Sunday, December 20, 2015

Coram Deo Ep 9 - Pergumulan Terry


Coram Deo
(Episode 9)
PERGUMULAN TERRY

“Jonas…!Jonas…!” terdengar suara tenor dari luar pagar rumah Jonas.

Jonas mendengar panggilan itu. Demikian pula dengan Amy, mamanya.

“Tunggu sebentar ya!” Jonas membalas.

“Siapa itu Jonas?” Amy heran. Tumben ada orang yang memanggil nama anaknya itu.

Ini yang orang  kedua yang bertandang ke rumah untuk bertemu dengan Jonas setelah Yakob. Sudah lama Amy tidak melihat teman Jonas singgah di rumah setelah Jonas tidak lagi bersahabat dengan Terry. Dulu Terry sering mampir.

“Dia teman sekelas, Ma. Namanya Anton. Kemarin waktu pakaian Jonas kotor , Jonas sudah mencuci tapi belum digosok karena belum kering. Jadi Anton membawanya dan berjanji akan mengeringkan dan menggosoknya” jelas Jonas.

“Dia pasti anak baik. Tidak semua orang mau melakukan hal itu” Amy menyimpulkan. Amy tidak menanyakan alasan Anton melakukan hal itu. Ia sadar keterbatasan dari anaknya dan tidak adanya fasilitas seperti kipas angin untuk mengeringkannya baju basah dengan cepat. Ia sendiri masih dalam tahap pemulihan.

“Anton juga bergereja di GeYeSKu sama seperti Yakob” Jonas memberi penjelasan tambahan.

“Oh pantas. Dia pasti mendapat pengajaran yang baik di GeYeSKu. Mama senang kalau kamu bisa bergaul dengan dia.” Amy memang sangat berharap anaknya mendapat teman lagi. Dari dulu anaknya ini sulit mendapat teman baik setelah Terry tanpa alasan jelas berbalik memusuhinya.

“Iya Ma. Jonas juga suka berteman dengannya. Jonas keluar dulu ya Ma” Jonas permisi untuk membukakan pintu.

“Baik. Jangan lupa ucapkan terima kasih” pesan Amy.

-o0o-

“Hi Jonas. Ini bajumu” sapa Anton begitu melihat Jonas keluar. “Cepat pakai, sebentar lagi kita akan ke sekolah” lanjutnya.

“Iya. Ayo masuk dulu. Saya mau ganti baju” Jonas mempersilahkan Anton duduk sekaligus mengambil baju yang telah rapi digosok. Jonas memandang bajunya dengan tercengang. Ia baru menyadari bajunya masih bagus, apalagi setelah dicuci dan digosok dengan rapi. Bajunya juga harum. “Pasti menggunakan pewangi pakaian,” gumam Jonas dalam hati.

“Oke.” Anton masuk ke dalam lalu kemudian duduk.

“Halo. Teman Jonas ya?” Amy yang keluar dari kamarnya langsung menyapa.

“Benar Tante. Nama saya Anton. Saya teman sekelas Jonas” balas Anton.

Amy dapat merasakan enersi kasih yang memancar dari Anton. Dia tahu, Jonas tidak salah memilih teman.

“Bagaimana sekolah? Kamu kenal dengan Terry?” Amy ingin tahu kondisi yang dihadapi putranya.

“Sekolah berjalan baik. Terry teman sekolah tapi beda kelas. Sekarang ini Terry jadi biang onar di sekolah. Ia suka mem-bully teman-teman lainnya” jelas Anton.

“Termasuk Jonas?” Amy ingin memastikan.

“Sepertinya begitu Tante. Tapi saya akan berusaha, agar Jonas tidak lagi di-bully oleh Terry. Semoga Jonas tidak berada jauh dari saya, sehingga bila Terry ingin mem-bully nya saya dapat membantu” Anton rupanya sudah memikirkan strategi menolong Jonas.

“Tante berharap Jonas tidak lagi di-bully. Kasihan dia. Dia sering minder karena kami dari keluarga sederhana sehingga tidak punya teman karib” Amy berkata prihatin.

“Iya Tante. Nanti saya kabari teman-teman lainnya untuk membantu Jonas bila tidak ada saya” Anton sadar dirinya tidak mungkin terus bersama dengan Jonas.

“Maaf merepotkan kamu ya. Tante berharap Jonas dapat mengatasi masalah ini sendiri” Amy ingin anaknya mandiri.

“Iya Tante. Kita berharap yang terbaik. Saya akan berusaha menjaga dan mendoakannya” Anton berusaha menenangkan Amy.

“Betul. Semoga Jonas akan berhasil dalam pergaulan dan pendidikan” Amy sangat berharap kemajuan putranya.

Tak lama berselang, Jonas keluar dari kamar mandi. Ia sudah berganti dengan pakaian seragam yang tadi dibawa Anton. Mukanya berseri karena pengaruh dari rapi dan harumnya seragam yang dikenakan.

“Ma, Jonas pergi dulu ke sekolah ya bareng Anton” Jonas pamit sekalian membawa tas sekolah dan memakai sepatunya.

“Iya. Hati-hati ya Jonas dengan Terry. Kalau ada apa-apa minta bantuan Anton saja” Amy masih mengawatirkan putranya.

“Tenang saja Ma. Jonas akan berusaha untuk mandiri sesuai dengan keinginan mama. Jonas tidak ingin merepotkan orang lain” Jonas sepertinya punya pendirian sendiri.

“Konsentrasi belajar di kelas ya Nak” Amy pun memeluk anaknya.

“Mama juga jangan lupa makan bubur ya” Jonas tidak lupa berpesan sebelum berangkat. Ia pun melambaikan tangan ke mamanya

“Tenang saja. Mama kan di rumah” Amy juga balas melambaikan tangan.

“Tante, saya berangkat dulu ya” Anton sekalian permisi.

Jonas dan Anton meninggalkan rumah dan berangkat ke sekolah.

-o0o-

“Jonas, menurut kamu bagaimana mengatasi Terry?” Anton ingin tahu rencana temannya.

“Terry adalah teman baik saya sejak kecil. Sayang keluarganya terpecah sehingga ia merasa ditinggalkan. Saya tahu hal ini sangat berat. Saya sendiri pernah merasakan hal ini juga karena saya tidak punya papa” Jonas mengutarakan pikirannya.

“Namun kamu beruntung punya mama yang sangat memperhatikan kamu ya” Anton memuji Amy.

“Benar. Sayangnya papa Terry sejak bercerai tidak memperhatikan Terry. Malah Terry sering dipukuli. Ia sepertinya ingin menyakiti mama Terry dengan menyiksa Terry. Wajah Terry memang mirip dengan mamanya.” Jonas memberi informasi tentang keluarga Terry.

“Oh begitu ceritanya. Kasihan juga ya Terry. Selama ini kita hanya tahu Terry anak pembuat onar. Rupanya latar belakang keluarganya membuatnya begitu” Anton menghela nafas. Ia merasakan pergumulan Terry yang begitu besar. Sudah kehilangan mama, ia juga tidak mendapat kasih sayang papa. Berarti hidupnya ibarat sebatang kara!

“Pantas wajah dan tubuh Terry sering terlihat biru-biru. Itu pasti pukulan dari papanya?” Anton menduga.

“Benar. Papanya bahkan selain memukul dengan tangan, ia juga menggunakan ikat pinggang , rotan, penggaris atau alat apa saja yang ditemukan untuk membuat Terry menderita!” Jonas terus membuka fakta mengejutkan tentang Terry.

“Itu berarti KDRT” Anton menyimpulkan.

“Apa itu KDRT?” Jonas bingung.

“Kekerasan dalam rumah tangga. Perlakuan papanya bisa dilaporkan ke komisi perlindungan anak. Karena bisa membahayakan pertumbuhan mental Terry. Terry bisa menjadi seorang yang kejam nantinya kepada anak dan istrinya juga” Anton menjelaskan.

“Betul juga. Tetapi walau diperlakukan kasar dan disakiti, Terry tetap sayang terhadap papa dan mamanya. Ia ingin mereka bersatu. Ia mati-matian bertahan di rumah karena tujuan itu.” Jonas  menambahkan.

“Tujuannya sangat mulia. Namun sepertinya Terry tidak menyadari bahwa ada akar kepahitan dalam dirinya. Itu kemungkinan yang membuat dirinya menjadi sulit bergaul dan suka mem-bully orang lain. Ia ingin melampiaskan perlakuan papanya.” Anton kagum sekaligus kasihan kepada Terry. Selama ini ia hanya tahu sisi buruk Terry, rupanya itu semua pelampiasan dari kondisi buruk yang dialaminya setiap hari.

“Terry bersedia berkorban jiwa agar kedua orang tuanya bersatu kembali” Jonas menambahkan.

“Jadi kenapa kamu jadi bermusuhan dengan Terry?” Anton jadi penasaran.

“Saya tidak ingin bermusuhan dengan dia. Terry yang ingin saya menjauhinya. Ia ingin menyendiri. Karena saya tidak ingin kehilangan teman, saya terus mendekatinya. Hal itu membuatnya marah. Sehingga dia memukul dan menyiksa saya agar jauh darinya” Lagi-lagi fakta yang mengejutkan Anton.

“Oh begitu. Lalu kenapa ia juga memperlakukan teman-teman lain sedemikian kasar?” Anton terus menggali.

“Sejak keluarganya pecah. Ia menjadi sangat sensitif. Ia tidak ingin ada orang lain tahu tentang keluarganya. Ia merasa malu. Jadi bila ada yang mencoba mendekati atau berlaku ramah padanya, ia tidak segan-segan untuk mem-bully nya!” Jonas rupanya sangat memahami Terry.

“Jadi selama ini kamu sengaja membiarkan Terry menyakiti dan menyiksamu?” Anton mencoba menyimpulkan.

“Tidak sepenuhnya begitu. Saya sangat kasihan dengannya. Ia tidak punya siapa-siapa di dunia ini yang mau membagi bebannya. Saya masih beruntung mempunyai mama yang terus mengasihi saya. Jadi saya bersedia disakiti karena ingin meringankan bebannya” Jonas menjelaskan perannya selama ini.

“Tapi hal ini tidak boleh didiamkan. Karena akan melukai kamu. Kita tidak mungkin kuat menahan perlakuan seperti itu selamanya. Juga hal ini tidak baik untuk Terry. Akhirnya kamu berdua jadi dianggap aneh dan tidak punya teman di sekolah” Anton mengutarakan pandangannya. Walau pun ia masih remaja, tapi karena pengalaman berorganisasi di gereja dan bergaul dengan teman-temannya mengasahnya menjadi orang yang lebih berwawasan.

“Jadi menurut kamu bagaimana?” Jonas merasa terbangun.

“Kamu sangat menyayangi Terry. Kamu bersedia berkorban untuk menolongnya bukan?” Anton ingin  memastikan.

“Tentu saja. Ia teman baik saya dan akan selamanya begitu” Jonas dengan tegas menjawab.

“Hebat! Rasanya kamu dapat menolongnya. Banyak orang-orang yang juga menderita seperti Terry. Kita akan bersama-sama menolongnya. Kita akan mendukungnya juga. Ini kalau kamu setuju” Anton menghentikan langkahnya sehingga Jonas ikut berhenti.

“Maksudmu?” Jonas  belum mengerti.

“Selama ini kita semua menganggap Terry sebagai anak jahat. Ia mem-bully hampir semua teman di sekolah. Sama seperti saya yang tahunya ia anak jahat. Kalau teman-teman tahu masalahnya, tentu dapat memahami. Dan kita akan bantu menolongnya. Apa kamu setuju, kita menceritakan masalah Terry ke teman-teman dekat dulu?” Anton meminta persetujuan.

“Maksudnya teman-teman dekat?” Jonas tidak tahu siapa yang dimaksud.

“Budiman, Johny dan Jenny” Anton menyebut teman-teman di sekolah yang juga menjadi rekan sepelayanan di persekutuan remaja.

“Hm….. saya susah menjawabnya. Tapi saya rasa kita bisa mencobanya. Selama ini saya gagal mencoba menolong dengan cara saya. Dampaknya, Terry tambah parah. Saya sedih melihatnya” Jonas akhirnya setuju.

“Kalau gitu, sesampai di sekolah kita cari mereka dan ajak diskusi” Anton mengusulkan.

“Terserah kamu. Kalau menurut kamu baik, kita coba” Jonas pasrah.

“Saya memang tidak punya pengalaman mengatasi hal ini. Setidaknya dengan berembug kita bisa dapat solusi yang lebih baik. Di samping itu, saya ingin kita membentuk tim untuk khusus mendoakan Terry dan orangtuanya” Anton mengutarakan gagasannya.

Jonas lagi-lagi mendengar tentang doa. Bagi orang-orang seperti Yakob dan Anton, sepertinya semua masalah dibawa dalam doa. Sepertinya doa menjadi kekuatan dan perisai orang-orang Kristen. Demikian kesimpulan Jonas dalam hati. Ia sendiri belum yakin. Walaupun mamanya sudah menyerahkan hidupnya kepada Yesus Kristus, tapi ia masih punya ganjalan dengan Terry. Kalau nanti dia sudah percaya lalu tetap ‘musuhan’ dengan Terry, bagaimana ia bisa menjadi saksi yang baik? Biar pun bukan dia yang memusuhi tapi Terry, ia tetap merasa ada ganjalan.

“Nah kita sudah sampai sekolah. Kita langsung mencari teman-teman yang lain” Anton menaruh tas-nya di tempat duduknya.

“Baiklah” Jonas juga menaruh tasnya.

-o0o-

Kebetulan Budiman, Johny dan Jenny sudah datang. Anton langsung minta waktu mereka untuk ke berkumpul sebentar. Mereka menuju ke ruang olah raga yang memang sepi. Anton dengan cepat membagikan informasi yang diberikan oleh Jonas.
Jonas hatinya terbelah. Sebenarnya ia merasa tidak enak hati membocorkan rahasia Terry. Namun kali ini ia menguatkan hatinya.

“Saya melakukan ini untukmu Terry!” katanya dalam hati. “Dan saya mempercayakan masalah ini kepadamu Anton!” Jonas pasrah.

“Teman-teman, informasi ini dipercayakan kepada kita oleh Jonas. Ia sendiri tidak mudah mengatakan ini ke kita. Jadi kita harus menjaganya jangan sampai informasi ini  jatuh ke tangan orang lain” Anton mengingatkan.

“Wah Anton sepertinya punya indera keenam. Ia mengetahui apa yang saya pikirkan” batin Jonas.

“Tentu saja kami akan menjaganya” Budiman meresponi.

“Kami akan menjadikan informasi ini sebagai rahasia kita saja” Jenny juga memberikan dukungan.

“Tenang saja Jonas. Informasi ini aman di tangan kita. Namun yang terpenting bagaimana menolong Terry” Johny mengingatkan.

“Benar. Saya punya gagasan…” Anton akhirnya membagikan idenya.

Teman-temannya mendengarkan. Mereka pun coba membahasnya. Lalu mereka pun membagikan ide mereka juga. Pembahasan usulan ini tidak bisa lama karena tak lama kemudian , lonceng tanda masuk sekolah berbunyi. Mereka pun bubaran.

-o0o-

Kelas pertama diawali oleh pelajaran bahasa Inggris. Setelah disambung dengan pelajaran agama. Sesosok guru yang masih muda memasuki ruang kelas.

“Selamat siang adik-adik” sapa sang guru dengan ramah.

“Kak Yakob!” seru Jonas. Namun ia tidak melanjutkan karena mata teman-temannya berpaling kepadanya.

Dia senang melihat Yakob yang menjadi guru agama. Memang telah diumumkan hari sebelumnya bahwa guru agama yang lama telah mengundurkan diri dan akan digantikan. Ternyata penggantinya Yakob yang dikenalnya. Yakob sendiri mengajar dua kelas hari ini. Dia baru saja menyelesaikan tugasnya di kelas sebelah, tempat Terry berada. Bukan hanya Jonas, tetapi teman-teman sekelasnya yang lain seperti Anton, Budiman, Johny dan Jenny merasa senang dengan kehadiran Yakob.

Setelah memperkenalkan diri, Yakob mulai memberi pelajaran. Yakob dengan gayanya dapat menarik perhatian para siswa.

“Adik-adik tahukan untuk apa adik ada di sini dan di dunia ini?” tanyanya untuk memancing keingintahuan para siswa.

“Untuk sekolah Kak!” Budiman menjawab.

“Nah kalau setelah lulus sekolah mau apa?” pancingnya lagi

“Kerja” Anton bantu menjawab.

“Setelah kerja?” tanya Yakob menggugah minat para siswa.

“Menikah dan punya anak” giliran Jenny menjawab.

“Setelah punya anak bagaimana?” Yakob terus bertanya.

“Membesarkan anak dan terus hidup sampai tua” Johny juga tidak mau kalah.

“Setelah itu?” Yakob masih mengejar.

“Meninggal Kak” akhirnya Jonas berani menjawab.

“Nah begitukah makna kita hidup? Hidup untuk mati? Lalu setelah mati ke mana jiwa manusia pergi?” Yakob kembali ingin membuka wawasan para siswa.

Para siswa terdiam. Mereka bingung mau menjawab apalagi.

“Memang setiap manusia yang lahir di dunia akan mati. Namun sebelum mati, apa hanya lahir, bertumbuh remaja, pemuda, dewasa, menikah, punya anak, jadi kakek lalu mati saja? Kalau begitu apa bedanya dengan hewan. Mereka juga lahir, besar lalu mati. Lalu setelah hewan mati ke mana?” Yakob terus ingin menggugah keinginan tahu para siswa.

“Bedanya manusia diberi tugas khusus yang harus dikerjakan selama ia berada di dunia. Setelah manusia melakukan tugas dari Allah, maka ia kembali ke rumah Allah di sorga” Anton mencoba menjawab berdasarkan pengetahuan yang telah diperoleh di gereja.

“Benar sekali! Siapa pun manusia, pasti ada tujuan ia hidup di dunia. Jadi tidak ada manusia yang tidak berguna. Semuanya diciptakan Allah dengan peran-peran yang harus dilakukannya. Jangan menganggap diri kita kecil dan tidak berarti. Apa pun peran kita tidak ada yang kecil di mata Tuhan” Yakob mencoba memulai membangkitkan kesadaran para siswa untuk tidak merasa kecil hati atau rendah diri.

Gayanya yang terus memancing siswa untuk menjawab membuat interaksi antara guru dan siswa terjalin. Tanpa terasa kelas berjalan dengan cepat hingga akhirnya pelajaran agama selesai. Kelas pun bubar. Para siswa ada yang pergi ke kamar kecil, kantin atau sekedar menghirup udara di luar.

--o0o—

“Kak Yakob bisa bicara sebentar?” Anton meminta waktu.

Dengan cepat Budiman, Johny, Jenny dan Jonas juga mengerumuni Yakob.

“Tentu saja. Mari kita mencari tempat yang leluasa buat berbicara” Yakob mengajak para siswa tersebut ke taman.

Anton kemudian dengan cepat memberitahukan kisah Terry kepada Yakob dan sesekali Jonas menambahkan untuk melengkapinya. Yakob belum kenal dengan Terry walaupun sudah mengajar di kelasnya. Mendengar kisah Terry , membuatnya terharu dan kasihan. Terry adalah korban dari kondisi keluarganya.

Akhirnya mereka menggunakan waktu istirahat untuk menyusun rencana yang tadi sudah dibicarakan agar lebih matang. Kali ini Yakob merasa terbeban untuk membantunya. Setelah bel tanda berakhirnya istirahat berbunyi, para siswa kembali ke kelas. Yakob kemudian pulang ke gereja karena ia hanya mengajar 2 kelas saja hari itu. Pikiran Yakob pun penuh dengan berbagai hal untuk menyempurnakan rencana yang telah disusun.

-o0o-

Sepulang sekolah, Jonas mencari Terry. Dengan mudah Jonas menemukannya di lapangan olah raga. Tidak ada orang lain di sana. Tempat yang sangat ideal untuk menyendiri. Jonas tahu Terry sering ke sana setiap pulang sekolah. Terry memang jarang langsung pulang.
Ia sebenarnya tidak ingin pulang, karena tahu bahwa kalau pulang ia akan menjadi bulan-bulanan papanya.
Kalau tidak dimarahi , papanya akan memukulnya.
Hatinya seringkali bergumul untuk pulang.
Namun ia sudah bertekad, kalau perlu akan memberikan nyawanya agar papa dan mamanya bersatu.

“Terry” suara yang tidak asing hinggap di telinganya.

Terry pun memalingkan wajahnya ke sumber suara.

“Ada apa? Mau cari mati?” Terry menyambutnya ketus.

“Terry bolehkah saya menjadi temanmu kembali?” Jonas dengan tulus meminta kepada Terry.

Mata Terry sejenak berubah melembut. Terry pun rindu berbagi dengan mantan teman baiknya ini. Hanya Jonas yang mengetahui rahasianya. Ia ingin menyambut dan memeluk temannya ini. Sudah terlalu lama ia tidak memiliki seorang teman pun. Sudah terlalu lama ia tidak berbagi dengan siapa pun. Kepalanya terasa mau meledak menahan bebannya sendiri. Mungkin sebentar lagi ia akan gila.

Terry memandang wajah Jonas sekian lama. Di matanya mengembang butiran air yang menggenang ingin turun. Namun hal itu hanya terjadi sebentar saja, tiba-tiba wajahnya mengeras kembali. Di hampirinya Jonas dengan cepat. Jonas yang sedang menantikan uluran tangan Terry tidak menduga perubahan reaksi Terry yang begitu cepat.

“BUK” Jonas merasakan perutnya mulas.

“Kamu jangan pernah menjadi sombong. Kamu pikir kamu lebih beruntung daripada saya?”

Terry dengan beringas kemudian menyusulkan pukulan kedua.

“BUK” kembali Jonas merasakan sakit di perutnya. Wajahnya meringis.

“Kamu memang punya mama yang sayang kamu, tapi kamu juga tidak punya papa. Saya masih punya keduanya” Terry membentak sambil terus melayangkan pukulannya.

Sementara itu dari jauh lima pasang mata memperhatikannya. Mereka sudah berjanji untuk tidak mencampuri urusan Jonas dan Terry dalam kondisi seperti apa pun. Mereka menyaksikan dengan tegang saat Terry memukuli Jonas. Mereka sudah berdoa menyerahkan urusan Terry ke dalam tangan Allah. Mereka mengharapkan mujizat terjadi, namun sepertinya tidak ada mujizat. Jonas menjadi bulan-bulanan pukulan Terry. Tubuh Jonas sudah semakin melengkung menahan sakitnya pukulan Terry, namun sepertinya Jonas berusaha menahannya. Ia memang ingin membiarkan Terry melepaskan beban beratnya. Terry tidak menyia-nyiakan kesempatan ini. Bebannya terlalu berat untuk anak seusianya. Ia ingin menjerit sekeras-kerasnya dan menyalurkan kekesalahan hatinya.

Tak lama kemudian tubuh Jonas terjatuh ke lantai tak kuat lagi menahan sakit. Tapi Terry terus menghajar dan menendangnya sampai tak terdengar lagi suara rintihan Jonas. Terry yang sudah kelelahan akhirnya menyadari kesunyian itu. Ia melihat tubuh Jonas tergeletak di tanah. Tiba-tiba hatinya merasa nyeri. Ia pun menjerit.

“Jonas! Jonas! Kamu jangan mati!” pekik Terry panik.

Kesadaran Terry telah kembali. Dibalikannya tubuh Jonas. Jonas sudah tidak sadar. Digoncangnya tubuh Jonas untuk menyadarkannya. Namun Jonas tetap bergeming.

“Jonas!! Jonas!! Maafkan saya. Saya tidak bermaksud membunuhmu. Saya tidak mau kamu mati. Saya menyayangimu seperti saudara saya sendiri” Terry memeluk tubuh Jonas sambil menangis.

Hati Terry tiba-tiba terasa hancur. Ia takut sekali kehilangan sahabatnya ini. Ia menyesali semua perbuatannya selama ini kepada Jonas. Teman yang ingin berbagi duka dengannya namun telah ditolaknya. Benteng tinggi yang telah dibangunnya selama ini telah berhasil diruntuhkan. Jonas memang bersedia melakukan semua ini agar Terry sadar akan kekeliruannya. Pengorbanan Jonas tidak sia-sia. Kasih sejati memang tidak sia-sia. Bukankah seorang sahabat dekat lebih berarti dari saudara yang jauh? Tidak semua orang punya sahabat seperti ini yang rela berkorban bahkan menyerahkan nyawanya. Berbahagialah orang yang memiliki banyak sahabat seperti ini.  

Semakin lama, tangisan Terry semakin keras. Ia menyesali kelakuan buruknya selama ini. Matanya sungguh buta. Ia tidak dapat memaafkan dirinya sendiri. Ia merasa berdosa sekali. Bagaimana mungkin ia mengorbankan jiwa seorang sahabat? Saat menyadari perbuatannya sudah tidak bisa diperbaiki, ia merasa putus asa. Bebannya semakin bertambah. Terlalu berat bagi dirinya untuk dipikul sendirian. Ia pun mengambil keputusan. Dicarinya batu besar yang banyak betebaran di sekitar situ. Ia ingin menghabisi nyawanya sendiri agar dapat menyusul sahabatnya. Ia tidak mau hidup lagi. Akhirnya Terry mendapatkan batu yang cukup besar. Dirasanya batu itu cukup besar untuk mengakhiri hidupnya. Tanpa menunda waktu lagi diayunkannya tangan yang menggenggam batu itu.

“Berhenti!” sebuah teriakan menggelegar.

Itulah suara  Yakob. Pengaruh suara Yakob sangat dahsyat. Memang Yakob sudah mengerahkan tenaga perutnya untuk berteriak. Berkat latihan dalam paduan suara, ia memiliki kekuatan teriakan yang dahsyat.  Teriakannya pun tidak sia-sia. Gerakan tangan Terry terhenti. Dia terkejut melihat sosok yang baru tadi siang dilihatnya muncul di hadapannya. Itulah guru agamanya! Tiba-tiba tangannya lemas dan batu yang digenggamnya pun jatuh.. Memang tenaga fisiknya sudah terkuras habis saat memukuli Jonas, sedangkan kekuatan mental nya pun sudah mencapai titik terendah dengan kepergian sahabatnya.

“Apa yang kamu lakukan?” dengan suara berwibawa Yakob bertanya.

“Saya…. Saya…. Itu…” Terry tidak bisa menjawab dengan benar. Ia hanya bisa menunjuk sosok tubuh yang terbaring di lantai.

“Astaga… ada apa ini?” Yakob terkejut.

“Sa….ya…. Sa….ya …. te ….lah mem ..bu ..nuh..nya!” Terry menjawab dengan gemetaran. Genangan air mulai tampak di matanya.

“Kamu kah yang bernama Terry?” Yakob menduga.

Terry hanya mengangguk lemah.

“Benar-benar aneh. Jonas menitip sepucuk surat dan barang kepada orang yang bernama Terry. Berarti surat dan barang ini untukmu”

Yakob mengeluarkan surat dari kantong celananya lalu menyerahkannya kepada Terry. Di samping itu Yakob juga menyerahkan barang dalam kantong plastik kepadanya. Dengan cepat Terry meraih surat dan barang dari Jonas. Kemudian dengan tergesa-gesa membuka suratnya. Dibacanya tulisan tangan yang sudah sangat dikenalnya. Itu memang benar-benar tulisan tangan Jonas. Tidak mungkin salah. Ia sangat mengenalnya karena dulu mereka adalah sahabat baik sebelum ia memutuskan hubungan persahabatan tersebut.

Halo Terry,

Semoga kamu mau membaca surat ini hingga selesai.
Terry, saya sedih sewaktu kamu memutuskan hubungan persahabatan kita.
Saya tidak bisa tidur selama berminggu-minggu dan membuat saya minder.
Saya merasa sangat tidak berharga dan rasanya tidak bisa memiliki seorang sahabat lagi untuk menggantikanmu.
Saya malu terhadap diri saya sendiri.

(Terry menitikkan air mata membacanya. Itu kesalahannya yang paling besar dalam hidupnya)

Saya berharap melalui surat ini, kita dapat bersahabat kembali.

(Tentu saja Jonas, teriak Terry dalam hati).

Saya sudah jenuh hidup tanpa kamu sebagai sahabat saya.
Saya tahu kamu menderita karena perpisahan orang tuamu.
Namun apa pun yang terjadi, saya tetap mau berada di sampingmu.
Menjadi sahabatmu sampai selamanya.

(Sekarang sudah terlambat… air mata Terry menetes ke atas kertas surat).

Mungkin surat ini terlambat.
Kita tidak bisa lagi menjadi sahabat seperti dahulu.
Bila hal ini terjadi , maukah kamu mengabulkan tiga permintaanku?
Pertama, maukah kamu memaafkan papamu yang telah memukulmu. Dia mengalami tekanan seperti juga kamu. Namun bila semua orang tertekan tanpa mau keluar, maka dunia ini akan diliputi kekelaman. Saya percaya papamu sayang kamu. Saya juga percaya kamu saya papamu. Jadi janganlah kamu marah kepadanya dan melampiaskan kemarahanmu pada tempat yang keliru.

(Maafkan saya Jonas. Saya baru sadar kalau semua perbuatan saya malah membuat saya kehilanganmu. Air mata Yakob mengalir semakin banyak).

Kedua, segera pulanglah untuk menemui papamu. Sebelum menghadapnya pakailah baju kenang-kenangan dari saya untukmu. Bila papamu memukulmu lagi, arahkanlah pukulannya ke baju itu. Biarlah kamu mengingat bahwa kita bersama-sama menahan pukulan papamu. Perkenankan saya ikut menanggung beban yang kamu pikul. Kita menghadapinya bersama. Bolehkan?

Ketiga, saya baru saja mendapat teman-teman baru yakni Anton, Budiman, Johny dan Jenny. Mohon kamu juga menerima mereka sebagai teman-temanmu. Saya percaya mereka mau berteman denganmu walau mereka pernah kamu bully. Biarkan mereka membantumu. Saya sudah mencoba membantumu, tapi tidak ada hasil. Saya memang tidak berguna sebagai sahabatmu.

(“Itu bukan salahmu Jonas…. Ini semua gara-gara saya sendiri…” Terry merintih dalam hati)
Biarlah surat ini membawa pesan saya yang sudah dari dulu ingin saya sampaikan. Saya berharap kamu segera pulang setelah membaca pesan ini. Jangan berlama-lama. Papa mu menunggu di rumah.

Sahabatmu

Jonas

Airmata Terry semakin deras. Badannya terasa lemah. Tangannya lunglai. Akhirnya tubuh jatuh ke tanah. Untung Yakob segera menopangnya hingga tidak jatuh berdebum. Yakob mengambil surat Jonas lalu membacanya.

“Terry, Jonas sudah berpesan kepadamu. Kalau kamu masih menganggapnya sahabat, kabulkanlah permintaannya” Yakob mengingatkan.

“Benar…. Saya harus segera pulang.. Saya ingin bertemu terakhir kalinya dengan papa” Terry menyampaikan pesan yang aneh.

“Maksudnya?” Yakob tidak mengerti.

“Kakak, tolong rawat tubuh Jonas untuk saya. Saya ingin cepat-cepat pulang. Saya berharap dapat cepat bertemu Jonas kembali” pesan Terry lagi-lagi aneh.

“Baiklah. Tapi kamu sedang galau. Saya minta temanmu untuk mengantarkanmu” Yakob melihat Anton yang berdiri cukup jauh. Anton dan teman-temannya datang mendekat.

“Anton dan Budiman, tolong kamu temani Terry agar tiba di rumahnya dengan selamat” Yakob meminta tolong.

“Baik Kak!” Anton dan Budiman menyanggupi.

“Sedangkan Jenny sebaiknya pulang dahulu, agar orang tuamu tidak mencari-cari kamu. Johny boleh membantu saya. Jangan lupa menghubungi orang tua kalian untuk keterlambatan pulang” Yakob mengingatkan.

“Baik Kak” Jenny dan Johny menjawab berbarengan.

“Ayo Terry kami antar kamu pulang” Anton mengajak Terry yang berjalan limbung.

Terry ingin menolak pertolongan Anton, tapi ia mengignat pesan Jonas untuk menjadikan mereka temannya juga. Tidak mungkin ia menolak permintaan sahabatnya itu. Jenny pulang ke rumahnya, sedangkan Yakob dan Johny mengurus tubuh Jonas. Anton mengemudi motor Terry dan membonceng Terry yang sudah setengah linglung. Batinnya sangat tertekan. Saat ini ia hanya mengingat pesan-pesan dari Jonas saja. Di luar itu ia sudah tidak peduli. Budiman membawa motor sendiri.

Akhirnya mereka sampai di rumah Terry. Terry meminta mereka masuk dan menunggunya di ruang tamu. Rumah Terry termasuk besar. Ruang tamu terpisah dengan ruang keluarga. Anton dan Budiman duduk di ruang tamu sedangkan Terry masuk ke dalam. Terry dengan cepat menaruh tasnya di kamar. Lalu ia mengenakan baju yang diberikan Jonas kepadanya. Ukurannya sangat tepat. Sesuai dengan bentuk tubuhnya. Ia merasa nyaman mengenakannya. Ia tahu ia akan menghadapi kekerasan papanya bersama dengan Jonas. Kali ini ia tidak sendirian. Ia akan lebih kuat dengan bantuan Jonas.

“TERRY!” tiba-tiba terdengar suara memanggilnya dengan kekuatan dahsyat.

Bukan hanya Terry, Anton dan Budiman juga merasa kaget dengan suara tersebut.

“IYA PA” Terry menuju ruang dalam.

“PLAKK…!!” terdengar seperti suara tangan mengenai bagian tubuh seseorang.

“Kenapa kamu pulang malam begini?” tanya suara yang dipanggil papa oleh Terry.
Pertanyaan itu diiringi dengan suara serupa…”PLAKK…!!.”

“Tadi Terry bermain dengan teman di sekolah Pa” Terry berusaha menjawabnya.

“Bajingan kamu! Kecil-kecil sudah berani keluyuran” Papa Terry memaki putranya.

“BUGH….!!”. terdengar suara lain.

Entah apa yang dilakukan papa Terry kepada putranya itu. Suara itu bukan hanya sekali. Berkali-kali. Anton dan Budiman yang mendengarnya hanya bisa menduga-duga apa yang sedang terjadi.

“Tumben kamu tidak berteriak kesakitan” suara papanya terdengar lagi.

Tidak ada jawaban dari Terry.

“CETAR….!!” Ada suara lain seperti pecut.

“ADUH…!” suara Terry terdengar kesakitan. Hanya sekali itu saja suara Terry terdengar.

Anton dan Budiman yang mendengar jeritan Terry, kemudian memutuskan untuk nekad melihat ke dalam. Mereka mengintip dari lubang pintu.

Ternyata benar dugaan mereka. Terry sedang dihajar oleh papanya. Di tangan papanya ada sebuah ikat pinggang. Ikat pinggang itu mengayun cepat dan tiba di tubuh Terry. Sesuai dengan permintaan Jonas, Terry berusaha agar pecutan ikat pinggang itu hanya jatuh di atas baju yang diberikan Jonas.

Benar perkataan Jonas. Saat Terry terkena lecutan dan pukulan papanya, ia merasa lebih kuat. Ia tahu Jonas bersamanya menahan gempuran papanya. Anton dan Budiman merasa miris menyaksikan ulah papa Terry. Ia seperti kalap. Mereka merasa ngeri bila menghadapinya. Itu seperti bukan manusia! Membandingkan dengan papa masing-masing, Anton dan Budiman merasa bersyukur. Selama ini mereka tidak pernah dihajar seperti itu oleh papa mereka. Papa Terry benar-benar kehilangan akal sehatnya. Ia mencambuk tubuh Terry membabi buta.

“Papa sebelum Terry pergi selamanya, Terry ingin meminta maaf. Mungkin papa marah dengan mama karena mama menceraikan papa. Tetapi itu bukan sepenuhnya salah mama. Papa memang kurang perhatian kepada keluarga. Biarlah Terry mewakili mama meminta maaf” tiba-tiba terdengar suara Terry. Rupanya Terry ingat pesan dari Jonas.

“Bajingan kecil! Kamu malah membela perempuan tidak tahu diri itu!” papa Terry tambah beringas. Bukan hanya pecutan, tapi juga ditambah pukulan dan tendangan.

“Papa maafkan Terry kalau sudah membuat papa marah. Setelah Terry tiada, papa harus bisa menahan diri agar tidak marah-marah lagi. Terry sudah tidak bisa menemani papa lebih lama” Terry seperti sudah tidak tahan.

Ia sudah menunaikan permintaan Jonas dan ia pun merasa lega. Tenaganya seperti mulai menyusut dan Terry tampak kelelahan dan kesakitan. Suara papanya sudah tidak terdengar. Ia sudah terlalu marah sehingga tidak bisa bersuara. Hanya suara benturan ikat pinggang dengan tubuh Terry yang terdengar. Anton dan Budiman ikut merasa sakit menyaksikan kejadian ini. Akhirnya Terry mencapai batas akhir. Ia pun rubuh dan tak sadarkan diri!

Papanya tiba-tiba kehilangan “musuh” yang dapat memuaskan kemarahannya. Ia terdiam dan nafasnya terengah-engah. Setelah berlangsung beberapa saat, tiba-tiba ia berteriak.

“TERRY!!.. TERRY!!...” ia memanggil nama anaknya kuat-kuat.

Diserbunya tubuh yang terbaring di lantai. Diguncang-guncangnya tubuh anaknya. Namun percuma. Sudah tidak ada gerakan terlihat. Papa Terry merasa takut.

“Terry…. Terry…. Jangan tinggalkan papa, Nak. Maafkan perlakuan papamu ini” terdengar suara isak tangis.

“Terry …. Bangun Nak. Papa tidak mau hidup sendiri. Kalau kamu tidak bangun, papa akan bunuh diri!” papa Terry sudah kehilangan harapan.

Diguncang-guncangnya tubuh Terry berkali-kali. Dipeluknya tubuh Terry yang masih hangat. Setelah beberapa saat, ia tahu bahwa semuanya sia-sia. Diletakannya tubuh Terry. Ia pun mencari-cari sesuatu di laci. Akhirnya didapat apa yang dicarinya. Kemudian diangkatnya benda tajam mengkilat itu.

“Terry… Papa ingin menyusulmu!” benda tajam itu pun dihujamkan ke badannya.

Tiba-tiba terdengan suara perempuan melengking.

“TERRY…..!! TERRY….!! Kamu kenapa Nak?” seorang ibu masuk dengan cepat dari pintu depan. Ia melewati Anton dan Budiman yang tambah bingung melihat kejadian demi kejadian.

Siapa lagikah perempuan yang baru masuk itu? Papa Terry melihat kehadiran perempuan itu menjadi tertegun. Ia pun urung melayangkan pisau. Malah tangannya menjadi lemas sehingga pisau itu terjatuh.

“KAMU..!! Kamu… !! Mau apa di sini?” Papa Terry bertanya ketus.

“Kamu apakan anakku ini?” balas perempuan itu.

“Itu karena kamu kabur. Itu karena perbuatanmu!” papa Terry menyalahkan perempuan itu.

“Bagus…! Kamu menyalahkan saya? Saya sudah berikan Terry agar kamu rawat dengan baik! Tetapi kenyataannya apa? Malah anak ini mati konyol di tangan papa seperti kamu!” Balas perempuan yang rupanya mama Terry

“STOP!” tiba-tiba terdengar suara membahana memecah pertengkaran mantan suami istri itu.”Kalian sebagai orang tua benar-benar tidak bertanggung jawab. Terry anak yang baik. Sejak kalian bercerai hidupnya menjadi berantakan. Apa maunya kalian berdua?” Yakob masuk ke dalam ruang keluarga itu.

Papa dan mama Terry tiba-tiba terkejut. Di ruang keluarga itu, berdiri Yakob , Anton, Budiman, Johny dan seorang remaja lagi.

“Terry sudah menceritakan masalahnya. Ia ingin keluarganya bersatu. Ia rela berada bersama papanya walaupun dipukuli setiap hari. Di sekolah ia menjadi tukang bully. Ia tidak punya teman sama sekali. Sahabat karibnya pun ia pukuli. Semuanya itu menjadi pelampiasan bagi ketidakberdayaannya. Di manakah kepedulian kalian? Kalian sungguh egois!” Yakob berkata dengan suara keras berwibawa.

Papa dan mama Terry hanya bisa terdiam.

“Sekarang Terry kondisinya sudah seperti ini. Ia merelakan nyawanya untuk kalian bersatu. Apakah kalian mau mengabulkan permintaannya itu?” Yakob mendesak kedua orang tua Terry.

“Eh…” mama Terry tidak bisa menjawab.

“Terserah dia. Dia yang menceraikan saya!” papa Terry tampaknya masih marah.

“Itu karena ulahmu!” mama Terry sudah mulai membantah lagi.

Sebentar lagi perang kata-kata akan berlangsung kembali.

“STOP!! Kalian mau merusak suasana ini dengan pertengkaran kalian yang kekanak-kanakan? Sungguh orang-tua egois! Saya tantang kalian untuk mewujudkan keingian terbesar Terry. Sanggupkah?” Yakob mendesak.

“Baik… baiklah…”akhirnya mama Terry menyerah.

“Saya terserah dia. Saya memang tidak mau bercerai dari dulu” papa Terry menimpali sambil jarinya menunjuk ke arah mama Terry.

‘Nah kalian berdua saling bermaafan” Yakob memerintah dengan wibawa.

“Pa… maafkan mama ya. Kita berdua memang sungguh egois. Sehingga anak kita jadi korban!” mama Terry mulai menitikkan air mata.

“Ma… maafkan papa juga. Papa berjanji akan menyayangi mama selama sisa hidup papa.” Papa Terry memeluk istrinya

Mereka berdua meninggalkan kelakuan  mereka yang sangat egois dan menangis. Sudah lama beban mereka pikul berdua.  Segala sakit hati pun menguap.

“Tetapi bagaimana dengan anak kita?” mama Terry bingung.

“Maafkan papa yang tidak bisa mengontrol emosi” suaminya merasa tertekan.

“Kalau kalian berjanji untuk bersatu kembali dan menyayangi Terry, maka Terry pun akan dengan senang hati bersama kalian. Apakah kalian berjanji?” Yakob menanyakan kesediaan mereka.

“Tentu kami berjanji” jawab papa dan mama Terry serentak.

Yakob pun kemudian mendekati tubuh Terry. Diambilnya sebotol cairan dan didekatinya ke hidung Terry.

“Hatchi….” Tiba-tiba Terry bangkis-bangkis.

Namun bersin-bersinnya menjadi pertanda bahwa ia masih hidup! Ada apakah gerangan? Tidak lama kemudian Terry mulai sadar sepenuhnya. Saat ia membuka mata, dilihatnya papa dan mamanya di depannya. Mereka berdua maju serentak sambil memeluk anaknya.

“Maafkan mama Nak” mama Terry berkata sambil mengucurkan air mata.

“Ampuni papamu yang jahat ini Nak” papa Terry juga tidak kalah.

“Iya Ma, Pa. Maafkan Terry juga yang sudah menjadi beban. Terry berjanji akan jadi anak yang baik” Terry walaupun bingung namun senang melihat orang tuanya bersatu. Mereka saling berpelukan dan bertangisan.

‘Aduh…” Terry tiba-tiba berteriak.

Setelah kesadarannya muncul sepenuhnya, barulah ia merasakan sakit di sekujur tubuhnya.

“Terry, pakailah salep ini” Yakob pun menyodorkan obat salep manjur khusus mengobati luka luar dan dalam yang memang sudah dipersiapkan sebelumnya.

“Terima kasih Kak Yakob” Terry memandang Yakob dengan wajah berseri-seri.

Namun tiba-tiba ia menjadi sedih kembali. Melihat Yakob mengingatkan Terry kembali akan sahabatnya yang telah disiksanya dan sudah tiada.

“Terry kami ikut berbahagia dengan bersatunya keluargamu!” sebuah suara yang sangat dikenal menyapanya.

“Ja….son? Kamu tidak apa-apa? Kamu masih hidup?” Terry dengan susah payah berusaha bangkit.

Jonas pun menghampiri Terry. Mereka berdua berpelukan. Jonas senang akhirnya ia menjadi sahabat Terry kembali. Kejadian ini sungguh membahagiakan. Namun bagaimana ceritanya sampai bisa terjadi demikian?

Setelah Yakob mendengar cerita tentang Terry dan rencana yang diajukan Anton, Jonas dan rekan-rekannya yang lain, Yakob pun mencari baju yang dapat meredam efek pukulan. Sehingga pukulan yang diarahkan ke baju tersebut, tidak membawa banyak pengaruh ke tubuh orang yang dipukuli. Baju ini juga ditambah keunikan lain. Bila ia dipukul, maka dari baju ini akan keluar semacam obat bius alamiah yang memasuki tubuh orang yang memakainya melalui kulit sehingga lama-kelamaan pemakainya jatuh pingsan! Itulah yang dialami oleh Jonas dan Terry. Mereka berdua jatuh pingsan! Itulah sebabnya dalam surat ke Terry, Jonas memintanya agar mengenakan baju tersebut sebelum berjumpa dengan papanya. Ide tentang baju ini tentu saja tak lain dan tak bukan adalah gagasan dari Budiman yang hobi-nya membaca buku-buku detektif dan mengoleksi perlengkapan detektif. Sehingga ia pun tahu di mana bisa mendapatkan baju seperti itu sekaligus pemunah obat biusnya.

Yakob kemudian ‘menghidupkan’ kembali baik Jonas dan Terry dengan ramuan anti obat bius itu. Sehingga keduanya “hidup” kembali. Yakob sendiri setelah pulang ke gereja dari sekolah menghubungi mama Terry untuk datang ke rumah papa Terry dengan alasan anaknya mengharapkan kedatangannya. Semuanya sudah direncanakan Yakob dengan para siswa (Jonas dan Anton cs). Namun semua rencana manusia tidak akan terlaksana tanpa pertolongan Allah. Karena waktu satu peristiwa dengan peristiwa lain harus berjalan dengan seksama dan tepat waktu. Pertama, sewaktu Jonas dihajar sampai pingsan dan Terry bermaksud bunuh diri. Beruntung Jonas dipukul pada daerah baju yang memang sudah disiapkan untuk keperluan iu. Kalau saja Jonas dipukul di daerah kepala atau tubuh yang tidak terlindungi maka Jonas akan menderita luka parah. Berikutnya saat Terry akan bunuh diri, bila teriakan Yakob tidak cukup berpengaruh terhadap pembatalan keputusan Terry maka hidup Terry akan berakhir tragis.

Kedua, surat yang dilayangkan Jonas ke Terry berisi tiga hal. Pertama adalah agar Terry menemui papanya dan meminta maaf. Hal ini tidak sepenuhnya sesuai rencana. Memang Terry bertemu dengan ayahnya, tetapi disebabkan ayahnya yang mencari dia dan kemudian menghajarnya. Beruntung bahwa Terry sudah mengenakan baju yang diberikan. Bila tidak mematuhinya, maka Terry akan menderita luka parah. Uniknya dalam kesedihan, Terry mengabulkan ketiga permintaan Jonas. Hal ini sebenarnya resiko besar mengingat Terry sudah menganggap Jonas sebagai bukan teman lagi. Ternyata dugaan bahwa sebenarnya ia masih menganggap Jonas sebagai sahabatnya. Di dalam hatinya ia masih menyimpan berbagai kenangan baik dengan sahabatnya itu.

Ketiga, mama dari Terry mau datang ke rumah mantan suaminya. Beruntung Jonas masih menyimpan nomor telepon mama Terry. Ini adalah hal yang langka bagi remaja saat ini. Jarang ada yang mau menaruh perhatian terhadap orang tua apalagi orang tua temannya. Setelah itu Yakob berusaha menghubungi mama Terry. Lagi-lagi Yakob merasa beruntung karena nomor telepon mama Terry tidak berubah dan ia mau menjawab telepon Yakob. Demikian pula mama Terry akhirnya mau muncul demi mendengar anaknya tidak hidup dengan nyaman. Hal-hal seperti ini bisa terjadi hanya karena mujizat.

Mujizat yang diperoleh keluarga Terry tidak kalah hebatnya dengan mujizat yang diperoleh keluarga Arman. Pemulihan hubungan dalam keluarga adalah mujizat yang mungkin tidak disadari oleh banyak orang, tapi dampaknya tidak kalah dari mujizat penyembuhan.

Satu demi satu peristiwa berjalan sesuai dengan rencana, sehingga akhirnya masalah keluarga Terry berakhir bahagia. Mereka menjadi keluarga yang utuh. Terry pun berubah perangainya. Ia menjadi anak yang disukai teman-temannya karena murah hati dan ringan tangan membantu orang lain! Sebuah masalah dipecahkan membawa dampak bagi perubahan diri Terry. Ia memang bukan anak yang jahat. Hanya lingkungan di sekitarnya membuat ia menjadi anak pemberontak.

Kalau keluarga Arman, keluarga Terry, keluarga Amy bahkan Bang Rocky dan Deny bisa berubah, bagaimana dengan setiap kita? Semua masalah pasti punya pemecahan. Bersama Tuhan tidak ada yang mustahil. Jangan biarkan masalah membuat kita menjauh dari Allah tetapi sebaliknya persoalan yang dialami membuat kita semakin dekat denganNya. Amin.

-o0o-







No comments:

Post a Comment