Saturday, December 19, 2015

Coram Deo Ep 4 - Keluarga Jonas


CORAM DEO
Episode 4

KELUARGA JONAS

Yakob dengan cepat pergi ke rumah Jonas.Ia tidak mau terlambat. Ia sudah terbiasa melatih dirinya agar disiplin dan tepat waktu. Dibawanya 2 bungkus nasi tim yang dibelinya tadi di pasar.Lalu ia pamit ke Pastor Peter dan Ev. Debora.

Hanya dalam waktu 5 menit, Yakob tiba di rumah Jonas.

“Permisi!” Yakob memanggil sambil mengetuk pintu rumah.

“Iya… Tunggu sebentar Kakak!” suara dari dalam terdengar.

Yakob mengenali  suara Jonas.

“Selamat pagi Kakak” Jonas langsung memberi salam begitu melihat Yakob.

“Pagi. Bagaimana kabarmu dan mamamu?” Yakob ingin tahu.

“Saya baik. Hanya semalam susah tidur. Kalau mama belum membaik.” Jonas menjawab sambil membuka pintu.

“Oh … kenapa susah tidur? Karena menjaga mamamu yang sakit?” Yakob berkata sambil masuk ke dalam rumah yang tidak memiliki pekarangan itu.

“Eh… ng….” Jonas seperti bingung menjelaskannya.

“Kamu sudah makan pagi?” Yakob bingung mau menawarkan nasi tim.

“Eh…ng…” lagi-lagi Jonas tidak menjawab. Ia hanya mempersilahkan Yakob masuk.

Yakob pulang langsung duduk di kursi yang sudah bolong di sana-sini. Yakob melihat sebungkus nasi goreng masih ada.

“Maaf Jonas, kamu belum makan dari semalam?” Yakob heran.

“Bukan, ini jatah mama. Dari semalam ia belum makan!” Jonas menjelaskan sambil duduk di hadapan Yakob.

“Oh kenapa begitu?” Yakob tambah heran.

“Mama rupanya tidak bisa menelan nasi goreng. Sepertinya tenggorokannya sakit!” Jonas menduga.

“Oh begitu! Kebetulan saya bawa nasi tim. Minta mamamu makan nasi tim ini saja!” Yakob mengusulkan.

“Eh…. “ Jonas ragu-ragu.

“Sudah jangan ragu. Kapan mamamu sembuh kalau tubuhnya lemah?” Yakob mendorong Jonas. Kalau sampai sekarang belum makan, bagaimana badannya mau cepat sembuh?

“Ayo cepat bawa nasi tim ini untuk mamamu makan!” Yakob melihat Jonas masih ragu-ragu.

“Baiklah kakak!” akhirnya Jonas setuju.

-o0o-

Dibawanya nasi tim ke dalam satu-satunya kamar tidur di rumah itu.

“Mama, ayo makan dulu ya.” Terdengar suara Jonas membangunkan mamanya.

“Eh… kamu sudah makan?” terdengar suara perempuan bertanya dengan lemah.

“Sudah ma..” terdengar suara Jonas lagi dari dalam kamar.

“Kamu makan apa?” suara perempuan itu bertanya lagi.

“Makan nasi ma! Hayo sekarang mama makan dulu!” suara Jonas membujuk mamanya.

Setelah beberapa saat tidak terdengar suara lagi. Tapi setelah itu, suara perempuan itu terdengar lagi.

“Kamu beli di mana makanan ini? Kapan kamu belinya?” terdengar suara perempuan itu lagi.

“Eh… ada seorang kakak membawakan makanan” suara Jonas terdengar ragu.

“Oh gitu… siapa namanya?” suara perempuan itu bertanya lagi.

“Namanya Yakob ma! Dia dari gereja yang di seberang kali!” Jonas menjelaskan.

“Oh … Gereja Yesus Satu-Satunya Juruselamatku ya?” suara perempuan itu ingin memastikan.

“Betul ma! Sekarang mama makan dulu. Selesai makan baru kita ngobrol lagi!” Jonas kembali membujuk.Yakob yang berada di luar kamar tidak mendengar suara percakapan lagi. Tampaknya Jonas berhasil membujuk mamanya untuk makan.

“Ma.. minum dulu ya? Agar tidak seret di leher!” suara Jonas terdengar lagi.Tidak ada suara perempuan menjawabnya.

“Nah sekarang mama lanjutin lagi ya  makannya, sudah tinggal sedikit!” suara Jonas kembali membujuk.

Suara perempuan itu tidak terdengar.

“Sudah selesai. Apa mama mau tambah lagi?” Jonas menawarkan.

“Sudah cukup. Enak sekali nasi tim-nya. Jangan lupa ucapkan terima kasih kepada Yakob ya!” suara perempuan yang merupakan mama Jonas berpesan.

“Iya ma! Sekarang mama makan obat dulu ya!” Jonas mengingatkan.

“Baiklah! Semoga hari ini penyakit mama bisa sembuh. Mama ingin menjahit lagi. Masih banyak jahitan yang belum diselesaikan!” suara mamanya tidak terdengar lemas seperti sebelum makan.

“Nanti saja ma, kalau benar-benar sembuh!” Jonas suara jadi khawatir.

“Tidak bisa! Sekarang mama tidak punya uang lagi untuk beli makanan! Nanti kita makan apa?” mamanya sepertinya bertekad.

“Mama…. Jonas saja yang kerja!” Jonas membujuk mamanya.

“Tidak bisa!! Kamu harus sekolah sampai jadi sarjana!” mamanya berkata dengan nada tegas. Rupanya ia ingin anaknya tamat kuliah.

“Tapi Jonas mau kerja membantu cari uang! Jonas sekarang sudah besar!” Jonas bersikeras.

“Memang sekarang kamu kerja apa?” mamanya bertanya.

“Apa saja!” Jonas rupanya belum punya sasaran jelas.

“Itu nanti saja. Kamu harus lulus SMA dulu!” mamanya memutuskan.

“Ngomong-ngomong apakah Yakob masih ada?” tiba-tiba mamanya teringat.

“Eh iya… masih ma! Yakob ingin membesuk mama!” Jonas sadar kembali.

“Kalau begitu minta Yakob masuk ke mari!” mamanya meminta Yakob masuk.

Tak lama kemudian Jonas keluar.

“Kakak, mari masuk. Mama sudah menunggu.” Jonas tampaknya lebih cerah wajahnya. Mungkin karena pengaruh mamanya yang sudah bisa makan dan lebih bertenaga.

--o0o—

“Ma, ini Kak Yakob.” Jonas memperkenalkan tamunya.

“Selamat pagi tante” Yakob menyapa

“Selamat pagi Yakob. Terima kasih banyak sudah membawakan nasi tim ya. Enak sekali!” mama Jonas memuji.

“Ah tidak apa-apa Tante. Tadi kebetulan ke pasar, jadi sekalian beli! Tante bagaimana kabarnya hari ini?” balas Yakob.

“Ya beginilah… Masih sakit. Tapi sesudah makan, tubuh tante jadi lebih segar!” mama Jonas menjawab dengan antusias.

Ini adalah orang yang pertama yang membesuknya. Tidak ada yang peduli dengan sakitnya. Mungkin karena keluarga mereka miskin.

“Tante sakitnya apa?”  Yakob bertanya.

“Sakit biasa saja. Tidak enak badan!” mama Jonas tampak gelisah. Entah mengapa.

“Kalau dokter bilang apa?” Yakob coba menggali.

“Dokter juga bingung. Sepertinya hanya penyakit biasa!” mama Jonas menjelaskan apa adanya.

“Tante boleh saya doakan?” Yakob menawarkan

“Eh… kamu mau berdoa untuk saya?” mama Jonas ragu-ragu.

“Benar tante. Kita boleh menyerahkan masalah kita kepada Allah!” Yakob memandang serius ke mama Jonas.

“Baiklah! Kamu orang pertama yang berdoa untuk saya.” Mama Jonas memberitahu.

“Mari kita berdoa.” Yakob melipat tangan dan menutup matanya. “Bapa di dalam sorga. Terima kasih, kalau saya pagi ini boleh bertemu Jonas dan mama Jonas di tempat ini. Saat ini, hambaMu memohon belas kasihan kepadaMu agar mama Jonas boleh disembuhkan dari sakit-penyakitnya. Dokter biasa mungkin tidak tahu dan tidak bisa menyembuhkannya, tapi saya percaya, Engkau adalah dokter di atas segala dokter. Engkau sanggup menyembuhkan mama Jonas. Mohon Kau angkat segala sakit penyakitnya. DarahMu yang kudus menyucikan dan menyembuhkannya. Hanya di dalam nama Tuhan Yesus kami serahkan doa ini. Amin!” Yakob berdoa singkat ke sasaran.

Jonas menyaksikan dan mendengarkan doa Yakob. Dia memandang heran saat mahluk hitam yang selalu berada dekat mamanya itu tiba-tiba menghilang. Sepertinya mahluk itu ketakutan. Dia seperti terusir oleh enersi yang muncul saat Yakob berdoa. Jonas melihat sejak Yakob datang, mahluk hitam itu seperti ketakutan. Ia tidak berani berdiri dekat-dekat mamanya. Apalagi saat Yakob berada di dalam kamar, mahluk itu hanya berdiri di pojok. Dia ingin keluar tapi seperti nya memaksakan diri. Sekarang dengan enersi yang timbul dari doa Yakob, mahluk itu sudah tidak tahan lagi. Entah ke mana mahluk itu.

“Nah Tante, silahkan beristirahat. Agar Tante bisa cepat pulih. Nanti saya akan datang lagi!” Yakob tidak ingin mengganggunya lagi.

“Terima kasih ya Yakob sudah mau datang. Yakob bisa ngobrol dengan Jonas dulu. Jangan langsung pulang ya!” pesan mama Jonas.

“Baik Tante, saya ke depan dulu!” Yakob melangkah ke luar, diikuti dengan Jonas.

-o0o-

Demon yang mengganggu mama Jonas terpaksa menyingkir.Ia sudah tahan dengan pancaran enersi yang keluar dari diri Yakob.Itulah enersi ilahi yang mengalir melalui orang-orang percaya.Enersi yang sangat dibenci oleh kalangan demon.Hanya orang-orang percaya dengan talenta tertentu yang memiliki enersi ini.
Segera demon ini melapor ke Sang Bos.

“Bodoh! Mengapa kamu lari ke mari?” bentak Sang Bos.

“Saya tidak kuat Bos!” sang demon melapor.

“Memang kamu kuat kalau saya tendang?” Sang Bos langsung mempraktekkannya.

“Ahhh…..!!! teriakan Sang demon menahan sakit.

Sang demon terpaksa mandah menerima tendangan Sang Bos.Walaupun ia kesakitan, namun tidak berani protes.

“Jadi bagaimana? Masih takut?” Sang Bos mengancam lagi.

“Ti….dak….! Ti…dak…Bos!” Sang demon tidak mau tambah menderita.

“Cepat kembali ke sana! Bawa tujuh temanmu yang lain! Kuasai perempuan itu! Buat dia kesakitan!” Sang Bos memberi perintah yang tidak bisa dibantah.

“Siap Bos! Baik Bos!” sang demon langsung menjalankan perintahnya.

-o0o-

“Kak Yakob, terima kasih ya. Kakak sudah mau membesuk mama dan saya. Mama kelihatan jadi lebih semangat!” Jonas berseri.

“Waduh…. Saya jadi tidak enak hati. Saya memang suka membesuk keluargamu. Nah sekarang kamu yang makan. Sebentar lagi kamu akan sekolah kan?”

“Betul Kak. Saya makan nasi goreng yang semalam saja. Mama tidak mau makan nasi gorengnya karena perutnya mual. Jadi nasi tim nya buat mama makan sore saja!” Jonas memiliki pikiran sendiri.

“Eh… pikiran yang mulia. Tapi nasi goreng nya sekarang sudah dingin , dipanasin saja!” Yakob mengusulkan.

“Hmmm…. Tidak usah Kak. Saya sudah biasa makan seperti itu!” Jonas menolak.

“Sudah, kakak yang panasin saja!” Yakob membawa nasi goreng itu ke tempat penggorengan.

Kompor yang ada hanya 1 tungku dengan gas elpiji 3 kg. Memang perlengkapan rumah Jonas sangat sederhana. Setelah itu dengan cepat digorengnya kembali nasi goreng semalam. Hanya sebentar saja. Sayuran yang sudah tidak baik dipisahkan.

“Nah sudah. Sekarang kamu makan dulu ya..” Yakob menyodorkan sepiring nasi goreng.

“Terima kasih Kak. Kak Yakob pintar masak ya. Belajar dari mana?” Jonas yang belum makan pagi, langsung menyerbu nasi goreng tersebut.

“Dulu waktu kuliah teologi di Malang! Ngomong-ngomong, kamu sekolah di mana?” sahut Yakob.

“SeYesKu!” Jonas menjawab sambil makan.

“Oh maksudmu Sekolah Yesus Satu-Satunya Juruselamatku?”  Yakob mengkonfirmasi.

“Betul Kak!”

“Siapa guru agama nya?” Yakob tiba-tiba teringat tawaran Pastor Peter untuk menjadi guru di sekolah itu.

“Gurunya sedang kosong, Kak. Guru yang lama mengundurkan diri karena ada pelayanan di tempat lain!” Jonas menyampaikan apa yang diketahuinya.

“Oh gitu! Tadi Kakak dengar kamu mau bekerja. Rencana kamu kerja apa?” Yakob ingin tahu.

“Apa saja Kak. Tapi kerjanya setelah sekolah! Jadi agak susah carinya!” Jonas merasa bimbang.

“Apa kamu usaha online saja?” Yakob memberi usul.

“Ingin juga sih. Hanya belum tahu caranya.” Jonas menunjukkan minatnya.

“Memang tidak ada temanmu yang usaha online? Kan bisa tanya dengan mereka!” Yakob heran. Biasanya anak remaja seperti Jonas sangat pintar usaha online.

“Ehm…. Saya kurang gaul Kak. Jadi malu bertanya pada yang lain. Saya minder karena saya orang yang tidak berpunya!” Jonas menundukkan wajahnya.

“Eh… kenapa harus malu? Kalau mencuri atau melakukan tindak kriminal lainnya baru malu!” Yakob mencoba membesarkan hati.

“Gimana ya? Mereka yang tidak mau bergaul dengan orang seperti saya!” Jonas dengan malu mengemukakan alasannya.

“Tidak adakah satu pun yang mau bergaul denganmu di sekolah?” Yakob jadi penasaran.

“Ya ada beberapa. Tapi saya nya yang malu.” Jonas mengaku.

“Begini Jonas. Kamu tahu tidak bahwa kamu adalah orang spesial? Yang lahir untuk tujuan khusus” Yakob memancing.

“Eh.. apa yang spesial dengan saya?” Jonas tidak mengerti.

“Setiap manusia diciptakan Allah dengan misi khusus. Jadi setiap orang berbeda-beda misinya. Jadi kamu jangan merasa minder. Mungkin saat ini kamu belum menyadari keistimewaan kamu!” Yakob kembali memancing.

“Iya … betul juga. Saya saat ini tidak tahu apa kelebihan saya. Yang saya tahu, kami tidak punya apa-apa. Bahkan untuk makan saja, kami mengalami kesulitan. Untung Kakak hari ini membawakan nasi tim untuk mama, kalau tidak, saya tidak tahu bagaimana mama makan nanti” Jonas sudah lebih terbuka.

“Oh begitu. Apakah tidak ada keluarga lain yang bisa membantu kamu dan  mamamu?” Yakob jadi penasaran.

“Keluarga lain ada, namun mereka tidak ada yang mau membantu” Jonas seperti kehilangan pengharapan.

“Kamu jangan sedih. Masih ada pribadi yang mau menerima semua letih lesu kita asalkan kita mau percaya kepadaNya!” Yakob membuka pemberitaan kabar baik.

“Maksud Kakak, Tuhan Yesus? Saya sudah mencoba , namun hasilnya tidak ada!” Jonas berkata setengah menyalahkan.

“Kamu sudah dengar tentang Tuhan Yesus? Di mana?” Yakob terkejut.

“Sudah. Kan di sekolah ada pelajaran agama!” Jonas mengingatkan.

“Apakah kamu sudah menerima Yesus sebagaiTuhan dan Juruselamatmu?” Yakob ingin tahu.

“Eh belum Kak. Saya masih ragu!” Jonas mengutarakan perasaannya.

“Apa yang membuatmu ragu?” Yakob menyelidiki.

“Saya ….. eh…. Maaf saya tidak bisa bercerita sekarang Kak!” Jonas masih ragu membagi kisahnya.

“Iya.. tidak apa-apa. Kamu mau siap-siap sekolah?” Yakob mengingatkan.

“Betul Kak. Kak, saya senang Kakak mau datang hari ini!” Jonas mengutarakan rasa gembiranya.

“Saya juga senang, bisa datang! Kalau boleh nanti saya datang lagi!” Yakob mengutarakan niatnya.

“Serius Kak? Saya tunggu ya janji Kakak!” Jonas mencatatnya dalam hati.

“Ngomong-ngomong, nanti malam kamu mau beli makan?” Yakob teringat mama Jonas yang sakit.

“Eh… sepertinya begitu… tetapi tidak tahu juga…” ada nada keraguan pada diri Jonas.

“Begini saja. Nanti malam saya buatkan bubur untuk mamamu. Kamu suka bubur?” Yakob menatap Jonas.

“Saya sih apa saja suka, Kak. Terima kasih ya Kak sebelumnya!” Jonas berseri-seri.

“Jiah….. gitu amat sih. Jadi sungkan nih Kakak!” Yakob pura-pura meledek Jonas.

“Memang betul Kak. Saya kan tidak punya teman apalagi Kakak. Jadi saya senang kalau Kakak mau sering-sering datang ke mari!” Jonas mengharapkan.

“Ok… kalau kakak ada waktu, Kakak akan ke mari. Atau sebaliknya kamu yang datang ke tempat Kakak!” undang Yakob.

“Eh…. Boleh juga.” Jonas senang diundang Yakob.

“Baiklah. Kalau begitu Kakak pulang sekarang ya. Nanti malam Kakak datang lagi!” Yakob pamit. “Sekarang saya mau pamit dengan mamamu!”

Jonas melihat ke kamar. Tampaknya mamanya tertidur pulas.

“Kak, mama sedang tidur. Nanti saya sampaikan saja” Jonas memberi informasi.

“Okey…. Sampai ketemu lagi malam nanti! Konsentrasi ya belajar biar cepat pandai!” Yakob mengingatkan sambil melangkah keluar rumah Jonas.

“Iya… Kak. Sampai jumpa nanti malam!” Jonas melambaikan tangan.

Dengan cepat Yakob kembali ke GeYeSKu. Jonas memandangi sebentar kepergian Yakob lalu kembali ke dalam untuk mempersiapkan alat-alat sekolahnya.

-o0o-

“Jonas…!” tiba-tiba terdengar suara dari dalam kamar.

Jonas pun segera ke kamar mamanya.

“Mama sudah bangun?” Jonas heran.

“Benar. Mama juga tidak tahu,  mengapa mama bisa tidur dengan nyenyak dengan adanya Yakob! Rasanya beban berat yang mama rasakan selama ini terangkat! Mama rasanya lega.” Mama Jonas menjelaskan.

“Oh begitu!” Jonas tiba-tiba teringat. Sewaktu Yakob datang dan berdoa, mahluk hitam yang biasanya ada di dekat mamanya tidak berani mendekat dan akhirnya menghilang!

“Jonas, bagaimana Yakob menurutmu?” mamanya ingin tahu pendapat anaknya.

“Saya sangat senang dengan Yakob ma. Saya seakan punya Kakak yang bisa membimbing saya!” Jonas tidak dapat menutupi kesenangan hatinya.

“Benar! Mama juga dapat merasakan ketulusan dan kebaikannya. Mama bersyukur kamu bisa mengenalnya.” Mama Jonas sependapat.

“Saat dia ada di sini, mahluk hitam yang mengganggu mama ketakutan dan menghilang!” Jonas memberi informasi yang dibutuhkan mamanya.

“Oh pantas! Dengan adanya Yakob, mama bisa tidur tenang” Mamanya bersyukur.

“Bagaimana dengan mama sendiri? Apa yang mama rasakan saat Yakob ada di dekat mama?” Yakob ingin tahu.

“Mama dapat merasakan aliran enersi yang luar biasa! Mama tidak pernah merasakan enersi seperti itu. Itu enersi yang dapat hanya dapat dimiliki oleh  orang-orang yang benar-benar terpilih. Yakob pasti orang terpilih!” mama Jonas menjelaskan.

“Berarti Yakob itu memang sangat spesial. Dia bahkan dikelilingi oleh sosok terang yang menjaganya dari serangan mahluk hitam!” Jonas menambahkan.

“Enersi yang dimiliki itu seperti aliran enersi cinta, namun berbeda dengan cinta yang biasa antara pria-wanita, beda juga dengan cinta antar anggota keluarga atau teman. Enersi cinta ini benar-benar luar biasa kuat dan damainya!” mamanya juga menambahkan.

Rupanya mama dan anak ini punya kelebihan. Jonas dapat melihat demon dan malaikat. Sedangkan mamanya dapat merasakan enersi cinta ilahi. Keduanya memang memiliki kemampuan yang berbeda. Hanya sedikit sekali orang yang punya kemampuan seperti ini. Sebenarnya kemampuan melihat demon dimiliki oleh sedikit orang. Namun untuk melihat sosok terang seperti malaikat, jauh lebih sedikit lagi. Karena itu harus disertai dengan hati yang bersih. Jonas pun hanya bisa melihat demon dengan jelas. Untuk malaikat yang dilihatnya hanya sosok terang atau sinar terang saja. Anehnya , mama Jonas bisa memiliki kemampuan merasakan enersi ilahi. Itu benar-benar sangat langka. Biasanya hanya para hamba Tuhan yang mampu memilikinya. Itu pun hamba Tuhan yang benar-benar terpilih. Mengapa mereka berdua bisa memiliki kemampuan ini? Hanya Allah yang tahu.

-o0o-

“Halo?” suara di seberang terdengar.

“Selamat siang Anton. Kamu sekolah di SeYeSKu kan?” Yakob mengingat-ingat.

“Betul Kak!” Anton membenarkan.

“Kamu kenal dengan siswa yang namanya Jonas?” Yakob ingin tahu.

“Tahu. Ada apa dengannya, Kak?” Anton gantian ingin tahu.

“Saya baru dari rumahnya. Sepertinya ia mengalami kesulitan dalam bergaul di sekolah ya?” Yakob menggali informasi.

“Betul Kak. Ia suka menyendiri. Kalau didekati, sepertinya tidak suka!” Anton memberi masukan.

“Oh gitu. Tapi mau kan kamu mencoba mendekatinya lagi kan?. Ia anaknya baik. Saya tadi ke rumahnya. Mamanya sedang sakit. Hidupnya prihatin dan sangat sederhana dan ia sudah tidak punya papa lagi!” Yakob meminta bantuan Anton.

“Wah pantas ia jadi tertutup ya? Kalau begitu nanti di sekolah kalau bertemu, saya akan coba ajak ngobrol. Moga-moga dia lebih terbuka!” Anton berkata memberi harapan.

“Tidak salah… kamu jadi aktifis di gereja! Saya percaya padamu. Kamu pasti bisa!” Yakob berusaha membesarkan hati remaja binaannya itu.

“Ah Kakak bisa saja... Saya sih masih jauh…” Anton merendah.

“Ha…ha… kamu memang  pintar merendah. Saya suka orang yang rendah hati!” Yakob memuji Anton.

“Penginjil juga berdoa ya… untuk misi saya ini!” Anton tidak lupa menitip pesan.

“Tentu, saya akan doakan usaha kamu bisa berhasil!” Yakob meyakinkan.

“Baiklah. Kalau begitu sampai nanti!” Anton memberi salam penutup.

“Ok. Semangat ya bersekolah. Tuhan memberkati” Yakob pun menutup teleponnya.

Yakob berharap dalam hati, agar Anton dan para aktifis yang melayani di persekutuan remaja dapat menjadi teman yang baik untuk Jonas.

“Bapa di dalam sorga, tolonglah Anton dan para teman-teman aktifis lainnya untuk boleh menjangkau Jonas. Amin” Yakob berdoa dalam hati.

-o0o-

“Halo?” suara di seberang menyapa.

“Selamat siang Pak Simon! Ini dengan Yakob Pak!” Yakob memperkenalkan diri.

“Oh Ev. Yakob. Ada yang bisa saya bantu?” Simon tahu pasti ada kebutuhan terkait dengan pelayanan.

“Pak Simon. Barusan saya ke rumah seorang anak SMA yang bersekolah di SeYeSKu. Namanya Jonas. Ia punya mama yang sedang sakit. Rumahnya di Jl. Teguh no 11C. Apa Pak Simon kenal?” Yakob mencari informasi.

“Oh… rumah yang kecil itu ya? Saya hanya tahu keluarga itu terdiri dari ibu dan anak saja. Tapi saya tidak kenal, karena mereka jarang bergaul dengan tetangga.” Simon menjelaskan.

“Pak Simon, boleh saya minta bantuan Bapak dan istri untuk membesuknya? Mereka berdua sedang dalam kesulitan. Mama Jonas sakit dan sepertinya butuh bantuan karena tidak ada yang memasak, sedangkan untuk membeli makanan mereka sangat terkendala dengan dana.” Yakob menjelaskan.

“Oh begitu! Kalau begitu nanti malam, saya dan istri akan ke sana” Simon dengan antusias ingin membantu.

“Terima kasih Pak Simon. Rencana malam ini saya akan ke sana!” Yakob menyampaikan rencananya

“Baiklah. Kalau begitu kami juga akan ke sana malam ini!” Simon memutuskan.

“Nah sampai ketemu nanti malam” Yakob pun memutuskan hubungan.

-o0o-

“Ma Jonas sekolah dulu ya!” Jonas pamitan sambil memastikan kebutuhan mamanya sudah ada.

“Iya Jonas. Belajar yang rajin ya!” pesan mamanya.

“Ma, jangan lupa dimakan lagi nasi tim dan obatnya!” Jonas ingin memastikan.

“Iya. Kamu jangan pulang telat ya!” mamanya khawatir juga ada apa-apa.

“Sampai malam ya ma..” Jonas melambaikan tangan lalu melangah ke luar.

“Hati-hati ya di jalan…” mama Jonas pun melanjutkan istirahatnya.

-o0o-



No comments:

Post a Comment