(Episode 1)
NASI
GORENG BANG ROCKY
Gelap malam
memenuhi cakrawala kota Jakarta termasuk di seputar Jalan Mangga Besar. Namun kepekatan
malam sedikit dikalahkan pendaran cahaya lampu yang terpasang pada bangunan di
sepanjang jalan Mangga Besar V. Untaian
air hujan masih turun tipis membasahi bumi, namun tekad seorang pemuda etnis
Tionghoa tidak surut. Usianya paling banyak 25 tahun. Dengan postur tubuh
sedang , berkulit putih dan berwajah menarik ia berada pada puncak kondisi
untuk beraktifitas dan menarik lawan jenis.
Dilangkahkan
kakinya keluar sebuah gedung. Profil gedungnya sendiri sangat khas. Ada tanda
salib besar berwarna keperakan di dinding bagian depan gedung itu. Di sebelah depan
ada lampu yang menyoroti tulisan “Gereja Yesus Satu-Satunya Juruselamatku”
(GeYeSKu). Di bawahnya tertulis terjemahan bahasa Inggrisnya “Jesus is My Only
Savior Chruch” (JiMOS). Sang Pemuda terus
menapakkan kakinya menyusuri pinggir kali di depan gedung gereja. Jalan yang sedikit
berair tidak menjadi halangan. Sesekali air terciprat dari alas kaki yang
dipakainya. Matanya menyorot tajam membelah pekatnya malam. Akhirnya retinanya tertumbuk
pada apa yang sedang dicarinya. Tidak jauh dari keberadaannya, terparkir sebuah
gerobak dorong. Di gerobak itu tertempel tulisan “Nasi Goreng Ayam Bang Rocky” dengan
singkatan “Nagoya Baki” di bawahnya.
Sementara
itu secara tidak kasat mata berseliweran
mahluk-mahluk gelap di sekitar jalan yang dilalui Sang Pemuda. Mahluk-mahluk
ini memang roh adanya. Mata manusia biasa tidak bisa melihatnya. Hanya manusia
tertentu yang dapat melihat mahluk ini. Mahluk-mahluk ini mengamati langkah cepat
Sang Pemuda menuju gerobak nasi goreng. Mereka berasal dari kasta setingkat prajurit
yang bertugas mengamati dan mengganggu manusia.
Khusus untuk pemuda ini atasan mereka
tampaknya ingin turun tangan sendiri. Sepertinya atasan mereka tidak percaya
dengan prestasi yang telah mereka capai selama ini. Siapa yang tidak kenal
daerah Mangga Besar sebagai area lampu merah dan narkoba? Berapa banyak para
lelaki hidung belang yang memuaskan hasrat kedagingan mereka di sini? Sudah
berapa banyak orang muda yang terjerat dan ketagihan obat-obatan? Sudah berapa
banyak bangunan yang beralih fungsi sebagai tempat untuk transaksi bisnis
esek-esek? Itu prestasi mereka. Awalnya mereka menganggap Sang Bos mereka ini sangat berlebih-lebihan. Namun
saat melihat sosok Sang Pemuda mereka
segera maklum.
Sang
Pemuda memang bukan orang sembarangan!
Ia mengenakan pakaian putih yang juga hanya bisa dilihat oleh mahluk roh seperti
mereka. Itulah jubah putih yang hanya diberikan kepada orang-orang percaya! Di
daerah Mangga Besar dapat dikatakan jarang ada orang yang memakai jubah khusus tersebut. Jubah yang
hanya diberikan kepada orang-orang yang berjalan sesuai dengan kehendakNya!
Siapakah sebenarnya Sang Pemuda?
Sementara itu Sang
Pemuda sudah mencapai gerobak yang dituju. Kebetulan tidak ada orang
lain yang sedang membeli nasi goreng. Mungkin karena pengaruh hujan yang belum
rela berhenti sepenuhnya. Penjualnya sedang duduk santai.
“Selamat malam
Pak Rocky” sapa Sang Pemuda. Ia menduga
nama sang pedagang yang sudah setengah baya
itu dari nama yang tertera di kaca gerobaknya.
“Selamat malam.
Mau dibuatkan apa nih?” Abang penjual nasi goreng, balas menyapa sekaligus
berdiri menyambut Sang Pemuda. Ternyata dugaan Sang Pemuda benar. Sang pedagang tidak memperbaiki nama panggilannya.
Rocky sendiri baru
kali ini bertemu calon pembeli yang menyapanya terlebih dahulu. Itu sudah
langka di ibukota Indonesia ini.
Keramahan yang menjadi trade-mark
orang Indonesia sejak zaman dulu entah menguap ke mana. Biasanya para pembeli
langsung minta dibuatkan nasi goreng.
“Pak Rocky,
tolong buatkan seporsi nasi goreng ya!” pinta Sang Pemuda.
“Pedas?” Rocky
meminta persetujuan.
“Sedang saja
Pak!” Sang Pemuda menjawab sambil
tersenyum.
Rocky langsung
membuat pesanan Sang Pemuda.
“Sudah lama Pak
jualan di sini?” Sang Pemuda mencoba berbincang
santai.
“Sudah dua tahun
“ Rocky menjawab singkat sambil
membersihkan kuali.
“Pak asal luar
kota ya?” Sang Pemuda tampaknya ingin
bercakap-cakap.
“Saya asal Tegal
Dik!” Rocky menuang minyak goreng beberapa sendok ke kuali.
“Kalau saya asal
Bangka Pak!” Sang Pemuda memberi
informasi tanpa ditanya.
“Wah… Pak Rocky
cekatan sekali ya tangannya!” Sang Pemuda
melihat Rocky menuang adukan telur dicampur dengan garam dan irisan sayur ke
dalam minyak yang dengan cepat mendidih.
“Terima kasih
pujianmu. Kamu sepertinya belum lama di sini ya?” Rocky gantian bertanya.
Mungkin supaya Sang Pemuda tidak banyak
bertanya.
“Betul Pak. Saya
baru sekitar sebulan di Jakarta” Sang Pemuda
membenarkan.
“Pantas ya.
Kalau orang Jakarta biasanya sudah jarang yang mau bicara dengan orang kecil
seperti saya” Rocky sepertinya sedang memprotes keangkuhan penduduk Jakarta.
“Oh ya? Masa
separah itu? Saya biasa di Malang ngobrol dengan siapa saja. Dari tukang beca
sampai bos-bos perusahaan besar” Sang Pemuda
keheranan.
“Dik, namanya
siapa kalau boleh tahu?” Rocky bertanya sambil mengaduk nasi putih dengan
bumbu-bumbu serta kecap.
“Eh… maaf lupa
memperkenalkan diri. Nama saya Yakobus. Biar gampang panggil saja Yakob!” Sang Pemuda sedikit tidak enak hati.
“Nak Yakob
tinggal dekat sini?” Rocky masih mengaduk nasi karena ingin memastikan tidak
ada bagian yang belum rata warnanya.
“Betul Pak! Itu
gedung yang di depannya ada tanda salib!” Yakob menjelaskan.
“Oh kamu dari Gereja
Yesus … apa gitu?” Rocky agak lupa.
“Gereja Yesus Satu-Satunya
Juruselamatku!” Yakob menyempurnakan.
“He…eh… lupa!
Padahal tiap hari lewat situ!” Rocky menuang nasi goreng yang sudah matang ke
piring lalu mengambil sendok, menaruh acar dan kerupuk dan segera menyajikannya
di hadapan Yakob.
“Terima kasih
Pak Rocky sudah membuatkan saya nasi goreng. Perut saya sudah keroncongan dari
tadi!” Yakob langsung mendekatkan piringnya.
Rocky merasa
aneh. Baru kali ini ada pembeli yang mengucapkan terima kasih kepadanya.
Tanpa menunda
Yakob menutup kedua matanya dan melipat kedua tangannya. Mulutnya
berkomat-kamit mengucapkan syukur atas nasi goreng itu.
“Pak Rocky saya
makan dulu ya.. ” Yakob memberi salam setelah
selesai berdoa.
“Eh… silahkan
makan Dik Yakob. Semoga suka masakan Bapak!” Rocky berkata sambil tersenyum.
Rocky dapat merasakan keunikan pembeli yang satu ini.
“Hm…. Nikmat!
Ngomong-ngomong Pak Rocky sendiri sudah makan?” tanya Yakob tiba-tiba ingin
tahu.
“Belum! Nanti
saja! Kalau Dik Yakob sendiri bisa masak
nasi goreng?” Rocky balas bertanya.
“Eh… bisa Pak.
Saya di kampus diajar untuk bisa mandiri. Jadi saya juga pernah masak nasi
goreng!” Yakob sepertinya sangat kelaparan. Diserbunya nasi goreng buatan
Rocky. Dengan cepat piringnya tandas!
“Waduh … lapar
atau lapar?” Rocky menggoda.
“Mau tahu aja
atau mau tahu banget?” Yakob tidak mau kalah.
“Atau saja
deh..!” Rocky memilih jalan aman.
“Hmm…. Jadi
berapa nih Pak?” Yakob minum teh yang dihidangkan sekalian mengeluarkan
dompetnya.
“Rp 12.000. Maaf
Sejak kemarin harganya naik. Maklum harga-harga bahan sedang tinggi!” Rocky
memohon pengertian sambil menerima uang Rp 50.000-an yang disodorkan Yakob.
“Eh… tidak
apa-apa Pak. Saya juga mengerti!” Yakob menerima kembalian uang dari Rocky.
“Iya sama-sama.”
Rocky merapikan barang-barangnya
Yakob pun
memasukkan uang kembalian ke dompetnya. 2 lembar uang Rp 20.000-an dan 1 lembar
Rp 5.000-an. Tiba-tiba Yakob berhenti memasukkan uang.
“Lho Pak Rocky.
Ini kembaliannya kelebihan! Harusnya kembali Rp 38.000, ini Rp 45.000. Jadi
kelebihan Rp 7.000!” Yakob mengembalikan semua uang yang tadi diterimanya.
“Oh iya. Sudah
pikun saya! Terima kasih. Pasti gara-gara umur!” Rocky lalu menghitung kembali
uangnya sebanyak Rp 38.000 lalu memberikannya ke Yakob.
“Nah ini baru
benar Pak!” Yakob memasukkan uang kembalian tersebut ke dompetnya.
Secara
tidak kasat mata, mahluk-mahluk hitam dan atasannya memperhatikan hal kecil ini
dengan kecewa. Upaya mereka untuk menjebak Yakob gagal.
“Nak Yakob yakin
sudah kenyang?” Rocky sepertinya bisa menebak ukuran perut Yakob.
“Hm.... malu nih
saya. Memang lagi lapar berat! Tapi kalau mau ikuti nafsu, bisa obesitas
nanti!” Yakob sedikit ragu-ragu untuk pergi.
“Sudah duduk saja.
Nanti Bapak buatkan lagi!” Rocky menawarkan.
“Eh…. “ Yakob
tambah ragu-ragu.
“Ayo duduk
saja!” Rocky menyeret Yakob untuk duduk di tempat tadi.
“Hm…. Begini
saja. Boleh tidak saya buat sendiri nasi gorengnya? Sekalian ingin
mempraktekkan ilmu buat nasi goreng yang saya lihat dari Bapak!” Yakob rupanya
tertarik dengan kepiawaian Rocky.
Rocky merasa
ragu. Namun melihat pancaran wajah dan sorot mata Yakob, ia tidak tega
menolaknya. Rocky pun memberikan penggorengannya kepada Yakob. Tidak ada
ruginya juga buat dia.
Yakob langsung
menyambutnya. Dengan cepat ia pun mulai proses membuat nasi goreng. Ia
melakukannya persis yang dilakukan Rocky. Rocky memandang kagum dengan
kecepatan kerja Yakob. Memang terlihat sedikit kaku, namun hal itu karena ia
belum terbiasa menggunakan peralatan miliknya. Secara keseluruhan kemampuan
Rocky tidak berada di bawahnya! Namun jumlah nasi yang diambil pun terlalu
banyak. Tapi Rocky membiarkan saja. Setelah selesai, Yakob mengambil 2 buah
piring dan membagi hasil masakannya ke dalam kedua piring itu!
Rocky terkejut
ketika Yakob menyodorkan 1 piring di depannya.
“Ayo Pak Rocky
kita makan bersama! Bapak belum makan kan?” Yakob gantian menarik tangan Rocky
dan membawanya duduk di sebelahnya.
“Eh….” Rocky
jadi salah tingkah.
“Ayo dong Pak temani
saya makan! Saya yang traktir!” Yakob memohon.
“Waduh Nak
Yakob, buat Bapak malu saja. Masa saya yang dimasakin?” Rocky masih belum bisa
menerima.
“Sudahlah Pak.
Jangan dipikirin! Sekarang kita sama-sama menikmati nagoya (nasi goreng ayam,
red) buatan saya. Please!” lagi-lagi
Yakob memohon.
“Baiklah Nak.
Anggap saja ini rejeki buat Abang di tengah sepinya pembeli gara-gara hujan
ini!” akhirnya Rocky mengambil piringnya dan menikmati nagoya buatan Yakob.
Sudah lama Rocky memasak sendiri makanannya. Terasa ada yang berbeda dengan
perlakuan Yakob.
“Bagaimana Pak
rasanya?” Yakob meminta masukan.
“Pancen oye…. Nikmat banget!” Rocky
memberi pujian sambil terus menikmati makan malamnya dengan santai.
Tiba-tiba datang
seorang anak yang masih remaja. Sepertinya baru masuk SMA.
“Pak, pesan 2
bungkus nasi goreng ya. Satu pedas Satu biasa saja.” Pesan Sang Remaja sambil
menatap takjub ke arah Yakob.Sepertinya ada yang aneh dari keberadaan Yakob.
Entah apa yang dia lihat.
Rocky segera
bangkit dari tempat duduknya ingin meninggalkan makanannya. Namun gerakannya
ditahan oleh Yakob.
“Biar saya yang
membuatkannya. Bapak duduk saja menikmati makan malam Bapak!” Yakob yang memang
cepat makannya sudah selesai. Lalu ia mendahului Rocky mengambil alat penggorengan.
Rocky terpaksa duduk kembali.
“Wah Pak Rocky
sekarang punya asisten ya?” Sang Remaja berkomentar. Rupanya ia sudah menjadi
pelanggan Bang Rocky.
“Kebetulan saja
Dik!” Yakob yang menjawab. “Adik belum makan sampai jam segini?” Yakob mencoba
mengajak Sang Remaja bercakap-cakap agar tidak jenuh menunggu.
“Ehm…. Belum.
Mama tidak masak karena sakit!” Sang Remaja menjelaskan.
“Sakit apa?
Sudah berapa lama?” Yakob ingin tahu.
“Tidak tahu.
Mama bilang tidak enak badan. Mama memang sudah berkali-kali tidak enak badan.
Entah mengapa?” Sang Remaja menjadi muram.
“Memang belum dibawa
ke dokter?” Yakob jadi bertanya-tanya.
“Sudah! Sudah sering
dibawa ke puskesmas namun begitulah. Sebentar sembuh, sebentar sakit lagi.”
Sang Remaja sepertinya sudah putus asa dengan kondisi mamanya.
“Minta papamu
bawa ke rumah sakit!” Yakob menyarankan.
“Papa sudah
pergi selamanya. Hanya mama yang ada!” Sang Remaja berkata memelas.
“Oh maaf. Papamu
meninggal karena apa? Mamamu kerja apa?” Yakob bertanya sambil memasukkan nasi
putih sebanyak 2 porsi ke kuali.
“Papa meninggal
karena sakit jantung. Mama kerja jahit baju! Tapi sekarang sedang tidak kerja
karena sakit!” Sang Remaja menjelaskan lebih dari yang diminta.
“Ngomong-ngomong
kamu namanya siapa? Saya Yakob” Yakob tertarik dengan kisah Sang Remaja.
“Saya Jonas,
Kak!” Sang Remaja menyambut perkenalan Yakob.
“Boleh tahu
alamat rumahmu? Nanti Kakak mau besuk mamamu kalau boleh” Yakob bertanya sambil
mengaduk nasi yang sudah diberi bumbu. Pekerjaannya sekarang tambah cekatan.
“Benar ya Kak? Rumah
saya masuk gang sebelah situ Kak” Jonas berkata sambil menunjuk sebuah gang
kecil yang gelap tanpa penerangan. “Nomor 11c. Di sebelah kiri. Pintu warna
hijau” Jonas melanjutkan penjelasan. Raut wajahnya menunjukkan ia mengharapkan realisasi
janji Yakob.
“Benar dong.
Besok Kakak ke rumahmu ya. Kamu sendiri sekolah kelas berapa?” Yakob
menyelesaikan adukannya lalu mengambil kertas nasi berwarna coklat. Ia menaruh
sebagian nasi goreng yang dibuatnya pada kertas nasi coklat yang ada di bagian dalam
gerobak. Lalu ia menaruh lagi kuali di atas nyala api dan menambahkan sambal ke
nasi goreng yang masih ada di kuali.
“Saya SMA kelas 1,
Kak. Kalau Kakak tinggal di mana ya?” Jonas mulai berani bertanya.
“Saya di gedung
itu” Yakob berhenti sejenak untuk menunjukkan tempatnya.
“Maksud Kakak,
Gereja Yesus Satu-Satunya Juruselamatku?” Jonas berkata dengan sedikit nada
was-was.
“Benar! Kamu
pernah datang?” Yakob menyelesaikan adukannya lalu menuang nasi goreng pedasnya
ke atas kertas nasi yang sudah disiapkan tadi bersama kertas nasi untuk nasi
goreng biasa.
“Ehm…… Belum
pernah Kak! Tapi mama saya dulu katanya ingin ke sana tapi tidak pernah sempat”
Jonas menjelaskan.
“Oh begitu. Nah,
ini nasi gorengnya. Yang Kakak robek sedikit ujungnya sebagai tanda yang pedas
ya!” Yakob menyodorkan kedua bungkus nasi goreng yang sudah dimasukkan ke dalam
plastik hitam bersama 2 buah bungkusan krupuk.
“Terima kasih
Kakak!” Jonas menerimanya seraya mengambil uang di kantongnya.
“Eh tidak usah!
Kali ini Kakak yang traktir. Buat kenalan denganmu dan sekalian titip salam
buat mamamu ya!” Yakob menolak uang yang disodorkan Jonas.
“Jangan ah Kak! Tidak
baik tergantung dari belas kasihan orang!” Jonas menolak dan terus menaruh
uangnya di papan penyajian makanan di gerobak Bang Rocky.
“Lho, Kakak kan
tidak memberi sumbangan, tapi Kakak hanya mentraktir kamu saja. Bolehkan?”
Yakob mendesak.
“Saya sudah
senang bisa berkenalan dengan Kakak. Itu lebih dari cukup. Tidak perlu
membayarkan makanan lagi. Rasanya seperti membeli pertemanan” Jonas ngotot
menolak.
“Ya sudahlah.
Tapi Kakak bolehkan ke rumahmu besok?” Yakob ingin memastikan.
“Tentu saja.
Saya sekolah siang. Jadi kalau mau, Kakak bisa datang pagi. Kalau siang saya tidak
ada, jadi nanti tidak ada yang bukakan pintu!” Jonas memberi masukan.
“Baiklah. Besok
kakak datang pk 10 pagi ya.” Yakob dalam hati merasa senang berkenalan dengan
Jonas yang punya sikap teguh dan tidak berjiwa peminta-minta.
“Sampai ketemu
besok ya Kak!” Jonas pamit lalu melangkah menuju gang sempit gelap yang tadi
dia tunjukkan ke Yakob.
Sesosok
mahluk gelap tidak kasat mata mengikuti langkah Jonas. Mahluk ini tadi tidak
berani terlalu dekat dengan Jonas saat ia berada dengan Yakob. Pancaran sinar
dari jubah putih yang dikenakan Yakob membuatnya tidak tahan. Ia merasakan
sakit seperti tertusuk-tusuk. Mahluk ini merasa khawatir akan rencana kunjungan
Yakob besok. Namun ia sudah melihat bahwa atasannya Sang Bos juga sudah tahu
rencana Yakob. Sang Bos memang berada tidak jauh dari tempat itu. Kalau Sang
Bos sudah turun tangan berarti pihak lawan bukan lawan yang mudah sehingga ia
maklum akan rasa sakit yang tadi dia rasakan saat berada dekat dengan Yakob.
Sekarang ia sudah lega berada jauh darinya.
Yakob
melambaikan tangannya ke arah Jonas. Setelah Jonas tidak dilihatnya lagi, Yakob
berpaling ke Rocky sambil mengeluarkan uang sebanyak Rp 24.000 dan
dimasukkannya ke laci yang ada di gerobak.
“Eh Dik Yakob,
tidak perlu bayar. Masa saya dibayarin lagi?” cepat-cepat Rocky mengeluarkan
uang yang dimasukkan Yakob tadi. Setelah itu ia bermaksud mengembalikannya ke
Yakob.
“Kan saya sudah
janji untuk traktir. Janji adalah janji! Tidak boleh sampai ingkar! Sampai
bertemu lagi Pak Rocky. Saya akan mampir lagi nanti!” Yakob cepat-cepat berlalu
sambil melambaikan tangan.
Rocky tidak
keburu mengembalikan uangnya dan hanya bisa menghela nafas. Namun bukan
pertanda kegalauan tetapi tanda keheranan bertemu dengan orang aneh seperti
Yakob. Di tengah dunia yang acuh, kehadiran Yakob terasa memberi angin segar
baginya. Tadi pun dia sudah menguji kejujuran Yakob dengan memberi uang
kembalian dalam jumlah lebih. Ia sengaja melakukannya. Memang tidak salah
penglihatannya bahwa Yakob bukan pemuda sembarangan! Ia memiliki tingkat
kewaspadaan tinggi sehingga mampu mendeteksi perbuatannya dan integritas untuk
mengembalikan uang yang bukan miliknya!
Sebelumnya ia
pernah mengalami kekecewaan terhadap orang-orang dari gereja itu, entah benar
atau tidak karena setelah kejadian itu ia tidak pernah melihatnya lagi. Saat
itu mereka datang bergerombol bersamaan dengan jemaat dari gereja itu. Mereka
memesan nasi goreng dalam jumlah banyak, namun setelah itu satu per satu
menghilang sebelum mereka membayarnya! Hanya tersisa sebagian yang dengan jujur
membayarnya. Ia sudah menanyakan ke orang yang tersisa, katanya mereka juga
tidak mengenal orang-orang yang tidak membayar tersebut. Karena ia tidak tahu
latar belakangnya, ia menyalahkan pihak gereja. Namun melihat peristiwa malam
ini, ia mengkaji kembali pendapatnya. Kemungkinan besar memang orang-orang itu
hanya kebetulan saja datang bersamaan dengan orang-orang dari gereja. Kalau hal
itu benar, berarti selama ini ia sudah salah persepsi! Persepsi yang membuatnya
memendam rasa sakit di lubuk hatinya.
Tak lama
kemudian, gerobaknya sudah didatangi oleh para pembeli lainnya. Ia pun tidak
bisa memandang Yakob lagi….
-o0o-

No comments:
Post a Comment