(Episode
9)
PERGUMULAN
TERRY
“Jonas…!Jonas…!”
terdengar suara tenor dari luar pagar rumah Jonas.
Jonas
mendengar panggilan itu. Demikian pula dengan Amy, mamanya.
“Tunggu
sebentar ya!” Jonas membalas.
“Siapa itu Jonas?” Amy
heran. Tumben ada orang yang memanggil nama anaknya itu.
Ini yang orang kedua yang bertandang ke rumah untuk bertemu
dengan Jonas setelah Yakob. Sudah lama Amy tidak melihat teman Jonas singgah di
rumah setelah Jonas tidak lagi bersahabat dengan Terry. Dulu Terry sering
mampir.
“Dia teman sekelas, Ma.
Namanya Anton. Kemarin waktu pakaian Jonas kotor , Jonas sudah mencuci tapi
belum digosok karena belum kering. Jadi Anton membawanya dan berjanji akan mengeringkan
dan menggosoknya” jelas Jonas.
“Dia pasti anak baik.
Tidak semua orang mau melakukan hal itu” Amy menyimpulkan. Amy tidak menanyakan
alasan Anton melakukan hal itu. Ia sadar keterbatasan dari anaknya dan tidak
adanya fasilitas seperti kipas angin untuk mengeringkannya baju basah dengan
cepat. Ia sendiri masih dalam tahap pemulihan.
“Anton juga bergereja
di GeYeSKu sama seperti Yakob” Jonas memberi penjelasan tambahan.
“Oh pantas. Dia pasti
mendapat pengajaran yang baik di GeYeSKu. Mama senang kalau kamu bisa bergaul
dengan dia.” Amy memang sangat berharap anaknya mendapat teman lagi. Dari dulu
anaknya ini sulit mendapat teman baik setelah Terry tanpa alasan jelas berbalik
memusuhinya.
“Iya Ma. Jonas juga
suka berteman dengannya. Jonas keluar dulu ya Ma” Jonas permisi untuk
membukakan pintu.
“Baik. Jangan lupa
ucapkan terima kasih” pesan Amy.
-o0o-
“Hi Jonas. Ini bajumu”
sapa Anton begitu melihat Jonas keluar. “Cepat pakai, sebentar lagi kita akan
ke sekolah” lanjutnya.
“Iya. Ayo masuk dulu.
Saya mau ganti baju” Jonas mempersilahkan Anton duduk sekaligus mengambil baju
yang telah rapi digosok. Jonas memandang bajunya dengan tercengang. Ia baru
menyadari bajunya masih bagus, apalagi setelah dicuci dan digosok dengan rapi.
Bajunya juga harum. “Pasti menggunakan pewangi pakaian,” gumam Jonas dalam
hati.
“Oke.” Anton masuk ke
dalam lalu kemudian duduk.
“Halo. Teman Jonas ya?”
Amy yang keluar dari kamarnya langsung menyapa.
“Benar Tante. Nama saya
Anton. Saya teman sekelas Jonas” balas Anton.
Amy dapat merasakan
enersi kasih yang memancar dari Anton. Dia tahu, Jonas tidak salah memilih
teman.
“Bagaimana sekolah?
Kamu kenal dengan Terry?” Amy ingin tahu kondisi yang dihadapi putranya.
“Sekolah berjalan baik.
Terry teman sekolah tapi beda kelas. Sekarang ini Terry jadi biang onar di
sekolah. Ia suka mem-bully teman-teman lainnya” jelas Anton.
“Termasuk Jonas?” Amy
ingin memastikan.
“Sepertinya begitu
Tante. Tapi saya akan berusaha, agar Jonas tidak lagi di-bully oleh Terry.
Semoga Jonas tidak berada jauh dari saya, sehingga bila Terry ingin mem-bully
nya saya dapat membantu” Anton rupanya sudah memikirkan strategi menolong
Jonas.
“Tante berharap Jonas
tidak lagi di-bully. Kasihan dia. Dia sering minder karena kami dari keluarga
sederhana sehingga tidak punya teman karib” Amy berkata prihatin.
“Iya Tante. Nanti saya
kabari teman-teman lainnya untuk membantu Jonas bila tidak ada saya” Anton
sadar dirinya tidak mungkin terus bersama dengan Jonas.
“Maaf merepotkan kamu
ya. Tante berharap Jonas dapat mengatasi masalah ini sendiri” Amy ingin anaknya
mandiri.
“Iya Tante. Kita
berharap yang terbaik. Saya akan berusaha menjaga dan mendoakannya” Anton
berusaha menenangkan Amy.
“Betul. Semoga Jonas
akan berhasil dalam pergaulan dan pendidikan” Amy sangat berharap kemajuan
putranya.
Tak lama berselang,
Jonas keluar dari kamar mandi. Ia sudah berganti dengan pakaian seragam yang
tadi dibawa Anton. Mukanya berseri karena pengaruh dari rapi dan harumnya
seragam yang dikenakan.
“Ma, Jonas pergi dulu
ke sekolah ya bareng Anton” Jonas pamit sekalian membawa tas sekolah dan
memakai sepatunya.
“Iya. Hati-hati ya
Jonas dengan Terry. Kalau ada apa-apa minta bantuan Anton saja” Amy masih
mengawatirkan putranya.
“Tenang saja Ma. Jonas
akan berusaha untuk mandiri sesuai dengan keinginan mama. Jonas tidak ingin
merepotkan orang lain” Jonas sepertinya punya pendirian sendiri.
“Konsentrasi belajar di
kelas ya Nak” Amy pun memeluk anaknya.
“Mama juga jangan lupa
makan bubur ya” Jonas tidak lupa berpesan sebelum berangkat. Ia pun melambaikan
tangan ke mamanya
“Tenang saja. Mama kan
di rumah” Amy juga balas melambaikan tangan.
“Tante, saya berangkat
dulu ya” Anton sekalian permisi.
Jonas dan Anton
meninggalkan rumah dan berangkat ke sekolah.
-o0o-
“Jonas, menurut kamu
bagaimana mengatasi Terry?” Anton ingin tahu rencana temannya.
“Terry adalah teman
baik saya sejak kecil. Sayang keluarganya terpecah sehingga ia merasa
ditinggalkan. Saya tahu hal ini sangat berat. Saya sendiri pernah merasakan hal
ini juga karena saya tidak punya papa” Jonas mengutarakan pikirannya.
“Namun kamu beruntung
punya mama yang sangat memperhatikan kamu ya” Anton memuji Amy.
“Benar. Sayangnya papa
Terry sejak bercerai tidak memperhatikan Terry. Malah Terry sering dipukuli. Ia
sepertinya ingin menyakiti mama Terry dengan menyiksa Terry. Wajah Terry memang
mirip dengan mamanya.” Jonas memberi informasi tentang keluarga Terry.
“Oh begitu ceritanya.
Kasihan juga ya Terry. Selama ini kita hanya tahu Terry anak pembuat onar.
Rupanya latar belakang keluarganya membuatnya begitu” Anton menghela nafas. Ia
merasakan pergumulan Terry yang begitu besar. Sudah kehilangan mama, ia juga
tidak mendapat kasih sayang papa. Berarti hidupnya ibarat sebatang kara!
“Pantas wajah dan tubuh
Terry sering terlihat biru-biru. Itu pasti pukulan dari papanya?” Anton
menduga.
“Benar. Papanya bahkan
selain memukul dengan tangan, ia juga menggunakan ikat pinggang , rotan, penggaris
atau alat apa saja yang ditemukan untuk membuat Terry menderita!” Jonas terus
membuka fakta mengejutkan tentang Terry.
“Itu berarti KDRT”
Anton menyimpulkan.
“Apa itu KDRT?” Jonas
bingung.
“Kekerasan dalam rumah
tangga. Perlakuan papanya bisa dilaporkan ke komisi perlindungan anak. Karena
bisa membahayakan pertumbuhan mental Terry. Terry bisa menjadi seorang yang kejam
nantinya kepada anak dan istrinya juga” Anton menjelaskan.
“Betul juga. Tetapi
walau diperlakukan kasar dan disakiti, Terry tetap sayang terhadap papa dan
mamanya. Ia ingin mereka bersatu. Ia mati-matian bertahan di rumah karena
tujuan itu.” Jonas menambahkan.
“Tujuannya sangat
mulia. Namun sepertinya Terry tidak menyadari bahwa ada akar kepahitan dalam
dirinya. Itu kemungkinan yang membuat dirinya menjadi sulit bergaul dan suka
mem-bully orang lain. Ia ingin melampiaskan perlakuan papanya.” Anton kagum sekaligus
kasihan kepada Terry. Selama ini ia hanya tahu sisi buruk Terry, rupanya itu
semua pelampiasan dari kondisi buruk yang dialaminya setiap hari.
“Terry bersedia
berkorban jiwa agar kedua orang tuanya bersatu kembali” Jonas menambahkan.
“Jadi kenapa kamu jadi
bermusuhan dengan Terry?” Anton jadi penasaran.
“Saya tidak ingin
bermusuhan dengan dia. Terry yang ingin saya menjauhinya. Ia ingin menyendiri.
Karena saya tidak ingin kehilangan teman, saya terus mendekatinya. Hal itu
membuatnya marah. Sehingga dia memukul dan menyiksa saya agar jauh darinya”
Lagi-lagi fakta yang mengejutkan Anton.
“Oh begitu. Lalu kenapa
ia juga memperlakukan teman-teman lain sedemikian kasar?” Anton terus menggali.
“Sejak keluarganya
pecah. Ia menjadi sangat sensitif. Ia tidak ingin ada orang lain tahu tentang
keluarganya. Ia merasa malu. Jadi bila ada yang mencoba mendekati atau berlaku
ramah padanya, ia tidak segan-segan untuk mem-bully nya!” Jonas rupanya sangat
memahami Terry.
“Jadi selama ini kamu
sengaja membiarkan Terry menyakiti dan menyiksamu?” Anton mencoba menyimpulkan.
“Tidak sepenuhnya
begitu. Saya sangat kasihan dengannya. Ia tidak punya siapa-siapa di dunia ini
yang mau membagi bebannya. Saya masih beruntung mempunyai mama yang terus
mengasihi saya. Jadi saya bersedia disakiti karena ingin meringankan bebannya”
Jonas menjelaskan perannya selama ini.
“Tapi hal ini tidak boleh
didiamkan. Karena akan melukai kamu. Kita tidak mungkin kuat menahan perlakuan
seperti itu selamanya. Juga hal ini tidak baik untuk Terry. Akhirnya kamu
berdua jadi dianggap aneh dan tidak punya teman di sekolah” Anton mengutarakan
pandangannya. Walau pun ia masih remaja, tapi karena pengalaman berorganisasi
di gereja dan bergaul dengan teman-temannya mengasahnya menjadi orang yang
lebih berwawasan.
“Jadi menurut kamu
bagaimana?” Jonas merasa terbangun.
“Kamu sangat menyayangi
Terry. Kamu bersedia berkorban untuk menolongnya bukan?” Anton ingin memastikan.
“Tentu saja. Ia teman
baik saya dan akan selamanya begitu” Jonas dengan tegas menjawab.
“Hebat! Rasanya kamu
dapat menolongnya. Banyak orang-orang yang juga menderita seperti Terry. Kita
akan bersama-sama menolongnya. Kita akan mendukungnya juga. Ini kalau kamu
setuju” Anton menghentikan langkahnya sehingga Jonas ikut berhenti.
“Maksudmu?” Jonas belum mengerti.
“Selama ini kita semua
menganggap Terry sebagai anak jahat. Ia mem-bully hampir semua teman di
sekolah. Sama seperti saya yang tahunya ia anak jahat. Kalau teman-teman tahu masalahnya,
tentu dapat memahami. Dan kita akan bantu menolongnya. Apa kamu setuju, kita
menceritakan masalah Terry ke teman-teman dekat dulu?” Anton meminta persetujuan.
“Maksudnya teman-teman
dekat?” Jonas tidak tahu siapa yang dimaksud.
“Budiman, Johny dan
Jenny” Anton menyebut teman-teman di sekolah yang juga menjadi rekan
sepelayanan di persekutuan remaja.
“Hm….. saya susah
menjawabnya. Tapi saya rasa kita bisa mencobanya. Selama ini saya gagal mencoba
menolong dengan cara saya. Dampaknya, Terry tambah parah. Saya sedih
melihatnya” Jonas akhirnya setuju.
“Kalau gitu, sesampai
di sekolah kita cari mereka dan ajak diskusi” Anton mengusulkan.
“Terserah kamu. Kalau
menurut kamu baik, kita coba” Jonas pasrah.
“Saya memang tidak
punya pengalaman mengatasi hal ini. Setidaknya dengan berembug kita bisa dapat
solusi yang lebih baik. Di samping itu, saya ingin kita membentuk tim untuk
khusus mendoakan Terry dan orangtuanya” Anton mengutarakan gagasannya.
Jonas lagi-lagi
mendengar tentang doa. Bagi orang-orang seperti Yakob dan Anton, sepertinya
semua masalah dibawa dalam doa. Sepertinya doa menjadi kekuatan dan perisai orang-orang
Kristen. Demikian kesimpulan Jonas dalam hati. Ia sendiri belum yakin. Walaupun
mamanya sudah menyerahkan hidupnya kepada Yesus Kristus, tapi ia masih punya
ganjalan dengan Terry. Kalau nanti dia sudah percaya lalu tetap ‘musuhan’
dengan Terry, bagaimana ia bisa menjadi saksi yang baik? Biar pun bukan dia
yang memusuhi tapi Terry, ia tetap merasa ada ganjalan.
“Nah kita sudah sampai
sekolah. Kita langsung mencari teman-teman yang lain” Anton menaruh tas-nya di
tempat duduknya.
“Baiklah” Jonas juga
menaruh tasnya.
-o0o-
Kebetulan Budiman, Johny
dan Jenny sudah datang. Anton langsung minta waktu mereka untuk ke berkumpul
sebentar. Mereka menuju ke ruang olah raga yang memang sepi. Anton dengan cepat
membagikan informasi yang diberikan oleh Jonas.
Jonas hatinya terbelah.
Sebenarnya ia merasa tidak enak hati membocorkan rahasia Terry. Namun kali ini ia
menguatkan hatinya.
“Saya melakukan ini
untukmu Terry!” katanya dalam hati. “Dan saya mempercayakan masalah ini
kepadamu Anton!” Jonas pasrah.
“Teman-teman, informasi
ini dipercayakan kepada kita oleh Jonas. Ia sendiri tidak mudah mengatakan ini
ke kita. Jadi kita harus menjaganya jangan sampai informasi ini jatuh ke tangan orang lain” Anton
mengingatkan.
“Wah Anton sepertinya
punya indera keenam. Ia mengetahui apa yang saya pikirkan” batin Jonas.
“Tentu saja kami akan
menjaganya” Budiman meresponi.
“Kami akan menjadikan
informasi ini sebagai rahasia kita saja” Jenny juga memberikan dukungan.
“Tenang saja Jonas.
Informasi ini aman di tangan kita. Namun yang terpenting bagaimana menolong
Terry” Johny mengingatkan.
“Benar. Saya punya
gagasan…” Anton akhirnya membagikan idenya.
Teman-temannya
mendengarkan. Mereka pun coba membahasnya. Lalu mereka pun membagikan ide
mereka juga. Pembahasan usulan ini tidak bisa lama karena tak lama kemudian , lonceng
tanda masuk sekolah berbunyi. Mereka pun bubaran.
-o0o-
Kelas pertama diawali
oleh pelajaran bahasa Inggris. Setelah disambung dengan pelajaran agama. Sesosok
guru yang masih muda memasuki ruang kelas.
“Selamat siang
adik-adik” sapa sang guru dengan ramah.
“Kak Yakob!” seru Jonas.
Namun ia tidak melanjutkan karena mata teman-temannya berpaling kepadanya.
Dia senang melihat
Yakob yang menjadi guru agama. Memang telah diumumkan hari sebelumnya bahwa
guru agama yang lama telah mengundurkan diri dan akan digantikan. Ternyata
penggantinya Yakob yang dikenalnya. Yakob sendiri mengajar dua kelas hari ini.
Dia baru saja menyelesaikan tugasnya di kelas sebelah, tempat Terry berada. Bukan
hanya Jonas, tetapi teman-teman sekelasnya yang lain seperti Anton, Budiman,
Johny dan Jenny merasa senang dengan kehadiran Yakob.
Setelah memperkenalkan
diri, Yakob mulai memberi pelajaran. Yakob dengan gayanya dapat menarik
perhatian para siswa.
“Adik-adik tahukan
untuk apa adik ada di sini dan di dunia ini?” tanyanya untuk memancing
keingintahuan para siswa.
“Untuk sekolah Kak!”
Budiman menjawab.
“Nah kalau setelah
lulus sekolah mau apa?” pancingnya lagi
“Kerja” Anton bantu
menjawab.
“Setelah kerja?” tanya
Yakob menggugah minat para siswa.
“Menikah dan punya anak”
giliran Jenny menjawab.
“Setelah punya anak
bagaimana?” Yakob terus bertanya.
“Membesarkan anak dan
terus hidup sampai tua” Johny juga tidak mau kalah.
“Setelah itu?” Yakob
masih mengejar.
“Meninggal Kak”
akhirnya Jonas berani menjawab.
“Nah begitukah makna
kita hidup? Hidup untuk mati? Lalu setelah mati ke mana jiwa manusia pergi?”
Yakob kembali ingin membuka wawasan para siswa.
Para siswa terdiam. Mereka
bingung mau menjawab apalagi.
“Memang setiap manusia
yang lahir di dunia akan mati. Namun sebelum mati, apa hanya lahir, bertumbuh
remaja, pemuda, dewasa, menikah, punya anak, jadi kakek lalu mati saja? Kalau
begitu apa bedanya dengan hewan. Mereka juga lahir, besar lalu mati. Lalu
setelah hewan mati ke mana?” Yakob terus ingin menggugah keinginan tahu para
siswa.
“Bedanya manusia diberi
tugas khusus yang harus dikerjakan selama ia berada di dunia. Setelah manusia
melakukan tugas dari Allah, maka ia kembali ke rumah Allah di sorga” Anton
mencoba menjawab berdasarkan pengetahuan yang telah diperoleh di gereja.
“Benar sekali! Siapa
pun manusia, pasti ada tujuan ia hidup di dunia. Jadi tidak ada manusia yang
tidak berguna. Semuanya diciptakan Allah dengan peran-peran yang harus
dilakukannya. Jangan menganggap diri kita kecil dan tidak berarti. Apa pun
peran kita tidak ada yang kecil di mata Tuhan” Yakob mencoba memulai
membangkitkan kesadaran para siswa untuk tidak merasa kecil hati atau rendah
diri.
Gayanya yang terus
memancing siswa untuk menjawab membuat interaksi antara guru dan siswa terjalin.
Tanpa terasa kelas berjalan dengan cepat hingga akhirnya pelajaran agama
selesai. Kelas pun bubar. Para siswa ada yang pergi ke kamar kecil, kantin atau
sekedar menghirup udara di luar.
--o0o—
“Kak Yakob bisa bicara
sebentar?” Anton meminta waktu.
Dengan cepat Budiman,
Johny, Jenny dan Jonas juga mengerumuni Yakob.
“Tentu saja. Mari kita
mencari tempat yang leluasa buat berbicara” Yakob mengajak para siswa tersebut
ke taman.
Anton kemudian dengan
cepat memberitahukan kisah Terry kepada Yakob dan sesekali Jonas menambahkan
untuk melengkapinya. Yakob belum kenal dengan Terry walaupun sudah mengajar di kelasnya.
Mendengar kisah Terry , membuatnya terharu dan kasihan. Terry adalah korban
dari kondisi keluarganya.
Akhirnya mereka
menggunakan waktu istirahat untuk menyusun rencana yang tadi sudah dibicarakan
agar lebih matang. Kali ini Yakob merasa terbeban untuk membantunya. Setelah
bel tanda berakhirnya istirahat berbunyi, para siswa kembali ke kelas. Yakob
kemudian pulang ke gereja karena ia hanya mengajar 2 kelas saja hari itu.
Pikiran Yakob pun penuh dengan berbagai hal untuk menyempurnakan rencana yang
telah disusun.
-o0o-
Sepulang sekolah, Jonas
mencari Terry. Dengan mudah Jonas menemukannya di lapangan olah raga. Tidak ada
orang lain di sana. Tempat yang sangat ideal untuk menyendiri. Jonas tahu Terry
sering ke sana setiap pulang sekolah. Terry memang jarang langsung pulang.
Ia sebenarnya tidak
ingin pulang, karena tahu bahwa kalau pulang ia akan menjadi bulan-bulanan
papanya.
Kalau tidak dimarahi ,
papanya akan memukulnya.
Hatinya seringkali
bergumul untuk pulang.
Namun ia sudah
bertekad, kalau perlu akan memberikan nyawanya agar papa dan mamanya bersatu.
“Terry” suara yang
tidak asing hinggap di telinganya.
Terry pun memalingkan
wajahnya ke sumber suara.
“Ada apa? Mau cari
mati?” Terry menyambutnya ketus.
“Terry bolehkah saya
menjadi temanmu kembali?” Jonas dengan tulus meminta kepada Terry.
Mata Terry sejenak
berubah melembut. Terry pun rindu berbagi dengan mantan teman baiknya ini. Hanya
Jonas yang mengetahui rahasianya. Ia ingin menyambut dan memeluk temannya ini. Sudah
terlalu lama ia tidak memiliki seorang teman pun. Sudah terlalu lama ia tidak
berbagi dengan siapa pun. Kepalanya terasa mau meledak menahan bebannya sendiri.
Mungkin sebentar lagi ia akan gila.
Terry memandang wajah Jonas
sekian lama. Di matanya mengembang butiran air yang menggenang ingin turun. Namun
hal itu hanya terjadi sebentar saja, tiba-tiba wajahnya mengeras kembali. Di
hampirinya Jonas dengan cepat. Jonas yang sedang menantikan uluran tangan Terry
tidak menduga perubahan reaksi Terry yang begitu cepat.
“BUK” Jonas merasakan
perutnya mulas.
“Kamu jangan pernah
menjadi sombong. Kamu pikir kamu lebih beruntung daripada saya?”
Terry dengan beringas
kemudian menyusulkan pukulan kedua.
“BUK” kembali Jonas
merasakan sakit di perutnya. Wajahnya meringis.
“Kamu memang punya mama
yang sayang kamu, tapi kamu juga tidak punya papa. Saya masih punya keduanya”
Terry membentak sambil terus melayangkan pukulannya.
Sementara itu dari jauh
lima pasang mata memperhatikannya. Mereka sudah berjanji untuk tidak mencampuri
urusan Jonas dan Terry dalam kondisi seperti apa pun. Mereka menyaksikan dengan
tegang saat Terry memukuli Jonas. Mereka sudah berdoa menyerahkan urusan Terry
ke dalam tangan Allah. Mereka mengharapkan mujizat terjadi, namun sepertinya
tidak ada mujizat. Jonas menjadi bulan-bulanan pukulan Terry. Tubuh Jonas sudah
semakin melengkung menahan sakitnya pukulan Terry, namun sepertinya Jonas
berusaha menahannya. Ia memang ingin membiarkan Terry melepaskan beban
beratnya. Terry tidak menyia-nyiakan kesempatan ini. Bebannya terlalu berat
untuk anak seusianya. Ia ingin menjerit sekeras-kerasnya dan menyalurkan
kekesalahan hatinya.
Tak lama kemudian tubuh
Jonas terjatuh ke lantai tak kuat lagi menahan sakit. Tapi Terry terus
menghajar dan menendangnya sampai tak terdengar lagi suara rintihan Jonas. Terry
yang sudah kelelahan akhirnya menyadari kesunyian itu. Ia melihat tubuh Jonas
tergeletak di tanah. Tiba-tiba hatinya merasa nyeri. Ia pun menjerit.
“Jonas! Jonas! Kamu
jangan mati!” pekik Terry panik.
Kesadaran Terry telah kembali.
Dibalikannya tubuh Jonas. Jonas sudah tidak sadar. Digoncangnya tubuh Jonas
untuk menyadarkannya. Namun Jonas tetap bergeming.
“Jonas!! Jonas!!
Maafkan saya. Saya tidak bermaksud membunuhmu. Saya tidak mau kamu mati. Saya
menyayangimu seperti saudara saya sendiri” Terry memeluk tubuh Jonas sambil
menangis.
Hati Terry tiba-tiba
terasa hancur. Ia takut sekali kehilangan sahabatnya ini. Ia menyesali semua
perbuatannya selama ini kepada Jonas. Teman yang ingin berbagi duka dengannya
namun telah ditolaknya. Benteng tinggi yang telah dibangunnya selama ini telah
berhasil diruntuhkan. Jonas memang bersedia melakukan semua ini agar Terry sadar
akan kekeliruannya. Pengorbanan Jonas tidak sia-sia. Kasih sejati memang tidak
sia-sia. Bukankah seorang sahabat dekat lebih berarti dari saudara yang jauh? Tidak
semua orang punya sahabat seperti ini yang rela berkorban bahkan menyerahkan
nyawanya. Berbahagialah orang yang memiliki banyak sahabat seperti ini.
Semakin lama, tangisan
Terry semakin keras. Ia menyesali kelakuan buruknya selama ini. Matanya sungguh
buta. Ia tidak dapat memaafkan dirinya sendiri. Ia merasa berdosa sekali. Bagaimana
mungkin ia mengorbankan jiwa seorang sahabat? Saat menyadari perbuatannya sudah
tidak bisa diperbaiki, ia merasa putus asa. Bebannya semakin bertambah. Terlalu
berat bagi dirinya untuk dipikul sendirian. Ia pun mengambil keputusan. Dicarinya
batu besar yang banyak betebaran di sekitar situ. Ia ingin menghabisi nyawanya
sendiri agar dapat menyusul sahabatnya. Ia tidak mau hidup lagi. Akhirnya Terry
mendapatkan batu yang cukup besar. Dirasanya batu itu cukup besar untuk
mengakhiri hidupnya. Tanpa menunda waktu lagi diayunkannya tangan yang
menggenggam batu itu.
“Berhenti!”
sebuah teriakan menggelegar.
Itulah
suara Yakob. Pengaruh suara Yakob sangat
dahsyat. Memang Yakob sudah mengerahkan tenaga perutnya untuk berteriak. Berkat
latihan dalam paduan suara, ia memiliki kekuatan teriakan yang dahsyat. Teriakannya pun tidak sia-sia. Gerakan tangan
Terry terhenti. Dia terkejut melihat sosok yang baru tadi siang dilihatnya
muncul di hadapannya. Itulah guru agamanya! Tiba-tiba tangannya lemas dan batu
yang digenggamnya pun jatuh.. Memang tenaga fisiknya sudah terkuras habis saat
memukuli Jonas, sedangkan kekuatan mental nya pun sudah mencapai titik terendah
dengan kepergian sahabatnya.
“Apa yang kamu
lakukan?” dengan suara berwibawa Yakob bertanya.
“Saya…. Saya….
Itu…” Terry tidak bisa menjawab dengan benar. Ia hanya bisa menunjuk sosok
tubuh yang terbaring di lantai.
“Astaga… ada apa
ini?” Yakob terkejut.
“Sa….ya…. Sa….ya
…. te ….lah mem ..bu ..nuh..nya!” Terry menjawab dengan gemetaran. Genangan air
mulai tampak di matanya.
“Kamu kah yang
bernama Terry?” Yakob menduga.
Terry hanya
mengangguk lemah.
“Benar-benar
aneh. Jonas menitip sepucuk surat dan barang kepada orang yang bernama Terry.
Berarti surat dan barang ini untukmu”
Yakob
mengeluarkan surat dari kantong celananya lalu menyerahkannya kepada Terry. Di
samping itu Yakob juga menyerahkan barang dalam kantong plastik kepadanya. Dengan
cepat Terry meraih surat dan barang dari Jonas. Kemudian dengan tergesa-gesa membuka
suratnya. Dibacanya tulisan tangan yang sudah sangat dikenalnya. Itu memang benar-benar
tulisan tangan Jonas. Tidak mungkin salah. Ia sangat mengenalnya karena dulu mereka
adalah sahabat baik sebelum ia memutuskan hubungan persahabatan tersebut.
Halo
Terry,
Semoga
kamu mau membaca surat ini hingga selesai.
Terry,
saya sedih sewaktu kamu memutuskan hubungan persahabatan kita.
Saya
tidak bisa tidur selama berminggu-minggu dan membuat saya minder.
Saya
merasa sangat tidak berharga dan rasanya tidak bisa memiliki seorang sahabat
lagi untuk menggantikanmu.
Saya
malu terhadap diri saya sendiri.
(Terry
menitikkan air mata membacanya. Itu kesalahannya yang paling besar dalam
hidupnya)
Saya
berharap melalui surat ini, kita dapat bersahabat kembali.
(Tentu saja Jonas,
teriak Terry dalam hati).
Saya
sudah jenuh hidup tanpa kamu sebagai sahabat saya.
Saya
tahu kamu menderita karena perpisahan orang tuamu.
Namun
apa pun yang terjadi, saya tetap mau berada di sampingmu.
Menjadi
sahabatmu sampai selamanya.
(Sekarang sudah
terlambat… air mata Terry menetes ke atas kertas surat).
Mungkin
surat ini terlambat.
Kita
tidak bisa lagi menjadi sahabat seperti dahulu.
Bila
hal ini terjadi , maukah kamu mengabulkan tiga permintaanku?
Pertama,
maukah kamu memaafkan papamu yang telah memukulmu. Dia mengalami tekanan
seperti juga kamu. Namun bila semua orang tertekan tanpa mau keluar, maka dunia
ini akan diliputi kekelaman. Saya percaya papamu sayang kamu. Saya juga percaya
kamu saya papamu. Jadi janganlah kamu marah kepadanya dan melampiaskan
kemarahanmu pada tempat yang keliru.
(Maafkan saya Jonas.
Saya baru sadar kalau semua perbuatan saya malah membuat saya kehilanganmu. Air
mata Yakob mengalir semakin banyak).
Kedua,
segera pulanglah untuk menemui papamu. Sebelum menghadapnya pakailah baju
kenang-kenangan dari saya untukmu. Bila papamu memukulmu lagi, arahkanlah
pukulannya ke baju itu. Biarlah kamu mengingat bahwa kita bersama-sama menahan
pukulan papamu. Perkenankan saya ikut menanggung beban yang kamu pikul. Kita
menghadapinya bersama. Bolehkan?
Ketiga,
saya baru saja mendapat teman-teman baru yakni Anton, Budiman, Johny dan Jenny.
Mohon kamu juga menerima mereka sebagai teman-temanmu. Saya percaya mereka mau
berteman denganmu walau mereka pernah kamu bully. Biarkan mereka membantumu.
Saya sudah mencoba membantumu, tapi tidak ada hasil. Saya memang tidak berguna
sebagai sahabatmu.
(“Itu bukan
salahmu Jonas…. Ini semua gara-gara saya sendiri…” Terry merintih dalam hati)
Biarlah
surat ini membawa pesan saya yang sudah dari dulu ingin saya sampaikan. Saya
berharap kamu segera pulang setelah membaca pesan ini. Jangan berlama-lama.
Papa mu menunggu di rumah.
Sahabatmu
Jonas
Airmata Terry
semakin deras. Badannya terasa lemah. Tangannya lunglai. Akhirnya tubuh jatuh
ke tanah. Untung Yakob segera menopangnya hingga tidak jatuh berdebum. Yakob
mengambil surat Jonas lalu membacanya.
“Terry, Jonas
sudah berpesan kepadamu. Kalau kamu masih menganggapnya sahabat, kabulkanlah
permintaannya” Yakob mengingatkan.
“Benar…. Saya
harus segera pulang.. Saya ingin bertemu terakhir kalinya dengan papa” Terry
menyampaikan pesan yang aneh.
“Maksudnya?”
Yakob tidak mengerti.
“Kakak, tolong
rawat tubuh Jonas untuk saya. Saya ingin cepat-cepat pulang. Saya berharap
dapat cepat bertemu Jonas kembali” pesan Terry lagi-lagi aneh.
“Baiklah. Tapi
kamu sedang galau. Saya minta temanmu untuk mengantarkanmu” Yakob melihat Anton
yang berdiri cukup jauh. Anton dan teman-temannya datang mendekat.
“Anton dan
Budiman, tolong kamu temani Terry agar tiba di rumahnya dengan selamat” Yakob
meminta tolong.
“Baik Kak!”
Anton dan Budiman menyanggupi.
“Sedangkan Jenny
sebaiknya pulang dahulu, agar orang tuamu tidak mencari-cari kamu. Johny boleh
membantu saya. Jangan lupa menghubungi orang tua kalian untuk keterlambatan
pulang” Yakob mengingatkan.
“Baik Kak” Jenny
dan Johny menjawab berbarengan.
“Ayo Terry kami
antar kamu pulang” Anton mengajak Terry yang berjalan limbung.
Terry ingin
menolak pertolongan Anton, tapi ia mengignat pesan Jonas untuk menjadikan
mereka temannya juga. Tidak mungkin ia menolak permintaan sahabatnya itu. Jenny
pulang ke rumahnya, sedangkan Yakob dan Johny mengurus tubuh Jonas. Anton
mengemudi motor Terry dan membonceng Terry yang sudah setengah linglung. Batinnya
sangat tertekan. Saat ini ia hanya mengingat pesan-pesan dari Jonas saja. Di
luar itu ia sudah tidak peduli. Budiman membawa motor sendiri.
Akhirnya mereka
sampai di rumah Terry. Terry meminta mereka masuk dan menunggunya di ruang
tamu. Rumah Terry termasuk besar. Ruang tamu terpisah dengan ruang keluarga. Anton
dan Budiman duduk di ruang tamu sedangkan Terry masuk ke dalam. Terry dengan
cepat menaruh tasnya di kamar. Lalu ia mengenakan baju yang diberikan Jonas
kepadanya. Ukurannya sangat tepat. Sesuai dengan bentuk tubuhnya. Ia merasa
nyaman mengenakannya. Ia tahu ia akan menghadapi kekerasan papanya bersama
dengan Jonas. Kali ini ia tidak sendirian. Ia akan lebih kuat dengan bantuan
Jonas.
“TERRY!”
tiba-tiba terdengar suara memanggilnya dengan kekuatan dahsyat.
Bukan hanya
Terry, Anton dan Budiman juga merasa kaget dengan suara tersebut.
“IYA PA” Terry
menuju ruang dalam.
“PLAKK…!!”
terdengar seperti suara tangan mengenai bagian tubuh seseorang.
“Kenapa kamu
pulang malam begini?” tanya suara yang dipanggil papa oleh Terry.
Pertanyaan itu
diiringi dengan suara serupa…”PLAKK…!!.”
“Tadi Terry
bermain dengan teman di sekolah Pa” Terry berusaha menjawabnya.
“Bajingan kamu!
Kecil-kecil sudah berani keluyuran” Papa Terry memaki putranya.
“BUGH….!!”.
terdengar suara lain.
Entah apa yang
dilakukan papa Terry kepada putranya itu. Suara itu bukan hanya sekali. Berkali-kali.
Anton dan Budiman yang mendengarnya hanya bisa menduga-duga apa yang sedang
terjadi.
“Tumben kamu
tidak berteriak kesakitan” suara papanya terdengar lagi.
Tidak ada jawaban
dari Terry.
“CETAR….!!” Ada
suara lain seperti pecut.
“ADUH…!” suara
Terry terdengar kesakitan. Hanya sekali itu saja suara Terry terdengar.
Anton dan
Budiman yang mendengar jeritan Terry, kemudian memutuskan untuk nekad melihat
ke dalam. Mereka mengintip dari lubang pintu.
Ternyata benar
dugaan mereka. Terry sedang dihajar oleh papanya. Di tangan papanya ada sebuah
ikat pinggang. Ikat pinggang itu mengayun cepat dan tiba di tubuh Terry. Sesuai
dengan permintaan Jonas, Terry berusaha agar pecutan ikat pinggang itu hanya
jatuh di atas baju yang diberikan Jonas.
Benar perkataan
Jonas. Saat Terry terkena lecutan dan pukulan papanya, ia merasa lebih kuat. Ia
tahu Jonas bersamanya menahan gempuran papanya. Anton dan Budiman merasa miris
menyaksikan ulah papa Terry. Ia seperti kalap. Mereka merasa ngeri bila
menghadapinya. Itu seperti bukan manusia! Membandingkan dengan papa
masing-masing, Anton dan Budiman merasa bersyukur. Selama ini mereka tidak
pernah dihajar seperti itu oleh papa mereka. Papa Terry benar-benar kehilangan
akal sehatnya. Ia mencambuk tubuh Terry membabi buta.
“Papa sebelum
Terry pergi selamanya, Terry ingin meminta maaf. Mungkin papa marah dengan mama
karena mama menceraikan papa. Tetapi itu bukan sepenuhnya salah mama. Papa
memang kurang perhatian kepada keluarga. Biarlah Terry mewakili mama meminta
maaf” tiba-tiba terdengar suara Terry. Rupanya Terry ingat pesan dari Jonas.
“Bajingan kecil!
Kamu malah membela perempuan tidak tahu diri itu!” papa Terry tambah beringas.
Bukan hanya pecutan, tapi juga ditambah pukulan dan tendangan.
“Papa maafkan
Terry kalau sudah membuat papa marah. Setelah Terry tiada, papa harus bisa
menahan diri agar tidak marah-marah lagi. Terry sudah tidak bisa menemani papa
lebih lama” Terry seperti sudah tidak tahan.
Ia sudah
menunaikan permintaan Jonas dan ia pun merasa lega. Tenaganya seperti mulai
menyusut dan Terry tampak kelelahan dan kesakitan. Suara papanya sudah tidak
terdengar. Ia sudah terlalu marah sehingga tidak bisa bersuara. Hanya suara
benturan ikat pinggang dengan tubuh Terry yang terdengar. Anton dan Budiman ikut
merasa sakit menyaksikan kejadian ini. Akhirnya Terry mencapai batas akhir. Ia
pun rubuh dan tak sadarkan diri!
Papanya
tiba-tiba kehilangan “musuh” yang dapat memuaskan kemarahannya. Ia terdiam dan
nafasnya terengah-engah. Setelah berlangsung beberapa saat, tiba-tiba ia
berteriak.
“TERRY!!..
TERRY!!...” ia memanggil nama anaknya kuat-kuat.
Diserbunya tubuh
yang terbaring di lantai. Diguncang-guncangnya tubuh anaknya. Namun percuma.
Sudah tidak ada gerakan terlihat. Papa Terry merasa takut.
“Terry…. Terry….
Jangan tinggalkan papa, Nak. Maafkan perlakuan papamu ini” terdengar suara isak
tangis.
“Terry …. Bangun
Nak. Papa tidak mau hidup sendiri. Kalau kamu tidak bangun, papa akan bunuh
diri!” papa Terry sudah kehilangan harapan.
Diguncang-guncangnya
tubuh Terry berkali-kali. Dipeluknya tubuh Terry yang masih hangat. Setelah
beberapa saat, ia tahu bahwa semuanya sia-sia. Diletakannya tubuh Terry. Ia pun
mencari-cari sesuatu di laci. Akhirnya didapat apa yang dicarinya. Kemudian diangkatnya
benda tajam mengkilat itu.
“Terry… Papa
ingin menyusulmu!” benda tajam itu pun dihujamkan ke badannya.
Tiba-tiba
terdengan suara perempuan melengking.
“TERRY…..!!
TERRY….!! Kamu kenapa Nak?” seorang ibu masuk dengan cepat dari pintu depan. Ia
melewati Anton dan Budiman yang tambah bingung melihat kejadian demi kejadian.
Siapa lagikah
perempuan yang baru masuk itu? Papa Terry melihat kehadiran perempuan itu
menjadi tertegun. Ia pun urung melayangkan pisau. Malah tangannya menjadi lemas
sehingga pisau itu terjatuh.
“KAMU..!! Kamu…
!! Mau apa di sini?” Papa Terry bertanya ketus.
“Kamu apakan
anakku ini?” balas perempuan itu.
“Itu karena kamu
kabur. Itu karena perbuatanmu!” papa Terry menyalahkan perempuan itu.
“Bagus…! Kamu
menyalahkan saya? Saya sudah berikan Terry agar kamu rawat dengan baik! Tetapi
kenyataannya apa? Malah anak ini mati konyol di tangan papa seperti kamu!”
Balas perempuan yang rupanya mama Terry
“STOP!”
tiba-tiba terdengar suara membahana memecah pertengkaran mantan suami istri
itu.”Kalian sebagai orang tua benar-benar tidak bertanggung jawab. Terry anak
yang baik. Sejak kalian bercerai hidupnya menjadi berantakan. Apa maunya kalian
berdua?” Yakob masuk ke dalam ruang keluarga itu.
Papa dan mama
Terry tiba-tiba terkejut. Di ruang keluarga itu, berdiri Yakob , Anton,
Budiman, Johny dan seorang remaja lagi.
“Terry sudah
menceritakan masalahnya. Ia ingin keluarganya bersatu. Ia rela berada bersama papanya
walaupun dipukuli setiap hari. Di sekolah ia menjadi tukang bully. Ia tidak
punya teman sama sekali. Sahabat karibnya pun ia pukuli. Semuanya itu menjadi
pelampiasan bagi ketidakberdayaannya. Di manakah kepedulian kalian? Kalian
sungguh egois!” Yakob berkata dengan suara keras berwibawa.
Papa dan mama
Terry hanya bisa terdiam.
“Sekarang Terry
kondisinya sudah seperti ini. Ia merelakan nyawanya untuk kalian bersatu.
Apakah kalian mau mengabulkan permintaannya itu?” Yakob mendesak kedua orang
tua Terry.
“Eh…” mama Terry
tidak bisa menjawab.
“Terserah dia.
Dia yang menceraikan saya!” papa Terry tampaknya masih marah.
“Itu karena
ulahmu!” mama Terry sudah mulai membantah lagi.
Sebentar lagi
perang kata-kata akan berlangsung kembali.
“STOP!! Kalian
mau merusak suasana ini dengan pertengkaran kalian yang kekanak-kanakan?
Sungguh orang-tua egois! Saya tantang kalian untuk mewujudkan keingian terbesar
Terry. Sanggupkah?” Yakob mendesak.
“Baik…
baiklah…”akhirnya mama Terry menyerah.
“Saya terserah
dia. Saya memang tidak mau bercerai dari dulu” papa Terry menimpali sambil
jarinya menunjuk ke arah mama Terry.
‘Nah kalian
berdua saling bermaafan” Yakob memerintah dengan wibawa.
“Pa… maafkan
mama ya. Kita berdua memang sungguh egois. Sehingga anak kita jadi korban!”
mama Terry mulai menitikkan air mata.
“Ma… maafkan
papa juga. Papa berjanji akan menyayangi mama selama sisa hidup papa.” Papa
Terry memeluk istrinya
Mereka berdua
meninggalkan kelakuan mereka yang sangat
egois dan menangis. Sudah lama beban mereka pikul berdua. Segala sakit hati pun menguap.
“Tetapi
bagaimana dengan anak kita?” mama Terry bingung.
“Maafkan papa
yang tidak bisa mengontrol emosi” suaminya merasa tertekan.
“Kalau kalian
berjanji untuk bersatu kembali dan menyayangi Terry, maka Terry pun akan dengan
senang hati bersama kalian. Apakah kalian berjanji?” Yakob menanyakan kesediaan
mereka.
“Tentu kami
berjanji” jawab papa dan mama Terry serentak.
Yakob pun
kemudian mendekati tubuh Terry. Diambilnya sebotol cairan dan didekatinya ke
hidung Terry.
“Hatchi….”
Tiba-tiba Terry bangkis-bangkis.
Namun
bersin-bersinnya menjadi pertanda bahwa ia masih hidup! Ada apakah gerangan? Tidak
lama kemudian Terry mulai sadar sepenuhnya. Saat ia membuka mata, dilihatnya
papa dan mamanya di depannya. Mereka berdua maju serentak sambil memeluk
anaknya.
“Maafkan mama
Nak” mama Terry berkata sambil mengucurkan air mata.
“Ampuni papamu
yang jahat ini Nak” papa Terry juga tidak kalah.
“Iya Ma, Pa.
Maafkan Terry juga yang sudah menjadi beban. Terry berjanji akan jadi anak yang
baik” Terry walaupun bingung namun senang melihat orang tuanya bersatu. Mereka
saling berpelukan dan bertangisan.
‘Aduh…” Terry
tiba-tiba berteriak.
Setelah
kesadarannya muncul sepenuhnya, barulah ia merasakan sakit di sekujur tubuhnya.
“Terry, pakailah
salep ini” Yakob pun menyodorkan obat salep manjur khusus mengobati luka luar
dan dalam yang memang sudah dipersiapkan sebelumnya.
“Terima kasih
Kak Yakob” Terry memandang Yakob dengan wajah berseri-seri.
Namun tiba-tiba
ia menjadi sedih kembali. Melihat Yakob mengingatkan Terry kembali akan
sahabatnya yang telah disiksanya dan sudah tiada.
“Terry kami ikut
berbahagia dengan bersatunya keluargamu!” sebuah suara yang sangat dikenal
menyapanya.
“Ja….son? Kamu
tidak apa-apa? Kamu masih hidup?” Terry dengan susah payah berusaha bangkit.
Jonas pun
menghampiri Terry. Mereka berdua berpelukan. Jonas senang akhirnya ia menjadi
sahabat Terry kembali. Kejadian ini sungguh membahagiakan. Namun bagaimana
ceritanya sampai bisa terjadi demikian?
Setelah
Yakob mendengar cerita tentang Terry dan rencana yang diajukan Anton, Jonas dan
rekan-rekannya yang lain, Yakob pun mencari baju yang dapat meredam efek
pukulan. Sehingga pukulan yang diarahkan ke baju tersebut, tidak membawa banyak
pengaruh ke tubuh orang yang dipukuli. Baju ini juga ditambah keunikan lain.
Bila ia dipukul, maka dari baju ini akan keluar semacam obat bius alamiah yang memasuki
tubuh orang yang memakainya melalui kulit sehingga lama-kelamaan pemakainya jatuh
pingsan! Itulah yang dialami oleh Jonas dan Terry. Mereka berdua jatuh pingsan!
Itulah sebabnya dalam surat ke Terry, Jonas memintanya agar mengenakan baju
tersebut sebelum berjumpa dengan papanya. Ide tentang baju ini tentu saja tak
lain dan tak bukan adalah gagasan dari Budiman yang hobi-nya membaca buku-buku
detektif dan mengoleksi perlengkapan detektif. Sehingga ia pun tahu di mana
bisa mendapatkan baju seperti itu sekaligus pemunah obat biusnya.
Yakob kemudian ‘menghidupkan’
kembali baik Jonas dan Terry dengan ramuan anti obat bius itu. Sehingga
keduanya “hidup” kembali. Yakob sendiri setelah pulang ke gereja dari sekolah menghubungi
mama Terry untuk datang ke rumah papa Terry dengan alasan anaknya mengharapkan
kedatangannya. Semuanya sudah direncanakan Yakob dengan para siswa (Jonas dan
Anton cs). Namun semua rencana manusia tidak akan terlaksana tanpa pertolongan
Allah. Karena waktu satu peristiwa dengan peristiwa lain harus berjalan dengan
seksama dan tepat waktu. Pertama, sewaktu Jonas dihajar sampai pingsan dan
Terry bermaksud bunuh diri. Beruntung Jonas dipukul pada daerah baju yang
memang sudah disiapkan untuk keperluan iu. Kalau saja Jonas dipukul di daerah
kepala atau tubuh yang tidak terlindungi maka Jonas akan menderita luka parah.
Berikutnya saat Terry akan bunuh diri, bila teriakan Yakob tidak cukup berpengaruh
terhadap pembatalan keputusan Terry maka hidup Terry akan berakhir tragis.
Kedua, surat
yang dilayangkan Jonas ke Terry berisi tiga hal. Pertama adalah agar Terry
menemui papanya dan meminta maaf. Hal ini tidak sepenuhnya sesuai rencana.
Memang Terry bertemu dengan ayahnya, tetapi disebabkan ayahnya yang mencari dia
dan kemudian menghajarnya. Beruntung bahwa Terry sudah mengenakan baju yang diberikan.
Bila tidak mematuhinya, maka Terry akan menderita luka parah. Uniknya dalam
kesedihan, Terry mengabulkan ketiga permintaan Jonas. Hal ini sebenarnya resiko
besar mengingat Terry sudah menganggap Jonas sebagai bukan teman lagi. Ternyata
dugaan bahwa sebenarnya ia masih menganggap Jonas sebagai sahabatnya. Di dalam
hatinya ia masih menyimpan berbagai kenangan baik dengan sahabatnya itu.
Ketiga, mama
dari Terry mau datang ke rumah mantan suaminya. Beruntung Jonas masih menyimpan
nomor telepon mama Terry. Ini adalah hal yang langka bagi remaja saat ini.
Jarang ada yang mau menaruh perhatian terhadap orang tua apalagi orang tua
temannya. Setelah itu Yakob berusaha menghubungi mama Terry. Lagi-lagi Yakob
merasa beruntung karena nomor telepon mama Terry tidak berubah dan ia mau
menjawab telepon Yakob. Demikian pula mama Terry akhirnya mau muncul demi
mendengar anaknya tidak hidup dengan nyaman. Hal-hal seperti ini bisa terjadi
hanya karena mujizat.
Mujizat yang
diperoleh keluarga Terry tidak kalah hebatnya dengan mujizat yang diperoleh
keluarga Arman. Pemulihan hubungan dalam keluarga adalah mujizat yang mungkin
tidak disadari oleh banyak orang, tapi dampaknya tidak kalah dari mujizat
penyembuhan.
Satu demi satu
peristiwa berjalan sesuai dengan rencana, sehingga akhirnya masalah keluarga
Terry berakhir bahagia. Mereka menjadi keluarga yang utuh. Terry pun berubah
perangainya. Ia menjadi anak yang disukai teman-temannya karena murah hati dan
ringan tangan membantu orang lain! Sebuah masalah dipecahkan membawa dampak
bagi perubahan diri Terry. Ia memang bukan anak yang jahat. Hanya lingkungan di
sekitarnya membuat ia menjadi anak pemberontak.
Kalau keluarga
Arman, keluarga Terry, keluarga Amy bahkan Bang Rocky dan Deny bisa berubah, bagaimana
dengan setiap kita? Semua masalah pasti punya pemecahan. Bersama Tuhan tidak
ada yang mustahil. Jangan biarkan masalah membuat kita menjauh dari Allah
tetapi sebaliknya persoalan yang dialami membuat kita semakin dekat denganNya. Amin.
-o0o-