Sunday, December 20, 2015

Coram Deo Ep 7 - Keluarga Arman


Coram Deo
(Episode 7)
KELUARGA ARMAN

“Penginjil, kamu bawa apa?” Simon menanyakan bawaan Yakob.

(Di GeYeSku, istilah “Penginjil” atau “Evangelist” digunakan untuk hamba Tuhan yang melayani pemberitaan firman Tuhan di gereja dan sudah lulus kuliah teologia dengan gelar sarjana teologi atau disingkat S.Th.)

“Oh ini bubur untuk keluarga Pak Arman yang menjaga di rumah sakit!” Yakob memperlihatkan isi rantang yang dibawanya.

Tadi memang dia membawa 2 rantang. Satu untuk keluarga Jonas dan yang lainnya untuk keluarga Pak Arman.

“Wah Penginjil perhatian sekali. Sungguh pekerjaan yang mulia membantu keluarga yang membutuhkan” Simon memang menyukai penginjil yang multi talenta ini.

“Saya rasa Pak Simon juga sangat perhatian. Tadi kan Pak Simon membawakan roti buat Jonas. Pasti Bapak bawakan juga untuk keluarga Pak Arman kan?” Yakob menduga.

“Ha..ha… memang Penginjil bisa menebak dengan benar. Bedanya kalau saya tidak sempat membuat makanan tetapi membeli saja” Simon terus berjalan di samping Yakob.

“Ngomong-ngomong… Penginjil ke rumah sakit bareng kami saja agar efisien, bagaimana?” Maria menawarkan.

“Betul juga. Terima kasih tawarannya Bu Mar” Yakob menerimanya.

Akhirnya tibalah mereka pada mobil yang akan digunakan. Simon dan Yakob duduk di depan. “Biar berdua bisa mengobrol” pendapat Maria.

“Pak Arman kan sedang terbaring di rumah sakit. Bagaimana dengan supir pengganti? Apakah diaken ingin mencari supir cadangan?” Yakob meminta masukan Simon saat mobil sudah dinyalakan mesinnya.

“Hmm…. Tentu saja! Selama Arman sakit kita harus mencari supir cadangan. Apakah Penginjil ada calon?” Simon gantian meminta masukan sambil menjalankan mobilnya.

“Tadi pagi di pasar saya bertemu dengan Deny, salah seorang anak dari korban kecelakaan kapal baru-baru ini. Dia pernah muncul di televisi saat orang tuanya diberitakan meninggal saat itu!” Yakob menjelaskan.

“Oh… saya ingat. Sepertinya saya pernah nonton wawancaranya.. kasihan sekarang anaknya sendirian” Simon meningat-ingat.

“Dia bukan hanya sendirian, sekarang ia sempat menjadi pencopet karena sudah tidak orang tua yang mendanainya lagi. Terdesak kebutuhan hidup dasar untuk makan, akhirnya ia mengambil jalan pintas” Yakob menambahkan.

“Sayang sekali. Lalu apa hubungannya dengan supir cadangan? Apa Penginjil mau meminta dia jadi supir cadangan?” Simon menduga.

“Benar. Dia menjadi pencopet karena tidak punya uang untuk hidup, jadi solusinya harus punya pekerjaan.” Yakob membenarkan.

“Itu pikiran yang mulia. Menurut Penginjil, apakah ia bisa dipercaya kalau bekerja sebagai supir?” Simon sepertinya ingin ada jaminan.

“Memang tidak ada jaminan bahwa ia tidak akan mencopet lagi. Tapi kalau kita ingin memberi kesempatan, saya akan coba mengawasinya. Walau tidak mungkin setiap saat.” Yakob mencoba memberi solusi.

“Resiko buat gereja akan besar. Kalau sampai ia membawa kabur mobil gereja, maka kita akan mendapat masalah baru!” Simon mencoba mengingatkan.

“Betul. Saya akan coba menguji kesungguhan dia. Kalau ia lulus, maka barulah kita memakainya” Yakob mengusulkan.

“Baiklah. Saya rasa saya setuju. Kita juga harus memberi kesempatan pada orang-orang untuk bertobat. Tapi kita tetap harus mempertanggungjawabkan harta gereja. Jangan sampai karena kecerobohan , kita menghilangkannya” Simon menyimpulkan.

“Pastor Peter juga sudah setuju dengan rencana ini. Kita akan mengawasinya bersama-sama. Demikian juga dengan beberapa jemaat dan aktifis akan kita minta bantuan untuk mengawasinya.” Yakob memberi masukan atas beberapa orang aktifis dan jemaat yang bersedia membantunya.

“Rupanya Penginjil sudah siap untuk membantunya. Saya rasa kita bisa mencobanya besok. Saya juga coba mengawasinya” Simon kagum pada Yakob. Yakob meminta pendapatnya terlebih dahulu tanpa menceritakan pendapat orang lain terlebih dahulu sehingga bisa mempengaruhinya.

“Ngomong-ngomong bagaimana dengan biaya rumah sakit dan operasi Pak Arman?” Yakob beralih topik.

“Karena kejadian Arman membutuhkan penanganan segera, maka kita terpaksa tidak bisa menggunakan jalur BPJS karena takut penanganannya terlalu lama.  Jadi ambil jalur biasa. Biayanya juga cukup besar walau menggunakan fasilitas kelas 3. Namun itu tidak penting. Yang utama, Arman bisa diselamatkan. Uangnya nanti kita minta jemaat yang terbeban untuk membantunya. “ Simon menjelaskan. Tidak terasa ia sudah menjalankan mobilnya sampai di Jalan Mangga Besar Raya.

“Itulah keunikan sebuah persaudaraan dalam Kristus. Saat seorang jemaat menderita ibarat anggota tubuh, maka bagian yang lain ikut menderita dan merasakan sakitnya. Namun semuanya berusaha untuk menolongnya.” Yakob lega dengan pernyataan Simon. Tiba-tiba dilihatnya Rocky sedang mendorong gerobak nasi gorengnya.

“Eh… itu Pak Rocky, penjual nasi goreng.  Apakah Pak Simon mengenalnya?” Yakob mengalihkan lagi topik pembicaraan.

“Tidak. Kami biasanya makan di rumah. Kami lebih percaya makanan yang dimasak di rumah” Simon rupanya tidak suka jajan di luar. “Memang Penginjil kenal?” Simon balik bertanya.

“Semalam saya makan nasi gorengnya. Di situ juga saya mengenal Jonas” Yakob menjelaskan.

“Oh begitu. Tumben Penginjil beli nasi goreng di luar. Bukannya Penginjil sendiri pintar memasak?” Maria nimbrung.

“Wah… saya hanya bisa masak sedikit. Mana bisa dibandingkan dengan Ibu Maria!” Yakob memuji Maria yang sudah terkenal masakannya.

“Bisa saja. Saya sering dengar Arman, Hasan dan James memuji masakan Penginjil. Begitu juga dengan mu shi (pendeta) dan shi mu (istri pendeta)”Maria rupanya suka memperhatikan hal seperti ini.

“Saya hanya masak beberapa macam makanan sederhana. Maklum anak asrama di kampus. Nanti saya mau belajar masak dari Ibu Maria” Yakob masih mencoba mengelak.

“Waduh … saya merasa tersanjung nih…” Maria menggodanya.

“Ha…ha…ha… Ngomong-ngomong bagaimana ya reaksi keluarga Pak Arman  kalau tahu Pak Arman sudah percaya kepada Tuhan Yesus sebagai Juruselamatnya?” Yakob kembali mengalihkan topik.

“Pasti berat! Istri Pak Arman adalah seorang anak dari pemuka agamanya. Kemungkinan besar ia akan menolak perubahan kepercayaan Pak Arman. Sedangkan anak-anaknya sepertinya lebih dekat pada ibunya” Simon mencoba menganalisa. Tanpa terasa mobil sudah masuk ke rumah sakit.

“Hm… kalau begitu kita harus terus berdoa, agar Pak Arman bisa dikuatkan saat menghadapi gelombang dalam keluarganya” Yakob mulai bersiap-siap untuk turun. Ia mengambil rantang bubur nya kembali untuk dibawa turun.

“Eh… bukannya itu istri dan anak-anak Arman?” Simon menunjuk ke arah tiga orang yang sedang berjalan.

“Betul. Sepertinya mereka mau pergi. Mungkin mencari makan?” Maria menduga.

“Kalau begitu saya ke tempat mereka. Akan saya berikan bubur ini dulu” Yakob permisi.

“Silahkan Penginjil” Simon dan Maria menjawab serentak.

Dengan cepat Yakob membuka pintu, turun dari mobil dan langsung berlari membawa rantang buburnya mengejar istri dan anak-anak Pak Arman.

“Bu Tami! Bayu! Ayu!” panggil Yakob.

Ketiga nama yang dipanggil itu berpaling ke arah Yakob dan kemudian melambai-lambaikan tangan mereka.

“Lagi mau kemana?” Yakob bertanya saat ia sudah sampai di hadapan mereka. Ia pun menyalami mereka.

“Kami sedang mencari makan” Tami yang mewakili untuk menjawab.

“Pas banget. Ini saya bawakan bubur untuk makan. Moga-moga suka” Yakob menawarkan buburnya.

“Terima kasih ya. Jadi tidak enak hati merepotkan” Tami agak sungkan.

“Tidak apa. Saya kebetulan membuat banyak, jadi sekalian saya bawa ke mari” Yakob menenangkan  sambil mengarahkan mereka untuk duduk di meja yang ada. Lalu ia pun membagi bubur pada rantang susun tiga ke masing-masing Tami, Bayu dan Ayu.

“Terima kasih” kata Bayu dan Ayu bersama-sama sambil menerima rantang.

Yakob sudah menyiapkan dengan lengkap sendoknya sehingga Tami, Bayu dan Ayu bisa langsung makan.

“Halo! Apa kabar?” Simon yang sudah sampai bersama istrinya menyapa.

“Baik!” serempak Tami, Bayu dan Ayu menjawab.

“Ini saya bawakan air minuman” Simon menyodorkan beberapa gelas minuman air mineral kepada ketiganya.

“Terima kasih” lagi-lagi mereka bertiga menjawab.

“Bagaimana kabar Pak Arman? Apakah sudah siuman?” Maria mengungkapkan keingintahuannya.

“Tadi sempat sadar sebentar, lalu tertidur kembali karena masih mengantuk” Tami menjawab.

“Syukurlah” Maria berkata senang.

“Apakah sempat berbicara dengan Pak Arman?” Yakob memancing.

“Iya. Tadi kami sempat masuk bicara sebentar” Tami menjawab. Namun tiba-tiba ia berhenti makan.

“Eh… kenapa Bu?” Yakob melihat perubahan sikap Tami.

“Tadi Bapak sempat menceritakan kejadian yang saya tidak mengerti. “ Tami mulai berbicara kembali.

“Boleh ceritakan ke kami Bu?” Simon menimpali.

Tami pun mengingat-ingat peristiwa yang dialami dan mulai bertutur.

--o0o—

Arman yang sudah 3 jam istirahat setelah dioperasi akhirnya sadar. Kepalanya masih mengawang-awang. Setelah konsentrasi sebentar, akhirnya ia mengenali sosok yang ada di dekatnya.

“Bunda! Bayu! Ayu!” Arman memanggil perlahan.

“Ayah!” nama-nama yang dipanggil tiba-tiba bangkit dari tempat duduknya.

Mereka segera mengerumuni tempat tidur Arman.

“Abang bagaimana rasanya?” Tami menanyakan kabar suaminya.

“Kepala saya masih terasa berat. Rasanya ingin cepat-cepat tidur kembali.” Arman menjawab.

“Kalau begitu Ayah istirahat dulu saja!” Bayu, anaknya yang paling besar,  mengusulkan.

“Iya, Ayah!” Ayu sepakat.

“Iya Ayah akan tidur sebentar lagi. Tapi sebelumnya Ayah ingin menceritakan apa yang telah Ayah alami tadi” Arman merasakan suatu perasaan yang meluap. Ia ingin segera membagikan nya kepada orang-orang terdekatnya.

“Oh… ada kejadian apa Abang?” Tami jadi penasaran.

“Tadi Ayah sudah mati!” Arman mulai dengan perkataan yang mengejutkan.

“Ayah…. Jangan bercanda!” Tami ketakutan.

“Tenang Bunda! Kan sekarang Abang masih ada!” Arman menenangkan.

“Mengapa Ayah bilang begitu?” Bayu ingin mendengar secepatnya latar belakang perkataan ayahnya.

“Saat Ayah akan dioperasi, Ayah disuntik obat bius sehingga tidak sadarkan diri. Ayah hanya merasa kesadaran ayah semakin lama semakin hilang hingga tidak ingat apapun” Arman mulai bercerita.

“Sakitkah Ayah waktu disuntik?” Ayu yang masih kecil ingin tahu.

“Hanya sedikit, seperti digigit semut. Jadi nanti kamu jangan takut kalau disuntik ya?” Arman memandang putrinya.

“Lalu bagaimana kelanjutannya Yah?” Bayu tidak sabar.

“Ayah tidak tahu berapa lama Ayah dioperasi. Tiba-tiba Ayah merasakan roh Ayah melayang meninggalkan tubuh Ayah. Ayah bisa melihat tubuh Ayah sedang dioperasi oleh para dokter!” Arman langsung menyambung lagi ceritanya.

“Apa? Kalau roh meninggalkan tubuh berarti Ayah sudah meninggal?” Tami mengutarakan apa yang ia tahu.

“Sepertinya begitu. Lalu Ayah meliha ada 2 sosok roh yang menjemput. Sepertinya mereka adalah malaikat. Yang satu putih dan yang lain hitam!” Arman melanjutkan ceritanya.

“Jadi Ayah pilih yang mana?” Tami jadi penasaran.

“Itu pasti malaikat penjemput nyawa” Bayu yang senang menonton film horror menyimpulkan.

“Wah seram ya Ayah” Ayu merasa ngeri.

“Ayah sadar mereka adalah malaikat penjemput nyawa. Ayah sempat bingung dengan mereka.  Beruntung Ayah sudah tahu cara menghadapinya” penjelasan Arman masih meninggalkan teka-teki.

“Pasti  yang warna hitam itu yang jahat ya Ayah? Itu penunggu neraka kan?” Bayu menebak.

“Benar dugaanmu Bayu. Hanya kuncinya bukan di sana. Ayah bertanya kepada mereka berdua, apakah mereka percaya bahwa Yesus adalah Anak Allah? Yesus adalah Tuhan dan Juruselamat?” Arman membuka rahasianya.

“Lho Ayah kenapa jadi bawa-bawa nama Yesus?” Tami jadi heran.

“Jadi apa jawaban mereka?” Bayu jadi tertarik.

“Mereka berdua menganggukkan kepala, tanda setuju!” pernyataan Arman membuat Tami terdiam. Dia tidak pernah mendengar hal seperti ini. Bagaimana mungkin kedua malaikat yang berbeda itu mengaku Yesus sebagai Tuhan. Bukankah kalau benar, yang satu malaikat dari sorga dan yang lain dari neraka alias anak buah iblis? Kalau begitu berarti roh jahat pun percaya bahwa Yesus adalah Tuhan! Hal ini membuatnya terkejut. Namun kalau itu roh jahat, mengapa harus percaya kepadanya? Pasti tidak bisa dipercaya! Namun sungguh-sungguh unik.

“Wah membingungkan. Jadi Ayah pilih yang mana?” Bayu ingin cepat-cepat tahu kelanjutannya sementara adiknya hanya terdiam.

“Lalu Ayah meminta mereka mengucapkan hal itu. Di sanalah perbedaannya. Roh yang hitam itu memang menganggukkan kepala tanda percaya, tapi ia tidak mau mengaku dengan mulutnya. Sedangkan yang putih dengan tersenyum mengucapkan kepercayannnya!” Arman melanjutkan ceritanya.

“Jadi karena itu Ayah memilih yang putih?” Tami menyimpulkan.

“Benar. Ayah tidak ragu-ragu lagi. Namun itu merupakan ujian buat Ayah. Ternyata yang putih itu kemudian menyampaikan pesan kepada Ayah. Sedangkan yang hitam sudah menghilang” perkataan Arman membuat membuat keluarganya penasaran.

“Pasti pesan penting dari Allah. Betul kan Yah?” Ayu akhirnya berbicara juga.

“Benar. Ia menyampaikan pesan bahwa Ayah akan kembali hidup dan memberikan kesaksian” Arman menjawab keingintahuan anaknya.

“Oh begitu. Sekarang saya mengerti.” Perkataan Tami sekarang membuat Arman bingung.

“Mengerti apa?” Arman penasaran.

“Dokter kepala yang mengoperasi Ayah keluar dua kali. Pertama kali ia mengabarkan bahwa Ayah operasi gagal dan Ayah sudah meninggal. Namun anehnya tidak lama kemudian ia keluar kembali dan mengatakan bahwa Ayah hidup kembali. Saya tidak paham mengapa bisa seperti itu. Tadinya saya pikir Ayah hanya tertidur lalu bangun kembali” Tami menceritakan pengalamannya sewaktu menjaga Arman saat operasi.

“Itu membuktikan bahwa memang Ayah sudah meninggal, lalu hidup kembali” Arman semakin kagum dengan maksud Allah dalam hidupnya.

“Lalu, kesaksian apa yang ingin disampaikan?” Bayu penasaran dengan pernyataan Ayahnya sebelumnya.

“Kesaksian bahwa Yesus adalah Anak Allah dan sekaligus Tuhan. Dia adalah Juruselamat dunia! Maka Ayah ingin membagikan hal ini kepada kamu sekalian!” Arman menatap keluarganya ingin mengetahui kesan mereka.

“Ayah, bagaimana mungkin Ayah bisa punya kepercayaan seperti itu?” Tami terkejut.

“Ayah sudah mengalami sendiri. Bahkan sebelumnya Ayah sudah mengalami hal lainnya. Nanti Ayah ceritakan. Namun sekarang Ayah sudah mantap mengikut Yesus!” Arman membagikan imannya.

“Abang tidak takut Abah marah?” Tami mengingatkan ultimatum dari papanya yang seorang pemuka aliran kepercayaan.

“Ayah mertua memang punya kepercayaan yang teguh. Namun ini adalah urusan antara saya dengan Allah yang tidak bisa diwakili siapa pun!” Arman tampaknya sudah benar-benar mantap.

“Jadi Ayah akan menerima sanksi apa pun dari Abang?” Tami tampak khawatir.

“Benar!” Arman menunjukkan tekadnya.

“Bagaimana dengan janji Abang sewaktu menikahi saya?” Tami kepalanya pening.

“Abang akan tetap setia pada Bunda. Namun bagaimana bila Bunda dipaksa oleh Abah untuk bercerai dengan Abang?” giliran Arman bertanya.

“Bunda tidak tahu. Bunda ingin ikut Abang agar kita tidak terpisah selamanya. Tapi ancaman Abah sangat mengerikan. Ia akan membunuh siapa saja anaknya yang beralih kepercayaan!” Tami tambah pening.

“Bunda pindah saja ke mari. Kita hidup jauh dari Abah dulu sampai Abah bisa menerima kita” Arman mengusulkan.

“Hm…. Bunda masih bingung.” Tami tampaknya tidak siap menerimanya.

“Ayah, Bunda… jangan berpisah ya!” Bayu yang lebih dewasa hanya sedikit memahami percakapan orang tuanya.

“Ayah, Bunda…. Kita semua bersama selalu” Ayu yang tidak mengerti sepertinya merasa ada yang tidak biasa.

“Tentu kita akan selalu bersama” Arman menenangkan anak-anaknya.

“Kalau begitu Abang sekarang istirahat dahulu. Bunda akan tunggu di  luar. Agar Ayah bisa cepat pulih” Tami sendiri tiba-tiba ingin istirahat. Masalah ini membuatnya pusing.

“Baiklah. Memang Ayah masih perlu banyak waktu untuk memulihkan diri. Kalau Bunda dan anak-anak lelah, sebaiknya pulang saja. Karena malam ini, rasanya Ayah akan tidur sampai pagi” Arman kembali merasakan kelemahan tubuhnya. Hanya semangatnya saja yang tadi bisa membuatnya bertahan.

“Selamat beristirahat Abang. Kami akan pulang dulu, karena besok Bayu dan Ayu sekolah. Besok pagi Bunda akan kembali!” akhirnya Tami memutuskan.

Tami, Bayu dan Ayu pun kemudian mencium tangan Ayah nya untuk pamit.

Arman membelai rambut anak-anaknya dengan lembut. Dalam hatinya ia berdoa agar keluarganya juga diselamatkan. Arman tahu akan terjadi pergolakan hebat di pihak keluarga bila mendengar kesaksiannya.

“Ya Tuhan, kepadaMu saya serahkan masalah saya dan keluarga saya. Saya tahu saya tidak mampu menghadapinya sendiri. Namun saya percaya rencanaMu indah pada waktunya” doa Arman dalam hatinya.

Tami, Bayu dan Ayu pun keluar dari ruang perawatan. Karena belum makan , mereka pun memutuskan untuk makan dahulu di kantin rumah sakit. Saat itulah Yakob, Simon dan Maria melihat mereka.

--o0o—

“Begitulah kisahnya”  Tami berhenti bertutur.

Yakob, Simon dan Maria mendengar kisah Tami dengan takjub. Mereka bersyukur bahwa Arman memiliki iman percaya yang demikian luar biasa. Padahal banyak orang yang sudah lama percaya, tidak memiliki iman percaya seperti itu! Mereka tidak pernah membagikan iman percayanya!

“Sekarang bagaimana dengan Ibu Tami sendiri setelah mendengar kisah Pak Arman?” akhirnya Yakob memecah kesenyapan.

“Itulah yang membuat saya bingung. Kalau Abah mendengar kisah ini, Abah pasti ngamuk dan bisa melakukan hal-hal yang sulit dibayangkan!” Tami tampak gelisah.

“Hal apa itu Bu Tami?” Simon ingin kepastian.

“Abah akan melakukan segalanya agar Pak Arman kembali seperti semula. Bila ia tidak mau, maka Abah akan mengambil saya kembali beserta anak-anak sehingga kami berpisah!” Tami mengutarakan kekhawatirannya.

“Tapi kan kamu sudah menikah. Berarti sudah bebas menentukan pilihan” Simon beragumentasi.

“Benar. Pilihannya antara suami dengan Abah. Itu yang membuat saya bimbang” Tami mengutarakan kebingungannya.

“Kalau begitu Ibu Tami berdoa dahulu minta hikmat dari Allah agar dilemma yang Ibu hadapi dapat pemecahan!” Yakob mengusulkan.

“Betul Ibu. Masalah ini bukan sekedar pilih suami atau bapak, tetapi pilihan atas keyakinan Ibu. Mintalah petunjuk Allah agar Ibu bebas memilih.” Simon menguatkan.

“Baiklah. Saya akan mencoba meminta petunjuk Allah.” Ibu Tami kemudian melanjutkan makan sambil termenung.

“Bayu dan Ayu, bagaimana buburnya?”Yakob coba mengajak bicara.

“Enak Kakak.” Jawab keduanya hampir serempak.

“Kalau begitu , habiskan ya” Yakob melihat ke arah rantangnya.

“Iya Kakak. Terima kasih.” Lagi-lagi keduanya kompak.

Akhirnya selesai juga makan malam mereka.

“Ibu Tami bagaimana rencana malam ini?” Yakob ingin tahu jadwal Tami.

“Saya akan kembali ke rumah karena besok Bayu dan Ayu sekolah. Besok pagi saya akan datang lagi sendiri.” Tami menjelaskan rencananya.

“Kalau begitu, sekarang saya drop Ibu di stasiun KA terdekat?” Simon menawarkan.

“Iya terima kasih” Tami bersyukur.

Sebelum berpisah, Yakob sudah meminta nomor handphone Tami, agar memudahkan bila perlu dihubungi. Setelah itu Yakob melakukan mis-call. Ternyata benar. Handphone Tami berbunyi. Tami pun menyimpan nomor telepon Yakob.


--o0o--

Akhirnya Tami, Bayu dan Ayu turun di stasiun KA Kota. Mereka pun mengucapkan terima kasih kepada Simon dan Maria.

“Bu Tami, kami juga akan berdoa untuk Ibu dan Pak Arman” Yakob berkata sambil melambaikan tangan.

“Terima kasih.” Jawab Tami sambil membalas lambaian tangan.

“Malam ini akan menjadi malam yang berat untuk Ibu Tami. Kita harus berdoa untuknya agar Allah memberikan pengertian yang benar kepadanya” Yakob mengusulkan.

“Benar. Walau kita tidak bisa menolongnya secara langsung, tapi kita mendukung Arman dan keluarganya dalam doa. Minimal itu yang bisa kita lakukan” Simon setuju sambil menjalankan mobilnya kembali.

“Malam ini akan menjadi malam penentuan buat keluarga Arman. “ Maria membenarkan.

“Sebaiknya saya memberitahu Pastor Peter dan Ev. Debora serta rekan-rekan dari kelompok sel serta para diaken lainnya” Yakob rupanya memandang genting masalah ini.

“Benar. Kita akan bersatu hati berdoa untuk mereka!” Simon setuju.

“Ngomong-ngomong, saya bisa mengundang Deny untuk bekerja sebagai supir gereja?” Yakob ingin memastikan.

“Saya rasa dihubungi dulu. Kita akan mengujinya dahulu sebelum kita benar-benar menugaskannya sebagai supir gereja. Setidaknya setiap ia mengendarai mobil, ada orang yang menemaninya!” Simon mengusulkan.

“Itu juga yang ada dalam pikiran saya. Jadi saya hubungi Deny sekarang, takut lupa!” Yakob pun mengeluarkan telepon genggamnya.

“Silahkan Penginjil” Simon mengecilkan volume radio.

--o0o—

Drt….drt…. telpon di saku celana Deny bergetar.

Deny pun mengambil telpon genggamnya lalu melihat layar monitornya.

“Oh ….. Kak Yakob! Ada apa ya?” gumamnya dalam hati.

Ia pun menekan tombol YES untuk menerima panggilan dari Yakob

“Halo?” terdengar suara Yakob menyapa.

“Halo Kak Yakob” terdengar suara di seberang. Simon dan Maria pun dapat mendengarnya karena Yakob menggunakan pengeras suara.

 “Sedang apa Deny?” Yakob membuka percakapan.

“Tidak ngapa-ngapain Kak” Deny membalas

 “Deny, besok pagi sekitar pk 8.30 bisa ke Gereja Yesus Satu-Satunya Juruselamatku?”

“Hmm.. ada apa Kak?” Deny ingin mengetahui tujuannya diundang.

“Supir gereja Kakak mengalami kecelakaan. Kakak ingat kamu bisa mengemudi dan sedang cari pekerjaan. Bagaimana?” Yakob menawarkan.

“Eh…. Saya mau Kak. Daripada saya nganggur sehingga tidak punya uang untuk makan” Deny dengan cepat menyetujui usulan Yakob.

“Kalau mau kamu bawa surat lamaran dan CV nya. Kamu bisa buat?” Yakob ingin memastikan.

“Tentu Kak. Saya kan sudah beberapa kali melamar pekerjaan. Besok akan saya bawa sekalian” Deny terdengar antusias suaranya.

“Sesuai dengan peraturan, kamu akan bekerja dengan masa percobaan 3 bulan. Artinya kalau dianggap tidak mampu, maka kamu akan diberhentikan. Bagaimana menurut pendapatmu?” Yakob menjelaskan aturan

“Saya bisa menerimanya. Saya tahu itu aturan yang umum berlaku. Saya akan mengikutinya dengan baik” Deny menyatakan tekadnya.

“Satu lagi Deny. Gereja membutuhkan orang-orang yang jujur untuk bekerja. Apalagi jemaat menyerahkan pihak majelis unuk mengelolanya dengan benar. Apakah kamu bersedia bekerja dengan penuh kejujuran?” Yakob lagi-lagi bertanya kesungguhan Deny.

“Saya akan bekerja dengan jujur. Saya memang mencuri sebelumnya karena lapar. Saya bertekad untuk mengubah hidup saya. Mohon Kakak berikan petunjuk bila saya salah” Deny memang dasarnya anak yang baik.

“Baiklah Kakak percaya kepadamu. Jangan hancurkan Kakak dan kepercayaan Kakak kepadamu.Tidak mudah bagi Kakak untuk meyakinkan orang-orang di gereja untuk memberi kesempatan kepadamu!” Yakob menjelaskan posisinya. Yakob akan menjadi jaminan bila Deny ternyata melakukan ketidakjujuran.

“Terima kasih Kakak. Saya akan berusaha sebaiknya semampu saya!” Deny lagi-lagi menunjukkan komitmennya.

“Kalau begitu sampai beremu besok pagi pk 8.30”

“Sampai bertemu Kakak”

Yakob pun mematikan teleponnya.

“Semoga ia bisa menjadi supir yang baik” Yakob sangat berharap.

“Benar. Semoga ia bisa berkembang menjadi orang yang baik dan percaya pada Tuhan Yesus” Maria menimpali.

“Kita akan berdoa baginya juga” Simon berkata sambil menepikan mobilnya. Rupanya mereka sudah tiba di depan GeYeSKu.

“Terima kasih banyak Pak Simon dan Ibu Maria. Sampai bertemu lagi” Yakob turun lalu melambaikan tangannya.

“Bye..” Maria dan Simon membalas lambaian tangan mereka.

Yakob membuka pintu gerbang gereja dan masuk ke dalam semenara Simon menjalankan kembali mobilnya.

Saat melewati kamar Pastor Peter, Yakob mampir dan melaporkan apa yang sudah dikerjakan dan memberitahukan tentang Deny yang akan diundang datang besok pagi.

“Saya percayakan pembinaan Deny kepadamu Yakob” Pastor Peter memberi wewenang.

“Terima kasih Mu Shi. Semoga Deny bisa menjadi alat yang berguna untuk pelayanan gereja” Yakob menimpali.

“Tentang Tami. Kita akan berdoa bersama-sama untuknya malam ini. Pasti malam ini ia membutuhkan pertolongan Tuhan” Pastor Peter seperti mendapat firasat.

“Benar Mu Shi. Saya sudah menghubungi beberapa orang untuk ikut berdoa baginya” Yakob membertiahukan nama-nama yang sudah dihubungi.

“Bagus Yakob. Kamu sangat cekatan.” Pastor Peter memuji.

“Semua itu untuk kemuliaan Tuhan kita Yesus Kristus” Yakob memberitahukan motif nya.

“Amin… Kalau begitu pokok doa kita kali ini juga untuk Ibu Amy. Kiranya ia dikuatkan dan terus bertumbuh dalam Kristus” Pastor Peter juga mengingatkan.

“Benar Mu Shi. Sekaligus saya pamit mau balik ke kamar” Yakob minta diri dan kemudian keluar kamar pastori Pastor Peter.

--oo0oo—

“Tami , kamu sudah pulang?” suara telepon di seberang bertanya.

“Baru sampai Abah” Tami meletakkan tasnya sambil menjawab telepon.

“Bagaimana kabar Arman?” suara Abah kembali bertanya.

“Sudah lewat masa kritisnya Bah dan sedang istirahat sampai pagi!” suara Tami tidak begitu semangat.

“Kalau begitu, besok pagi kita sama-sama ke sana ya?” Abah menawarkan.

“Eh… tidak usah Bah. Nanti saya kabari saja kondisinya.” Suara Tami terdengar tidak nyaman.

“Lho kenapa tidak boleh dibesuk?” Abah penasaran.

“Abang baru operasi, jadi perlu banyak istirahat” Tami mencoba memberi alasan.

“Ah… seperti orang lain saja. Kita kan keluarga dekat” Abah membantah.

“Bukan begitu Bah. Takut Abah juga terlalu lelah” Tami bingung memberi alasan.

“Sudah…! Jangan khawatir. Biar sudah berumur, Abahmu ini masih gagah” Abah membesarkan hati anaknya.

“Terserah Abah , bagaimana baiknya saja” Tami menyerah.

“Ngomong-ngomong kenapa Arman sebenarnya?” Abah mencari sedikit informasi. Ia memang cukup perhatian.

“Abang ditabrak motor saat naik sepeda. Luka-lukanya parah dan ia hampir meninggal” Tami menjawab singkat.

“Wah beruntung Arman bisa diselamatkan. Jangan lupa sembahyang” Abah mengingatkan.

“Bah… Abang sebenarnya sudah meninggal. Hanya ia mendapat mujizat sehingga hidup kembali” Tami akhirnya memutuskan untuk menceritakan kondisi Arman.

“Allah memang luar biasa” Abah memuji Allah.

“Abang menceritakan bahwa ia diselamatkan oleh Yesus Kristus” Tami dengan berani melontarkan apa yang dia ketahui.

“Apa?” suara di seberang tiba-tiba diam.

“Abang bercerita bahwa ia sebenarnya sudah meninggal, namun saat dijemput oleh malaikat ia disuruh kembali untuk bersaksi” Tami melanjutkan. Ia sudah nekat. Kepalanya terasa pecah memikirkan dilemma di dalam dirinya.

Abah tiba-tiba terdiam. Setelah hening beberapa saat akhirnya ia bertanya singkat, “Jadi sekarang Arman sudah percaya Yesus Kristus?”

“Benar Bah” Tami juga menjawab singkat.

“Sebentar Tami. Abah mau ke rumahmu sekarang juga!” Abah langsung memutuskan hubungan teleponnya.

“Semoga Abah bisa menerima kondisi Abang” gumam Tami dalam hati. Ia sudah bertekad bila Abah tidak bisa menerimanya, maka ia harus membuat keputusan.

--oo0oo—

“Hai rekan-rekan, sebentar lagi kita akan berpesta” seorang demon yang bertugas mengawasi keluarga Arman berkata dengan senang.

“Maksudmu?” demon lainnya ingin meminta penjelasan.

“Rekan yang mengawasi Abah memberi kabar bahwa Abah sudah menghubungi paman dan kakak Tami. Lalu Abah juga membawa tongkat untuk menghukum Tami!” jawab demon pertama.

“Ha….! Ha….! Ha….! Sebentar lagi kita akan berpesta melihat kekejaman yang dilakukan Abah terhadap keluarganya sendiri. Dan besok beritanya akan tersebar di surat kabar. Ha…! Ha…! Ha…!” para demon tertawa senang.

“Kita bisa membuat laporan keberhasilan kita kepada Bos” komentar demon lainnya.

“Menurutmu, apakah keluarga Arman ini akan meninggal satu per satu?” demon pertama bertanya kepada rekannya.

“Tentu saja kita harapkan demikian. Keluarga Arman hanya tinggal Tami dan kedua anaknya yang masih kecil. Mana mungkin mereka mengimbangi atau melawan Abah, Paman dan Kakak Tami” demon lainnya menjawab.

“Sungguh senangnya…. Mari kita nantikan kabar membahagiakan ini bersama-sama… Ha…! Ha…! Ha…!” para demon bersukacita.

--o0o—

“TOK…! TOK…! TOK…!”

Terdengar ketukan di pintu. Tami yang sudah siap-siap , segera membukakan pintu.
Tampak Abah, abang dan pamannya berdiri di depan pintu. Muka Tami pucat. Ia tahu kehadiran mereka akan menentukan masa depan pernikahannya.

“Masuk Abah, Kakak dan Paman” Tami menyambut ketiganya.

Tanpa basa-basi para tamunya segera masuk dan segera duduk. Mereka memang keluarga dekat sehingga sudah biasa datang. Suasana tegang terpancar dari ketiganya. Mereka tampaknya sudah mempersiapkan diri.

“Bayu dan Ayu sudah tidur?” Abah mengecek kondisi cucu-cucunya.

“Mereka sudah mandi dan masuk ke kamar. Biasanya sebentar lagi mereka tidur” Tami memberitahu kebiasaan anak-anaknya.

“Baguslah. Sekarang Abah ingin tanya ke kamu. Jadi Arman sekarang sudah pindah kepercayaan?” Abah memastikan terlebih dahulu.

“Sepertinya begitu Bah” Tami membenarkan.

“Kalau begitu Abah ingatkan. Dulu waktu dia melamar kamu, Abah setuju karena ia belum pindah kepercayaan. Karena sekarang ia sudah pindah, maka Abah ingin menceraikan kamu berdua!” Abah dengan tegas berkata.

“Mana bisa begitu Bah? Tami kan sudah berjanji sehidup semati dengan Bang Arman” Tami menolak.

“Tidak bisa!! Kamu harus ikut perkataan Abah!” Abah berkata dengan tegas.

“Abah, kami sudah punya Bayu dan Ayu. Jangan pisahkan kami” Tami mengiba.

“Kamu harus pisah! Kalau tidak keluarga kita mendapat aib!” Abah kembali memaksa dengan suara yang semakin tinggi.

“Saya tidak mau Abah” Tami bersikeras.

“Tami, kamu harus mengikuti perkataan Abahmu!” bujuk pamannya.

“Saya selama ini mengikuti semua perkataan Abah. Namun jangan pisahkan keluarga saya. Bagaimana nanti denngan hidup Bayu dan Ayu yang bertumbuh  tanpa kehadiran ayahnya?” Tami mulai memerah matanya.

“Tami kamu jangan keras kepala! Kami datang kemari untuk menghindarkan aib dalam keluarga kita!” kakaknya juga membujuk.

“Maafkan saya Kak. Pahamilah saya. Sekarang kami walau sulit, tapi kami hidup rukun harmonis tidak kekurangan apa-apa” Tami bergeming.

“Tami, kalau kamu tidak mau ikuti apa kata Abah, jangan salahkan Abah kalau Abah pakai kekerasan” Abah pun mengambil tongkatnya. Lalu dipukulinya Tami.

“BUGH……BUGH….. “

Tubuh Tami terkenal pukulan Abahnya. Namun ia tidak mau  menjadi anak durhaka. Ia mandah saja menerima hukuman Abahnya.

“Jangan…! Jangan pukul Bunda” tiba-tiba muncul Bayu dan Ayu dari dalam kamar menghalangi kakek memukuli ibu mereka.

“Minggir!! Anak kecil tidak tahu apa-apa! Masuk ke kamar!” Abah tetap melayangkan tongkatnya.

Bayu dan Ayu menutupi tubuh bundanya dengan tubuh mereka sendiri.

“BUGH…..BUGH…”

Kali ini giliran tubuh Bayu dan Ayu yang mendapat giliran.

“Aduh…. Sakit” Bayu dan Ayu menjerit bersamaan.

“Minggir!! Kalau tidak mau minggir, sekalian kamu berdua, akan saya singkirkan selamanya” Abah tambah emosi.

Pikiran Abah sudah tidak terkendali lagi. Ia pun melayangkan kembali tongkatnya.

“BUGH…. BUGH….”

Tubuh Bunda kembali terkena hajaran tongkat Abah. Ia tidak mau lagi tubuh anak-anaknya melindungi tubuhnya. Maka ia pun memakai tubuhnya untuk melindungi mereka. Tiada jeritan terdengar. Hanya suara pukulan berkali-kali yang ada.

Kakak dan paman Tami hanya menyaksikan perbuatan Abah.

Akhirnya tubuh Tami tidak tahan. Ia pun rubuh ke lantai rumahnya. Bayu dan Ayu pun nekat menghalangi tongkat kakeknya. Akibatnya mereka berdua kembali menerima pukulan.

Tami sendiri sudah pingsan. Tubuhnya memar-memar dan berwarna biru di sana-sini. Sedangkan Bayu dan Ayu menjerit kesakitan. Abah semakin marah. Ia merasa niatnya dihalangi sehingga ia ingin memusnahkan keturunannya sendiri.

Akhirnya Bayu dan Ayu pun tidak tahan dengan pukulan-pukulan yang diterima dari kakeknya. Mereka pun rubuh.

Tami, Bayu dan Ayu pingsan di lantai.

Abah, kakak dan paman Tami memandang puas. Mereka pun sudah berhasil menyingkirkan aib dalam keluarga mereka. Tidak akan ada orang yang berani menghina mereka. Nama keluarga jauh lebih penting daripada kehadiran orang-orang yang merusaknya.

Ketiganya pun kemudian meninggalkan rumah Tami. Meninggalkan 3 sosok tubuh pingsan tanpa pertolongan!

--o0o—

Sesuai dengan harapan para demon yang mengawasi keluarga Arman, kejadian di atas membuat mereka bersukacita. Penderitaan keluarga Arman menjadi hiburan buat mereka. Dengan cepat mereka melaporkan hasilnya kepada Sang Bos.

“Bos. Keluarga Arman sudah berhasil ditaklukkan!” seorang demon melapor.

“Apakah mereka sudah mati?” Sang Bos menjawab ringkas.
Para demon yang mengharapkan pujian termangu-mangu. Mereka mengharapkan pujian dari Sang Bos, tetapi mereka malah diberi pertanyaan yang harus dijawab.

“Belum Bos!” akhirnya mereka menjawab.

“Lalu untuk apa kamu di sini? Mau pujian?” Sang Bos pun dengan cepat mengirim tendangan dan pukulan kepada para demon.

Dengan cepat para demon tersebut bertumbangan dihajar oleh Sang Bos. Sungguh kasihan mereka. Walau sebagus apa pun hasilnya, belum tentu dihargai Sang Bos!

--o0o—

Sungguh ajaib kasih Tuhan. Tubuh Tami yang sudah menerima pukulan berkali-kali ternyata masih dilindungiNya. Tami sadarkan dirinya. Dengan merintih ia mencoba untuk bangkit, tetapi tidak mampu. Tubuhnya kembali terjatuh.

Namun begitu ia menyaksikan anak-anaknya juga terbaring pingsan di sisinya, kekuatan cinta seorang ibu yang begitu besar memampukan ia untuk bangkit. Ia tahu kalau ia tidak mengatasi dirinya sendiri , ia tidak akan dapat menolong kedua anaknya. Ia sadar tenaganya sudah mencapai titik terendah. Ia sudah terluka bukan hanya luka luar tetapi juga luka dalam tubuhnya.

Dengan perlahan Tami berjalan menghampiri handphone-nya. Lalu ia pun mencari nomor telepon Yakob lalu menghubunginya.

“Drrt…. Drrt….. “ Handphone Yakob bergetar.

Beruntung Yakob belum tidur. Ia memang sudah bertekad melewatkan malam dengan berdoa bagi keluarga Arman, Deny dan Ibu Amy-Jonas. Mereka perlu mendapatkan dukungan doa. Bukan itu saja, ia pun berdoa untuk Terry yang sering mem-bully Jonas. Belum lagi Bang Rocky sang penjual nasi goreng. Sebenarnya bukan mereka saja, banyak orang-orang yang dikenalnya menjadi bagian dari pokok-pokok doanya.

Yakob tahu bila telpon berbunyi pada saat tengah malam, pastilah telpon penting. Ia sudah berpengalaman dalam hal ini. Ia pun dengan cepat mengambil handphone-nya. Dilihatnya nama Tami tertera di layar. Yakob terkejut. Pasti ada apa-apa dengannya.

“Halo, selamat malam Ibu Tami” Yakob langsung menyapa.

“Yakob, tolonglah saya. Abah saya menyiksa saya , Bayu dan Ayu. Sekarang kami terluka parah. Tolong bawa kami ke rumah sakit” Tami langsung ke pokok masalah.

“Apa?... Baik Bu Tami. Rumah Ibu di mana?” Yakob lalu mencatat alamat yang diberikan Tami.

Sebelum berangkat, ia pun berdoa terlebih dulu. Minta Tuhan melindunginya dan memberi jalan agar dapat menolong Ibu Tami dan kedua anaknya.

Yakob pun terpaksa membangunkan Pastor Peter untuk meminta ijin membawa mobil gereja. Pastor Peter yang  mendengar laporan Yakob, memaksa ikut. Ia khawatir terjadi sesuatu yang tidak diinginkan dengan Yakob. Pastor Peter pun meminta Yakob untuk memanggil Hasan agar ia ikut juga. Akhirnya mereka berangkat bertiga. Yakob bersyukur ia punya kawan dalam perjalanan.

Pastor Peter kebetulan juga mengetahui rumah keluarga Arman, jadi mereka dengan cepat dapat tiba.

“Permisi!” Yakob memberi salam.

“Silahkan masuk “ Tami yang memang menunggu bantuan langsung membalasnya.

Yakob, Pastor Peter dan Hasan langsung masuk ke dalam.

“Astaga….. kenapa dengan kamu Tami?” Pastor Peter miris melihat kondisi Tami yang penuh luka dan sulit berjalan.

Mu shi … Bayu dan Ayu juga terbaring di tanah dalam kondisi mengenaskan” Yakob terkejut melihat kondisi mereka berdua. Tubuh mereka masih kecil untuk menahan luka seperti itu.

“Cepat… bawa mereka semua ke dalam mobil” Pastor Peter memberi perintah.

Pastor Peter langsung membimbing Tami untuk masuk ke mobil.  Sedangkan Yakob membopong Bayu dan Hasan menggendong Ayu. Akhirnya setelah pintu rumah keluarga Arman ditutup, mereka pun berangkat.

“Bagaimana kejadiannya Bu Tami?” Yakob meminta penjelasan.

“Abah marah karena bang Arman percaya Kristus…” jawab Tami lemah dan sepertinya sudah kehilangan tenaga dan kesadarannya. Rupanya ia mengumpulkan sisa tenaga akhirnya untuk menunggu kedatangan Yakob. Yakob menyadari kondisi yang kritis melanda Tami dan kedua anaknya.

Yakob pun dengan cepat mengarahkan mobil ke rumah sakit Karmel. Dengan demikian seluruh keluarga Arman dirawat di sana.

Dokter penjaga ruang darurat dengan cepat menangani.

“Ada apa dengan mereka ini?” tanya sang dokter.

“Kami juga tidak tahu. Saya hanya diminta tolong dan tidak sempat meminta penjelasan” jawab Yakob.

“Siapa orang yang telah berbuat kejam terhadap mereka? Sangat biadab!” suster yang menyertai berkomentar.

“Betul. Sangat disayangkan menyiksa ibu dan kedua anaknya” Pastor Peter membenarkan.

“Bagaimana kondisi mereka dokter?” Yakob merasa was-was.

“Luka mereka sepertinya bukan hanya di luar tapi juga di dalam. Perlu di-ronsen untuk mengetahui apakah ada tulang yang retak. Belum lagi kemungkinan adanya organ dalam yang terluka. Karena bila tidak mereka akan siuman” dokter memberi pandangannya.

“Apakah perlu dioperasi dokter?” Yakob ingin tahu lebih jauh.

“Moga-moga tidak. Namun melihat kondisinya, mereka membutuhkan keajaiban untuk bisa sembuh” dokter tidak terlalu optimis.

“Baiklah dokter menangani secara fisik agar mereka pulih dan kami akan berdoa untuk mereka dan para dokter serta perawat yang menangani” Pastor Peter ikut bicara.

“Terima kasih. Memang betul, para dokter juga butuh dukungan doa. Karena bisa saja kami melakukan kesalahan” sang dokter membenarkan.

Para perawat sudah selesai memasang infus di tubuh ketiganya.

Dokter pun memberi perintah kepada para perawat untuk memberikan perawatan dan obat-obatan yang dibutuhkan.

Setelah ketiganya mendapat perawatan, Yakob mengurus dengan cepat administrasinya. Ia tidak punya data tentang Tami dan kedua anaknya. Terpaksa ia membuka dompet Tami dan mengeluarkan KTP nya. Sedang untuk anak-anaknya,ia hanya mengetahui namanya saja. Tapi itu sementara sudah cukup. Untuk mengurus administrasi pembayaran, Yakob kebingungan karena ia tidak punya cukup uang. Beruntung Pastor Peter punya kartu kredit. Dan itu sudah cukup untuk sementara.

Dengan cepat Yakob menyebarkan kabar tentang keluarga Arman dan meminta agar para jemaat dan aktifis GeYeSku untuk berdoa. Banyak di antaranya yang sudah terlelap. Namun masih ada beberapa yang masih bangun. Semuanya bersatu hati menyerahkan keluarga ini dalam doa. Karena seperti dokter berkata, tanpa keajaiban mereka belum tentu bisa selamat.

Dokter pun terus memantau perkembangan fisik dari ketiga pasien barunya itu. Anak yang bernama Bayu dan ibunya sepertinya sudah ada sedikit kemajuan. Namun anak terkecilnya yang bernama Ayu seperti belum ada kemajuan sama sekali. Besar kemungkinan Ayu akan ‘hilang’ selamanya. Karena tubuhnya paling kecil dan paling lemah, maka ia tidak tahan akan luka-luka yang didapatnya itu.

“Ada apa gerangan dengan mereka bertiga? Mengapa sampai menderita seperti ini?” dokter bertanya-tanya.

“Mengapa sampai anak-anak kecil pun mengalami perlakuan dan siksaan seperti ini?” dokter bergumam dalam hati.

Ia sangat sedih melihat kondisi para pasiennya.Apalagi dia juga mendengar bahwa suami dari pasien ini juga sedang dirawat di rumah sakit ini. Bagaimana mungkin mereka sekeluarga mendapat cobaan seperti ini? Manusia sudah berusaha, Tuhan jua-lah yang menentukan. Sang dokter pun menaruh peralatannya dan mulai berdoa. Rupaya sang dokter adalah seorang percaya.
Ia sudah biasa menghadapi peristiwa yang mencemaskan hati. Ia sudah sering berdoa untuk kesembuhan pasien-pasiennya.

“Ya Bapa di dalam sorga, hambaMu datang menghadap hadiratMu dengan membawa pergumulan. Hamba berterima kasih untuk kasih setiaMu yang terus menyertai diri hambaMu ini. Saat ini hamba memohon pertolonganmu kembali untuk menangani 3 pasien yang baru datang. Hamba menyerahkan untuk Ibu Tami dan kedua anaknya yaitu Bayu dan Ayu. Hamba tidak mampu melihat tanda-tanda perbaikan dalam diri Ayu, hamba tahu sebagai manusia kemampuan medis saya sangat terbatas, namun saya percaya dan imani dengan kuat kuasaMu tidak ada yang mustahil. HambaMu mohon pertolongan pada diri ketiga pasien ini yang entah mengapa menderita cedera begitu parah. Kiranya bilur-bilurMu menyembuhkan ketiganya. Biarlah kasih kuasaMu melingkupi mereka bertiga dan membangkitkan mereka dari sakit penyakit. Namun bilamana memang sudah tiba waktunya buat mereka, hamba percayakan hidup mereka di tanganMu…...” Sang dokter terus berdoa dengan hati yang sungguh-sungguh.

Pada saat ia berdoa , ia bisa merasakan hadiratNya begitu nyata. Ia juga dapat merasakan bahwa saat itu bukan hanya ia sendiri yang berdoa. Seakan-akan ada untaian doa yang mengalir bersama-sama dengan doanya. Ia tahu hal ini terjadi karena bukan saja dirinya, tetapi juga orang-orang lain berdoa bersamanya. Ia tidak tahu dan tidak kenal siapa mereka, tapi ia percaya doa mereka menjadi suatu sarana permohonan kepada Allah yang merupakan satu-satunya harapan.

Tak putus-putusnya ia berdoa. Perawat yang melihatnya sedang berdoa, tidak ingin mengganggunya. Mereka sudah tahu kebiasaan dokter yang satu ini. Mereka juga menunda memberitahukan kondisi pasien Ayu yang denyut jantungnya sudah tidak ada! Sang dokter tidak ingin diganggu pada saat ia bersama dengan Tuhan. Mereka sudah sering melihat mujizat terjadi. Pasien yang dalam dunia medis sangat sulit disembuhkan, ternyata dengan kuasa doa nya menjadi sembuh! Memang kesembuhan adalah milik Tuhan.Dan hal ini dipahami oleh sang dokter yang memohonkannya untuk para pasiennya. Allah yang mengenal orang-orang yang sudah dianggap sebagai biji mataNya itu. Dan Allah tidak pernah mengecewakannya.

Pada saat yang sama Yakob, Pastor Peter, Ev. Debora, para jemaat dan aktifis GeYeSKu juga sedang bertekun berdoa. Doa mereka menjadi satu kesatuan yang dipanjatkan dengan kesungguhan hati.

Sementara Ayu dalam tidurnya mengalami kejadian yang sama dengan ayahnya. Roh Ayu terlepas dari tubuhnya dan melayang di udara. Ia bisa menyaksikan dokter, perawat sedang berusaha menangani dia, kakaknya dan ibunya. Ia juga bisa menyaksikan Yakob yang telah dikenalnya bersama Pastor Peter sedang berdoa di depan ruang darurat. Kemudian ia melihat dokter yang menanganinya melihat tubuhnya dan mengecek tanda-tanda kehidupan dalam dirinya. Tak lama kemudian sang dokter menaruh peralatan yang dibawanya lalu kemudian berdoa. Doa sang dokter dan Yakob serta Pastor Peter kemudian bersatu seirama dengan suara doa lainnya yang tidak dikenalnya.

Tiba-tiba di hadapannya berdiri sosok makhluk besar bercahaya menyilaukan. Ia tidak pernah melihatnya. Tiba-tiba makhluk itu berkata, “Anakku Ayu, kembali engkau ke tubuhmu. Kamu dapat hidup kembali karena permohonan dari para orang kudus yang memintanya kepada Tuhan. Kamu diberi kesempatan untuk mengenal Kristus sebagai Juruselamatmu seperti yang telah dialami ayahmu. Bersaksilah bersama keluargamu. Jadilah terang dan hamba Kristus yang setia!”

Tak lama kemudian cahaya yang menyilaukan dari sang makhluk menghilang. Rohnya pun kembali ke tubuhnya. Ia pun mulai bisa merasakan tubuhnya kembali. Ia mencoba membuka matanya dan berhasil. Ia bisa melihat kondisi di ruangan itu. Ia bisa melihat tubuh bunda dan kakaknya yang terbaring di ranjang di sampingnya. Ia juga bisa melihat dokter yang sedang berdoa di ruang itu juga.

Perawat yang tadi melihat garis datar pada layar monitor terkejut. Ia melihat garis itu kembali turun naik. Itu menandakan gadis kecil itu kembali bernafas! Lagi-lagi ia menyaksikan keajaiban! Sungguh luar biasa kuasa Tuhan yang mampu menghidupkan kembali orang yang sudah tiada. Bahkan perawat itu bisa melihat bahwa Ayu, si gadis kecil itu, sudah mulai membuka matanya dan mulai bergerak-gerak!

Tak lama kemudian sang dokter pun bangkit dari doanya dengan lagu ucapan syukur.
Sang dokter bangkit dengan penuh sukacita. Ia merasakan beban yang mehampirnya tadi sudah terangkat. Itu pertanda bahwa Allah sudah menjawab doanya. Ia percaya doa setiap orang benar akan dijawab oleh Tuhan pada waktunya dan sesuai dengan rencanaNya.

“Dokter, pasien Ayu sekarang sudah sadar!” sang perawat yang melihat dokter sudah selesai berdoa kemudian melaporkan kondisi Ayu.

“Puji Tuhan untuk kasihNya yang tak berkesudahan!” sang dokter mengangkat tangannya sambil mengucap syukur.

Ia pun segera mengambil kembali peralatan medisnya dan mulai memeriksa Ayu. Setelah memeriksa Ayu, kembali sang dokter mengucap syukur. Ayu sudah kembali normal! Bukan saja ia bisa bernafas kembali dengan normal, tapi luka-lukanya secara ajaib sembuh! Bahkan kemajuannya melampaui kemajuan yang diperlihatkan kakak dan ibunya. Sungguh perbuatan Tuhan sangat ajaib!

“Suster tolong awasi perkembangan ketiganya dan laporkan bila kondisi memburuk!” sang dokter berpesan sambil meninggalkan pesan untuk tindakan yang perlu dilakukan bila terjadi perkembangan yang memburuk.

Sang dokter kemudian menemui Yakob dan Pastor Peter.

“Bagaimana dok? Yakob langsung bertanya begitu melihat sang dokter.

“Puji Tuhan, masa krisis ketiganya sudah teratasi! Yang paling parah adalah Ayu. Namun saya percaya Tuhan telah menunjukkan kuasaNya yang luar biasa!” sang dokter mengumumkan.

“Maksud dokter?” Pastor Peter ingin lebih memahami.

“Sebenarnya dari ketiganya, Ayu yang paling saya khawatirkan. Sewaktu ia dibawa ke mari, tanda-tanda kehidupannya sudah minim. Hal ini berarti ia paling mendekati kematian. Bahkan tadi perawat memberitahu saya bahwa secara medis dengan melihat layar monitor, Ayu sudah dinyatakan meninggal!” sang dokter menjelaskan.

“Jadi Ayu bangkit dari kematiannya?” Yakob memastikan.

“Benar sekali. Ia sudah kembali hidup. Anehnya perkembangannya sekarang jauh melampaui perkembangan kakak dan ibunya. Secara medis, ia dapat dikatakan sudah sembuh! Namun karena lelah ia sekarang butuh istirahat. Semoga besok pagi, ia sudah bisa beraktivitas seperti biasa!” sang dokter kembali menjelaskan.

“Sungguh ajaib karyaNya! Tak berkesudahan kasih setiaNya!” Pastor Peter mengucapakan puji-pujian.

“Terima kasih dokter. Saya percaya Ayu dan keluarganya telah mendapat dokter yang tepat! Tadi saya sempat diberitahu oleh salah seorang perawat bahwa dokter adalah dokter yang suka berdoa. Jadi banyak pasien yang mengalami mujizat” Yakob memuji sang dokter.

“Ah mana berani saya menerimanya. Hanya Tuhan Yesus yang mampu sembuhkan dan pulihkan. Saya hanya alatNya saja. Saya juga percaya jemaat dari gereja Bapak mendapat hamba Tuhan yang tepat. Hamba Tuhan yang peduli dengan umatnya. Tadi saya juga mendengar dari perawat bahwa Bapak adalah gembala sidang dari GeYeSKu sedangkan adik adalah penginjil yang melayani di gereja yang sama” sang dokter balas memuji  keduanya.

“Dokter sungguh rendah hati. Saya sangat senang mengenal dokter. Saya percaya dokter dipakai Tuhan secara luar biasa!” Pastor Peter kembali memuji Sang Dokter.

“Dokter, apakah hal ini berarti kondisi ketiganya sudah berangsung membaik?” Yakob mengalihkan topik pembicaraan.

“Benar! Jadi saya rasa Bapak berdua boleh kembali pulang. Biarlah mereka dirawat di sini!” sang dokter mengusulkan.

“Baiklah dokter. Saya percayakan perawatan mereka bertiga di tangan para dokter dan suster di rumah sakit ini. Kami akan kembali ke gereja dan beristirahat. Terima kasih sekali lagi dokter. Tuhan Yesus memberkati!” Pastor Peter pamit dengan langkah perlahan bergandengan dengan Yakob.

“Sama-sama” sang dokter pun kemudian pamit dan kembali ke ruang praktek untuk melihat kondisi para pasien.

--o0o—

Pastor Peter dan Yakob kembali ke mobil.

“Bagaimana dengan kondisi keluarga Arman, mu shi?” Hasan langsung bertanya begitu melihat Pastor Peter dan Yakob.

“Puji Syukur. Mereka sudah mulai berangsur membaik!” Pastor Peter.

“KasihNya sungguh nyata dalam keluarga Pak Arman” Yakob juga menimpali.

-oo0oo-

Malam sudah larut.  Pastor Peter, Yakob serta Hasan sudah kembali ke gereja. Mereka kembali ke kamar mereka masing-masing dan beristirahat. Satu hari kembali telah berlalu.

-oo0oo-

Di tempat lain, para demon sedang merintih-rintih setelah dihajar habis-habisan oleh Sang Bos. Tidak ada yang bisa melarikan diri. Semuanya telah dianggap gagal. Tak satu pun dari keluarga Arman yang mati!

-oo0oo-

No comments:

Post a Comment