Episode
4
KELUARGA
JONAS
Yakob dengan cepat
pergi ke rumah Jonas.Ia tidak mau terlambat. Ia sudah terbiasa melatih dirinya
agar disiplin dan tepat waktu. Dibawanya 2 bungkus nasi tim yang dibelinya tadi
di pasar.Lalu ia pamit ke Pastor Peter dan Ev. Debora.
Hanya dalam
waktu 5 menit, Yakob tiba di rumah Jonas.
“Permisi!” Yakob
memanggil sambil mengetuk pintu rumah.
“Iya… Tunggu
sebentar Kakak!” suara dari dalam terdengar.
Yakob mengenali suara Jonas.
“Selamat pagi
Kakak” Jonas langsung memberi salam begitu melihat Yakob.
“Pagi. Bagaimana
kabarmu dan mamamu?” Yakob ingin tahu.
“Saya baik.
Hanya semalam susah tidur. Kalau mama belum membaik.” Jonas menjawab sambil
membuka pintu.
“Oh … kenapa susah
tidur? Karena menjaga mamamu yang sakit?” Yakob berkata sambil masuk ke dalam
rumah yang tidak memiliki pekarangan itu.
“Eh… ng….” Jonas
seperti bingung menjelaskannya.
“Kamu sudah
makan pagi?” Yakob bingung mau menawarkan nasi tim.
“Eh…ng…”
lagi-lagi Jonas tidak menjawab. Ia hanya mempersilahkan Yakob masuk.
Yakob pulang
langsung duduk di kursi yang sudah bolong di sana-sini. Yakob melihat sebungkus
nasi goreng masih ada.
“Maaf Jonas,
kamu belum makan dari semalam?” Yakob heran.
“Bukan, ini
jatah mama. Dari semalam ia belum makan!” Jonas menjelaskan sambil duduk di
hadapan Yakob.
“Oh kenapa
begitu?” Yakob tambah heran.
“Mama rupanya
tidak bisa menelan nasi goreng. Sepertinya tenggorokannya sakit!” Jonas
menduga.
“Oh begitu!
Kebetulan saya bawa nasi tim. Minta mamamu makan nasi tim ini saja!” Yakob
mengusulkan.
“Eh…. “ Jonas
ragu-ragu.
“Sudah jangan
ragu. Kapan mamamu sembuh kalau tubuhnya lemah?” Yakob mendorong Jonas. Kalau
sampai sekarang belum makan, bagaimana badannya mau cepat sembuh?
“Ayo cepat bawa
nasi tim ini untuk mamamu makan!” Yakob melihat Jonas masih ragu-ragu.
“Baiklah kakak!”
akhirnya Jonas setuju.
-o0o-
Dibawanya nasi
tim ke dalam satu-satunya kamar tidur di rumah itu.
“Mama, ayo makan
dulu ya.” Terdengar suara Jonas membangunkan mamanya.
“Eh… kamu sudah
makan?” terdengar suara perempuan bertanya dengan lemah.
“Sudah ma..”
terdengar suara Jonas lagi dari dalam kamar.
“Kamu makan
apa?” suara perempuan itu bertanya lagi.
“Makan nasi ma!
Hayo sekarang mama makan dulu!” suara Jonas membujuk mamanya.
Setelah beberapa
saat tidak terdengar suara lagi. Tapi setelah itu, suara perempuan itu
terdengar lagi.
“Kamu beli di
mana makanan ini? Kapan kamu belinya?” terdengar suara perempuan itu lagi.
“Eh… ada seorang
kakak membawakan makanan” suara Jonas terdengar ragu.
“Oh gitu… siapa
namanya?” suara perempuan itu bertanya lagi.
“Namanya Yakob
ma! Dia dari gereja yang di seberang kali!” Jonas menjelaskan.
“Oh … Gereja
Yesus Satu-Satunya Juruselamatku ya?” suara perempuan itu ingin memastikan.
“Betul ma!
Sekarang mama makan dulu. Selesai makan baru kita ngobrol lagi!” Jonas kembali
membujuk.Yakob yang berada di luar kamar tidak mendengar suara percakapan lagi.
Tampaknya Jonas berhasil membujuk mamanya untuk makan.
“Ma.. minum dulu
ya? Agar tidak seret di leher!” suara Jonas terdengar lagi.Tidak ada suara
perempuan menjawabnya.
“Nah sekarang
mama lanjutin lagi ya makannya, sudah
tinggal sedikit!” suara Jonas kembali membujuk.
Suara perempuan
itu tidak terdengar.
“Sudah selesai.
Apa mama mau tambah lagi?” Jonas menawarkan.
“Sudah cukup.
Enak sekali nasi tim-nya. Jangan lupa ucapkan terima kasih kepada Yakob ya!”
suara perempuan yang merupakan mama Jonas berpesan.
“Iya ma!
Sekarang mama makan obat dulu ya!” Jonas mengingatkan.
“Baiklah! Semoga
hari ini penyakit mama bisa sembuh. Mama ingin menjahit lagi. Masih banyak
jahitan yang belum diselesaikan!” suara mamanya tidak terdengar lemas seperti
sebelum makan.
“Nanti saja ma,
kalau benar-benar sembuh!” Jonas suara jadi khawatir.
“Tidak bisa!
Sekarang mama tidak punya uang lagi untuk beli makanan! Nanti kita makan apa?”
mamanya sepertinya bertekad.
“Mama…. Jonas
saja yang kerja!” Jonas membujuk mamanya.
“Tidak bisa!!
Kamu harus sekolah sampai jadi sarjana!” mamanya berkata dengan nada tegas. Rupanya
ia ingin anaknya tamat kuliah.
“Tapi Jonas mau
kerja membantu cari uang! Jonas sekarang sudah besar!” Jonas bersikeras.
“Memang sekarang
kamu kerja apa?” mamanya bertanya.
“Apa saja!”
Jonas rupanya belum punya sasaran jelas.
“Itu nanti saja.
Kamu harus lulus SMA dulu!” mamanya memutuskan.
“Ngomong-ngomong
apakah Yakob masih ada?” tiba-tiba mamanya teringat.
“Eh iya… masih
ma! Yakob ingin membesuk mama!” Jonas sadar kembali.
“Kalau begitu
minta Yakob masuk ke mari!” mamanya meminta Yakob masuk.
Tak lama
kemudian Jonas keluar.
“Kakak, mari
masuk. Mama sudah menunggu.” Jonas tampaknya lebih cerah wajahnya. Mungkin
karena pengaruh mamanya yang sudah bisa makan dan lebih bertenaga.
--o0o—
“Ma, ini Kak
Yakob.” Jonas memperkenalkan tamunya.
“Selamat pagi
tante” Yakob menyapa
“Selamat pagi
Yakob. Terima kasih banyak sudah membawakan nasi tim ya. Enak sekali!” mama
Jonas memuji.
“Ah tidak
apa-apa Tante. Tadi kebetulan ke pasar, jadi sekalian beli! Tante bagaimana
kabarnya hari ini?” balas Yakob.
“Ya beginilah…
Masih sakit. Tapi sesudah makan, tubuh tante jadi lebih segar!” mama Jonas
menjawab dengan antusias.
Ini adalah orang
yang pertama yang membesuknya. Tidak ada yang peduli dengan sakitnya. Mungkin
karena keluarga mereka miskin.
“Tante sakitnya
apa?” Yakob bertanya.
“Sakit biasa
saja. Tidak enak badan!” mama Jonas tampak gelisah. Entah mengapa.
“Kalau dokter
bilang apa?” Yakob coba menggali.
“Dokter juga
bingung. Sepertinya hanya penyakit biasa!” mama Jonas menjelaskan apa adanya.
“Tante boleh
saya doakan?” Yakob menawarkan
“Eh… kamu mau
berdoa untuk saya?” mama Jonas ragu-ragu.
“Benar tante.
Kita boleh menyerahkan masalah kita kepada Allah!” Yakob memandang serius ke
mama Jonas.
“Baiklah! Kamu
orang pertama yang berdoa untuk saya.” Mama Jonas memberitahu.
“Mari kita
berdoa.” Yakob melipat tangan dan menutup matanya. “Bapa di dalam sorga. Terima
kasih, kalau saya pagi ini boleh bertemu Jonas dan mama Jonas di tempat ini.
Saat ini, hambaMu memohon belas kasihan kepadaMu agar mama Jonas boleh
disembuhkan dari sakit-penyakitnya. Dokter biasa mungkin tidak tahu dan tidak
bisa menyembuhkannya, tapi saya percaya, Engkau adalah dokter di atas segala
dokter. Engkau sanggup menyembuhkan mama Jonas. Mohon Kau angkat segala sakit
penyakitnya. DarahMu yang kudus menyucikan dan menyembuhkannya. Hanya di dalam nama
Tuhan Yesus kami serahkan doa ini. Amin!” Yakob berdoa singkat ke sasaran.
Jonas
menyaksikan dan mendengarkan doa Yakob. Dia memandang heran saat mahluk hitam
yang selalu berada dekat mamanya itu tiba-tiba menghilang. Sepertinya mahluk
itu ketakutan. Dia seperti terusir oleh enersi yang muncul saat Yakob berdoa. Jonas
melihat sejak Yakob datang, mahluk hitam itu seperti ketakutan. Ia tidak berani
berdiri dekat-dekat mamanya. Apalagi saat Yakob berada di dalam kamar, mahluk
itu hanya berdiri di pojok. Dia ingin keluar tapi seperti nya memaksakan diri. Sekarang
dengan enersi yang timbul dari doa Yakob, mahluk itu sudah tidak tahan lagi. Entah
ke mana mahluk itu.
“Nah Tante,
silahkan beristirahat. Agar Tante bisa cepat pulih. Nanti saya akan datang
lagi!” Yakob tidak ingin mengganggunya lagi.
“Terima kasih ya
Yakob sudah mau datang. Yakob bisa ngobrol dengan Jonas dulu. Jangan langsung
pulang ya!” pesan mama Jonas.
“Baik Tante,
saya ke depan dulu!” Yakob melangkah ke luar, diikuti dengan Jonas.
-o0o-
Demon
yang mengganggu mama Jonas terpaksa menyingkir.Ia sudah tahan dengan pancaran
enersi yang keluar dari diri Yakob.Itulah enersi ilahi yang mengalir melalui
orang-orang percaya.Enersi yang sangat dibenci oleh kalangan demon.Hanya
orang-orang percaya dengan talenta tertentu yang memiliki enersi ini.
Segera
demon ini melapor ke Sang Bos.
“Bodoh!
Mengapa kamu lari ke mari?” bentak Sang Bos.
“Saya
tidak kuat Bos!” sang demon melapor.
“Memang
kamu kuat kalau saya tendang?” Sang Bos langsung mempraktekkannya.
“Ahhh…..!!!
teriakan Sang demon menahan sakit.
Sang
demon terpaksa mandah menerima tendangan Sang Bos.Walaupun ia kesakitan, namun
tidak berani protes.
“Jadi
bagaimana? Masih takut?” Sang Bos mengancam lagi.
“Ti….dak….!
Ti…dak…Bos!” Sang demon tidak mau tambah menderita.
“Cepat
kembali ke sana! Bawa tujuh temanmu yang lain! Kuasai perempuan itu! Buat dia
kesakitan!” Sang Bos memberi perintah yang tidak bisa dibantah.
“Siap
Bos! Baik Bos!” sang demon langsung menjalankan perintahnya.
-o0o-
“Kak Yakob,
terima kasih ya. Kakak sudah mau membesuk mama dan saya. Mama kelihatan jadi
lebih semangat!” Jonas berseri.
“Waduh…. Saya
jadi tidak enak hati. Saya memang suka membesuk keluargamu. Nah sekarang kamu
yang makan. Sebentar lagi kamu akan sekolah kan?”
“Betul Kak. Saya
makan nasi goreng yang semalam saja. Mama tidak mau makan nasi gorengnya karena
perutnya mual. Jadi nasi tim nya buat mama makan sore saja!” Jonas memiliki
pikiran sendiri.
“Eh… pikiran
yang mulia. Tapi nasi goreng nya sekarang sudah dingin , dipanasin saja!” Yakob
mengusulkan.
“Hmmm…. Tidak
usah Kak. Saya sudah biasa makan seperti itu!” Jonas menolak.
“Sudah, kakak
yang panasin saja!” Yakob membawa nasi goreng itu ke tempat penggorengan.
Kompor yang ada
hanya 1 tungku dengan gas elpiji 3 kg. Memang perlengkapan rumah Jonas sangat
sederhana. Setelah itu dengan cepat digorengnya kembali nasi goreng semalam.
Hanya sebentar saja. Sayuran yang sudah tidak baik dipisahkan.
“Nah sudah.
Sekarang kamu makan dulu ya..” Yakob menyodorkan sepiring nasi goreng.
“Terima kasih
Kak. Kak Yakob pintar masak ya. Belajar dari mana?” Jonas yang belum makan pagi,
langsung menyerbu nasi goreng tersebut.
“Dulu waktu
kuliah teologi di Malang! Ngomong-ngomong, kamu sekolah di mana?” sahut Yakob.
“SeYesKu!” Jonas
menjawab sambil makan.
“Oh maksudmu
Sekolah Yesus Satu-Satunya Juruselamatku?”
Yakob mengkonfirmasi.
“Betul Kak!”
“Siapa guru
agama nya?” Yakob tiba-tiba teringat tawaran Pastor Peter untuk menjadi guru di
sekolah itu.
“Gurunya sedang
kosong, Kak. Guru yang lama mengundurkan diri karena ada pelayanan di tempat
lain!” Jonas menyampaikan apa yang diketahuinya.
“Oh gitu! Tadi
Kakak dengar kamu mau bekerja. Rencana kamu kerja apa?” Yakob ingin tahu.
“Apa saja Kak.
Tapi kerjanya setelah sekolah! Jadi agak susah carinya!” Jonas merasa bimbang.
“Apa kamu usaha online saja?” Yakob memberi usul.
“Ingin juga sih.
Hanya belum tahu caranya.” Jonas menunjukkan minatnya.
“Memang tidak
ada temanmu yang usaha online? Kan
bisa tanya dengan mereka!” Yakob heran. Biasanya anak remaja seperti Jonas
sangat pintar usaha online.
“Ehm…. Saya
kurang gaul Kak. Jadi malu bertanya pada yang lain. Saya minder karena saya
orang yang tidak berpunya!” Jonas menundukkan wajahnya.
“Eh… kenapa
harus malu? Kalau mencuri atau melakukan tindak kriminal lainnya baru malu!”
Yakob mencoba membesarkan hati.
“Gimana ya?
Mereka yang tidak mau bergaul dengan orang seperti saya!” Jonas dengan malu
mengemukakan alasannya.
“Tidak adakah
satu pun yang mau bergaul denganmu di sekolah?” Yakob jadi penasaran.
“Ya ada
beberapa. Tapi saya nya yang malu.” Jonas mengaku.
“Begini Jonas.
Kamu tahu tidak bahwa kamu adalah orang spesial? Yang lahir untuk tujuan
khusus” Yakob memancing.
“Eh.. apa yang
spesial dengan saya?” Jonas tidak mengerti.
“Setiap manusia
diciptakan Allah dengan misi khusus. Jadi setiap orang berbeda-beda misinya.
Jadi kamu jangan merasa minder. Mungkin saat ini kamu belum menyadari
keistimewaan kamu!” Yakob kembali memancing.
“Iya … betul
juga. Saya saat ini tidak tahu apa kelebihan saya. Yang saya tahu, kami tidak
punya apa-apa. Bahkan untuk makan saja, kami mengalami kesulitan. Untung Kakak
hari ini membawakan nasi tim untuk mama, kalau tidak, saya tidak tahu bagaimana
mama makan nanti” Jonas sudah lebih terbuka.
“Oh begitu.
Apakah tidak ada keluarga lain yang bisa membantu kamu dan mamamu?” Yakob jadi penasaran.
“Keluarga lain
ada, namun mereka tidak ada yang mau membantu” Jonas seperti kehilangan
pengharapan.
“Kamu jangan sedih.
Masih ada pribadi yang mau menerima semua letih lesu kita asalkan kita mau
percaya kepadaNya!” Yakob membuka pemberitaan kabar baik.
“Maksud Kakak,
Tuhan Yesus? Saya sudah mencoba , namun hasilnya tidak ada!” Jonas berkata
setengah menyalahkan.
“Kamu sudah
dengar tentang Tuhan Yesus? Di mana?” Yakob terkejut.
“Sudah. Kan di
sekolah ada pelajaran agama!” Jonas mengingatkan.
“Apakah kamu
sudah menerima Yesus sebagaiTuhan dan Juruselamatmu?” Yakob ingin tahu.
“Eh belum Kak.
Saya masih ragu!” Jonas mengutarakan perasaannya.
“Apa yang
membuatmu ragu?” Yakob menyelidiki.
“Saya ….. eh….
Maaf saya tidak bisa bercerita sekarang Kak!” Jonas masih ragu membagi
kisahnya.
“Iya.. tidak
apa-apa. Kamu mau siap-siap sekolah?” Yakob mengingatkan.
“Betul Kak. Kak,
saya senang Kakak mau datang hari ini!” Jonas mengutarakan rasa gembiranya.
“Saya juga
senang, bisa datang! Kalau boleh nanti saya datang lagi!” Yakob mengutarakan
niatnya.
“Serius Kak?
Saya tunggu ya janji Kakak!” Jonas mencatatnya dalam hati.
“Ngomong-ngomong,
nanti malam kamu mau beli makan?” Yakob teringat mama Jonas yang sakit.
“Eh… sepertinya
begitu… tetapi tidak tahu juga…” ada nada keraguan pada diri Jonas.
“Begini saja.
Nanti malam saya buatkan bubur untuk mamamu. Kamu suka bubur?” Yakob menatap
Jonas.
“Saya sih apa
saja suka, Kak. Terima kasih ya Kak sebelumnya!” Jonas berseri-seri.
“Jiah….. gitu
amat sih. Jadi sungkan nih Kakak!” Yakob pura-pura meledek Jonas.
“Memang betul
Kak. Saya kan tidak punya teman apalagi Kakak. Jadi saya senang kalau Kakak mau
sering-sering datang ke mari!” Jonas mengharapkan.
“Ok… kalau kakak
ada waktu, Kakak akan ke mari. Atau sebaliknya kamu yang datang ke tempat
Kakak!” undang Yakob.
“Eh…. Boleh
juga.” Jonas senang diundang Yakob.
“Baiklah. Kalau
begitu Kakak pulang sekarang ya. Nanti malam Kakak datang lagi!” Yakob pamit.
“Sekarang saya mau pamit dengan mamamu!”
Jonas melihat ke
kamar. Tampaknya mamanya tertidur pulas.
“Kak, mama
sedang tidur. Nanti saya sampaikan saja” Jonas memberi informasi.
“Okey…. Sampai
ketemu lagi malam nanti! Konsentrasi ya belajar biar cepat pandai!” Yakob
mengingatkan sambil melangkah keluar rumah Jonas.
“Iya… Kak.
Sampai jumpa nanti malam!” Jonas melambaikan tangan.
Dengan cepat
Yakob kembali ke GeYeSKu. Jonas memandangi sebentar kepergian Yakob lalu
kembali ke dalam untuk mempersiapkan alat-alat sekolahnya.
-o0o-
“Jonas…!”
tiba-tiba terdengar suara dari dalam kamar.
Jonas pun segera
ke kamar mamanya.
“Mama sudah
bangun?” Jonas heran.
“Benar. Mama
juga tidak tahu, mengapa mama bisa tidur
dengan nyenyak dengan adanya Yakob! Rasanya beban berat yang mama rasakan
selama ini terangkat! Mama rasanya lega.” Mama Jonas menjelaskan.
“Oh begitu!”
Jonas tiba-tiba teringat. Sewaktu Yakob datang dan berdoa, mahluk hitam yang
biasanya ada di dekat mamanya tidak berani mendekat dan akhirnya menghilang!
“Jonas,
bagaimana Yakob menurutmu?” mamanya ingin tahu pendapat anaknya.
“Saya sangat
senang dengan Yakob ma. Saya seakan punya Kakak yang bisa membimbing saya!”
Jonas tidak dapat menutupi kesenangan hatinya.
“Benar! Mama
juga dapat merasakan ketulusan dan kebaikannya. Mama bersyukur kamu bisa
mengenalnya.” Mama Jonas sependapat.
“Saat dia ada di
sini, mahluk hitam yang mengganggu mama ketakutan dan menghilang!” Jonas memberi
informasi yang dibutuhkan mamanya.
“Oh pantas!
Dengan adanya Yakob, mama bisa tidur tenang” Mamanya bersyukur.
“Bagaimana
dengan mama sendiri? Apa yang mama rasakan saat Yakob ada di dekat mama?” Yakob
ingin tahu.
“Mama dapat
merasakan aliran enersi yang luar biasa! Mama tidak pernah merasakan enersi
seperti itu. Itu enersi yang dapat hanya dapat dimiliki oleh orang-orang yang benar-benar terpilih. Yakob
pasti orang terpilih!” mama Jonas menjelaskan.
“Berarti Yakob
itu memang sangat spesial. Dia bahkan dikelilingi oleh sosok terang yang
menjaganya dari serangan mahluk hitam!” Jonas menambahkan.
“Enersi yang
dimiliki itu seperti aliran enersi cinta, namun berbeda dengan cinta yang biasa
antara pria-wanita, beda juga dengan cinta antar anggota keluarga atau teman.
Enersi cinta ini benar-benar luar biasa kuat dan damainya!” mamanya juga
menambahkan.
Rupanya mama dan
anak ini punya kelebihan. Jonas dapat melihat demon dan malaikat. Sedangkan
mamanya dapat merasakan enersi cinta ilahi. Keduanya memang memiliki kemampuan
yang berbeda. Hanya sedikit sekali orang yang punya kemampuan seperti ini. Sebenarnya
kemampuan melihat demon dimiliki oleh sedikit orang. Namun untuk melihat sosok
terang seperti malaikat, jauh lebih sedikit lagi. Karena itu harus disertai
dengan hati yang bersih. Jonas pun hanya bisa melihat demon dengan jelas. Untuk
malaikat yang dilihatnya hanya sosok terang atau sinar terang saja. Anehnya ,
mama Jonas bisa memiliki kemampuan merasakan enersi ilahi. Itu benar-benar
sangat langka. Biasanya hanya para hamba Tuhan yang mampu memilikinya. Itu pun
hamba Tuhan yang benar-benar terpilih. Mengapa mereka berdua bisa memiliki
kemampuan ini? Hanya Allah yang tahu.
-o0o-
“Halo?” suara di
seberang terdengar.
“Selamat siang
Anton. Kamu sekolah di SeYeSKu kan?” Yakob mengingat-ingat.
“Betul Kak!”
Anton membenarkan.
“Kamu kenal
dengan siswa yang namanya Jonas?” Yakob ingin tahu.
“Tahu. Ada apa
dengannya, Kak?” Anton gantian ingin tahu.
“Saya baru dari
rumahnya. Sepertinya ia mengalami kesulitan dalam bergaul di sekolah ya?” Yakob
menggali informasi.
“Betul Kak. Ia
suka menyendiri. Kalau didekati, sepertinya tidak suka!” Anton memberi masukan.
“Oh gitu. Tapi
mau kan kamu mencoba mendekatinya lagi kan?. Ia anaknya baik. Saya tadi ke rumahnya.
Mamanya sedang sakit. Hidupnya prihatin dan sangat sederhana dan ia sudah tidak
punya papa lagi!” Yakob meminta bantuan Anton.
“Wah pantas ia
jadi tertutup ya? Kalau begitu nanti di sekolah kalau bertemu, saya akan coba
ajak ngobrol. Moga-moga dia lebih terbuka!” Anton berkata memberi harapan.
“Tidak salah…
kamu jadi aktifis di gereja! Saya percaya padamu. Kamu pasti bisa!” Yakob
berusaha membesarkan hati remaja binaannya itu.
“Ah Kakak bisa
saja... Saya sih masih jauh…” Anton merendah.
“Ha…ha… kamu
memang pintar merendah. Saya suka orang
yang rendah hati!” Yakob memuji Anton.
“Penginjil juga
berdoa ya… untuk misi saya ini!” Anton tidak lupa menitip pesan.
“Tentu, saya
akan doakan usaha kamu bisa berhasil!” Yakob meyakinkan.
“Baiklah. Kalau
begitu sampai nanti!” Anton memberi salam penutup.
“Ok. Semangat ya
bersekolah. Tuhan memberkati” Yakob pun menutup teleponnya.
Yakob berharap
dalam hati, agar Anton dan para aktifis yang melayani di persekutuan remaja
dapat menjadi teman yang baik untuk Jonas.
“Bapa di dalam
sorga, tolonglah Anton dan para teman-teman aktifis lainnya untuk boleh
menjangkau Jonas. Amin” Yakob berdoa dalam hati.
-o0o-
“Halo?” suara di
seberang menyapa.
“Selamat siang
Pak Simon! Ini dengan Yakob Pak!” Yakob memperkenalkan diri.
“Oh Ev. Yakob.
Ada yang bisa saya bantu?” Simon tahu pasti ada kebutuhan terkait dengan pelayanan.
“Pak Simon.
Barusan saya ke rumah seorang anak SMA yang bersekolah di SeYeSKu. Namanya
Jonas. Ia punya mama yang sedang sakit. Rumahnya di Jl. Teguh no 11C. Apa Pak
Simon kenal?” Yakob mencari informasi.
“Oh… rumah yang
kecil itu ya? Saya hanya tahu keluarga itu terdiri dari ibu dan anak saja. Tapi
saya tidak kenal, karena mereka jarang bergaul dengan tetangga.” Simon
menjelaskan.
“Pak Simon, boleh
saya minta bantuan Bapak dan istri untuk membesuknya? Mereka berdua sedang
dalam kesulitan. Mama Jonas sakit dan sepertinya butuh bantuan karena tidak ada
yang memasak, sedangkan untuk membeli makanan mereka sangat terkendala dengan
dana.” Yakob menjelaskan.
“Oh begitu!
Kalau begitu nanti malam, saya dan istri akan ke sana” Simon dengan antusias
ingin membantu.
“Terima kasih
Pak Simon. Rencana malam ini saya akan ke sana!” Yakob menyampaikan rencananya
“Baiklah. Kalau
begitu kami juga akan ke sana malam ini!” Simon memutuskan.
“Nah sampai
ketemu nanti malam” Yakob pun memutuskan hubungan.
-o0o-
“Ma Jonas
sekolah dulu ya!” Jonas pamitan sambil memastikan kebutuhan mamanya sudah ada.
“Iya Jonas.
Belajar yang rajin ya!” pesan mamanya.
“Ma, jangan lupa
dimakan lagi nasi tim dan obatnya!” Jonas ingin memastikan.
“Iya. Kamu
jangan pulang telat ya!” mamanya khawatir juga ada apa-apa.
“Sampai malam ya
ma..” Jonas melambaikan tangan lalu melangah ke luar.
“Hati-hati ya di
jalan…” mama Jonas pun melanjutkan istirahatnya.
-o0o-

No comments:
Post a Comment