(Episode
7)
KELUARGA
ARMAN
“Penginjil, kamu
bawa apa?” Simon menanyakan bawaan Yakob.
(Di GeYeSku, istilah
“Penginjil” atau “Evangelist” digunakan untuk hamba Tuhan yang melayani
pemberitaan firman Tuhan di gereja dan sudah lulus kuliah teologia dengan gelar
sarjana teologi atau disingkat S.Th.)
“Oh ini bubur
untuk keluarga Pak Arman yang menjaga di rumah sakit!” Yakob memperlihatkan isi
rantang yang dibawanya.
Tadi memang dia
membawa 2 rantang. Satu untuk keluarga Jonas dan yang lainnya untuk keluarga
Pak Arman.
“Wah Penginjil
perhatian sekali. Sungguh pekerjaan yang mulia membantu keluarga yang
membutuhkan” Simon memang menyukai penginjil yang multi talenta ini.
“Saya rasa Pak
Simon juga sangat perhatian. Tadi kan Pak Simon membawakan roti buat Jonas.
Pasti Bapak bawakan juga untuk keluarga Pak Arman kan?” Yakob menduga.
“Ha..ha… memang
Penginjil bisa menebak dengan benar. Bedanya kalau saya tidak sempat membuat
makanan tetapi membeli saja” Simon terus berjalan di samping Yakob.
“Ngomong-ngomong…
Penginjil ke rumah sakit bareng kami saja agar efisien, bagaimana?” Maria
menawarkan.
“Betul juga.
Terima kasih tawarannya Bu Mar” Yakob menerimanya.
Akhirnya tibalah
mereka pada mobil yang akan digunakan. Simon dan Yakob duduk di depan. “Biar
berdua bisa mengobrol” pendapat Maria.
“Pak Arman kan
sedang terbaring di rumah sakit. Bagaimana dengan supir pengganti? Apakah diaken
ingin mencari supir cadangan?” Yakob meminta masukan Simon saat mobil sudah
dinyalakan mesinnya.
“Hmm…. Tentu
saja! Selama Arman sakit kita harus mencari supir cadangan. Apakah Penginjil
ada calon?” Simon gantian meminta masukan sambil menjalankan mobilnya.
“Tadi pagi di
pasar saya bertemu dengan Deny, salah seorang anak dari korban kecelakaan kapal
baru-baru ini. Dia pernah muncul di televisi saat orang tuanya diberitakan
meninggal saat itu!” Yakob menjelaskan.
“Oh… saya ingat.
Sepertinya saya pernah nonton wawancaranya.. kasihan sekarang anaknya
sendirian” Simon meningat-ingat.
“Dia bukan hanya
sendirian, sekarang ia sempat menjadi pencopet karena sudah tidak orang tua
yang mendanainya lagi. Terdesak kebutuhan hidup dasar untuk makan, akhirnya ia
mengambil jalan pintas” Yakob menambahkan.
“Sayang sekali.
Lalu apa hubungannya dengan supir cadangan? Apa Penginjil mau meminta dia jadi
supir cadangan?” Simon menduga.
“Benar. Dia
menjadi pencopet karena tidak punya uang untuk hidup, jadi solusinya harus
punya pekerjaan.” Yakob membenarkan.
“Itu pikiran
yang mulia. Menurut Penginjil, apakah ia bisa dipercaya kalau bekerja sebagai
supir?” Simon sepertinya ingin ada jaminan.
“Memang tidak
ada jaminan bahwa ia tidak akan mencopet lagi. Tapi kalau kita ingin memberi
kesempatan, saya akan coba mengawasinya. Walau tidak mungkin setiap saat.”
Yakob mencoba memberi solusi.
“Resiko buat
gereja akan besar. Kalau sampai ia membawa kabur mobil gereja, maka kita akan
mendapat masalah baru!” Simon mencoba mengingatkan.
“Betul. Saya
akan coba menguji kesungguhan dia. Kalau ia lulus, maka barulah kita
memakainya” Yakob mengusulkan.
“Baiklah. Saya
rasa saya setuju. Kita juga harus memberi kesempatan pada orang-orang untuk
bertobat. Tapi kita tetap harus mempertanggungjawabkan harta gereja. Jangan
sampai karena kecerobohan , kita menghilangkannya” Simon menyimpulkan.
“Pastor Peter
juga sudah setuju dengan rencana ini. Kita akan mengawasinya bersama-sama.
Demikian juga dengan beberapa jemaat dan aktifis akan kita minta bantuan untuk
mengawasinya.” Yakob memberi masukan atas beberapa orang aktifis dan jemaat
yang bersedia membantunya.
“Rupanya
Penginjil sudah siap untuk membantunya. Saya rasa kita bisa mencobanya besok.
Saya juga coba mengawasinya” Simon kagum pada Yakob. Yakob meminta pendapatnya
terlebih dahulu tanpa menceritakan pendapat orang lain terlebih dahulu sehingga
bisa mempengaruhinya.
“Ngomong-ngomong
bagaimana dengan biaya rumah sakit dan operasi Pak Arman?” Yakob beralih topik.
“Karena kejadian
Arman membutuhkan penanganan segera, maka kita terpaksa tidak bisa menggunakan
jalur BPJS karena takut penanganannya terlalu lama. Jadi ambil jalur biasa. Biayanya juga cukup
besar walau menggunakan fasilitas kelas 3. Namun itu tidak penting. Yang utama,
Arman bisa diselamatkan. Uangnya nanti kita minta jemaat yang terbeban untuk
membantunya. “ Simon menjelaskan. Tidak terasa ia sudah menjalankan mobilnya
sampai di Jalan Mangga Besar Raya.
“Itulah keunikan
sebuah persaudaraan dalam Kristus. Saat seorang jemaat menderita ibarat anggota
tubuh, maka bagian yang lain ikut menderita dan merasakan sakitnya. Namun
semuanya berusaha untuk menolongnya.” Yakob lega dengan pernyataan Simon.
Tiba-tiba dilihatnya Rocky sedang mendorong gerobak nasi gorengnya.
“Eh… itu Pak
Rocky, penjual nasi goreng. Apakah Pak
Simon mengenalnya?” Yakob mengalihkan lagi topik pembicaraan.
“Tidak. Kami
biasanya makan di rumah. Kami lebih percaya makanan yang dimasak di rumah”
Simon rupanya tidak suka jajan di luar. “Memang Penginjil kenal?” Simon balik
bertanya.
“Semalam saya
makan nasi gorengnya. Di situ juga saya mengenal Jonas” Yakob menjelaskan.
“Oh begitu.
Tumben Penginjil beli nasi goreng di luar. Bukannya Penginjil sendiri pintar
memasak?” Maria nimbrung.
“Wah… saya hanya
bisa masak sedikit. Mana bisa dibandingkan dengan Ibu Maria!” Yakob memuji
Maria yang sudah terkenal masakannya.
“Bisa saja. Saya
sering dengar Arman, Hasan dan James memuji masakan Penginjil. Begitu juga
dengan mu shi (pendeta) dan shi mu (istri pendeta)”Maria rupanya
suka memperhatikan hal seperti ini.
“Saya hanya
masak beberapa macam makanan sederhana. Maklum anak asrama di kampus. Nanti
saya mau belajar masak dari Ibu Maria” Yakob masih mencoba mengelak.
“Waduh … saya
merasa tersanjung nih…” Maria menggodanya.
“Ha…ha…ha…
Ngomong-ngomong bagaimana ya reaksi keluarga Pak Arman kalau tahu Pak Arman sudah percaya kepada
Tuhan Yesus sebagai Juruselamatnya?” Yakob kembali mengalihkan topik.
“Pasti berat!
Istri Pak Arman adalah seorang anak dari pemuka agamanya. Kemungkinan besar ia
akan menolak perubahan kepercayaan Pak Arman. Sedangkan anak-anaknya sepertinya
lebih dekat pada ibunya” Simon mencoba menganalisa. Tanpa terasa mobil sudah
masuk ke rumah sakit.
“Hm… kalau
begitu kita harus terus berdoa, agar Pak Arman bisa dikuatkan saat menghadapi
gelombang dalam keluarganya” Yakob mulai bersiap-siap untuk turun. Ia mengambil
rantang bubur nya kembali untuk dibawa turun.
“Eh… bukannya
itu istri dan anak-anak Arman?” Simon menunjuk ke arah tiga orang yang sedang
berjalan.
“Betul.
Sepertinya mereka mau pergi. Mungkin mencari makan?” Maria menduga.
“Kalau begitu
saya ke tempat mereka. Akan saya berikan bubur ini dulu” Yakob permisi.
“Silahkan
Penginjil” Simon dan Maria menjawab serentak.
Dengan cepat
Yakob membuka pintu, turun dari mobil dan langsung berlari membawa rantang
buburnya mengejar istri dan anak-anak Pak Arman.
“Bu Tami! Bayu!
Ayu!” panggil Yakob.
Ketiga nama yang
dipanggil itu berpaling ke arah Yakob dan kemudian melambai-lambaikan tangan
mereka.
“Lagi mau kemana?”
Yakob bertanya saat ia sudah sampai di hadapan mereka. Ia pun menyalami mereka.
“Kami sedang mencari
makan” Tami yang mewakili untuk menjawab.
“Pas banget. Ini saya
bawakan bubur untuk makan. Moga-moga suka” Yakob menawarkan buburnya.
“Terima kasih ya. Jadi
tidak enak hati merepotkan” Tami agak sungkan.
“Tidak apa. Saya
kebetulan membuat banyak, jadi sekalian saya bawa ke mari” Yakob
menenangkan sambil mengarahkan mereka
untuk duduk di meja yang ada. Lalu ia pun membagi bubur pada rantang susun tiga
ke masing-masing Tami, Bayu dan Ayu.
“Terima kasih” kata
Bayu dan Ayu bersama-sama sambil menerima rantang.
Yakob sudah menyiapkan
dengan lengkap sendoknya sehingga Tami, Bayu dan Ayu bisa langsung makan.
“Halo! Apa kabar?”
Simon yang sudah sampai bersama istrinya menyapa.
“Baik!” serempak Tami,
Bayu dan Ayu menjawab.
“Ini saya bawakan air
minuman” Simon menyodorkan beberapa gelas minuman air mineral kepada ketiganya.
“Terima kasih”
lagi-lagi mereka bertiga menjawab.
“Bagaimana kabar Pak
Arman? Apakah sudah siuman?” Maria mengungkapkan keingintahuannya.
“Tadi sempat sadar
sebentar, lalu tertidur kembali karena masih mengantuk” Tami menjawab.
“Syukurlah” Maria
berkata senang.
“Apakah sempat
berbicara dengan Pak Arman?” Yakob memancing.
“Iya. Tadi kami sempat
masuk bicara sebentar” Tami menjawab. Namun tiba-tiba ia berhenti makan.
“Eh… kenapa Bu?” Yakob
melihat perubahan sikap Tami.
“Tadi Bapak sempat
menceritakan kejadian yang saya tidak mengerti. “ Tami mulai berbicara kembali.
“Boleh ceritakan ke
kami Bu?” Simon menimpali.
Tami pun
mengingat-ingat peristiwa yang dialami dan mulai bertutur.
--o0o—
Arman
yang sudah 3 jam istirahat setelah dioperasi akhirnya sadar. Kepalanya masih
mengawang-awang. Setelah konsentrasi sebentar, akhirnya ia mengenali sosok yang
ada di dekatnya.
“Bunda!
Bayu! Ayu!” Arman memanggil perlahan.
“Ayah!” nama-nama yang
dipanggil tiba-tiba bangkit dari tempat duduknya.
Mereka segera
mengerumuni tempat tidur Arman.
“Abang bagaimana
rasanya?” Tami menanyakan kabar suaminya.
“Kepala saya masih
terasa berat. Rasanya ingin cepat-cepat tidur kembali.” Arman menjawab.
“Kalau
begitu Ayah istirahat dulu saja!” Bayu, anaknya yang paling besar, mengusulkan.
“Iya, Ayah!” Ayu sepakat.
“Iya
Ayah akan tidur sebentar lagi. Tapi sebelumnya Ayah ingin menceritakan apa yang
telah Ayah alami tadi” Arman merasakan suatu perasaan yang meluap. Ia ingin
segera membagikan nya kepada orang-orang terdekatnya.
“Oh…
ada kejadian apa Abang?” Tami jadi penasaran.
“Tadi
Ayah sudah mati!” Arman mulai dengan perkataan yang mengejutkan.
“Ayah….
Jangan bercanda!” Tami ketakutan.
“Tenang
Bunda! Kan sekarang Abang masih ada!” Arman menenangkan.
“Mengapa Ayah bilang begitu?” Bayu ingin mendengar
secepatnya latar belakang perkataan ayahnya.
“Saat Ayah akan dioperasi, Ayah disuntik obat bius
sehingga tidak sadarkan diri. Ayah hanya merasa kesadaran ayah semakin lama
semakin hilang hingga tidak ingat apapun” Arman mulai bercerita.
“Sakitkah Ayah waktu disuntik?” Ayu yang masih kecil
ingin tahu.
“Hanya sedikit, seperti digigit semut. Jadi nanti
kamu jangan takut kalau disuntik ya?” Arman memandang putrinya.
“Lalu bagaimana kelanjutannya Yah?” Bayu tidak
sabar.
“Ayah tidak tahu berapa lama Ayah dioperasi.
Tiba-tiba Ayah merasakan roh Ayah melayang meninggalkan tubuh Ayah. Ayah bisa
melihat tubuh Ayah sedang dioperasi oleh para dokter!” Arman langsung
menyambung lagi ceritanya.
“Apa? Kalau roh meninggalkan tubuh berarti Ayah
sudah meninggal?” Tami mengutarakan apa yang ia tahu.
“Sepertinya begitu. Lalu Ayah meliha ada 2 sosok roh
yang menjemput. Sepertinya mereka adalah malaikat. Yang satu putih dan yang
lain hitam!” Arman melanjutkan ceritanya.
“Jadi Ayah pilih yang mana?” Tami jadi penasaran.
“Itu pasti malaikat penjemput nyawa” Bayu yang
senang menonton film horror menyimpulkan.
“Wah seram ya Ayah” Ayu merasa ngeri.
“Ayah sadar mereka adalah malaikat penjemput nyawa.
Ayah sempat bingung dengan mereka.
Beruntung Ayah sudah tahu cara menghadapinya” penjelasan Arman masih
meninggalkan teka-teki.
“Pasti yang
warna hitam itu yang jahat ya Ayah? Itu penunggu neraka kan?” Bayu menebak.
“Benar dugaanmu Bayu. Hanya kuncinya bukan di sana.
Ayah bertanya kepada mereka berdua, apakah mereka percaya bahwa Yesus adalah
Anak Allah? Yesus adalah Tuhan dan Juruselamat?” Arman membuka rahasianya.
“Lho Ayah kenapa jadi bawa-bawa nama Yesus?” Tami
jadi heran.
“Jadi apa jawaban mereka?” Bayu jadi tertarik.
“Mereka berdua menganggukkan kepala, tanda setuju!”
pernyataan Arman membuat Tami terdiam. Dia tidak pernah mendengar hal seperti
ini. Bagaimana mungkin kedua malaikat yang berbeda itu mengaku Yesus sebagai
Tuhan. Bukankah kalau benar, yang satu malaikat dari sorga dan yang lain dari
neraka alias anak buah iblis? Kalau begitu berarti roh jahat pun percaya bahwa
Yesus adalah Tuhan! Hal ini membuatnya terkejut. Namun kalau itu roh jahat,
mengapa harus percaya kepadanya? Pasti tidak bisa dipercaya! Namun sungguh-sungguh
unik.
“Wah membingungkan. Jadi Ayah pilih yang mana?” Bayu
ingin cepat-cepat tahu kelanjutannya sementara adiknya hanya terdiam.
“Lalu Ayah meminta mereka mengucapkan hal itu. Di
sanalah perbedaannya. Roh yang hitam itu memang menganggukkan kepala tanda
percaya, tapi ia tidak mau mengaku dengan mulutnya. Sedangkan yang putih dengan
tersenyum mengucapkan kepercayannnya!” Arman melanjutkan ceritanya.
“Jadi karena itu Ayah memilih yang putih?” Tami
menyimpulkan.
“Benar. Ayah tidak ragu-ragu lagi. Namun itu
merupakan ujian buat Ayah. Ternyata yang putih itu kemudian menyampaikan pesan
kepada Ayah. Sedangkan yang hitam sudah menghilang” perkataan Arman membuat
membuat keluarganya penasaran.
“Pasti pesan penting dari Allah. Betul kan Yah?” Ayu
akhirnya berbicara juga.
“Benar. Ia menyampaikan pesan bahwa Ayah akan
kembali hidup dan memberikan kesaksian” Arman menjawab keingintahuan anaknya.
“Oh begitu. Sekarang saya mengerti.” Perkataan Tami
sekarang membuat Arman bingung.
“Mengerti apa?” Arman penasaran.
“Dokter kepala yang mengoperasi Ayah keluar dua
kali. Pertama kali ia mengabarkan bahwa Ayah operasi gagal dan Ayah sudah
meninggal. Namun anehnya tidak lama kemudian ia keluar kembali dan mengatakan
bahwa Ayah hidup kembali. Saya tidak paham mengapa bisa seperti itu. Tadinya
saya pikir Ayah hanya tertidur lalu bangun kembali” Tami menceritakan
pengalamannya sewaktu menjaga Arman saat operasi.
“Itu membuktikan bahwa memang Ayah sudah meninggal,
lalu hidup kembali” Arman semakin kagum dengan maksud Allah dalam hidupnya.
“Lalu, kesaksian apa yang ingin disampaikan?” Bayu penasaran
dengan pernyataan Ayahnya sebelumnya.
“Kesaksian bahwa Yesus adalah Anak Allah dan
sekaligus Tuhan. Dia adalah Juruselamat dunia! Maka Ayah ingin membagikan hal
ini kepada kamu sekalian!” Arman menatap keluarganya ingin mengetahui kesan
mereka.
“Ayah, bagaimana mungkin Ayah bisa punya kepercayaan
seperti itu?” Tami terkejut.
“Ayah sudah mengalami sendiri. Bahkan sebelumnya
Ayah sudah mengalami hal lainnya. Nanti Ayah ceritakan. Namun sekarang Ayah
sudah mantap mengikut Yesus!” Arman membagikan imannya.
“Abang tidak takut Abah marah?” Tami mengingatkan
ultimatum dari papanya yang seorang pemuka aliran kepercayaan.
“Ayah mertua memang punya kepercayaan yang teguh.
Namun ini adalah urusan antara saya dengan Allah yang tidak bisa diwakili siapa
pun!” Arman tampaknya sudah benar-benar mantap.
“Jadi Ayah akan menerima sanksi apa pun dari Abang?”
Tami tampak khawatir.
“Benar!” Arman menunjukkan tekadnya.
“Bagaimana dengan janji Abang sewaktu menikahi
saya?” Tami kepalanya pening.
“Abang akan tetap setia pada Bunda. Namun bagaimana
bila Bunda dipaksa oleh Abah untuk bercerai dengan Abang?” giliran Arman
bertanya.
“Bunda tidak tahu. Bunda ingin ikut Abang agar kita
tidak terpisah selamanya. Tapi ancaman Abah sangat mengerikan. Ia akan membunuh
siapa saja anaknya yang beralih kepercayaan!” Tami tambah pening.
“Bunda pindah saja ke mari. Kita hidup jauh dari
Abah dulu sampai Abah bisa menerima kita” Arman mengusulkan.
“Hm…. Bunda masih bingung.” Tami tampaknya tidak
siap menerimanya.
“Ayah, Bunda… jangan berpisah ya!” Bayu yang lebih
dewasa hanya sedikit memahami percakapan orang tuanya.
“Ayah, Bunda…. Kita semua bersama selalu” Ayu yang
tidak mengerti sepertinya merasa ada yang tidak biasa.
“Tentu kita akan selalu bersama” Arman menenangkan
anak-anaknya.
“Kalau begitu Abang sekarang istirahat dahulu. Bunda
akan tunggu di luar. Agar Ayah bisa
cepat pulih” Tami sendiri tiba-tiba ingin istirahat. Masalah ini membuatnya
pusing.
“Baiklah. Memang Ayah masih perlu banyak waktu untuk
memulihkan diri. Kalau Bunda dan anak-anak lelah, sebaiknya pulang saja. Karena
malam ini, rasanya Ayah akan tidur sampai pagi” Arman kembali merasakan
kelemahan tubuhnya. Hanya semangatnya saja yang tadi bisa membuatnya bertahan.
“Selamat beristirahat Abang. Kami akan pulang dulu,
karena besok Bayu dan Ayu sekolah. Besok pagi Bunda akan kembali!” akhirnya
Tami memutuskan.
Tami,
Bayu dan Ayu pun kemudian mencium tangan Ayah nya untuk pamit.
Arman
membelai rambut anak-anaknya dengan lembut. Dalam hatinya ia berdoa agar
keluarganya juga diselamatkan. Arman tahu akan terjadi pergolakan hebat di
pihak keluarga bila mendengar kesaksiannya.
“Ya
Tuhan, kepadaMu saya serahkan masalah saya dan keluarga saya. Saya tahu saya
tidak mampu menghadapinya sendiri. Namun saya percaya rencanaMu indah pada
waktunya” doa Arman dalam hatinya.
Tami,
Bayu dan Ayu pun keluar dari ruang perawatan. Karena belum makan , mereka pun
memutuskan untuk makan dahulu di kantin rumah sakit. Saat itulah Yakob, Simon
dan Maria melihat mereka.
--o0o—
“Begitulah kisahnya” Tami berhenti bertutur.
Yakob, Simon dan Maria
mendengar kisah Tami dengan takjub. Mereka bersyukur bahwa Arman memiliki iman
percaya yang demikian luar biasa. Padahal banyak orang yang sudah lama percaya,
tidak memiliki iman percaya seperti itu! Mereka tidak pernah membagikan iman
percayanya!
“Sekarang bagaimana
dengan Ibu Tami sendiri setelah mendengar kisah Pak Arman?” akhirnya Yakob
memecah kesenyapan.
“Itulah yang membuat
saya bingung. Kalau Abah mendengar kisah ini, Abah pasti ngamuk dan bisa melakukan
hal-hal yang sulit dibayangkan!” Tami tampak gelisah.
“Hal apa itu Bu Tami?”
Simon ingin kepastian.
“Abah akan melakukan
segalanya agar Pak Arman kembali seperti semula. Bila ia tidak mau, maka Abah
akan mengambil saya kembali beserta anak-anak sehingga kami berpisah!” Tami
mengutarakan kekhawatirannya.
“Tapi kan kamu sudah
menikah. Berarti sudah bebas menentukan pilihan” Simon beragumentasi.
“Benar. Pilihannya
antara suami dengan Abah. Itu yang membuat saya bimbang” Tami mengutarakan kebingungannya.
“Kalau begitu Ibu Tami
berdoa dahulu minta hikmat dari Allah agar dilemma yang Ibu hadapi dapat
pemecahan!” Yakob mengusulkan.
“Betul Ibu. Masalah ini
bukan sekedar pilih suami atau bapak, tetapi pilihan atas keyakinan Ibu.
Mintalah petunjuk Allah agar Ibu bebas memilih.” Simon menguatkan.
“Baiklah. Saya akan
mencoba meminta petunjuk Allah.” Ibu Tami kemudian melanjutkan makan sambil
termenung.
“Bayu dan Ayu,
bagaimana buburnya?”Yakob coba mengajak bicara.
“Enak Kakak.” Jawab
keduanya hampir serempak.
“Kalau begitu ,
habiskan ya” Yakob melihat ke arah rantangnya.
“Iya Kakak. Terima
kasih.” Lagi-lagi keduanya kompak.
Akhirnya selesai juga
makan malam mereka.
“Ibu Tami bagaimana
rencana malam ini?” Yakob ingin tahu jadwal Tami.
“Saya akan kembali ke
rumah karena besok Bayu dan Ayu sekolah. Besok pagi saya akan datang lagi
sendiri.” Tami menjelaskan rencananya.
“Kalau begitu, sekarang
saya drop Ibu di stasiun KA terdekat?” Simon menawarkan.
“Iya terima kasih” Tami
bersyukur.
Sebelum berpisah, Yakob
sudah meminta nomor handphone Tami, agar memudahkan bila perlu dihubungi.
Setelah itu Yakob melakukan mis-call.
Ternyata benar. Handphone Tami berbunyi. Tami pun menyimpan nomor telepon
Yakob.
--o0o--
Akhirnya Tami, Bayu dan
Ayu turun di stasiun KA Kota. Mereka pun mengucapkan terima kasih kepada Simon
dan Maria.
“Bu Tami, kami juga
akan berdoa untuk Ibu dan Pak Arman” Yakob berkata sambil melambaikan tangan.
“Terima kasih.” Jawab
Tami sambil membalas lambaian tangan.
“Malam ini akan menjadi
malam yang berat untuk Ibu Tami. Kita harus berdoa untuknya agar Allah
memberikan pengertian yang benar kepadanya” Yakob mengusulkan.
“Benar. Walau kita
tidak bisa menolongnya secara langsung, tapi kita mendukung Arman dan
keluarganya dalam doa. Minimal itu yang bisa kita lakukan” Simon setuju sambil
menjalankan mobilnya kembali.
“Malam ini akan menjadi
malam penentuan buat keluarga Arman. “ Maria membenarkan.
“Sebaiknya saya
memberitahu Pastor Peter dan Ev. Debora serta rekan-rekan dari kelompok sel
serta para diaken lainnya” Yakob rupanya memandang genting masalah ini.
“Benar. Kita akan
bersatu hati berdoa untuk mereka!” Simon setuju.
“Ngomong-ngomong, saya
bisa mengundang Deny untuk bekerja sebagai supir gereja?” Yakob ingin
memastikan.
“Saya rasa dihubungi
dulu. Kita akan mengujinya dahulu sebelum kita benar-benar menugaskannya
sebagai supir gereja. Setidaknya setiap ia mengendarai mobil, ada orang yang
menemaninya!” Simon mengusulkan.
“Itu juga yang ada
dalam pikiran saya. Jadi saya hubungi Deny sekarang, takut lupa!” Yakob pun
mengeluarkan telepon genggamnya.
“Silahkan Penginjil”
Simon mengecilkan volume radio.
--o0o—
Drt….drt…. telpon di
saku celana Deny bergetar.
Deny pun mengambil
telpon genggamnya lalu melihat layar monitornya.
“Oh ….. Kak Yakob! Ada
apa ya?” gumamnya dalam hati.
Ia pun menekan tombol
YES untuk menerima panggilan dari Yakob
“Halo?” terdengar suara
Yakob menyapa.
“Halo Kak Yakob” terdengar
suara di seberang. Simon dan Maria pun dapat mendengarnya karena Yakob
menggunakan pengeras suara.
“Sedang apa Deny?” Yakob membuka percakapan.
“Tidak ngapa-ngapain
Kak” Deny membalas
“Deny, besok pagi sekitar pk 8.30 bisa ke
Gereja Yesus Satu-Satunya Juruselamatku?”
“Hmm.. ada apa Kak?” Deny
ingin mengetahui tujuannya diundang.
“Supir gereja Kakak
mengalami kecelakaan. Kakak ingat kamu bisa mengemudi dan sedang cari
pekerjaan. Bagaimana?” Yakob menawarkan.
“Eh…. Saya mau Kak.
Daripada saya nganggur sehingga tidak punya uang untuk makan” Deny dengan cepat
menyetujui usulan Yakob.
“Kalau mau kamu bawa
surat lamaran dan CV nya. Kamu bisa buat?” Yakob ingin memastikan.
“Tentu Kak. Saya kan
sudah beberapa kali melamar pekerjaan. Besok akan saya bawa sekalian” Deny
terdengar antusias suaranya.
“Sesuai dengan
peraturan, kamu akan bekerja dengan masa percobaan 3 bulan. Artinya kalau
dianggap tidak mampu, maka kamu akan diberhentikan. Bagaimana menurut
pendapatmu?” Yakob menjelaskan aturan
“Saya bisa menerimanya.
Saya tahu itu aturan yang umum berlaku. Saya akan mengikutinya dengan baik” Deny
menyatakan tekadnya.
“Satu lagi Deny. Gereja
membutuhkan orang-orang yang jujur untuk bekerja. Apalagi jemaat menyerahkan pihak
majelis unuk mengelolanya dengan benar. Apakah kamu bersedia bekerja dengan
penuh kejujuran?” Yakob lagi-lagi bertanya kesungguhan Deny.
“Saya akan bekerja
dengan jujur. Saya memang mencuri sebelumnya karena lapar. Saya bertekad untuk
mengubah hidup saya. Mohon Kakak berikan petunjuk bila saya salah” Deny memang
dasarnya anak yang baik.
“Baiklah Kakak percaya
kepadamu. Jangan hancurkan Kakak dan kepercayaan Kakak kepadamu.Tidak mudah
bagi Kakak untuk meyakinkan orang-orang di gereja untuk memberi kesempatan
kepadamu!” Yakob menjelaskan posisinya. Yakob akan menjadi jaminan bila Deny
ternyata melakukan ketidakjujuran.
“Terima kasih Kakak.
Saya akan berusaha sebaiknya semampu saya!” Deny lagi-lagi menunjukkan
komitmennya.
“Kalau begitu sampai
beremu besok pagi pk 8.30”
“Sampai bertemu Kakak”
Yakob pun mematikan
teleponnya.
“Semoga ia bisa menjadi
supir yang baik” Yakob sangat berharap.
“Benar. Semoga ia bisa
berkembang menjadi orang yang baik dan percaya pada Tuhan Yesus” Maria
menimpali.
“Kita akan berdoa
baginya juga” Simon berkata sambil menepikan mobilnya. Rupanya mereka sudah
tiba di depan GeYeSKu.
“Terima kasih banyak
Pak Simon dan Ibu Maria. Sampai bertemu lagi” Yakob turun lalu melambaikan
tangannya.
“Bye..” Maria dan Simon
membalas lambaian tangan mereka.
Yakob membuka pintu
gerbang gereja dan masuk ke dalam semenara Simon menjalankan kembali mobilnya.
Saat melewati kamar
Pastor Peter, Yakob mampir dan melaporkan apa yang sudah dikerjakan dan
memberitahukan tentang Deny yang akan diundang datang besok pagi.
“Saya percayakan
pembinaan Deny kepadamu Yakob” Pastor Peter memberi wewenang.
“Terima kasih Mu Shi. Semoga Deny bisa menjadi alat
yang berguna untuk pelayanan gereja” Yakob menimpali.
“Tentang Tami. Kita
akan berdoa bersama-sama untuknya malam ini. Pasti malam ini ia membutuhkan
pertolongan Tuhan” Pastor Peter seperti mendapat firasat.
“Benar Mu Shi. Saya sudah menghubungi beberapa
orang untuk ikut berdoa baginya” Yakob membertiahukan nama-nama yang sudah
dihubungi.
“Bagus Yakob. Kamu
sangat cekatan.” Pastor Peter memuji.
“Semua itu untuk
kemuliaan Tuhan kita Yesus Kristus” Yakob memberitahukan motif nya.
“Amin… Kalau begitu
pokok doa kita kali ini juga untuk Ibu Amy. Kiranya ia dikuatkan dan terus
bertumbuh dalam Kristus” Pastor Peter juga mengingatkan.
“Benar Mu Shi. Sekaligus saya pamit mau balik
ke kamar” Yakob minta diri dan kemudian keluar kamar pastori Pastor Peter.
--oo0oo—
“Tami , kamu sudah
pulang?” suara telepon di seberang bertanya.
“Baru sampai Abah” Tami
meletakkan tasnya sambil menjawab telepon.
“Bagaimana kabar
Arman?” suara Abah kembali bertanya.
“Sudah lewat masa
kritisnya Bah dan sedang istirahat sampai pagi!” suara Tami tidak begitu
semangat.
“Kalau begitu, besok
pagi kita sama-sama ke sana ya?” Abah menawarkan.
“Eh… tidak usah Bah.
Nanti saya kabari saja kondisinya.” Suara Tami terdengar tidak nyaman.
“Lho kenapa tidak boleh
dibesuk?” Abah penasaran.
“Abang baru operasi,
jadi perlu banyak istirahat” Tami mencoba memberi alasan.
“Ah… seperti orang lain
saja. Kita kan keluarga dekat” Abah membantah.
“Bukan begitu Bah.
Takut Abah juga terlalu lelah” Tami bingung memberi alasan.
“Sudah…! Jangan
khawatir. Biar sudah berumur, Abahmu ini masih gagah” Abah membesarkan hati
anaknya.
“Terserah Abah ,
bagaimana baiknya saja” Tami menyerah.
“Ngomong-ngomong kenapa
Arman sebenarnya?” Abah mencari sedikit informasi. Ia memang cukup perhatian.
“Abang ditabrak motor
saat naik sepeda. Luka-lukanya parah dan ia hampir meninggal” Tami menjawab
singkat.
“Wah beruntung Arman
bisa diselamatkan. Jangan lupa sembahyang” Abah mengingatkan.
“Bah… Abang sebenarnya
sudah meninggal. Hanya ia mendapat mujizat sehingga hidup kembali” Tami
akhirnya memutuskan untuk menceritakan kondisi Arman.
“Allah memang luar
biasa” Abah memuji Allah.
“Abang menceritakan
bahwa ia diselamatkan oleh Yesus Kristus” Tami dengan berani melontarkan apa
yang dia ketahui.
“Apa?” suara di
seberang tiba-tiba diam.
“Abang bercerita bahwa
ia sebenarnya sudah meninggal, namun saat dijemput oleh malaikat ia disuruh
kembali untuk bersaksi” Tami melanjutkan. Ia sudah nekat. Kepalanya terasa
pecah memikirkan dilemma di dalam dirinya.
Abah tiba-tiba terdiam.
Setelah hening beberapa saat akhirnya ia bertanya singkat, “Jadi sekarang Arman
sudah percaya Yesus Kristus?”
“Benar Bah” Tami juga
menjawab singkat.
“Sebentar Tami. Abah
mau ke rumahmu sekarang juga!” Abah langsung memutuskan hubungan teleponnya.
“Semoga Abah bisa
menerima kondisi Abang” gumam Tami dalam hati. Ia sudah bertekad bila Abah
tidak bisa menerimanya, maka ia harus membuat keputusan.
--oo0oo—
“Hai
rekan-rekan, sebentar lagi kita akan berpesta” seorang demon yang bertugas
mengawasi keluarga Arman berkata dengan senang.
“Maksudmu?”
demon lainnya ingin meminta penjelasan.
“Rekan
yang mengawasi Abah memberi kabar bahwa Abah sudah menghubungi paman dan kakak
Tami. Lalu Abah juga membawa tongkat untuk menghukum Tami!” jawab demon
pertama.
“Ha….!
Ha….! Ha….! Sebentar lagi kita akan berpesta melihat kekejaman yang dilakukan Abah
terhadap keluarganya sendiri. Dan besok beritanya akan tersebar di surat kabar.
Ha…! Ha…! Ha…!” para demon tertawa senang.
“Kita
bisa membuat laporan keberhasilan kita kepada Bos” komentar demon lainnya.
“Menurutmu,
apakah keluarga Arman ini akan meninggal satu per satu?” demon pertama bertanya
kepada rekannya.
“Tentu
saja kita harapkan demikian. Keluarga Arman hanya tinggal Tami dan kedua
anaknya yang masih kecil. Mana mungkin mereka mengimbangi atau melawan Abah,
Paman dan Kakak Tami” demon lainnya menjawab.
“Sungguh
senangnya…. Mari kita nantikan kabar membahagiakan ini bersama-sama… Ha…! Ha…!
Ha…!” para demon bersukacita.
--o0o—
“TOK…! TOK…! TOK…!”
Terdengar ketukan di
pintu. Tami yang sudah siap-siap , segera membukakan pintu.
Tampak Abah, abang dan
pamannya berdiri di depan pintu. Muka Tami pucat. Ia tahu kehadiran mereka akan
menentukan masa depan pernikahannya.
“Masuk Abah, Kakak dan
Paman” Tami menyambut ketiganya.
Tanpa basa-basi para
tamunya segera masuk dan segera duduk. Mereka memang keluarga dekat sehingga
sudah biasa datang. Suasana tegang terpancar dari ketiganya. Mereka tampaknya
sudah mempersiapkan diri.
“Bayu dan Ayu sudah
tidur?” Abah mengecek kondisi cucu-cucunya.
“Mereka sudah mandi dan
masuk ke kamar. Biasanya sebentar lagi mereka tidur” Tami memberitahu kebiasaan
anak-anaknya.
“Baguslah. Sekarang
Abah ingin tanya ke kamu. Jadi Arman sekarang sudah pindah kepercayaan?” Abah
memastikan terlebih dahulu.
“Sepertinya begitu Bah”
Tami membenarkan.
“Kalau begitu Abah
ingatkan. Dulu waktu dia melamar kamu, Abah setuju karena ia belum pindah kepercayaan.
Karena sekarang ia sudah pindah, maka Abah ingin menceraikan kamu berdua!” Abah
dengan tegas berkata.
“Mana bisa begitu Bah?
Tami kan sudah berjanji sehidup semati dengan Bang Arman” Tami menolak.
“Tidak bisa!! Kamu
harus ikut perkataan Abah!” Abah berkata dengan tegas.
“Abah, kami sudah punya
Bayu dan Ayu. Jangan pisahkan kami” Tami mengiba.
“Kamu harus pisah!
Kalau tidak keluarga kita mendapat aib!” Abah kembali memaksa dengan suara yang
semakin tinggi.
“Saya tidak mau Abah”
Tami bersikeras.
“Tami, kamu harus
mengikuti perkataan Abahmu!” bujuk pamannya.
“Saya selama ini
mengikuti semua perkataan Abah. Namun jangan pisahkan keluarga saya. Bagaimana
nanti denngan hidup Bayu dan Ayu yang bertumbuh
tanpa kehadiran ayahnya?” Tami mulai memerah matanya.
“Tami kamu jangan keras
kepala! Kami datang kemari untuk menghindarkan aib dalam keluarga kita!”
kakaknya juga membujuk.
“Maafkan saya Kak.
Pahamilah saya. Sekarang kami walau sulit, tapi kami hidup rukun harmonis tidak
kekurangan apa-apa” Tami bergeming.
“Tami, kalau kamu tidak
mau ikuti apa kata Abah, jangan salahkan Abah kalau Abah pakai kekerasan” Abah
pun mengambil tongkatnya. Lalu dipukulinya Tami.
“BUGH……BUGH….. “
Tubuh Tami terkenal
pukulan Abahnya. Namun ia tidak mau
menjadi anak durhaka. Ia mandah saja menerima hukuman Abahnya.
“Jangan…! Jangan pukul
Bunda” tiba-tiba muncul Bayu dan Ayu dari dalam kamar menghalangi kakek
memukuli ibu mereka.
“Minggir!! Anak kecil
tidak tahu apa-apa! Masuk ke kamar!” Abah tetap melayangkan tongkatnya.
Bayu dan Ayu menutupi
tubuh bundanya dengan tubuh mereka sendiri.
“BUGH…..BUGH…”
Kali ini giliran tubuh
Bayu dan Ayu yang mendapat giliran.
“Aduh…. Sakit” Bayu dan
Ayu menjerit bersamaan.
“Minggir!! Kalau tidak
mau minggir, sekalian kamu berdua, akan saya singkirkan selamanya” Abah tambah
emosi.
Pikiran Abah sudah
tidak terkendali lagi. Ia pun melayangkan kembali tongkatnya.
“BUGH…. BUGH….”
Tubuh Bunda kembali
terkena hajaran tongkat Abah. Ia tidak mau lagi tubuh anak-anaknya melindungi
tubuhnya. Maka ia pun memakai tubuhnya untuk melindungi mereka. Tiada jeritan
terdengar. Hanya suara pukulan berkali-kali yang ada.
Kakak dan paman Tami
hanya menyaksikan perbuatan Abah.
Akhirnya tubuh Tami
tidak tahan. Ia pun rubuh ke lantai rumahnya. Bayu dan Ayu pun nekat
menghalangi tongkat kakeknya. Akibatnya mereka berdua kembali menerima pukulan.
Tami sendiri sudah
pingsan. Tubuhnya memar-memar dan berwarna biru di sana-sini. Sedangkan Bayu
dan Ayu menjerit kesakitan. Abah semakin marah. Ia merasa niatnya dihalangi
sehingga ia ingin memusnahkan keturunannya sendiri.
Akhirnya Bayu dan Ayu
pun tidak tahan dengan pukulan-pukulan yang diterima dari kakeknya. Mereka pun
rubuh.
Tami, Bayu dan Ayu
pingsan di lantai.
Abah, kakak dan paman
Tami memandang puas. Mereka pun sudah berhasil menyingkirkan aib dalam keluarga
mereka. Tidak akan ada orang yang berani menghina mereka. Nama keluarga jauh
lebih penting daripada kehadiran orang-orang yang merusaknya.
Ketiganya pun kemudian
meninggalkan rumah Tami. Meninggalkan 3 sosok tubuh pingsan tanpa pertolongan!
--o0o—
Sesuai
dengan harapan para demon yang mengawasi keluarga Arman, kejadian di atas
membuat mereka bersukacita. Penderitaan keluarga Arman menjadi hiburan buat
mereka. Dengan cepat mereka melaporkan hasilnya kepada Sang Bos.
“Bos.
Keluarga Arman sudah berhasil ditaklukkan!” seorang demon melapor.
“Apakah
mereka sudah mati?” Sang Bos menjawab ringkas.
Para
demon yang mengharapkan pujian termangu-mangu. Mereka mengharapkan pujian dari
Sang Bos, tetapi mereka malah diberi pertanyaan yang harus dijawab.
“Belum
Bos!” akhirnya mereka menjawab.
“Lalu
untuk apa kamu di sini? Mau pujian?” Sang Bos pun dengan cepat mengirim
tendangan dan pukulan kepada para demon.
Dengan
cepat para demon tersebut bertumbangan dihajar oleh Sang Bos. Sungguh kasihan
mereka. Walau sebagus apa pun hasilnya, belum tentu dihargai Sang Bos!
--o0o—
Sungguh ajaib kasih
Tuhan. Tubuh Tami yang sudah menerima pukulan berkali-kali ternyata masih
dilindungiNya. Tami sadarkan dirinya. Dengan merintih ia mencoba untuk bangkit,
tetapi tidak mampu. Tubuhnya kembali terjatuh.
Namun begitu ia
menyaksikan anak-anaknya juga terbaring pingsan di sisinya, kekuatan cinta
seorang ibu yang begitu besar memampukan ia untuk bangkit. Ia tahu kalau ia
tidak mengatasi dirinya sendiri , ia tidak akan dapat menolong kedua anaknya.
Ia sadar tenaganya sudah mencapai titik terendah. Ia sudah terluka bukan hanya
luka luar tetapi juga luka dalam tubuhnya.
Dengan perlahan Tami
berjalan menghampiri handphone-nya. Lalu ia pun mencari nomor telepon Yakob
lalu menghubunginya.
“Drrt…. Drrt….. “ Handphone
Yakob bergetar.
Beruntung Yakob belum
tidur. Ia memang sudah bertekad melewatkan malam dengan berdoa bagi keluarga
Arman, Deny dan Ibu Amy-Jonas. Mereka perlu mendapatkan dukungan doa. Bukan itu
saja, ia pun berdoa untuk Terry yang sering mem-bully Jonas. Belum lagi Bang
Rocky sang penjual nasi goreng. Sebenarnya bukan mereka saja, banyak
orang-orang yang dikenalnya menjadi bagian dari pokok-pokok doanya.
Yakob tahu bila telpon
berbunyi pada saat tengah malam, pastilah telpon penting. Ia sudah
berpengalaman dalam hal ini. Ia pun dengan cepat mengambil handphone-nya.
Dilihatnya nama Tami tertera di layar. Yakob terkejut. Pasti ada apa-apa
dengannya.
“Halo, selamat malam
Ibu Tami” Yakob langsung menyapa.
“Yakob, tolonglah saya.
Abah saya menyiksa saya , Bayu dan Ayu. Sekarang kami terluka parah. Tolong
bawa kami ke rumah sakit” Tami langsung ke pokok masalah.
“Apa?... Baik Bu Tami.
Rumah Ibu di mana?” Yakob lalu mencatat alamat yang diberikan Tami.
Sebelum berangkat, ia
pun berdoa terlebih dulu. Minta Tuhan melindunginya dan memberi jalan agar
dapat menolong Ibu Tami dan kedua anaknya.
Yakob pun terpaksa
membangunkan Pastor Peter untuk meminta ijin membawa mobil gereja. Pastor Peter
yang mendengar laporan Yakob, memaksa
ikut. Ia khawatir terjadi sesuatu yang tidak diinginkan dengan Yakob. Pastor
Peter pun meminta Yakob untuk memanggil Hasan agar ia ikut juga. Akhirnya
mereka berangkat bertiga. Yakob bersyukur ia punya kawan dalam perjalanan.
Pastor Peter kebetulan
juga mengetahui rumah keluarga Arman, jadi mereka dengan cepat dapat tiba.
“Permisi!” Yakob
memberi salam.
“Silahkan masuk “ Tami
yang memang menunggu bantuan langsung membalasnya.
Yakob, Pastor Peter dan
Hasan langsung masuk ke dalam.
“Astaga….. kenapa
dengan kamu Tami?” Pastor Peter miris melihat kondisi Tami yang penuh luka dan
sulit berjalan.
“Mu shi … Bayu dan Ayu juga terbaring di tanah dalam kondisi
mengenaskan” Yakob terkejut melihat kondisi mereka berdua. Tubuh mereka masih
kecil untuk menahan luka seperti itu.
“Cepat… bawa mereka
semua ke dalam mobil” Pastor Peter memberi perintah.
Pastor Peter langsung
membimbing Tami untuk masuk ke mobil.
Sedangkan Yakob membopong Bayu dan Hasan menggendong Ayu. Akhirnya
setelah pintu rumah keluarga Arman ditutup, mereka pun berangkat.
“Bagaimana kejadiannya
Bu Tami?” Yakob meminta penjelasan.
“Abah marah karena bang
Arman percaya Kristus…” jawab Tami lemah dan sepertinya sudah kehilangan tenaga
dan kesadarannya. Rupanya ia mengumpulkan sisa tenaga akhirnya untuk menunggu
kedatangan Yakob. Yakob menyadari kondisi yang kritis melanda Tami dan kedua
anaknya.
Yakob pun dengan cepat mengarahkan
mobil ke rumah sakit Karmel. Dengan demikian seluruh keluarga Arman dirawat di
sana.
Dokter penjaga ruang
darurat dengan cepat menangani.
“Ada apa dengan mereka
ini?” tanya sang dokter.
“Kami juga tidak tahu.
Saya hanya diminta tolong dan tidak sempat meminta penjelasan” jawab Yakob.
“Siapa orang yang telah
berbuat kejam terhadap mereka? Sangat biadab!” suster yang menyertai
berkomentar.
“Betul. Sangat
disayangkan menyiksa ibu dan kedua anaknya” Pastor Peter membenarkan.
“Bagaimana kondisi
mereka dokter?” Yakob merasa was-was.
“Luka mereka sepertinya
bukan hanya di luar tapi juga di dalam. Perlu di-ronsen untuk mengetahui apakah
ada tulang yang retak. Belum lagi kemungkinan adanya organ dalam yang terluka.
Karena bila tidak mereka akan siuman” dokter memberi pandangannya.
“Apakah perlu dioperasi
dokter?” Yakob ingin tahu lebih jauh.
“Moga-moga tidak. Namun
melihat kondisinya, mereka membutuhkan keajaiban untuk bisa sembuh” dokter
tidak terlalu optimis.
“Baiklah dokter
menangani secara fisik agar mereka pulih dan kami akan berdoa untuk mereka dan
para dokter serta perawat yang menangani” Pastor Peter ikut bicara.
“Terima kasih. Memang
betul, para dokter juga butuh dukungan doa. Karena bisa saja kami melakukan
kesalahan” sang dokter membenarkan.
Para perawat sudah
selesai memasang infus di tubuh ketiganya.
Dokter pun memberi
perintah kepada para perawat untuk memberikan perawatan dan obat-obatan yang
dibutuhkan.
Setelah ketiganya mendapat
perawatan, Yakob mengurus dengan cepat administrasinya. Ia tidak punya data
tentang Tami dan kedua anaknya. Terpaksa ia membuka dompet Tami dan
mengeluarkan KTP nya. Sedang untuk anak-anaknya,ia hanya mengetahui namanya
saja. Tapi itu sementara sudah cukup. Untuk mengurus administrasi pembayaran,
Yakob kebingungan karena ia tidak punya cukup uang. Beruntung Pastor Peter
punya kartu kredit. Dan itu sudah cukup untuk sementara.
Dengan cepat Yakob
menyebarkan kabar tentang keluarga Arman dan meminta agar para jemaat dan
aktifis GeYeSku untuk berdoa. Banyak di antaranya yang sudah terlelap. Namun
masih ada beberapa yang masih bangun. Semuanya bersatu hati menyerahkan
keluarga ini dalam doa. Karena seperti dokter berkata, tanpa keajaiban mereka
belum tentu bisa selamat.
Dokter pun terus
memantau perkembangan fisik dari ketiga pasien barunya itu. Anak yang bernama
Bayu dan ibunya sepertinya sudah ada sedikit kemajuan. Namun anak terkecilnya
yang bernama Ayu seperti belum ada kemajuan sama sekali. Besar kemungkinan Ayu
akan ‘hilang’ selamanya. Karena tubuhnya paling kecil dan paling lemah, maka ia
tidak tahan akan luka-luka yang didapatnya itu.
“Ada apa gerangan
dengan mereka bertiga? Mengapa sampai menderita seperti ini?” dokter
bertanya-tanya.
“Mengapa sampai
anak-anak kecil pun mengalami perlakuan dan siksaan seperti ini?” dokter
bergumam dalam hati.
Ia sangat sedih melihat
kondisi para pasiennya.Apalagi dia juga mendengar bahwa suami dari pasien ini
juga sedang dirawat di rumah sakit ini. Bagaimana mungkin mereka sekeluarga
mendapat cobaan seperti ini? Manusia sudah berusaha, Tuhan jua-lah yang
menentukan. Sang dokter pun menaruh peralatannya dan mulai berdoa. Rupaya sang
dokter adalah seorang percaya.
Ia sudah biasa
menghadapi peristiwa yang mencemaskan hati. Ia sudah sering berdoa untuk
kesembuhan pasien-pasiennya.
“Ya Bapa di dalam
sorga, hambaMu datang menghadap hadiratMu dengan membawa pergumulan. Hamba
berterima kasih untuk kasih setiaMu yang terus menyertai diri hambaMu ini. Saat
ini hamba memohon pertolonganmu kembali untuk menangani 3 pasien yang baru
datang. Hamba menyerahkan untuk Ibu Tami dan kedua anaknya yaitu Bayu dan Ayu.
Hamba tidak mampu melihat tanda-tanda perbaikan dalam diri Ayu, hamba tahu
sebagai manusia kemampuan medis saya sangat terbatas, namun saya percaya dan
imani dengan kuat kuasaMu tidak ada yang mustahil. HambaMu mohon pertolongan
pada diri ketiga pasien ini yang entah mengapa menderita cedera begitu parah.
Kiranya bilur-bilurMu menyembuhkan ketiganya. Biarlah kasih kuasaMu melingkupi
mereka bertiga dan membangkitkan mereka dari sakit penyakit. Namun bilamana
memang sudah tiba waktunya buat mereka, hamba percayakan hidup mereka di
tanganMu…...” Sang dokter terus berdoa dengan hati yang sungguh-sungguh.
Pada saat ia berdoa , ia
bisa merasakan hadiratNya begitu nyata. Ia juga dapat merasakan bahwa saat itu
bukan hanya ia sendiri yang berdoa. Seakan-akan ada untaian doa yang mengalir
bersama-sama dengan doanya. Ia tahu hal ini terjadi karena bukan saja dirinya,
tetapi juga orang-orang lain berdoa bersamanya. Ia tidak tahu dan tidak kenal
siapa mereka, tapi ia percaya doa mereka menjadi suatu sarana permohonan kepada
Allah yang merupakan satu-satunya harapan.
Tak putus-putusnya ia
berdoa. Perawat yang melihatnya sedang berdoa, tidak ingin mengganggunya. Mereka
sudah tahu kebiasaan dokter yang satu ini. Mereka juga menunda memberitahukan
kondisi pasien Ayu yang denyut jantungnya sudah tidak ada! Sang dokter tidak
ingin diganggu pada saat ia bersama dengan Tuhan. Mereka sudah sering melihat
mujizat terjadi. Pasien yang dalam dunia medis sangat sulit disembuhkan,
ternyata dengan kuasa doa nya menjadi sembuh! Memang kesembuhan adalah milik
Tuhan.Dan hal ini dipahami oleh sang dokter yang memohonkannya untuk para
pasiennya. Allah yang mengenal orang-orang yang sudah dianggap sebagai biji
mataNya itu. Dan Allah tidak pernah mengecewakannya.
Pada saat yang sama
Yakob, Pastor Peter, Ev. Debora, para jemaat dan aktifis GeYeSKu juga sedang
bertekun berdoa. Doa mereka menjadi satu kesatuan yang dipanjatkan dengan
kesungguhan hati.
Sementara Ayu dalam
tidurnya mengalami kejadian yang sama dengan ayahnya. Roh Ayu terlepas dari
tubuhnya dan melayang di udara. Ia bisa menyaksikan dokter, perawat sedang
berusaha menangani dia, kakaknya dan ibunya. Ia juga bisa menyaksikan Yakob
yang telah dikenalnya bersama Pastor Peter sedang berdoa di depan ruang
darurat. Kemudian ia melihat dokter yang menanganinya melihat tubuhnya dan
mengecek tanda-tanda kehidupan dalam dirinya. Tak lama kemudian sang dokter
menaruh peralatan yang dibawanya lalu kemudian berdoa. Doa sang dokter dan
Yakob serta Pastor Peter kemudian bersatu seirama dengan suara doa lainnya yang
tidak dikenalnya.
Tiba-tiba di hadapannya
berdiri sosok makhluk besar bercahaya menyilaukan. Ia tidak pernah melihatnya. Tiba-tiba
makhluk itu berkata, “Anakku Ayu, kembali engkau ke tubuhmu. Kamu dapat hidup
kembali karena permohonan dari para orang kudus yang memintanya kepada Tuhan.
Kamu diberi kesempatan untuk mengenal Kristus sebagai Juruselamatmu seperti
yang telah dialami ayahmu. Bersaksilah bersama keluargamu. Jadilah terang dan
hamba Kristus yang setia!”
Tak lama kemudian
cahaya yang menyilaukan dari sang makhluk menghilang. Rohnya pun kembali ke
tubuhnya. Ia pun mulai bisa merasakan tubuhnya kembali. Ia mencoba membuka
matanya dan berhasil. Ia bisa melihat kondisi di ruangan itu. Ia bisa melihat
tubuh bunda dan kakaknya yang terbaring di ranjang di sampingnya. Ia juga bisa
melihat dokter yang sedang berdoa di ruang itu juga.
Perawat yang tadi
melihat garis datar pada layar monitor terkejut. Ia melihat garis itu kembali
turun naik. Itu menandakan gadis kecil itu kembali bernafas! Lagi-lagi ia
menyaksikan keajaiban! Sungguh luar biasa kuasa Tuhan yang mampu menghidupkan
kembali orang yang sudah tiada. Bahkan perawat itu bisa melihat bahwa Ayu, si
gadis kecil itu, sudah mulai membuka matanya dan mulai bergerak-gerak!
Tak lama kemudian sang
dokter pun bangkit dari doanya dengan lagu ucapan syukur.
Sang dokter bangkit
dengan penuh sukacita. Ia merasakan beban yang mehampirnya tadi sudah
terangkat. Itu pertanda bahwa Allah sudah menjawab doanya. Ia percaya doa
setiap orang benar akan dijawab oleh Tuhan pada waktunya dan sesuai dengan
rencanaNya.
“Dokter, pasien Ayu
sekarang sudah sadar!” sang perawat yang melihat dokter sudah selesai berdoa
kemudian melaporkan kondisi Ayu.
“Puji Tuhan untuk
kasihNya yang tak berkesudahan!” sang dokter mengangkat tangannya sambil
mengucap syukur.
Ia pun segera mengambil
kembali peralatan medisnya dan mulai memeriksa Ayu. Setelah memeriksa Ayu,
kembali sang dokter mengucap syukur. Ayu sudah kembali normal! Bukan saja ia
bisa bernafas kembali dengan normal, tapi luka-lukanya secara ajaib sembuh!
Bahkan kemajuannya melampaui kemajuan yang diperlihatkan kakak dan ibunya. Sungguh
perbuatan Tuhan sangat ajaib!
“Suster tolong awasi
perkembangan ketiganya dan laporkan bila kondisi memburuk!” sang dokter berpesan
sambil meninggalkan pesan untuk tindakan yang perlu dilakukan bila terjadi
perkembangan yang memburuk.
Sang dokter kemudian
menemui Yakob dan Pastor Peter.
“Bagaimana dok? Yakob
langsung bertanya begitu melihat sang dokter.
“Puji Tuhan, masa
krisis ketiganya sudah teratasi! Yang paling parah adalah Ayu. Namun saya
percaya Tuhan telah menunjukkan kuasaNya yang luar biasa!” sang dokter
mengumumkan.
“Maksud dokter?” Pastor
Peter ingin lebih memahami.
“Sebenarnya dari
ketiganya, Ayu yang paling saya khawatirkan. Sewaktu ia dibawa ke mari,
tanda-tanda kehidupannya sudah minim. Hal ini berarti ia paling mendekati kematian.
Bahkan tadi perawat memberitahu saya bahwa secara medis dengan melihat layar
monitor, Ayu sudah dinyatakan meninggal!” sang dokter menjelaskan.
“Jadi Ayu bangkit dari
kematiannya?” Yakob memastikan.
“Benar sekali. Ia sudah
kembali hidup. Anehnya perkembangannya sekarang jauh melampaui perkembangan
kakak dan ibunya. Secara medis, ia dapat dikatakan sudah sembuh! Namun karena
lelah ia sekarang butuh istirahat. Semoga besok pagi, ia sudah bisa
beraktivitas seperti biasa!” sang dokter kembali menjelaskan.
“Sungguh ajaib
karyaNya! Tak berkesudahan kasih setiaNya!” Pastor Peter mengucapakan
puji-pujian.
“Terima kasih dokter.
Saya percaya Ayu dan keluarganya telah mendapat dokter yang tepat! Tadi saya
sempat diberitahu oleh salah seorang perawat bahwa dokter adalah dokter yang
suka berdoa. Jadi banyak pasien yang mengalami mujizat” Yakob memuji sang
dokter.
“Ah mana berani saya
menerimanya. Hanya Tuhan Yesus yang mampu sembuhkan dan pulihkan. Saya hanya
alatNya saja. Saya juga percaya jemaat dari gereja Bapak mendapat hamba Tuhan
yang tepat. Hamba Tuhan yang peduli dengan umatnya. Tadi saya juga mendengar
dari perawat bahwa Bapak adalah gembala sidang dari GeYeSKu sedangkan adik
adalah penginjil yang melayani di gereja yang sama” sang dokter balas
memuji keduanya.
“Dokter sungguh rendah
hati. Saya sangat senang mengenal dokter. Saya percaya dokter dipakai Tuhan
secara luar biasa!” Pastor Peter kembali memuji Sang Dokter.
“Dokter, apakah hal ini
berarti kondisi ketiganya sudah berangsung membaik?” Yakob mengalihkan topik
pembicaraan.
“Benar! Jadi saya rasa
Bapak berdua boleh kembali pulang. Biarlah mereka dirawat di sini!” sang dokter
mengusulkan.
“Baiklah dokter. Saya
percayakan perawatan mereka bertiga di tangan para dokter dan suster di rumah
sakit ini. Kami akan kembali ke gereja dan beristirahat. Terima kasih sekali
lagi dokter. Tuhan Yesus memberkati!” Pastor Peter pamit dengan langkah
perlahan bergandengan dengan Yakob.
“Sama-sama” sang dokter
pun kemudian pamit dan kembali ke ruang praktek untuk melihat kondisi para
pasien.
--o0o—
Pastor Peter dan Yakob kembali
ke mobil.
“Bagaimana dengan
kondisi keluarga Arman, mu shi?”
Hasan langsung bertanya begitu melihat Pastor Peter dan Yakob.
“Puji Syukur. Mereka
sudah mulai berangsur membaik!” Pastor Peter.
“KasihNya sungguh nyata
dalam keluarga Pak Arman” Yakob juga menimpali.
-oo0oo-
Malam sudah larut. Pastor Peter, Yakob serta Hasan sudah kembali
ke gereja. Mereka kembali ke kamar mereka masing-masing dan beristirahat. Satu
hari kembali telah berlalu.
-oo0oo-
Di
tempat lain, para demon sedang merintih-rintih setelah dihajar habis-habisan
oleh Sang Bos. Tidak ada yang bisa melarikan diri. Semuanya telah dianggap
gagal. Tak satu pun dari keluarga Arman yang mati!
-oo0oo-

No comments:
Post a Comment