Sunday, December 20, 2015

Coram Deo Ep 10 - Ibadah Ucapan Syukur


Coram Deo
(Episode 10)
IBADAH UCAPAN SYUKUR

Sebulan kemudian, di Minggu pertama Desember 2015, kebaktian gabungan yang diadakan pada pk 10 WIB sebentar lagi berlangsung. Satu per satu pengunjung berdatangan. Ev. Yakob berdiri di depan pintu utama gedung gereja dan dengan penuh semangat menyalami para pengunjung. Disapanya mereka semuanya. Bagi yang belum dikenalnya, ia tidak segan menanyakan namanya.

Ev. Yakob sangat senang melihat para pengunjung yang datang. Di antaranya ada keluarga Arman yang terdiri dari Arman, Tami dan kedua anaknya Bayu dan Ayu. Arman dan keluarganya walau belum sepenuhnya pulih, namun mereka dengan penuh suka cita datang ke gereja ingin mengikuti kebaktian. Keluarga ini sudah memutuskan dengan bulat untuk menyerahkan hidup mereka sepenuhnya kepada Tuhan Yesus. Hal ini bukan karena seluruh biaya pengobatan mereka selama di rumah sakit ditanggung oleh pihak gereja, namun mereka melihat dan merasakan sendiri pertolongan Tuhan sungguh nyata saat menghadapi pergumulan yang begitu berat. Kuasa Allah sungguh mengherankan.

Ada juga Amy dan anaknya Jonas. Di samping itu mereka juga ditemani dengan Terry yang sebelumnya sering mem-bully Jonas. Namun sekarang Terry telah kembali menjadi teman akrab Jonas dan dia sudah dianggap anak oleh Amy. Terry bahkan datang bersama papa dan mamanya! Sungguh mengharukan melihat keluarga Terry telah bersatu kembali. Terry sekarang mendapat kelimpahan kasih sayang dari kedua orangnya juga sahabatnya Jonas dan Amy. Kalau dulu ia menjadi biang keributan di sekolah, sekarang perilakunya berbeda 180 derejat. Hidupnya tidak lagi sama. Ia sekarang menjadi berkat bagi teman-temannya di sekolah. Perubahan hidupnya ini selain karena pulihnya keluarganya, ia juga telah menyaksikan sendiri mujizat nyata yang menyatukan keluarganya.

Ada juga tamu yang secara mengejutkan datang. Ada Deny yang walau masih dalam pergumulan , namun sudah bersedia ikut kebaktian. Ia ingin mengikuti teladadn dari penolongnya yaitu Ev. Yakob. Ev. Yakob terus membimbing dan mengawasinya agar tidak lagi menjadi pencuri atau melakukan hal-hal bisa merugikan dirinya sendiri.

Ada juga Bang Rocky, sang penjual nasi goreng. Setiap malam ia masih menjual nasi goreng. Terkadang Yakob, Deny dan Jonas mampir menikmati nasi gorengnya. Nasi gorengnya kian bertambah laris. Hal ini disebabkan perubahan pelayanan Bang Rocky. Kalau dulu ia lebih mementingkan rasa nasi goreng, sekarang ia menambahnya dengan keramahan sehingga pembelinya betah berlama-lama dan berbicara serta berbagi pengalaman dengannya.

Belum lagi ada dokter dari rumah sakit Karmel yang telah menangani keluarga Arman. Beberapa dokter dari rumah sakit ini memang merupakan orang-orang percaya. Mereka senantiasa mendoakan pasien mereka dan meminta pertolongan Tuhan agar mereka berhasil mengobati dan mengoperasi (bila diperlukan) pasien mereka. Pasien yang sepertinya sudah kehilangan asa, di tangan mereka pasien tersebut mendapat harapan baru.

Ev. Yakob sangat senang melihat orang-orang yang baru dikenalnya sudah datang mengikuti kebaktian. Itu adalah buah pelayanannya bersama-sama rekan-rekan sepelayanannya. Dia dan seluruh jemaat bahu membahu menyambut para pengunjung baru dan membagikan kehangatan dan pertolongan bagi jiwa-jiwa yang tersisih dalam kehidupan. Hal ini terjadi karena orang percaya berada dalam hadiratNya.

Pada saat manusia menyerahkan dirinya sepenuhnya kepada kehendak Bapa di sorga, maka ia akan berada dalam hadiratNya dan melaksanakan perintah agung untuk memberitakan berita keselamatan pada setiap orang. Selanjutnya terserah siapa pun yang mendengarnya. Tidak masalah pendengarnya mau menerima atau tidak , amanat sudah dilaksanakan.

Sambil menantikan waktu mulai beribadah, Simon yang bertugas sebagai liturgos alias pemimpin liturgi mengajak para pengunjung untuk bernyanyi lagu DI HADIRATMU AKU PUAS. Setelah itu tepat pada waktunya ibadah dimulai. Lonceng berbunyi 10 kali menandakan bahwa ibadah dimulai pk 10 WIB. Liturgi mengalir dengan lancar dari satu bagian ke bagian. Simon pandai menjaga suasana ibadah. Pujian diseling dengan doa, nats Alkitab menjadi satu bagian yang saling melengkapi. Lagu-lagu mengalir dengan penuh semangat untuk menyuarakan sukacita orang percaya.

Di hadiratMu aku puas
Di hadiratmu aku bebas
Di hadiratMu ada trang kehidupanku
Pernyataan kuasa kekuatanMu
Di hadiratMu kudatang persembahkan lagu
Di hadapan Rajaku

Lalu diikuti dengan lagu lainnya “Di HadiratMu Kubersujud

Di hadiratMu ku bersujud
Menikmati kehadiranMu
Kubuka hati saat ini
Tuk mendengar suaraMu

FirmanMu Tuhan yang sungguh benar
Menerangi jalanku
FirmanMu Tuhan menuntun hidupku
Kubersyukur padaMu

Setelah itu menyusul lagu , DI HADAPAN HADIRATMU

Di hadapan hadiratMu ya Bapa
Kudatang dengan penuh kerinduan
Di hadapan hadiratMu ya Bapa
Segala keangkuhan hilang

Kusembah Kau ya Bapa
Kusembah Kau ya Tuhan
Kutinggikan namaMu Yesus
Dalam hidupku, dalam hidupku slalu

Lalu diikuti dengan lagu dalam bahasa Inggris besutan Paul Wilbur berjudul In Your Presence


In Your presence
That's where I am strong
In Your presence
O Lord my God
In Your presence
That's where I belong
Seeking Your face
Touching Your grace
In the cleft of the Rock
In Your presence O God

I want to go
Where the rivers
Cannot overflow me
Where my feet are
On the rock
I want to hide
Where the blazing
Fire cannot burn me
In Your presence O God

I want to hide
Where the flood of
Evil cannot reach me
Where I'm covered by the blood
I want to be where
The schemes of darkness
Cannot touch me
In Your presence O God

You are my firm foundation
I trust in You all day long
I am Your child
And Your servant
And You are my
Strength and my song
You're my song

Seeking Your face
Touching Your grace
In the cleft of the Rock
In Your presence O God
In Your presence

Jonas merasa senang berada di gereja saat itu. Hatinya merasa damai. Dia melihat ada mahluk-mahluk hitam berusaha masuk ke dalam gedung gereja, namun sinar terang yang memancar dari seputar gereja menghalanginya. Jonas tidak mengetahui dari mana asal sinar itu. Demon terus berusaha dan tidak mengenal putus asa. Mereka terus memaksa untuk menerobos dengan cara apa pun. Bahkan ada demon yang kesakitan setelah berusaha menembus sinar terang yang mengelilingi gereja. Mahluk hitam ini menghalalkan berbagai cara. Ada satu cara aman yang dapat ditempuh sang mahluk. Ia berusaha menembusnya dengan memasuki raga pengunjung yang datang. Sayangnya usaha ini juga tidak mudah. Mereka tidak bisa memasuki para pengunjung yang memang telah dikuasai oleh ‘sinar terang’.

Amy , mama Jonas, juga merasakan sukacita. Ia dapat mengenali enersi kasih ilahi begitu dahsyat yang memacar dari pengunjung kebaktian di sekitarnya. Ia tahu itu adalah kasih yang bukan sembarangan. Itulah kasih yang selalu memberi dan penuh pengorbanan. Enersi yang juga dirasakan saat Yakob membantunya dengan tulus. Persekutuan dari orang-orang percaya membuat enersi yang terpancar menjadi luar biasa.

Jonas, Amy, Terry, orang tua Terry, keluarga Arman , Deny, Rocky serta para pengunjung gereja yang baru pertama kali hadir masih asing dengan lagu-lagu yang dinyanyikan. Namun karena lagu-lagunya sederhana dengan melodi yang menawan membuat mereka dengan mudah mengikuti dan mencoba menyanyikannya. Herannya saat mereka bernyanyi, seperti ada enersi yang mempersatukan mereka dengan pengunjung lainnya dalam puji-pujian. Pujian mereka bersatu menjadi persembahan harum di hadapan Tuhan.

Setelah puji-pujian dinaikkan, lalu Pastor Peter yang menjadi pembicara naik mimbar lalu menyampaikan salam.

Syalom,

Terdengar salam balasan dari para pengunjung yang mengucapkan kata yang sama yang berarti salam damai. Setelah Pastor Peter memohon penyertaan Tuhan untuk penyampaian firman Tuhan dalam doa, ia pun menyampaikan khotbahnya yang bertema Coram Deo (di Hadirat Tuhan)

Sebagai orang Kristen, hidup kita tidak boleh jauh dari hadirat (hadapan) Tuhan. Orang percaya harus hidup bersama Tuhan. Tuhan seharusnya hadir dalam diri dan hidup setiap orang Kristen. Tanpa hadirat Tuhan kehidupan rohani kita tidak punya kekuatan dan mempunyai dampak bagi orang-orang di sekeliling kita. Tanpa hadirat Allah, maka orang Kristen seperti ranting yang tidak memiliki sumber makanan dari batang pohon lalu cepat atau lambat kerohaniannya akan kering bahkan mati. Sehingga jangan sampai kita kehilangan hadirat Tuhan. Jangan sampai kita lari dari hadapanNya!

Pada tangal 3 September 1889, seorang bayi lelaki lahir dalam sebuah keluarga Sikh di Utara India. Ia diberi nama Sundar Singh. Hidup keluarga Sundar makmur. Mereka memiliki rumah bagus dan banyak makanan, berbeda dengan tetangga-tetangga di sekitarnya. Ibu Sundar bergelar "Sikh Bakhta" (seorang yang dianggap suci dalam agama Sikh) dan membimbing Sundar menghafal isi Gita (kitab suci Sikh).  Sundar bertumbuh dan berusaha untuk menjadi seorang Sikh yang saleh. Ia juga mempelajari dan membaca buku-buku Hindu dan Islam. Sikh memang mengizinkan penganutnya untuk mempelajari buku-buku agama lain. Namun hal itu tidak memuaskan keinginannya dalam mengenal kebenaran.

Dalam menempuh pendidikan, Sundar memilih sekolah Kristen yang dikelola misionaris Inggris. Hal ini disebabkan suhu udara India sangat panas dan perjalanan ke sekolah pemerintah sangatlah jauh. Saat itu Sundar diajari Alkitab walau tidak menerima kebenarannya. Bahkan sejak kematian ibunya, Sundar membenci dan menganiaya orang Kristen  dan kemudian berhenti dari sekolah. Ayahnya melihat Sundar membakar sebuah Alkitab sampai habis. Sang Ayah mengingatkan bahwa ibunya pernah mengatakan bahwa Alkitab adalah buku yang baik, namun Sundar tak peduli.

Sundar merasa kehilangan dan takut karena agama yang dianutnya tidak memberi kedamaian yang diinginkannya. Akhirnya ia bermaksud untuk bunuh diri  dengan menabrakkan diri pada kereta yang sedang melaju. Namun sebelum melakukannya, Sundar berdoa kepada Tuhan dan memohon tanda bahwa Dia benar-benar ada. Tuhan pun menjawab. Sundar menyampaikan ke ayahnya bahwa Yesus menampakkan diri kepadanya dalam sinar yang sangat terang. Yesus berkata bahwa Ia datang untuk menyelamatkan Sundar. Sejak itu Sundar berubah. Ia menjadi Kristen dan melayani Yesus sampai akhir hayatnya. Keluarganya berusaha mengubah pendirian Sundar. Mereka menawari uang agar Sundar kembali ke agama Sikh. Namun Sundar menolak. Mereka pun berusaha membunuhnya dengan memasukkan racun ke dalam makanannya. Setelah gagal, mereka pun mengucilkan Sundar.

Sundar dibaptis saat berusia 16 tahun dan memutuskan untuk menjadi seorang Sadhu Kristen. Sadhu adalah guru agama berjubah kuning yang mengajar dari satu tempat ke tempat lain dengan berjalan kaki.. Mereka sangat bergantung belas kasihan orang lain untuk makan dan tempat tinggal. Sundar pun memulai perjalanannya ke berbagai tempat sambil memberitakan firman Tuhan.  Ada beberapa orang yang memberinya makan dan tempat tinggal, tetapi ada pula yang berusaha mencelakai atau membunuhnya. Sundar tidak pernah membalas orang yang mencelakainya. Ia terus menyanyikan atau menceritakan kasih Tuhan. Hal ini membuat banyak orang melihat kesaksian Sundar sehingga mereka menerima Yesus sebagai Juruselamat mereka. Walau berbahaya, Sundar sangat rindu untuk memberitakan Injil ke Tibet dengan pegunungan Himalaya yang sangat curam dan sulit diseberangi. Karena hanya memakai sandal saja, kaki Sundar selalu berdarah saat berusaha mencapai Tibet. Banyak bahaya yang di hadapinya seperti badai salju yang menyulitkan penglihatan, macan tutul salju yang suka menyerang dan membunuh juga penganiayaan dari penduduk Tibet (Sundar pernah dimasukkan ke sumur dalam kondisi tangan patah selama 3 hari dan kemudian dibebaskan secara ajaib). Namun Sundar bertekad memberitakan Injil kepada orang-orang Tibet.

Selama pelayanannya, Sadhu Sundar senantiasa berada dalam hadirat Tuhan yang menjadi kekuatan dan penghiburannya. Ia mengalami banyak mujizat dan banyak orang menjadi percaya setelah mendengarkan khotbahnya. Suatu hari di tahun 1929, dalam perjalanan ke Tibet Sundar menghilang tanpa pernah ditemukan jasadnya. Sadhu Sundar telah menjadi teladan hidup orang yang diubahkan oleh Yesus. Kesaksian melalui pengalaman hidupnya menjadi contoh orang yang sangat rindu memberitakan Injil.

Para jemaat dan pengunjung mendengarkan khotbah yang disampaikan oleh Pastor Peter dengan penuh konsentrasi. Tidak ada yang tertidur ataupun bosan. Pastor Peter memang pandai memainkan intonasi suaranya dan menggambarkan kisah tentang Sundar Singh dengan begitu baik dan bersemangat. Jonas yang menyaksikan dari kursi jemaat dapat melihat lingkaran cahaya yang memancar dari kepala Pastor Peter. Ia tidak mengetahui bahwa itulah halo. Ia memandang takjub dengan keindahannya. Ia terus menyimak khotbah Pastor Peter dengan penuh konsentrasi.

Kali ini kita akan belajar dari Kitab Yunus pasal 1 ayat 1-17. Khususnya ungkapan “jauh dari hadapan TUHAN” yang muncul sebanyak tiga kali yakni di ayat 3 (2 kali muncul) dan  10 (1 kali muncul) . Dikisahkan Allah menitahkan Nabi Yunus untuk pergi ke Niniwe, yang penduduknya merupakan musuh bangsa Israel. Allah memintanya untuk berseru kepada penduduk Niniwe agar bertobat dari kejahatannya yang sangat luar biasa. Yang mengherankan Yunus dengan sengaja mengabaikan perintah Allah dengan melarikan diri ke tempat yang jauh (Tarsis). Yunus tidak mau musuh bangsa Israel itu diselamatkan. Yunus pun melarikan diri dari hadirat Tuhan. Dengan menolak perintah Tuhan berarti ia tidak lagi bersama Tuhan! Berbeda dengan Sundar Singh yang walaupun menghadapi marabahaya di Tibet, ia tetap taat untuk memberitakan Injil ke India dan Tibet sehingga banyak orang bertobat di sana.

Perjalanan Yunus melarikan diri ke Tarsis dilakukan dengan sengaja (ayat 10). Ia melarikan diri sejauh-jauhnya dari Niniwe yang menjadi tempat tugasnya. Ia ingin berada “jauh dari hadapan TUHAN.” Seakan-akan ia bisa berada jauh dari Allah. Yunus memang sengaja tidak ingin Allah hadir karena ia merasa perintah Allah itu ”tidak patut”. Sebagai seorang nabi yang mengabarkan berita keselamatan, tentulah Yunus dikasihi oleh Allah yang mahahadir. Walaupun tingkah laku Yunus seperti anak yang mencoba kabur dari orang tuanya, namun Allah tetap hadir dalam kasihNya. Ungkapan “jauh dari hadapan TUHAN” di sini berarti “jauh dari hadirat TUHAN yang penuh kasih.”

“Jauh dari hadapan atau hadirat TUHAN” adalah perilaku yang disebabkan oleh adanya dosa dalam kehidupan kita. Dosa hadir saat manusia memberontak dari perintah Tuhan. Seperti juga manusia pertama, Adam dan Hawa saat melanggar perintah Allah untuk tidak memakan buah tentang pengetahuan yang baik dan yang jahat. Mereka memakan buah larangan itu dan melanggar perintah Allah. Mereka jatuh dalam dosa. Lalu mereka pun sembunyi dari hadirat Allah. Mereka ingin berada jauh dari hadirat Allah. Dosa membuat manusia terpisah dari kehadiran Allah. Untuk mencegah dampak dosa yang lebih besar, Allah pun mengusir mereka dari Taman Eden. Jauh dari hadirat Tuhan menjadi sebuah hukuman bagi manusia. Sesungguhnya berada “di hadirat TUHAN” adalah hal yang sangat indah. Setelah manusia tahu bahwa tanpa kehadiran Allah maka hidupnya menjadi susah dan rusak, lalu manusia mulai mencari Allah. Manusia ingin kembali berada dekat dengan Allah dan menikmati baitNya. Sampai pemazmur menyatakan dalam Mazmur 84:11, “Sebab lebih baik satu hari di pelataran-Mu dari pada seribu hari di tempat lain; lebih baik berdiri di ambang pintu rumah Allahku dari pada diam di kemah-kemah orang fasik.”

Sementara Pastor Peter menyampaikan khotbah, selain pengunjung di gereja GeYeSKu yang mendengarkan, juga ada mahluk-mahluk lain yang tak kasat mata baik para malaikat maupun para roh jahat (demon). Memang demon tidak bisa berada dekat orang-orang yang percaya karena pancaran enersi ilahi yang ada, namun para demon berusaha untuk membuat para orang percaya untuk tidak menyimak khotbah dengan baik. Demon mendengarkan firman Tuhan dengan tujuan diputarbalikkan.

Ada yang berkata bahwa dosa itu nikmat; namun nikmatnya dosa bersifat sementara dan menghancurkan. Sesungguhnya tinggal di hadirat TUHAN, jauh lebih indah. Sayangnya manusia, seringkali lebih tergiur oleh kenikmatan dosa, dan melupakan keindahan hadirat Allah yang melimpah dalam kehidupannya. Yunus bukan saja lari jauh dari hadirat Allah , bahkan ia pun turun ke dalam ruang kapal yang paling bawah, seakan-akan di situlah tempat persembunyiannya yang paling aman (ayat 5). Begitulah pandangan manusia berdosa yang ingin kabur ke tempat yang paling jauh, paling dalam dan paling gelap agar tidak tertangkap! Namun Tuhan yang maha tahu dan maha kuasa, mengikuti permainan Yunus. Sehingga awak kapal mencampakkannya ke dalam laut, tempat yang lebih jauh dan gelap. Bukan itu saja Tuhan pun mendatangkan seekor ikan raksasa yang menelan Yunus sehingga Yunus tinggal di dalamnya selama 3 hari tiga malam. Ikan ini kemudian masuk ke dasar laut. Yunus yang sudah jauh, dalam dan rendah tingkatnya dibuat benar-benar sampai ke tingkatan terendah! Seakan-akan Allah berkata, “Kamu mau lari dari hadapanKu? Baiklah Saya kabulkan. Sekarang kamu berada di tempat yang sangat jauh , dalam dan gelap!”Yunus pun memberinya pengalaman yang melampaui pikirannya. Ia dibawa ke dasar lautan yang dalam dan gelap! Saat manusia lari dari hadapan Allah, maka ia akan berada di tempat yang jauh dan gelap. Tidak ada lagi terang!

Yunus sudah berada pada situasi yang paling jauh dari Tuhan. Akhirnya ia menemui jalan buntu dan tidak dapat kemana-mana lagi. Di situlah ia menyadari kekeliruannya, bertobat dan mau kembali melakukan firman Tuhan. Demikianlah orang percaya. Seringkali Tuhan harus menariknya sampai ke tempat yang paling dalam dan gelap untuk mencairkan kekerasan hatinya dan bertobat! Sampai akhirnya manusia menyadari bahwa ia perlu Tuhan dan ingin berada dalam hadiratNya. Dengan kejatuhan manusia yang terdalam, barulah ia menyadari bahwa Allah benar-benar ada dan ia membutuhkanNya dan rindu akan hadiratNya. Janganlah membuat Tuhan melakukan hal yang serupa dalam hidupmu! Bertobatlah!

Sundar Singh walau tangannya dipatahkan dan disekap dalam sumur, namun ia bisa bertahan. Ia bisa merasakan hadirat Tuhan yang memberinya kekuatan. Ia terus berada bersama Tuhan sampai akhirnya. Ia menjadi alat di tanganNya untuk memberitakan Injil bagi orang India dan Tibet sehingga banyak yang percaya. Itulah buah orang percaya yang terus hidup dalam hadiratNya.

Saat ini apakah kita mau terus hidup jauh dari hadapanNya sampai Allah membiarkan engkau mengalami kegelapan yang paling gelap dan kedalaman yang paling rendah agar engkau mau bertobat? Jangan biarkan itu terjadi, karena pasti tidak mengenakkan. Hidupmu akan menderita! Untuk mengangkatmu dari kegelapan dan kedalaman itu, Allah telah mengutus AnakNya yang tunggal Tuhan Kristus menjadi jalan untuk mengangkat kita sehingga kembali ke permukaan. Yesus Kristus telah datang ke dalam dunia untuk menerangi kegelapan dan mendekatkan kita dengan Allah. Jangan engkau menolaknya! Kehadiran Yesus berkorban dengan mati di kayu salib menjadi sarana agar engkau bisa berada bersama Allah, agar engkau bisa berada dalam hadiratNya! Jangan sia-siakan kesempatan ini. Engkau yang belum bertobat dan percaya, waktunya mungkin sudah tidak banyak lagi. Bila memang engkau mau selamanya berada di kegelapan yang paling gelap, di kedalaman yang tak terselami, di tempat yang terdapat gemeretak gigi dan ketakutan yang mengerikan, maka engkau akan binasa. Tidak ada sesuatu dan seseorang pun yang bisa menolongmu lagi. Jangan sia-siakan kesempatan ini. Percayalah kepada Tuhan Yesus bagi engkau yang belum percaya kepadaNya! Berikan diri untuk hidup terus-menerus menikmati hadirat Tuhan yang penuh kasih.

Bagaimana cara agar hidup dalam hadirat Tuhan? Setelah kita meninggalkan dosa, percaya kepada Tuhan Yesus, menerimaNya sebagai Juruselamat satu-satunya dalam hidup dan lahir baru, kita harus bertekun dalam dua hal:
1.   Bergaul dengan Allah melalui Alkitab yang merupakan Firman Allah. Terus membaca Kitab Suci dan bersaat teduh. Jangan pernah lupakan makanan rohani ini setiap hari!
2.   Berdoa dan bergaul dengan Allah dan jangan biarkan kita mengandalkan kemampuan , kepandaian dan rasio kita sendiri. Sebelum melakukan kegiatan atau mengambil keputusan bawalah semuanya kepada Allah.
Kedua hal ini adalah dua aspek terpenting dalam kehidupan Kristen kita. Mintalah pimpinan dan penerangan Roh Kudus agar kita dapat memahami firmanNya.

Kiranya hadirat Allah yang penuh kasih senantiasa ada dalam kehidupan kita, dan terwujud nyata melalui buah Roh yang melimpah dari kehidupan kita. Hidup kita membawa dan membagikan kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan dan penguasaan diri saat berhubungan dengan keluarga, rekan kerja, saudara seiman dan masyarakat. Beritakanlah kabar baik tentang hadirat Allah. Ceritakan kepada orang-orang di sekeliling kita. Ingatkan mereka agar tidak menjauh dari hadirat Allah, melainkan tetap hidup berpegang pada Injil dan hidup dalam hadirat Allah yang penuh kasih. Amin.

Para pengunjung sangat merasakan semangat dan roh mereka dibangunkan. Mereka disegarkan kembali untuk hidup dalam hadirat Tuhan. Lemak-lemak rohani yang telah membelenggu mereka selama ini, berhasil diangkat. Para pengunjung berjanji dalam hati untuk terus mengevaluasi kehidupan mereka dalam dunia ini agar tidak berada jauh dari hadirNya. Bagi yang belum percaya, mereka pun merasakan perlunya pertobatan. Sungguh khotbah yang luar biasa! Membawa penyegaran rohani bagi yang mendengarkan. Pastor Peter telah menyampaikan berita kabar baik dengan penuh berapi-api. Saat tubuh tuanya berdiri di depan, ia bukan lagi orang yang lemah. Ia dapat menyampaikannya dengan penuh kuasa. Hanya hamba Tuhan yang berada dalam hadiratNya yang mampu melakukan hal itu.

Usai khotbah, kebaktian terus mengalir dengan lancar. Para pengunjung kembali diajak untuk memuji Tuhan dan berdoa. Para pengunjung juga diajak untuk menyatakan imannya dengan Pengakuan Iman Rasuli. Akhirnya ibadah selesai, para pengunjung pun beramah tamah dan saling membagi sukacita dan berkat yang telah mereka terima dan nikmati. Pastor Peter, Ev. Debora, Ev. Yakob, Simon dan para majelis lainnya berdiri di depan pintu masuk untuk menyalami seluruh jemaat. Jemaat dan pengunjung kembali ke rumah masing-masing dengan penuh sukacita. Sebagian jemaat masih terus berada di gereja untuk melakukan aktifitas-aktifitas gerejawi.

Sementara itu para demon yang diberi tugas untuk menjauhkan umat percaya dari persekutuan orang-orang kudus sedang membuat laporan kepada Sang Bos.

“Jadi berapa jumlah yang hadir hari ini?” Sang Bos menatap tajam si pelapor.

“300 orang Bos” dengan takut-takut si pelapor menyebutkan angka.

“Apa? Bukannya bulan lalu baru 250 orang?” Sang Bos mencoba mengingat-ingat. Lalu berpikir apakah ia salah dengar.

“Benar Bos!” si pelapor sudah mempersiapkan diri.

“Kurang ajar! Jadi kamu semua telah gagal? Rasakan ini…!” Sang Bos meluap kemarahannya.

Titahnya tidak dijalankan, berarti celaka buat para pelaksananya.

DES……!! DUGH….1!  DES….!!

Seperti dilanda angin ribut, para demon bertebangan dan berjatuhan.
Sang Bos tidak menyudahi begitu saja.
Dilontarkannya enersi iblis penyiksa nya pada tataran tertinggi.
Tangannya menjadi merah membara.
Para demon yang melihatnya melihat dengan mata ngeri.
Namun  mereka sudah paham. Tidak ada jalan menghindar.

“HIAT…….!!” Seru Sang Bos dan terdengar suara mencicit mengikutinya.

SIUTTT…….. DESS…..

“ARGHHH……!!” terdengar jeritan ngeri dari para demon itu.

Sang Bos tidak peduli, apakah demon yang satu berhasil dan yang lain gagal.
Semuanya mendapat hukuman yang sama.
Tubuh roh sang demon terbakar api neraka.
Api yang menghanguskan.
Api ini memang tidak akan mematikan mereka. Namun dampaknya lebih parah.
Mereka merasakan kesakitan yang sangat.
Mungkin bagi mereka lebih baik mati daripada menderita sengsara seperti itu.
Namun memeng begitulah tujuan dari Sang Bos.
Tidak ada kata ampun buat yang gagal.
Sang Bos menatap marah dan jengkel kepada para bawahannya.
Sebenarnya ia ingin melontarkan sekali lagi enersi iblis penyiksa-nya, tapi ia tahu kalau sampai dilakukan, maka para demon itu akan binasa selamanya. Dan ia tidak mau itu terjadi. Lebih baik memberi mereka rasa takut agar dapat bekerja dengan baik nantinya.
Setelah puas melihat hasil perbuatannya, Sang Bos kemudian melesat dari tempat itu dan menghilang.

Di tempat lain, para malaikat juga berkumpul.
Mereka merayakan kemenangan orang-orang percaya di GeYeSKu.
Jumlah pengunjung yang hadir di kebaktian dan persekutuan di GeYeSKu sudah meningkat.
Tidak sia-sia semua upaya dan doa dari orang-orang percaya di GeYeSku.
Mereka telah dengan sungguh-sungguh berdoa dan berbuat untuk kemuliaan nama Tuhan Yesus.
Namun ini bukan merupakan akhir, tetapi masih dalam proses.
Siapa yang tidak tahu bahwa selama masih ada kehidupan di dunia, pertempuran antara gelap dan terang tidak akan pernah selesai.
Mereka bertugas melindungi orang-orang percaya alias orang-orang kudus milik Allah Tritunggal. Dan sudah menjadi kartu mati yang tidak ditawar-tawar bahwa mereka semua akan melakukan tugas itu bahkan dengan tebusan nyawa mereka sekali pun!

Berakhir sudah novel perdana dari penulis ini. Kiranya segala kemuliaan hanya bagi Allah di tempat yang tertinggi. Haleluyah. Amin.

-T A M A T-



No comments:

Post a Comment