Saturday, December 19, 2015

Coram Deo - Ep 1 Nasi Goreng Bang Rocky


CORAM DEO
 (Episode 1)

NASI GORENG BANG ROCKY

Gelap malam memenuhi cakrawala kota Jakarta termasuk di seputar Jalan Mangga Besar. Namun kepekatan malam sedikit dikalahkan pendaran cahaya lampu yang terpasang pada bangunan di sepanjang jalan Mangga Besar V.  Untaian air hujan masih turun tipis membasahi bumi, namun tekad seorang pemuda etnis Tionghoa tidak surut. Usianya paling banyak 25 tahun. Dengan postur tubuh sedang , berkulit putih dan berwajah menarik ia berada pada puncak kondisi untuk beraktifitas dan menarik lawan jenis.

Dilangkahkan kakinya keluar sebuah gedung. Profil gedungnya sendiri sangat khas. Ada tanda salib besar berwarna keperakan di dinding bagian depan gedung itu. Di sebelah depan ada lampu yang menyoroti tulisan “Gereja Yesus Satu-Satunya Juruselamatku” (GeYeSKu). Di bawahnya tertulis terjemahan bahasa Inggrisnya “Jesus is My Only Savior Chruch” (JiMOS). Sang  Pemuda terus menapakkan kakinya menyusuri pinggir kali di depan gedung gereja. Jalan yang sedikit berair tidak menjadi halangan. Sesekali air terciprat dari alas kaki yang dipakainya. Matanya menyorot tajam membelah pekatnya malam. Akhirnya retinanya tertumbuk pada apa yang sedang dicarinya. Tidak jauh dari keberadaannya, terparkir sebuah gerobak dorong. Di gerobak itu tertempel tulisan “Nasi Goreng Ayam Bang Rocky” dengan singkatan “Nagoya Baki” di bawahnya.

Sementara itu  secara tidak kasat mata berseliweran mahluk-mahluk gelap di sekitar jalan yang dilalui Sang Pemuda. Mahluk-mahluk ini memang roh adanya. Mata manusia biasa tidak bisa melihatnya. Hanya manusia tertentu yang dapat melihat mahluk ini. Mahluk-mahluk ini mengamati langkah cepat Sang  Pemuda menuju gerobak nasi goreng.  Mereka berasal dari kasta setingkat prajurit yang bertugas mengamati dan mengganggu manusia.

 Khusus untuk pemuda ini atasan mereka tampaknya ingin turun tangan sendiri. Sepertinya atasan mereka tidak percaya dengan prestasi yang telah mereka capai selama ini. Siapa yang tidak kenal daerah Mangga Besar sebagai area lampu merah dan narkoba? Berapa banyak para lelaki hidung belang yang memuaskan hasrat kedagingan mereka di sini? Sudah berapa banyak orang muda yang terjerat dan ketagihan obat-obatan? Sudah berapa banyak bangunan yang beralih fungsi sebagai tempat untuk transaksi bisnis esek-esek? Itu prestasi mereka. Awalnya mereka menganggap Sang  Bos mereka ini sangat berlebih-lebihan. Namun saat melihat sosok Sang  Pemuda mereka segera maklum.

Sang  Pemuda memang bukan orang sembarangan! Ia mengenakan pakaian putih yang juga hanya bisa dilihat oleh mahluk roh seperti mereka. Itulah jubah putih yang hanya diberikan kepada orang-orang percaya! Di daerah Mangga Besar dapat dikatakan jarang ada orang  yang memakai jubah khusus tersebut. Jubah yang hanya diberikan kepada orang-orang yang berjalan sesuai dengan kehendakNya! Siapakah sebenarnya Sang Pemuda?

Sementara itu Sang  Pemuda sudah mencapai  gerobak yang dituju. Kebetulan tidak ada orang lain yang sedang membeli nasi goreng. Mungkin karena pengaruh hujan yang belum rela berhenti sepenuhnya. Penjualnya sedang duduk santai.

“Selamat malam Pak Rocky” sapa Sang  Pemuda. Ia menduga nama sang  pedagang yang sudah setengah baya itu dari nama yang tertera di kaca gerobaknya.

“Selamat malam. Mau dibuatkan apa nih?” Abang penjual nasi goreng, balas menyapa sekaligus berdiri menyambut Sang Pemuda. Ternyata dugaan Sang  Pemuda benar. Sang  pedagang tidak memperbaiki nama panggilannya.


Rocky sendiri baru kali ini bertemu calon pembeli yang menyapanya terlebih dahulu. Itu sudah langka di ibukota Indonesia ini.  Keramahan yang menjadi trade-mark orang Indonesia sejak zaman dulu entah menguap ke mana. Biasanya para pembeli langsung minta dibuatkan nasi goreng.

“Pak Rocky, tolong buatkan seporsi nasi goreng ya!” pinta Sang  Pemuda.

“Pedas?” Rocky meminta persetujuan.

“Sedang saja Pak!” Sang  Pemuda menjawab sambil tersenyum.

Rocky langsung membuat pesanan Sang  Pemuda.

“Sudah lama Pak jualan di sini?” Sang  Pemuda mencoba berbincang santai.

“Sudah dua tahun “ Rocky menjawab singkat sambil  membersihkan kuali.

“Pak asal luar kota ya?” Sang  Pemuda tampaknya ingin bercakap-cakap.

“Saya asal Tegal Dik!” Rocky menuang minyak goreng beberapa sendok ke kuali.

“Kalau saya asal Bangka Pak!” Sang  Pemuda memberi informasi tanpa ditanya.

“Wah… Pak Rocky cekatan sekali ya tangannya!” Sang  Pemuda melihat Rocky menuang adukan telur dicampur dengan garam dan irisan sayur ke dalam minyak yang dengan cepat mendidih.

“Terima kasih pujianmu. Kamu sepertinya belum lama di sini ya?” Rocky gantian bertanya. Mungkin supaya Sang  Pemuda tidak banyak bertanya.

“Betul Pak. Saya baru sekitar sebulan di Jakarta” Sang  Pemuda membenarkan.

“Pantas ya. Kalau orang Jakarta biasanya sudah jarang yang mau bicara dengan orang kecil seperti saya” Rocky sepertinya sedang memprotes keangkuhan penduduk Jakarta.

“Oh ya? Masa separah itu? Saya biasa di Malang ngobrol dengan siapa saja. Dari tukang beca sampai bos-bos perusahaan besar” Sang  Pemuda keheranan.

“Dik, namanya siapa kalau boleh tahu?” Rocky bertanya sambil mengaduk nasi putih dengan bumbu-bumbu serta kecap.

“Eh… maaf lupa memperkenalkan diri. Nama saya Yakobus. Biar gampang panggil saja Yakob!” Sang  Pemuda sedikit tidak enak hati.

“Nak Yakob tinggal dekat sini?” Rocky masih mengaduk nasi karena ingin memastikan tidak ada bagian yang belum rata warnanya.

“Betul Pak! Itu gedung yang di depannya ada tanda salib!” Yakob menjelaskan.

“Oh kamu dari Gereja Yesus … apa gitu?” Rocky agak lupa.

“Gereja Yesus Satu-Satunya Juruselamatku!” Yakob menyempurnakan.

“He…eh… lupa! Padahal tiap hari lewat situ!” Rocky menuang nasi goreng yang sudah matang ke piring lalu mengambil sendok, menaruh acar dan kerupuk dan segera menyajikannya di hadapan Yakob.

“Terima kasih Pak Rocky sudah membuatkan saya nasi goreng. Perut saya sudah keroncongan dari tadi!” Yakob langsung mendekatkan piringnya.

Rocky merasa aneh. Baru kali ini ada pembeli yang mengucapkan terima kasih kepadanya.

Tanpa menunda Yakob menutup kedua matanya dan melipat kedua tangannya. Mulutnya berkomat-kamit mengucapkan syukur atas nasi goreng itu.

“Pak Rocky saya makan dulu ya.. ” Yakob memberi salam setelah  selesai berdoa.

“Eh… silahkan makan Dik Yakob. Semoga suka masakan Bapak!” Rocky berkata sambil tersenyum. Rocky dapat merasakan keunikan pembeli yang satu ini.

“Hm…. Nikmat! Ngomong-ngomong Pak Rocky sendiri sudah makan?” tanya Yakob tiba-tiba ingin tahu.

“Belum! Nanti saja!  Kalau Dik Yakob sendiri bisa masak nasi goreng?” Rocky balas bertanya.

“Eh… bisa Pak. Saya di kampus diajar untuk bisa mandiri. Jadi saya juga pernah masak nasi goreng!” Yakob sepertinya sangat kelaparan. Diserbunya nasi goreng buatan Rocky. Dengan cepat piringnya tandas!

“Waduh … lapar atau lapar?” Rocky menggoda.

“Mau tahu aja atau mau tahu banget?” Yakob tidak mau kalah.

“Atau saja deh..!” Rocky memilih jalan aman.

“Hmm…. Jadi berapa nih Pak?” Yakob minum teh yang dihidangkan sekalian mengeluarkan dompetnya.

“Rp 12.000. Maaf Sejak kemarin harganya naik. Maklum harga-harga bahan sedang tinggi!” Rocky memohon pengertian sambil menerima uang Rp 50.000-an yang disodorkan Yakob.

“Eh… tidak apa-apa Pak. Saya juga mengerti!” Yakob menerima kembalian uang dari Rocky.

“Iya sama-sama.” Rocky merapikan barang-barangnya

Yakob pun memasukkan uang kembalian ke dompetnya. 2 lembar uang Rp 20.000-an dan 1 lembar Rp 5.000-an. Tiba-tiba Yakob berhenti memasukkan uang.

“Lho Pak Rocky. Ini kembaliannya kelebihan! Harusnya kembali Rp 38.000, ini Rp 45.000. Jadi kelebihan Rp 7.000!” Yakob mengembalikan semua uang yang tadi diterimanya.

“Oh iya. Sudah pikun saya! Terima kasih. Pasti gara-gara umur!” Rocky lalu menghitung kembali uangnya sebanyak Rp 38.000 lalu memberikannya ke Yakob.

“Nah ini baru benar Pak!” Yakob memasukkan uang kembalian tersebut ke dompetnya.

Secara tidak kasat mata, mahluk-mahluk hitam dan atasannya memperhatikan hal kecil ini dengan kecewa. Upaya mereka untuk menjebak Yakob gagal.

“Nak Yakob yakin sudah kenyang?” Rocky sepertinya bisa menebak ukuran perut Yakob.

“Hm.... malu nih saya. Memang lagi lapar berat! Tapi kalau mau ikuti nafsu, bisa obesitas nanti!” Yakob sedikit ragu-ragu untuk pergi.

“Sudah duduk saja. Nanti Bapak buatkan lagi!” Rocky menawarkan.

“Eh…. “ Yakob tambah ragu-ragu.

“Ayo duduk saja!” Rocky menyeret Yakob untuk duduk di tempat tadi.

“Hm…. Begini saja. Boleh tidak saya buat sendiri nasi gorengnya? Sekalian ingin mempraktekkan ilmu buat nasi goreng yang saya lihat dari Bapak!” Yakob rupanya tertarik dengan kepiawaian Rocky.

Rocky merasa ragu. Namun melihat pancaran wajah dan sorot mata Yakob, ia tidak tega menolaknya. Rocky pun memberikan penggorengannya kepada Yakob. Tidak ada ruginya juga buat dia.

Yakob langsung menyambutnya. Dengan cepat ia pun mulai proses membuat nasi goreng. Ia melakukannya persis yang dilakukan Rocky. Rocky memandang kagum dengan kecepatan kerja Yakob. Memang terlihat sedikit kaku, namun hal itu karena ia belum terbiasa menggunakan peralatan miliknya. Secara keseluruhan kemampuan Rocky tidak berada di bawahnya! Namun jumlah nasi yang diambil pun terlalu banyak. Tapi Rocky membiarkan saja. Setelah selesai, Yakob mengambil 2 buah piring dan membagi hasil masakannya ke dalam kedua piring itu!

Rocky terkejut ketika Yakob menyodorkan 1 piring di depannya.

“Ayo Pak Rocky kita makan bersama! Bapak belum makan kan?” Yakob gantian menarik tangan Rocky dan membawanya duduk di sebelahnya.

“Eh….” Rocky jadi salah tingkah.

“Ayo dong Pak temani saya makan! Saya yang traktir!” Yakob memohon.

“Waduh Nak Yakob, buat Bapak malu saja. Masa saya yang dimasakin?” Rocky masih belum bisa menerima.

“Sudahlah Pak. Jangan dipikirin! Sekarang kita sama-sama menikmati nagoya (nasi goreng ayam, red) buatan saya. Please!” lagi-lagi Yakob memohon.

“Baiklah Nak. Anggap saja ini rejeki buat Abang di tengah sepinya pembeli gara-gara hujan ini!” akhirnya Rocky mengambil piringnya dan menikmati nagoya buatan Yakob. Sudah lama Rocky memasak sendiri makanannya. Terasa ada yang berbeda dengan perlakuan Yakob.

“Bagaimana Pak rasanya?” Yakob meminta masukan.

Pancen oye…. Nikmat banget!” Rocky memberi pujian sambil terus menikmati makan malamnya dengan santai.

Tiba-tiba datang seorang anak yang masih remaja. Sepertinya baru masuk SMA.

“Pak, pesan 2 bungkus nasi goreng ya. Satu pedas Satu biasa saja.” Pesan Sang Remaja sambil menatap takjub ke arah Yakob.Sepertinya ada yang aneh dari keberadaan Yakob. Entah apa yang dia lihat.

Rocky segera bangkit dari tempat duduknya ingin meninggalkan makanannya. Namun gerakannya ditahan oleh Yakob.

“Biar saya yang membuatkannya. Bapak duduk saja menikmati makan malam Bapak!” Yakob yang memang cepat makannya sudah selesai. Lalu ia mendahului Rocky mengambil alat penggorengan. Rocky terpaksa duduk kembali.

“Wah Pak Rocky sekarang punya asisten ya?” Sang Remaja berkomentar. Rupanya ia sudah menjadi pelanggan Bang Rocky.

“Kebetulan saja Dik!” Yakob yang menjawab. “Adik belum makan sampai jam segini?” Yakob mencoba mengajak Sang Remaja bercakap-cakap agar tidak jenuh menunggu.

“Ehm…. Belum. Mama tidak masak karena sakit!” Sang Remaja menjelaskan.

“Sakit apa? Sudah berapa lama?” Yakob ingin tahu.

“Tidak tahu. Mama bilang tidak enak badan. Mama memang sudah berkali-kali tidak enak badan. Entah mengapa?” Sang Remaja menjadi muram.

“Memang belum dibawa ke dokter?” Yakob jadi bertanya-tanya.

“Sudah! Sudah sering dibawa ke puskesmas namun begitulah. Sebentar sembuh, sebentar sakit lagi.” Sang Remaja sepertinya sudah putus asa dengan kondisi mamanya.

“Minta papamu bawa ke rumah sakit!” Yakob menyarankan.

“Papa sudah pergi selamanya. Hanya mama yang ada!” Sang Remaja berkata memelas.

“Oh maaf. Papamu meninggal karena apa? Mamamu kerja apa?” Yakob bertanya sambil memasukkan nasi putih sebanyak 2 porsi ke kuali.

“Papa meninggal karena sakit jantung. Mama kerja jahit baju! Tapi sekarang sedang tidak kerja karena sakit!” Sang Remaja menjelaskan lebih dari yang diminta.

“Ngomong-ngomong kamu namanya siapa? Saya Yakob” Yakob tertarik dengan kisah Sang Remaja.

“Saya Jonas, Kak!” Sang Remaja menyambut perkenalan Yakob.

“Boleh tahu alamat rumahmu? Nanti Kakak mau besuk mamamu kalau boleh” Yakob bertanya sambil mengaduk nasi yang sudah diberi bumbu. Pekerjaannya sekarang tambah cekatan.

“Benar ya Kak? Rumah saya masuk gang sebelah situ Kak” Jonas berkata sambil menunjuk sebuah gang kecil yang gelap tanpa penerangan. “Nomor 11c. Di sebelah kiri. Pintu warna hijau” Jonas melanjutkan penjelasan. Raut wajahnya menunjukkan ia mengharapkan realisasi janji Yakob.

“Benar dong. Besok Kakak ke rumahmu ya. Kamu sendiri sekolah kelas berapa?” Yakob menyelesaikan adukannya lalu mengambil kertas nasi berwarna coklat. Ia menaruh sebagian nasi goreng yang dibuatnya pada kertas nasi coklat yang ada di bagian dalam gerobak. Lalu ia menaruh lagi kuali di atas nyala api dan menambahkan sambal ke nasi goreng yang masih ada di kuali.

“Saya SMA kelas 1, Kak. Kalau Kakak tinggal di mana ya?” Jonas mulai berani bertanya.

“Saya di gedung itu” Yakob berhenti sejenak untuk menunjukkan tempatnya.

“Maksud Kakak, Gereja Yesus Satu-Satunya Juruselamatku?” Jonas berkata dengan sedikit nada was-was.

“Benar! Kamu pernah datang?” Yakob menyelesaikan adukannya lalu menuang nasi goreng pedasnya ke atas kertas nasi yang sudah disiapkan tadi bersama kertas nasi untuk nasi goreng biasa.

“Ehm…… Belum pernah Kak! Tapi mama saya dulu katanya ingin ke sana tapi tidak pernah sempat” Jonas menjelaskan.

“Oh begitu. Nah, ini nasi gorengnya. Yang Kakak robek sedikit ujungnya sebagai tanda yang pedas ya!” Yakob menyodorkan kedua bungkus nasi goreng yang sudah dimasukkan ke dalam plastik hitam bersama 2 buah bungkusan krupuk.

“Terima kasih Kakak!” Jonas menerimanya seraya mengambil uang di kantongnya.

“Eh tidak usah! Kali ini Kakak yang traktir. Buat kenalan denganmu dan sekalian titip salam buat mamamu ya!” Yakob menolak uang yang disodorkan Jonas.

“Jangan ah Kak! Tidak baik tergantung dari belas kasihan orang!” Jonas menolak dan terus menaruh uangnya di papan penyajian makanan di gerobak Bang Rocky.

“Lho, Kakak kan tidak memberi sumbangan, tapi Kakak hanya mentraktir kamu saja. Bolehkan?” Yakob mendesak.

“Saya sudah senang bisa berkenalan dengan Kakak. Itu lebih dari cukup. Tidak perlu membayarkan makanan lagi. Rasanya seperti membeli pertemanan” Jonas ngotot menolak.

“Ya sudahlah. Tapi Kakak bolehkan ke rumahmu besok?” Yakob ingin memastikan.

“Tentu saja. Saya sekolah siang. Jadi kalau mau, Kakak bisa datang pagi. Kalau siang saya tidak ada, jadi nanti tidak ada yang bukakan pintu!” Jonas memberi masukan.

“Baiklah. Besok kakak datang pk 10 pagi ya.” Yakob dalam hati merasa senang berkenalan dengan Jonas yang punya sikap teguh dan tidak berjiwa peminta-minta.

“Sampai ketemu besok ya Kak!” Jonas pamit lalu melangkah menuju gang sempit gelap yang tadi dia tunjukkan ke Yakob.

Sesosok mahluk gelap tidak kasat mata mengikuti langkah Jonas. Mahluk ini tadi tidak berani terlalu dekat dengan Jonas saat ia berada dengan Yakob. Pancaran sinar dari jubah putih yang dikenakan Yakob membuatnya tidak tahan. Ia merasakan sakit seperti tertusuk-tusuk. Mahluk ini merasa khawatir akan rencana kunjungan Yakob besok. Namun ia sudah melihat bahwa atasannya Sang Bos juga sudah tahu rencana Yakob. Sang Bos memang berada tidak jauh dari tempat itu. Kalau Sang Bos sudah turun tangan berarti pihak lawan bukan lawan yang mudah sehingga ia maklum akan rasa sakit yang tadi dia rasakan saat berada dekat dengan Yakob. Sekarang ia sudah lega berada jauh darinya.

Yakob melambaikan tangannya ke arah Jonas. Setelah Jonas tidak dilihatnya lagi, Yakob berpaling ke Rocky sambil mengeluarkan uang sebanyak Rp 24.000 dan dimasukkannya ke laci yang ada di gerobak.

“Eh Dik Yakob, tidak perlu bayar. Masa saya dibayarin lagi?” cepat-cepat Rocky mengeluarkan uang yang dimasukkan Yakob tadi. Setelah itu ia bermaksud mengembalikannya ke Yakob.

“Kan saya sudah janji untuk traktir. Janji adalah janji! Tidak boleh sampai ingkar! Sampai bertemu lagi Pak Rocky. Saya akan mampir lagi nanti!” Yakob cepat-cepat berlalu sambil melambaikan tangan.

Rocky tidak keburu mengembalikan uangnya dan hanya bisa menghela nafas. Namun bukan pertanda kegalauan tetapi tanda keheranan bertemu dengan orang aneh seperti Yakob. Di tengah dunia yang acuh, kehadiran Yakob terasa memberi angin segar baginya. Tadi pun dia sudah menguji kejujuran Yakob dengan memberi uang kembalian dalam jumlah lebih. Ia sengaja melakukannya. Memang tidak salah penglihatannya bahwa Yakob bukan pemuda sembarangan! Ia memiliki tingkat kewaspadaan tinggi sehingga mampu mendeteksi perbuatannya dan integritas untuk mengembalikan uang yang bukan miliknya!

Sebelumnya ia pernah mengalami kekecewaan terhadap orang-orang dari gereja itu, entah benar atau tidak karena setelah kejadian itu ia tidak pernah melihatnya lagi. Saat itu mereka datang bergerombol bersamaan dengan jemaat dari gereja itu. Mereka memesan nasi goreng dalam jumlah banyak, namun setelah itu satu per satu menghilang sebelum mereka membayarnya! Hanya tersisa sebagian yang dengan jujur membayarnya. Ia sudah menanyakan ke orang yang tersisa, katanya mereka juga tidak mengenal orang-orang yang tidak membayar tersebut. Karena ia tidak tahu latar belakangnya, ia menyalahkan pihak gereja. Namun melihat peristiwa malam ini, ia mengkaji kembali pendapatnya. Kemungkinan besar memang orang-orang itu hanya kebetulan saja datang bersamaan dengan orang-orang dari gereja. Kalau hal itu benar, berarti selama ini ia sudah salah persepsi! Persepsi yang membuatnya memendam rasa sakit di lubuk hatinya.

Tak lama kemudian, gerobaknya sudah didatangi oleh para pembeli lainnya. Ia pun tidak bisa memandang Yakob lagi….




-o0o-

No comments:

Post a Comment