rumah Sakit Karmel. Di gereja mereka
diterima oleh petugas sekretariat, James.
Segera James
memberi kabar ke Pastor Peter. Pastor Peter pun cepat-cepat mengambil tindakan.
Diinformasikannya Ev. Debora. Mengingat kakinya bermasalah, maka Pastor Peter
menghubungi Yakob. Sayangnya walau nada telpon- nya masuk, Yakob tidak
mengangkat telepon. Karena mendesak, akhirnya Pastor Peter meminta James untuk
membantu mengurusnya.
James pun
menutup pintu ruang sekretariat. Ia lalu memakai motor gereja untuk mengurus
administrasi di RS Karmel. Setelah itu menyusul Pastor Peter dan Ev. Debora
tiba dengan mobil gereja yang dikemudikan oleh Ev. Debora. Ev. Debora memang
pernah belajar mengemudi. Karena di gereja sudah tidak ada lagi yang bisa
mengemudi, maka terpaksalah Ev. Debora dengan nekat mengemudi. Ia kebetulan
memang punya SIM A. Biasanya kalau Pastor Peter tidak sakit, Pastor Peter-lah
yang mengemudi. Hasan pun dipesankan agar memberitahu Yakob bila ia kembali.
-o0o-
Setelah menunggu
beberapa saat, Arman dibawa ke ruang operasi.James yang telah selesai mengurus
administrasi rumah sakit, kembali ke gereja.
“James hubungi
semua diaken dan para pemimpin kelompok sel (komsel). Minta mereka untuk
menghubungi semua anggota kelompok selnya!’Pastor Peter berpesan.
“Baik mu shi! Saya permisi dulu.” James
langsung kembali ke sekretariat gereja.
Sesampainya di
gerja, ia pun menghubungi para diaken dan pemimpin kelompok sel. Mereka semua
merasa terkejut mendengar berita kecelakaan yang menimpa Arman.
Mereka berjanji
untuk berdoa agar operasi pembedahan Arman berlangsung lancar.
Satu per satu
jemaat GeYesKu bergabung berdoa bagi keberhasilan operasi Arman!
Di rumah sakit ,
Pastor Peter, Ev. Debora, Yakob sendiri bersatu hati mendoakan Arman.
-o0o-
“Lapor
Bos!” demon pengganti yang ditugaskan Sang Bos mengawasi Arman ingin memberi
laporan.
“Ada
perkembangan apa?” Sang Bos memberi perhatian.
“Arman
sebentar lagi dioperasi. Saya perlu bantuan rekan-rekan lain untuk mengganggu
jalannya operasi!” demon tersebut meminta bantuan.
“Hm…
kalau begitu kamu cepat mengontak semua demon yang bisa kamu hubungi agar
secepatnya pergi ke rumah sakit!” Sang Bos memberi perintah. “Pakaiah tanda ini
sebagai bukti bahwa kamu memegang perintah saya!” Sang Bos berkata sambil
melempar semacam jimat.
“Baik
Bos!” sang demon menangkap jimat tersebut.
Tanpa
basa-basi lagi ia langsung menghubungi para demon.Dalam waktu singkat sudah
ratusan demon yang terkumpul. Mereka siap melaksanakan misi yang membawa maut
untuk korban yang diincarnya.
-o0o-
Tidak
jauh dari kamar operasi, tampak seorang malaikat yang ditugaskan menjaga Arman.
Dialah malaikat yang sudah berusaha memperingati Arman untuk tidak menggunakan sepeda.Sayangnya
Arman mengabaikannya. Sejak Arman mengaku percaya dan menyerahkan hidupnya kepada
Tuhan Yesus, dia diutus menjaga Arman. Sayang upayanya gagal dan sekarang ia
menunggu dekat kamar operasi. Setelah kamar operasi ditutup, ia tetap menyertai
Arman. Ia tadi sudah mendorong dokter kepala untuk menangani Arman. Dokter
kepala adalah seorang yang telah percaya kepada Yesus sebagai Tuhan dan
Juruselamat!
Awalnya,
ia hanya sendirian.Tiba-tiba datang mahluk hitam yang menjadi musuh dari para
malaikat. Itulah demon!Demon yang diutus oleh Sang Bos untuk menggagalkan upaya
operasi Arman. Jumlah mereka semakin lama semakin banyak.
Pada saat itu
dokter anastesi sedang menyuntik obat penenang dengan dosis tinggi agar Arman
tertidur selama operasi berlangsung. Langkah ini sukses membuat Arman tertidur
untuk waktu beberapa jam.
“Dok, semua alat
sudah tersedia. Ini scapel nya” suster memberi alat yang diperlukan pada dokter
yang akan membedah Arman.
“Bagaimana
kondisi pasien?” dokter ingin memastikan.
“Buruk dok.
Tekanan darahnya melemah. Kalau tidak cepat dioperasi, dikhawatirkan akan
meninggal!” suster memberi laporan.
“Berapa ampul
darah sudah dimasukkan?” dokter ingin memastikan kondisi darah pasien.
“Sudah 2 ampul
dok. Luka dalam yang dideritanya parah. Dikhawatirkan organ –organ dalamnya
terluka dan berdarah. Dokter kepala segera memeriksa hasil ronsen Arman. Kondisi
luka Arman benar-benar parah. Berbagai luka di dalam dan tubuh luarnya
menyebabkan pendarahan hebat. Dua ampul darah yang telah diberikan tidak akan
cukup!
“Rekan-rekan..
kondisi pasien sangat berbahaya. Kemungkinan besar kita tidak mampu
menyelamatkannya. Kita hanya manusia biasa. Mari sebelum mulai operasi, kita
menyerahkan pasien ini ke dalam tangan kasih Tuhan! Kalau memang Tuhan akan
memberinya kehidupan, tidak akan ada yang bisa merampasnya. Namun kalau Tuhan
menghendaki pasien ini mati, maka tidak ada yang bisa mencegahnya. Mari kita
mulai berdoa!” dokter kepala ini segera memimpin operasi dengan doa.
Ini merupakan
hal yang langka di rumah sakit di Jakarta! Mungkin tidak ada. Namun dokter
kepala yang menyadari kondisi pasien yang kritis memohon bimbingan dan bantuan
Tuhan.Ia sendiri tadi merasa heran. Sepertinya ia terbeban untuk menangani
pasien ini.Hatinya terdorong entah kenapa. Padahal cukup banyak pasien lain
yang memerlukan penanganannya!
Setelah selesai
berdoa, maka para dokter pun mulai melakukan operasi.
Operasi yang
dilakukan membutuhkan waktu berjam-jam.
Maklum dengan
pecahnya berbagai organ dalam ditambah tulang yang patah, belum lagi luka-luka
luar yang perlu dijahit, benar-benar perlu ketekunan dan ketelitian.
Mereka berjuang
mati-matian untuk menyelamatkan jiwa Arman.
Namun demikian
reaksi tubuh Arman seperti berlawanan dengan keinginan para dokter tersebut. Dilihat
dari layar monitor, denyut jantung Arman semakin melemah.
Setelah para
dokter berjuang mati-matian, akhirnya hanya terlihat garis datar pada denyut
jantung Arman.
“Dokter… pasien
semakin kritis!” suster memberi informasi “sudah tidak ada denyut nya!”
Dokter kepala
melirik ke arah layar monitor. Benar apa yang dikatakan suster. Berarti
perjuangan mereka sia-sia! Dokter kepala kemudian meminta alat pacu jantung
elektrik.Di tempelkannya dua handel-nya pada dada Arman lalu dikejutkan
jantungnya. Namun percuma. Garis di layar masih tampak datar. Tidak ada
perubahan sedikit pun.
“Rekan-rekan,
kita sudah melakukan yang terbaik yang
mampu kita lakukan. Namun hasilnya tidak seperti apa yang kita inginkan. Allah
pasti tahu yang terbaik untuk hasil operasi ini. Mari kita berdoa untuk
mengucapkan syukur bahwa Tuhan telah mampukan kita melakukan yang terbaik!”
Dokter kepala pun mengajak rekan-rekannya satu tim untuk berdoa.
Semuanya tidak
ada yang bertanya, mengapa kegagalan pun harus diserahkan kepada Tuhan dengan
hati yang mengucap syukur. Demikianlah sang dokter kepala. Seluruh rekan
kerjanya sudah tahu prinsipnya. Dalam segala keadaan ucapkanlah syukur!
Setelah itu
Dokter Kepala membuka pintu dan menyampaikan kabar duka ke para penunggu.
“Siapakah yang
mewakili keluarga Arman?” Dokter Kepala bertanya.
“Saya dokter” Tami
, istri Arman, maju menghadap Dokter Kepala dengan ditemani Pastor Peter.
“Kami memohon
maaf. Kami sudah melakukan yang terbaik yang dapat kami lakukan, namun Sdr.
Arman tidak tertolong!” Dokter Kepala mengumumkan kegagalan timnya.
Semua yang
mendengarnya terdiam. Itu berita yang mengejutkan walau mereka sudah perkirakan
kemungkinannya melihat parahnya luka yang dialami Arman.
“Jadi sudah
tidak ada yang dapat dilakukan apa-apa lagi Dok?” Ev. Debora bertanya dengan
nada sedih.
Baik Ev. Debora
dan suaminya, Pastor Peter, mengenal Arman sekitar 30 tahun yakni sejak
berdirinya GeYesKu. Saat itu untuk pertama kalinya Arman membantu pelayanan
gereja. Walau usia nya masih sangat muda dan belum menikah! Sekarang semuanya
tinggal kenangan.
“Mohon maaf!”
dokter kepala hanya dapat menjawab dengan 2 patah kata. Lalu ia pun kembali ke
ruang operasi untuk menyelesaikan operasi yang tersisa.
“Mari kita
berdoa sekali lagi. Rencana Tuhan pasti luar biasa. Tidak semua orang bisa
memahami. Kita mengucap syukur apapun yang terjadi. Arman telah percaya kepada
Yesus Kristus. Jadi bila ia pun kembali kepada Bapa, maka ia akan berada di
tempat yang telah disediakaNya!” Pastor Peter kembali memipin doa. Ia pun
memulainya dengan menyanyikan lagu “Di HadiratMu , Aku Puas”.
Di
hadiratMu, aku puas
Di
hadiratMu, aku bebas
Di
hadiratMu ada trang kehidupanku
Pernyataan
kuasa kekuatanMu
Di
hadiratMu kudatang persembahkan lagu
Di
hadapan Rajaku
Pastur Peter memang
sudah mencapai level kerohanian yang tinggi. Dia tahu kehendak Allah luar
biasa. Pikiran manusia tidak mampu menyelami pikiran Allah. Manusia yang tidak
sempurna tidak mungkin mencapai Allah yang sempurna!
-o0o-
Demon
yang bertugas mengawasi operasi Arman, merasa senang.Dia benar-benar sudah
mengerahkan daya untuk membuat hidup Arman berakhir.Dibaginya tugas kepada para
demon.Memang dia tidak ingin langsung melawan para malaikat yang berada di
sekeliling Arman. Malaikat yang merupakan buah dari doa-doa para jemaat
GeYesKu. Dia tahu tidak akan menang melawan mereka.Dia sudah mengatur agar
obat-obatan yang digunakan adalah obat yang keliru.Memang betul obat itu adalah
obat yang sering dipakai pihak rumah sakit. Namun tidak ada yang menyadari bahwa
obat itu sebenarnya obat yang tepat. Itu adalah kesalahan dari pabrik obat
pembuatnya! Sehingga waktu obat itu digunakan tadi, efek sebaliknya yang
terjadi. Bukannya Arman membaik, malah ia semakin sakit sehingga akhirnya….
-o0o-
Para
malaikat yang menyaksikan kejadian ini sangat bingung. Bagaimana mungkin hal
ini terjadi. Tiba-tiba muncul malaikat pendamping orang yang meninggal. Malaikat
yang menjaga Arman maklum bahwa tugasnya sudah selesai. Arman sudah tiada,
sehingga malaikat penjemput itu sekarang yang mengambil alih. Di samping itu
ada juga demon maut yang berusaha menyesatkan. Arwah Arman pun keluar dari
raganya. Ia bingung melihat ada 2 mahluk yang menjemputnya. Yang satu berwarna
hitam dan yang lain putih. Dia merasa takut melihat mahluk hitam itu dan tidak
berani mendekat. Namun untuk mahluk putih bercahaya itu pun ia belum berani
ikut.Ia merasa ragu.
“Apakah
benar, harus ada yang menjemput?” arwah Arman bingung.“Bukankah kalau benar,
seharusnya tinggal arwahnya saja melayang?”
Tiba-tiba
ia teringat pesan dari Yakob dan untuk memastikannya ia pun bertanya,
“Apakah
kamu percaya bahwa Yesus adalah Anak Allah dan Allah itu sendiri?”
Malaikat
itu tersenyum lebar dan menjabat,”Tentu saja saya percaya dari dulu, sekarang
sampai selamanya!”
Akhirnya
Arman melangkah mantap. Ia pun mengikuti langkah malaikat itu.
“Tunggu
sebentar Arman!” perkataan malaikat itu menghentikan langkah Arman.
“Ada
apa?” Arman kembali bingung.
“Saya
diutus untuk memberitahu bahwa kamu akan tetap hidup! Memang sekarang tubuhmu
sedang mati suri. Namun beberapa saat lagi kamu akan kembali hidup untuk
memberi kesaksian kepada orang-orang lain!”
Malaikat
itu kemudian menghilang!Dan arwah Arman kembali masuk ke dalam raganya. Arwah
Arman merasa sukacita. Arwah yang ingin menyanyikan lagu pujian yang diajarkan
Yakob :
Ada kuasa dalam
darahNya, darah Domba Allah
Ada kuasa dalam
darahNya, dalam darah Domba Allah
Malaikat
penjaganya kembali mengawasi Arman. Itu bukan perkara biasa! Tidak banyak orang
yang setelah mati suri , lalu hidup kembali! Malaikat penjaganya maklum bahwa
kehadiran Arman dalam dunia masih diperlukan Allah sendiri yang menghendaki
agar ia tetap hidup! Sama seperti waktu Yakob mengalaminya dulu. (baca kisah
Yakob dalam novel yang berbeda).
Ini
pasti karena besarnya kuasa doa orang-orang percaya di bumi.Mereka bersatu hati
memohon kepada Allah agar Arman diselamatkan nyawanya. Allah pun mendengarkan
doa mereka! Bukankah doa orang benar besar kuasanya?
-o0o-
Suster yang
sedang membereskan peralatan operasi mendengar bunyi.Ia pun menoleh ke sumber
bunyi. Ternyata itu berasal dari mesin pemindai detak jantung. Ia merasa heran
akan asal dari bunyi tersebut. Bukankah itu pertanda bahwa mesin tersebut …? Matanya
pun kemudian beralih ke layar monitor.
Matanya pun
terbelalak. Bagaimana mungkin? Bukankah tadi garis pada layar monitor sudah
datar? Mengapa??
“Dokter….!
Dokter…!” suster itu langsung memanggil para dokter yang akan keluar.
“Ada apa Sus?”
dokter kepala mewakili rekan-rekannya ingin tahu.
“Lihat Dok!”
Suster menunjuk ke arah monitor.
Para dokter pun
memalingkan pandangan ke layar monitor.
“??? Bukankah
tadi…?” Dokter kepala menggeleng-gelengkan kepala.
“Ini pasti
keajaiban!” katanya menyimpulkan.
Mereka semua
tadi sudah berjuang mati-matian untuk menyelamatkan Arman, namun hasilnya
terlihat di layar monitor bahwa detak jantung pasien sudah tidak ada!
Bagaimana
mungkin setelah cukup lama mereka bercakap-cakap mendiskusikan hasil operasinya
kemudian garis itu kembali bergelombang?
“Cepat
teman-teman. Periksa semua tanda-tanda kehidupan dan hasil operasi!” Dokter
Kepala langsung memberi komando.
Semua dokter dan
staf yang terlibat langsung memperhatikan tubuh Arman. Tampak dada Arman sudah bergerak turun naik! Bukankah
itu pertanda bahwa memang Arman sudah bernafas kembali? Mereka pun memeriksa
hasil operasi mereka! Ternyata luka-luka yang tadi mereka kerjakan sudah
tertutup rapat. Bukan itu saja pendarahan sudah berhenti sama sekali. Yang
paling jelas kelihatan adalah hasil penyambungan tulang! Tulang itu sudah melekat
sempurna! Bagaimana mungkin? Itu hanya bisa terjadi karena MUJIZAT! Luar biasa!
Allah telah memberikan nyawa kedua bagi Arman. Apakah gerangan misi yang harus
diembannya?
Para dokter
tampak lega. Mereka bersyukur bisa menyaksikan
mujizat yang terjadi.
“Rekan-rekan,
kita memahami jalan Tuhan bukan jalan manusia. Apa yang Tuhan kehendaki
terjadilah. Manusia hanya dapat mensyukuri saja!” dokter kepala tidak berhenti
terkagum-kagum akan rencana dan jalanNya.
Dia membayangkan
bila operasi tadi langsung berhasil, maka tim dokter akan berbangga dengan
hasil mereka dan itu meniadakan keindahan karya ilahi dari Sang Pencipta. Sungguh
luar biasa makna peristiwa ini.
-o0o-
“Apa?
Arman masih hidup?” Sang Bos mendelik murka.
“Betul
Bos. Tepatnya hidup kembali!” sang demon melaporkan.
“Maksudmu
dia sebenarnya sudah mati?” Sang Bos mengkonfirmasi.
“Betul.
Jiwanya sudah meninggalkan tubuhnya dan tinggal memilih sorga atau neraka!”
jelas sang demon.
“Berarti…?”
Sang Bos sudah bisa menangkap makna kejadian ini.
“Betul
Bos. Ada kuasa dari sorga yang menghidupkannya kembali!” sang demon melapor.
“Hmm…
kalau begitu Allah kembali melakukan mujizatnya. Kalau sudah begini, maka raja
demon alias sang iblis atau setan tidak dapat berbuat apa-apa!” Sang Bos
menyimpulkan.
Meski
demikian, Sang Bos butuh
penyaluran.Ditendangnya sang demon yang tidak memiliki kesalahan apa pun untuk
melampiaskannya.
-o0o-
Dokter kepala
pun sekali lagi keluar dari ruang operasi. Kali ini wajahnya mencerminkan
sukacita. Ia sempat menunggu selesainya doa dari Pastor Peter dan
rekan-rekannya.
“Jadi Arman
hidup kembali?” Pastor Peter terkejut.
“Benar! Mujizat
baru saja terjadi. Dunia kedokteran tidak mampu menjelaskan peristiwa ini.
Tidak mungkin orang yang mati hidup kembali. Itu pasti mujizat!” dokter kepala
menjelaskan.
Pastor Peter,
Ev. Debora dan Yakob sangat bersukacita. Allah sungguh baik. Ia mengabulkan doa
anak-anakNya. Bahkan bila jawabanNya tidak pun, Dia tetap Allah yang teramat baik.
Maka aku akan memuji Allah dengan nyanyian, mengagungkan
Dia dengan nyanyian syukur.( Mazmur 69:31 –BIS)
“Baiklah, karena
Arman sudah berhasil operasinya, saya dan shi
mu akan balik ke gereja. Kamu bagaimana Yakob? Saya rasa ada baiknya kita
semua pulang istirahat dan mandi dahulu!” Pastor Peter mengusulkan.
“Iya benar juga.
Tapi kalau nanti Pak Arman sadar
bagaimana?” Yakob menggali kesiapan setelah operasi.
“James sudah
mengaturnya. Jangan khawatir! Oh iya Yakob, saya tadi menerima telepon dari
sekolah menanyakan kesediaan kamu untuk menjadi guru agama. Bagaimana , apakah
kamu sudah memutuskan?” Pastor Peter menanyakan walau ia tahu baru tadi pagi ia
menyampaikannya.
“Saya sudah
putuskan, mu shi. Saya terima
pelayanan sebagai guru agama. Saya rasa itu juga ladang yang sudah Tuhan
sediakan bagi gerejaNya” Yakob berkata dengan mantap. Ia sudah memutuskan sejak
mengenal Jonas tadi.
“Syukurlah.
Kalau tidak sekolah tidak punya guru agama. Karena kamu sudah bersedia, maka
mulai besok, kamu mengajar di sekolah!” Pastor Peter menyimpulkan.
“Baiklah mu shi.” Yakob memasukkan skedul
tambahan ini dalam memorinya.
Akhirnya mereka
bertiga balik ke gereja. Mereka meninggalkan Tami, Bayu dan Ayu untuk menjaga
Arman bila ia sadar. Mereka juga berpesan untuk memberi kabar, bila Arman sudah
sadar.
-o0o-

No comments:
Post a Comment