Coram
Deo
SANG
PENGEMUDI
Pagi hari Yakob
bangun dengan tubuh yang segar. Ia pun mengambil gitar kesayangannya dan mulai
memetik gitar. Disenandungkannya sebuah lagu untuk memuji Tuhan
Saat
pagi hari ku datang lagi
Menghadap
Tuhan dan rendahkan diri
Mengucap
syukur buat hari yang Kau beri
Memuji
Tuhan dengan sepenuh hati
Ku
sembah Kau Allah maha kudus
Ku
tinggikan Allah maha tinggi
Ku
serahkan tubuh, jiwa, rohku
Dalam
pimpinanMu, Tuhan (oh Tuhan).
Ia pun membaca
renungan dari Perjanjian Lama. Setelah itu ia pun mencurahkan waktunya untuk
berdoa mengucapkan syukur untuk hari baru yang diberikan dan juga menyerahkan rencana
kunjungannya ke rumah Jonas dan seluruh kegiatan hari itu. Setelah itu Yakob
mandi dan mampir ke dapur untuk menyiapkan menu paginya.
Sementara
itu secara tidak kasat mata, sesosok demon memantau apa yang dilakukan oleh
Yakob. Ia diberi tugas khusus oleh Legion untuk mengawasi kegiatan Yakob dari
waktu ke waktu.Demon itu diminta untuk mencari kelemahan dari Yakob.
Seluruh
riwayat hidup Yakob dari kecil sampai sekarang sudah diminta dari demon yang
dulu mengawasinya.
“Pagi Pak Arman”
sapa Yakob sewaktu melihat Arman yang sedang membersihkan mobil gereja.
“Pagi Yakob!”
balas Arman.
“Sudah sarapan?”
“Belum. Nanti
saja setelah cuci mobil!” Arman memang sedang tenggelam dalam pekerjaannya.
“Mau saya
buatkan supermie?” Yakob menawarkan.
“Eh…. Tidak
perlu. Nanti saya buat sendiri saja! Takut sudah dingin nanti” Arman memang
masih cukup lama selesai mencucinya.
“Kalau begitu,
biar saya bantu Pak Arman mencuci mobil dulu. Setelah itu baru kita sama-sama
makan!” dengan cepat Yakob mempelajari cara Pak Arman mencuci mobil.
“Eh… tidak usah
Yakob. Nanti baju kamu basah!” Arman merasa sungkan.
Tidak pernah ada
orang yang membantunya mencuci mobil selama ini. Pekerjaan yang mungkin
dianggap remeh bahkan hina.
“Tenang saja Pak
Arman. Saya dulu mantan pencuci mobil!” Yakob pun sudah bisa menyimpulkan
bantuan yang akan dia berikan.
Diambilnya lagi
sebuah ember yang rencananya akan digunakan untuk lap basah terakhir.
“Pak Arman boleh
tidak saya memberi saran?” Yakob meminta ijin.
“Tentu saja!”
Arman berkata ingin tahu.
“Agar supaya
cepat selesai, ember Pak Arman akan kita gunakan sebagai cairan sabun. Jadi
setelah saya menyiram air ke sisi mobil, lalu Pak Arman memberi sabun pada
bagian itu sambil digosok. Setelah itu saya guyur dengan air. Jadi tugas Bapak
untuk menyabuni dan membersihkannya sedangkan saya mengguyur dengan air,
menyiapkan dan mengganti air sabun dan melap bersih bagaimana?” Yakob meminta
pendapat.
“Boleh juga.
Mari kita coba!” Arman jadi bersemangat karena ada rekan kerja.
“Kita mulai dari
bagian atap mobil ya Pak!” Yakob menyiram atap mobil dengan air.
Dengan cepat
Arman menyabuni atap mobil dan menggosoknya. Yakob menyiapkan lap basah lainnya
agar bisa digunakan Arman untuk menyabuni atap mobil. Setelah itu ia minta
Arman mengganti lap sabun yang sudah kotor dengan yang baru yang sudah
disiapkannya. Arman menyambut lap baru tersebut dan langsung memakainya.
Sedangkan Yakob
membersihkan lab yang sudah kotor lalu memberikannya kembali kepada Arman.
Setelah bagian
atap mobil selesai. Sasaran kedua adalah kaca mobil.Dimulai dari kaca bagian
depan. Diangkatnya wiper mobil lalu disiramnya dengan air. Arman langsung
menyabuni bagian itu dengan cepat. Yakob mengambil lap yang sudah dibersihkan
dan diberi air sabun baru dan diberikannya ke Arman sebagai ganti lap sabun
yang sudah kotor.
Usai kaca depan,
dilanjutkan dengan kap mobil dan bagian depan mobil. Lalu dengan arah berputar
dari sisi kanan mobil, bagian belakang mobil dan terakhir sisi kirinya. Setelah
itu baru keempat ban mobil.Karena dikerjakan secara simultan dan berkelanjutan,
dengan cepat seluruh mobil sudah disabuni.
Terakhir dimulailah
pekerjaan membersihkan sabun.Dimulai dari urutan yang sama yakni atap. Setelah
Yakob membasahi dengan air lalu Armn melap nya.Yakob menyiapkan lap baru untuk
digunakan dan ditukarkan dengan lap Arman yang sebelumnya. Karena dikerjakan
berdua dan secara sistematis, maka dengan cepat mobil gereja sudah bersih! Benar-benar
bersih!
“Nah selesai
sudah pekerjaan kita Pak Arman!” Yakob memandang puas hasil cucian mereka.
“Terima kasih
Yakob sudah bantu Bapak!” Arman merasa bersyukur punya rekan yang mau membantu.
“Sama-sama Pak.
Sekarang Bapak bersihkan bekas cucian dan masukan peralatannya ya. Saya akan
siapkan supermie buat kita berdua! Bagaimana?” Yakob meminta persetujuan.
“Baiklah! Akur!”
Arman tambah semangat. Biasanya dia sendiri yang membuat makanan paginya.
--oo0oo-
Yakob segera mencuci
tangan lalu menyiapkan peralatan yang diperlukan. Kemudian ia mengambil 2
bungkus supermie ukuran jumbo. Maklum mereka berdua baru saja mengeluarkan
tenaga ekstra untuk membersihkan mobil. Yakob kemudian menyiapkan kompor dan
menaruh panci yang telah berisi air matang di atasnya.
Dinyalakannya
kompor dengan nyala maksimum. Dibukanya supermie lalu dimasukkannya ke panci. Lalu
diambilnya dua buah mangkok besar. Diambilnya pisau lalu dibukanya bumbu-bumbu
supermie. Setelah air dirasa cukup
mendidih, lalu dibuangnya air tadi karena dikhawatirkan mengandung zat
lilin. Setelah itu baru dipanaskannya lagi air dan setelah agak mendidih
dimasukkannya telur. Hasilnya telur mata sapi terbentuk. Barulah dimasukkan
kembali supermienya agar benar-benar matang.
Hanya dalam
hitungan detik, ia pun mematikan api kompor. Lalu dbaginya supermie ke dalam 2
mangkok. Diaduknya dengan bumbu-bumbunya kecuali bawang goreng. Setelah rata
barulah telurnya dikeluarkan ke atas dan ditaruhnya bawang goreng. Bau harum
supermie dan bawang menyebar. Sedap! Memang cara merebusnya lebih lama, namun
Yakob meyakini lebih sehat. Yakob sudah membaca artikel tentang orang yang
menderita penyakit gara-gara kebanyakan makan supermie yang tidak diolah dengan
benar!
“Wah.. sedap
sekali baunya!” Arman yang sudah selesai membereskan peralatannya segera duduk
di meja.
Yakob juga sudah
selesai membersihkan sampah plastik supermie dan bumbu-bumbunya lalu dibuangnya
ke tong sampah. Diambilnya 2 buah gelas minuman , diisinya lalu ditaruhnya di
meja.
“Mari kita
berdoa” Yakob memimpin doa makan.
Arman yang tidak
pernah berdoa makan, merasa sungkan. Terpaksa ia diam dan mengikuti doa makan
ini. Benar-benar aneh hamba Tuhan yang satu ini! Membantu orang-orang sepertinya dan mengajarinya cara
memulai acara makan!
“Amin!” Yakob
membuka matanya lalu berkata,”Mari Pak Arman kita serbu!”
Tanpa sungkan
Yakob dan Arman menikmati menu sarapan pagi mereka. Sederhana tapi nikmat.
“Ehm.. Yakob….
Semalam kamu merasakan ada hal yang aneh tidak?” Arman mengajak bicara sambil menikmati
supermienya.
“Maksudnya?”
Yakob bertanya balik ingin memastikan.
“Saya dan Hasan
merasa merinding semalam. Anjing-anjing melolong di mana-mana. Sangat berisik!”
Arman menjelaskan.
“Jam berapa?”
Yakob ingin mecocokkan waktu.
“Sekitar ….
setengah dua belas!” Arman mengingat-ingat.
“Oh… saya waktu
itu sedang mau tidur. Memang seperti ada hal yang aneh seakan ada mahluk-mahluk
yang ingin mengganggu!” kata Yakob.
“Betul! Saya
hanya bisa meringkuk tidak berani bergerak! Tubuh saya menggigil gemetaran.
Saya takut sekali!” Arman dengan gamblang menjelaskan apa adanya.
“Saya juga
merasakan hal yang sama. Namun begitu mendapat ancaman seperti itu, saya
langsung teringat Roh Allah yang ada di dalam kita lebih besar dari apapun di
dunia ini. Hal ini menentramkan dan saya pun mengambil gitar lalu menyanyi serta
berdoa minta perlindungan Tuhan!” Yakob juga mengingat kejadian semalam.
“Herannya..
waktu saya sudah tidak bisa apa-apa karena ketakutan, saya mendengar ada yang
menyanyi lagu yang sering dinyanyikan di gereja …. Sepertinya ada kata ‘darah’
dan ‘anak domba’” Arman sudah tidak bisa mengingat seluruh syair yang
didengarnya semalam.
“Maksudnya lagu Ada kuasa dalam darahNya?” Yakob
langsung teringat lagu yang dinyanyikan semalam.
“Eh… saya tidak
tahu judulnya. Coba kamu nyanyikan!” pinta Arman.
Yakob menunda
makannya lalu bersenandung.
Ada
kuasa dalam darahNya, darah Domba Allah
Ada
kuasa dalam darahNya, dalam darah Domba Allah
“Persis! Itu dia
lagunya!”Arman berseru gembira.
“Memang itu lagu
yang saya nyanyikan semalam.” Yakob memberitahukan.
“Tetapi tidak
mungkin suara kamu bisa terdengar dari sini. Bahkan di lantai 3 saja, suaramu
hanya terdengar di dalam kamar saja! Jadi darimana suara itu berasal?” Arman
bingung.
Yakob juga
bingung. Dia tahu apa yang disampaikan Arman itu benar. Tidak mungkin suaranya
bisa terdengar di lantai 1, karena kamarnya kedap suara! Lagipula dia sudah
mengenal suara Yakob, Pastor Peter dan Ev. Debora. Itu bukan suara mereka. Juga
bukan suara diaken atau jemaat di gereja yang sudah dikenalnya.
“Jadi suara
siapakah yang didengar Arman?” Yakob pun bertanya-tanya.
Sambil
merenungkan kejadian itu, ia pun mulai menyantap supermienya. Tidak terasa
piring supermie nya tandas. Semua isinya sudah berpindah ke perut Yakob.
Demikian pula Arman.
“Bagaimana cara
mengatasi rasa takut seperti semalam?” Arman tidak ingin kejadian semalam
terulang.
“Kalau menurut
Bapak bagaimana?” Yakob balik bertanya. Yakob sudah mendapat informasi bahwa
Arman memang sudah keras hatinya untuk menerima Tuhan Yesus sebagai
Juruselamat.
“Eh…. Justru
saya tidak tahu. Kalau saya tahu untuk apa saya tanya?” Arman protes.
“Selama ini
menurut keyakinan Bapak bagaimana?” Yakob juga tidak ingin langsung menanggapi.
“Saya juga tidak
tahu” Arman mengangkat bahunya.
“Kalau saya
menghadapi hal seperti semalam tidak takut!” Yakob mengungkapkan posisinya.
“Kenapa bisa
begitu? Bukankah kita mengalami hal yang sama semalam?” Arman tidak mengerti.
“Karena saya
percaya, sejak saya percaya kepada Yesus Kristus sebagai Juruselamat, maka saya
sudah mengundangnya masuk ke dalam hati saya. Nah Yesus itu adalah Allah yang
menjelma menjadi manusia. Kalau Allah ada di pihak kita, mengapa takut serangan
roh jahat seperti itu?” Yakob balik bertanya.
“Eh….” Arman hanya bisa terdiam. Ia sudah
biasa membantah berita Injil yang disampaikan siapa pun juga. Namun kali ini
mengapa ia merasa berbeda? Apakah karena Yakob sudah membantunya? Ataukah
karena perkataannya seperti punya kuasa? Jiwa Arman terketuk.
“Yakob, Bapak
punya keyakinan yang berbeda dengan kamu! Saya tidak bisa berkata dan memohon
kepada Tuhan Yesus!” Arman secara perlahan menyampaikan pikirannya.
“Pak Arman,
kalau Bapak merasa keyakinan Bapak dapat menolong Bapak, silahkan. Namun kalau
Bapak sudah mencobanya dan tidak berhasil, Bapak jangan putus asa. Masih ada
Yesus Kristus, yang mau menolong Bapak asal Bapak mau percaya kepadaNya!” Yakob
menatap Arman.
Arman merasakan
ketulusan perkataan dan tatapan Yakob.
“Baik. Bapak
akan coba renungkan!” Arman memberi janji.
Yakob merasa
senang. Tugasnya memang hanya menyampaikan kebenaran. Tidak masalah apakah
orang yang diberitakan Injil itu mau percaya atau tidak. Baginya tugas yang
diembannya sudah dilaksanakan dengan sungguh-sungguh.
--o0o—
Sementara
itu demon yang mendengar apa yang dipercakapkan Yakob dengan Arman,
melaporkannya kepada Sang Bos. Sang Bos menjadi geram. Selama ini ia sudah
berhasil membuat Arman menentang kabar baik yang diberitakan kepadanya. Ia
sudah mengatur strategi agar teman-teman Arman membuatnya mengeraskan
hati.Banyak sudah alasan palsu yang dikemukakan kepadanya. Sekarang Yakob ingin
membongkar semua alasan palsu itu. Yakob sudah menanamkan pikiran yang berbeda.
Ini merupakan ancaman. Kalau Arman dapat dipengaruhi, maka Hasan pun dapat
dipengaruhi juga. Hal ini harus dicegah! Walaupun semalam pertempuran dengan
para malaikat batal, namun mereka tetap harus berupaya mencegah Yakob melakukan
hal-hal yang merugikan Dunia Kelam.
--o0o—
Yakob pun segera
mencuci piringnya. Arman yang ingin membantu , kalah cepat.
Memang Yakob
dapat bekerja dengan sangat cepat. Arman hanya dapat menggeleng-gelengkan
kepala.
Saat itu Pastor
Peter dan Ev. Debora turun dari lantai 2. Mereka ingin mempersiapkan doa pagi
untuk jemaat di sekitar gereja.
“Pagi mu shi (=panggilan untuk pendeta dalam
bahasa Mandarin,red)” sapa Yakob dan Arman hampir bersamaan.
Yakob segera menghampiri
Pastor Peter. Dituntunnya Pastor Peter menuruni tangga.
Memang Pastor
Peter mengalami gangguan di kakinya setelah ia terkena serangan stroke ringan.
“Pagi….! Sudah
makan ya?” tanya Pastor Peter sambil melangkah perlahan digandeng Yakob,
sedangkan Ev. Debora segera pergi ke ruang kebaktian memeriksa kesiapan untuk
persekutuan doa pagi.
“Sudah!” Yakob
menjawab lagi hampir berbarengan dengan Arman.
“Yakob , semalam
saya dan shi mu (=panggilan untuk
isteri pendeta dalam bahasa Mandarin, red) mengalami kejadian yang aneh!” kata
Pastor Peter yang membuat Yakob penasaran.
“Oh ya?
Bagaimana ceritanya mu shi?” Yakob
tertarik.
“Saat saya dan shi mu sedang tidur, kami mengalami
mimpi yang sama!” Pastor Peter berhenti sejenak.
“Mimpi apa mu shi?” Arman yang menguping
pembicaraan ikut penasaran.
“Saat saya
sedang berjalan , tiba-tiba ada seekor singa besar melompat ke saya! Saya
merasa terkejut hingga terbangun dari tidur!” Pastor Peter dengan ringkas
menceritakan mimpinya.
“Wah mimpi-nya
seram sekali mu shi!” Arman
berkomentar.
“Jadi shi mu juga mimpi diterkam singa juga?”
Yakob menarik kesimpulan.
“Benar! Sesaat
setelah bangun, shi mu juga terbangun.
Lalu shi mu menceritakan hal yang
sama! Aneh bukan?” Pastor Peter tidak habis mengerti.
“Itu pasti
pertanda buruk! Jam berapa mu shi dan
shi mu mimpinya?” Yakob menyelidiki.
“Sekitar pk
11.30 !” Pastor Peter mengira-ngira.
“Apa? Bukankah
saat itu saya dan Hasan merinding dan merasa ketakutan?” Arman heran.
“Jadi kamu juga
merasakan hal yang sama? Sungguh aneh! Pasti telah terjadi sesuatu yang
genting!” Pastor Peter menyimpulkan.
“Kalau begitu
saya menduga, bukan hanya kita yang merasakan. Pasti ada lagi yang mengalami kejadian
ini!” Yakob instingnya jalan.
Tiba-tiba ada
sesosok tubuh bergabung di ruang itu.
“Selamat pagi!”
sapa sosok tersebut.
“Pagi Pak
Simon!” balas Yakob, Pastor Peter dan Arman hampir bersamaan.
“Bagaimana
kabarnya Pak Simon?” Pastor Peter menyapa.
“Baik. Mu shi, semalam mu shi dan yang lainnya merasa ada yang aneh di gereja?” Simon
sepertinya tidak ingin menunda pertanyaan yang sudah dicanangkannya sejak
semalam.
“Eh…. Kamu juga
mengalami perasaan yang aneh?” Pastor Peter semakin heran.
“Benar mu shi! Semalam saya dan Andreas bersama
sekeluarga merasakan hal yang sepertinya membuat kami tertekan. Maka terpaksa
saya mengadakan mezbah doa keluarga malam-malam!” Simon menjelaskan.
Akhirnya mereka
saling menceritakan pengalaman masing-masing.
Sungguh
pengalaman rohani yang menguatkan mereka. Terbuka bahwa orang-orang percaya
bisa bersatu dalam roh untuk menyembah , memuji dan berdoa kepadaNya!
Arman yang
mendengar kesaksian mereka membuatnya berpikir kembali. Ia merasa bahwa
kehadiran Allah sungguh nyata semalam. Bagaimana mungkin orang-orang yang
berada pada tempat yang berbeda bisa berdoa bersama untuk hal yang sama? Itu
pasti bukan kebetulan!
Setelah itu para
hamba Tuhan, pengurus dan jemaat Gereja Yesus Satu-Satunya Juruselamatku (GeYesKu)
bersama-sama bersatu hati memanjatkan doa ucapan syukur dan doa-doa lainnya.
--o0o-
Beberapa
demon yang berada di sekitar sana ikut mendengarkan kesaksian para prajurit
Allah itu. Mereka akhirnya maklum bahwa kekalahan mereka semalam karena adanya
kesatuan hati dari para prajurit Allah yang tekun berdoa dan berada bersama
Allah. Tidak mengherankan kalau mereka dilindungi oleh para malaikat Tuhan yang
membentengi mereka senantiasa! Mereka tidak berani mendekati ruang persekutuan
doa karena mereka tidak kuat menahan enersi rohani yang dipancarkan oleh
kumpulan orang-orang percaya! Lebih baik mereka mengawasinya dari jauh saja.
Mereka mengamati bahwa jumlah jemaat yang berdoa sudah cukup meningkat. Dahulu
yang berdoa hanya Pdt. Peter dan Ev. Debora saja. Setelah datang Yakob, jumlah
yang berdoa awalnya hanya bertiga saja.
Herannya
walau hanya 2-3 orang yang berdoa, mereka tetap berdoa. Yang lebih mengherankan
lagi enersi yang terpancar dari doa mereka tidak bisa diremehkan sama
sekali.Sebagai demon pengawas gereja mereka sudah dibekali pengetahuan bahwa
bila ada dua atau tiga orang berkumpul dalam Nama Tuhan Yesus, maka roh Tuhan
ada di tengah-tengah mereka.
“Jangan
kamu sekali-kali berada di dekat persekutuan orang-orang percaya yang sedang
berdoa!” Sang Bos atasan mereka berpesan.
“Memangnya
kenapa Bos?” tanya mereka.
“Kamu
susah sekali ya dikasih pengertian!” Sang Bos marah-marah.
Ia
malas menjelaskan ke bawahannya. Karena penasaran, suatu kali para demon itu
mendekati orang-orang percaya yang sedang berdoa dengan sungguh-sungguh di
dalam Tuhan.
“ARGGGHHHH!”
para demon itu tiba-tiba merasa panas luar biasa.
Bagaimana
mungkin? Seperti ada enersi tak tampak yang membentengi orang-orang percaya. Enersi
itu membakar para roh jahat yang mencoba mendekati. Awalnya mereka heran. Namun
suatu kali mereka ikut mendengarkan khotbah yang disampaikan Pastor Peter. Bila
ada minimal 2 orang percaya yang berdoa dalam Nama Tuhan maka roh Allah sendiri
berada di tengah-tengah mereka!Itu berarti enersi yang terpancar pasti enersi
Allah sendiri!
Sebenarnya
enersi ini pernah mereka rasakan dulu.Hanya sejak mereka memihak kepada
Lucifer, pemimpin tertinggi para demon, enersi mereka sendiri berubah. Dulu
enersi yang mereka miliki seperti enersi itu, tetapi sekarang justru berlawan
dengan enersi itu. Sehingga mereka hampir melupakan enersi itu.
Sejak
Lucifer memberontak kepada Allah, maka ia dan malaikat pengikut-nya diusir dari
surga. Sejak itu enersi mereka mengalami mutasi. Enersi mereka tidak lagi sama
dengan enersi saat mereka masih berada di sorga. Malaikat pengikut Lucifer
berubah menjadi demon. Demikian pula dengan enersi angelic yang mereka milik
berubah menjadi enersi demonik. Enersi mereka tetap dahsyat, hanya enersi
mereka tidak dapat menembus atau mengalahkan enersi yang sejati yaitu enersi
ilahi.
Semua
orang yang sungguh-sungguh percaya, memiliki enersi ilahi.Jadi para demon tidak
berani mendekati orang-orang percaya. Mereka hanya berdiri jauh untuk melihat
kesempatan saat orang-orang percaya sedang lengah. Mereka akan masuk dan terus
menggoda orang-orang percaya. Tujuannya agar orang-orang percaya jatuh. Saat
jatuh maka orang-orang percaya tidak lagi mengandalkan Tuhan. Mereka
mengandalkan enersi nya sendiri yang sangat terbatas.Sedangkan enersi yang
dimiliki para demon memang melebihi enersi manusia biasa. Dengan demikian
manusia membutuhkan enersi ilahi yang bersumber dari Allah sendiri. Tanpa
enersi ilahi, manusia akan mudah dikalahkan para demon!
Bukan
itu saja. Setiap orang percaya memiliki malaikat pelindung. Mereka berada dan
membentengi setiap orang percaya.Para malaikat itu merupakan lawan yang tidak
ringan. Kekuatan mereka hampir berimbang. Karena sebenarnya demon sendiri
adalah para malaikat yang sudah jatuh. Malaikat memiliki kelebihan karena
mereka memiliki enersi ilahi yang dulu mereka miliki juga.
Demon
yang ditugasi mengawasi Pdt. Peter, Ev. Debora, Yakob dan jemaat lainnya juga
merasa segan dengan kumpulan malaikat yang menjagai orang-orang tersebut!
--o0o—
Usai berdoa
bersama, Yakob menghampiri Pastor Peter.
“Mu shi, saya
semalam bertemu dengan seorang anak SMA Sekolah SeYeSKu. Namanya Jonas. Mamanya
sakit. Saya rencana ke rumahnya pagi ini!” Yakob memberi informasi sekaligus
minta ijin.
“Oh begitu...
Silahkan kunjungi ya. Maaf, mu shi
tidak bisa ikut walau ingin. Maklum sekarang mu shi agak sulit berjalan jauh. Setelah kaki mu shi bertambah kuat, mu shi
akan ke sana juga.” Pesan Pastor Peter.
“Iya, tidak
apa-apa mu shi. Semoga cepat baik mu shi kakinya!” harapan Yakob.
“Sip… Selama
saya tidak leluasa berjalan, kamu bantu pembesukan ya?” Pastor Peter berharap
banyak pada Yakob.
“Siap!” Yakob
memberi salam militer.
“Ha…ha… kamu
benar-benar gaya anak muda. Cocok buat jadi pembina pemuda-remaja!
Ngomong-ngomong, kemarin kepala sekolah YeSKu datang, minta bantuan mencarikan seorang
guru agama.” Pastor Peter memberi informasi.
“Sekolah itu di
bawah GeYesku ya mu shi?” Yakob sudah
mendapat informasi sedikit tentang sekolah yang berada dalam naungan yang sama
dengan gereja.
“Benar! Karena
di gereja hanya ada 3 hamba Tuhan, sedangkan saya dan shi mu sudah berumur,
maka saya mencalonkan kamu. Apakah kamu bersedia?” Pastor Peter menawarkan.
“Eh…. Menarik
juga mu shi. Boleh saya doakan dahulu
mu shi?” Yakob meminta waktu untuk
konfirmasi dengan Sang Pencipta.
“Tentu saja!
Kamu perlu memastikan apakah sekolah menjadi bagian pelayananmu atau tidak.”
Pastor Peter setuju.
“Memang saya
pegang sekolah kelas berapa mu shi?”
Yakob meminta rincian.
“Kamu akan
pegang pelajaran agama Kristen kelas SMA 1 sampai 3.” Pastor Peter memberi
penjelasan.
“Berapa kelas ya
mu shi?” Yakob ingin mengukur lamanya
waktu yang harus dipersiapkan.
“Hanya 6 kelas!
Karena kalau terlalu banyak, nanti akan mengganggu pelayananmu di gereja.”
Pastor Peter mengemukakan pikirannya.
“Baik mu shi. Saya akan bawakan dalam doa!
Sekarang mu shi mau kembali ke atas?”
Yakob ingin membantu Pastor Peter kembali ke kamarnya.
“Betul Yakob.
Saya mau menyiapkan bahan untuk khotbah minggu ini!”
“Kalau begitu,
saya tuntun mu shi ke kamar” kata
Yakob yang melihat shi mu masih sibuk
membereskan ruang persekutuan.
“Yakob, kamu ada
mau beli sesuatu? Shi mu mau ke
pasar, kalau mau kamu bisa sekalian ikut!”mu
shi berkata sambil menaiki tangga.
“Boleh juga..
saya mau beli keperluan sehari-hari. Sudah banyak yang habis!” Yakob terus
menuntun Pastor Peter.
“Oh iya…
sekalian kamu bantu Arman melihat-lihat jalan karena banyak bahaya di jalan!”
Pastor Peter seperti punya firasat.
“Betul. Sekarang
banyak pengemudi tidak mentaati aturan” Yakob membenarkan. Ia sendiri merasa
ngeri membawa motor di Jakarta karena begitu semrawutnya kondisi lalu lintas di
sini.
“Nah sudah
sampai! Terima kasih bantuanmu Yakob! Saya senang kamu mau melayani di gereja
ini dan memberi banyak bantuan di sini!” Pastor Peter memuji Yakob.
“Ah bisa aja mu shi. Nanti kepala saya membesar lho…
jam 12 malam berubah lagi!” Yakob bercanda.
“Maksudmu?”
Pastor Peter tidak mengerti.
“Itu lho mu shi. Cerita Cinderella kan semua
keajaiban yang terjadi akan kembali ke asal pk 12 malam. Itu hanya kegembiraan
sekejap. Jadi kalau saya dipuji orang, saya bersyukur tapi sedikit waspada
karena semua yang sudah saya lakukan nanti berubah dan tiba-tiba saya berubah
lalu jatuh karena sombong!” Yakob menjelaskan.
“Ha..ha… bisa
saja kamu!” Pastor Peter senang dengan Yakob karena rajin membantu dan orangnya
sersan.. serius tapi santai. Tidak pernah mendengar keluhannya. Sungguh anak
muda yang luar biasa.
“Ok mu shi. Saya pamit dulu ya. Sekalian mau
ikut belanja dengan shi mu dan
Arman!” Yakob bergegas mengambil dompet di kamarnya dan turun ke bawah.
-o0o-
“Shi mu , kata mu shi , shi mu mau
belanja di pasar ya? Saya ikut ya?”pinta Yakob begitu melihat Ev. Debora sedang
bersiap berangkat dengan Arman.
“Wah mau borong
apa nih? Ayo naik!” Ev Debora langsung mempersilahkan Yakob ikut.
Yakob pun duduk
di samping Arman setelah membukakan pintu dan mempersilahkan Ev. Debora duduk
di belakang.
Demon
yang mengawasi Yakob melihat kesempatan telah tiba. Mereka tahu titik lemah
dari penumpang di mobil itu adalah pada Arman , sang pengemudi. Jadi kalau mau
mencelakakan Yakob , caranya mudah! Incar saja Arman. Kalau dia ceroboh maka
sekali tepuk 3 korban digapai! Maka para demon pun bekerjasama untuk
mencelakakan mobil dan seluruh penumpangnya.Mereka perlu mencelakakan Arman,
karena sepertinya ia sudah termakan omongan Yakob tadi.Para demon takut Arman
berubah pikiran dan menjadi pengikut Yesus.
Arman dan Yakob
mengenakan sabuk pengaman. Setelah Arman men-starter mobil dan menjalankannya
keluar pintu gerbang gereja. Hasan yang usianya juga sudah setengah abad
membukakan pintu. Ia bersama Arman telah bekerja di gereja dari awal berdirinya
GeYeSKu.
“Terima kasih ya
Pak Hasan! Kami mau pergi dulu ke pasar. Ada yang mau dibeli?” Yakob
menawarkan.
“Eh tidak.
Terima kasih! Hati-hati ya di jalan” Hasan pun kembali menutup gerbang setelah
mobil yang dikemudikan Arman bergulir ke luar.
“Pak Arman ada
mau titip beli sesuatu nanti?” Yakob hampir lupa menawarkan.
“Eh… tidak
perlu! Saya baru kemarin membeli keperluan saya!” Arman berkata setelah
berpikir sejenak.
“Pak Arman,
nanti kalau lewat dekat jembatan hati-hati lho. Kemarin ada kecelakaan di sana.
Ada pengemudi sepeda motor yang meninggal di sana karena ditabrak mobil yang
ngebut!”Yakob mengingatkan.
“Betul. Jalan di
sana rawan kecelakaan!”Pak Arman meningkatkan kewaspadaannya.
“Pak Arman …
REM!!! REM!!!” tiba-tiba Yakob berseru.
Pak Arman
menginjak pedal rem-nya tanpa bertanya penyebabnya.
“Lihat Pak itu
sepeda motor melawan arus menuju ke arah kita!” Yakob menunjuk ke sebuah motor
yang melaju dengan oleng dan tiba-tiba terjatuh beberapa meter di depan mobil yang
dikemudikan Arman.
Beruntung Arman
sudah lebih dulu menginjak rem, kalau tidak mobilnya melaju dan menabrak motor
yang terjatuh itu!
Tiba-tiba tampak
segerombolan orang mendekati pengemudi motor yang terjatuh itu. Heran darimana
datangnya orang-orang itu. Bukankah tidak sampai semenit motor itu jatuh? Sepertinya
orang-orang itu sudah siap bahkan sebelum motornya jatuh. Arman pun melihat
beberapa orang yang dia kenal sebagai preman. Berarti itu semua tipuan preman? Mereka
sudah menyiapkan jebakan bagi mobil yang diincarnya. Pengemudi motor itu akan
pura-pura jatuh di depan mobil dan para preman itu kemudian akan memeras
pengemudi mobil. Arman yang sudah lama mengemudi mobil tiba-tiba sadar. Itu
komplotan yang berbahaya yang sedang mengincarnya!
“Puji Tuhan!
Haleluya!” tanpa sadar dari mulutnya terlontar kata-kata yang dari dulu tidak
pernah dia ucapkan!
Yakob dan Ev.
Debora yang mendengarnya hanya mencatatnya dalam hati. Ev. Debora yang sangat
mengenal Arman tersenyum dalam hati. Selama ini dia bersama suaminya sudah
mendoakan Arman. Mereka rindu agar Arman juga menjadi orang percaya. Namun
hatinya seperti batu. Tidak bergeser sedikit pun dengan kabar baik yang
disampaikan. Mengapa saat ini dia bisa melontarkan ucapan syukur seperti itu?
Haleluya! Roh
Allah seperti sudah bekerja di dalam hatinya.
-o0o-
Demon
yang diberi tugas untuk mengawasi mereka bertiga memberi laporan ke Sang Bos.
“Lapor
Bos!” sang demon memberi hormat.
“Bagaimana
hasilnya? Apakah mereka sudah celaka?” Sang Bos menanti kabar baik.
“Maaf
Bos! Mereka berhasil lolos!” sang demon ketakutan.
“BODOH!!
Urusan kecil saja kamu tidak bisa tangani!” tiba-tiba “PLAKKK…!!” terdengar
suara saat Sang Bos menghajar sang demon.
Sang
demon terpental jatuh kesakitan.
“Saya
beri kamu kesempatan lagi! Celakai dulu Arman. Gagalkan usahanya mengirim uang
kepada keluarganya!” Sang Bos memberi perintah.
“Baik
Bos!” sang demon memberi hormat.
“Cepat
pergi dari sini!” Sang Bos menendang sang demon.
-o0o-
Akhirnya tiba
juga mereka di pasar. Ev. Debora dan Yakob turun sedangkan Arman menjaga mobil.
Ev. Debora dan Yakob dengan cepat membeli keperluan sehari-hari. Mereka tidak
membeli hal-hal yang tidak dibutuhkan. Setelah selesai berbelanja mereka
bermaksud kembali ke mobil gereja. Saat melewati toko yang menjual nasi tim,
tiba-tiba Yakob teringat. Apakah Jonas dan mamanya sudah makan pagi? Bukankah
mama Jonas sedang sakit? Siapa yang akan membuatkan makanan untuknya? Apakah
Jonas akan pergi keluar membeli makan lagi? Yakob tergerak untuk membelikan
nasi tim 2 porsi untuk Jonas dan mamanya.
Ia sebenarnya
heran juga. Bukankah ia janjian pk 10, pasti mereka sudah makan! Tiba-tiba
hatinya tergerak untuk menambah lagi 1 porsi. Kalau 2 porsi pertama jelas untuk
Jonas dan mamanya. Lalu yang 1 lagi? Dia juga tidak tahu. Lalu untuk apa dia
memboroskan uangnya? Padahal ia saja sudah menghemat mati-matian agar uangnya
cukup untuk kebutuhan selama sebulan. Uang yang sudah ia keluarkan semalam
ditambah pagi ini sudah mengurangi jatah uang belanjanya bulan itu. Kemungkinan
uangnya tidak cukup sampai akhir bulan! Namun hatinya seperti tergerak untuk
melakukannya. Dalam hati ia berkata, biarlah makanan yang dia belikan ini bisa
menjadi berkat buat Jonas dan mamanya.
“Buat siapa
makanan itu Yakob?” Ev. Debora heran. Bukankah Yakob sudah makan pagi?
“Eh buat orang
yang akan saya kunjungi , shi mu.
Kemarin bertemu di tempat jualan nasi goreng. Mamanya sedang sakit, jadi dia
terpaksa beli nasi goreng karena mamanya tidak bisa masak” Yakob menjelaskan
panjang lebar.
“Oh begitu.
Sungguh mulia hatimu!” puji Ev. Debora. Ia kagum dengan Yakob yang benar-benar
suka membantu orang lain.
Bukan hanya di
gereja tapi juga di luar! Sungguh GeYesKu beruntung mendapatkannya. Ev. Debora
dan suaminya memang sudah tidak segesit saat masih muda. Walau semangat masih
menyala, namun tidak dapat dipungkiri usia mulai mengambil alih kesehatan dan
stamina.Yakob yang masih sangat muda benar-benar dapat diandalkan untuk
mengatasi kelemahan mereka. Selesai semuanya, mereka berdua dengan cepat
kembali ke mobil.
Arman sedang
duduk santai menunggu kembalinya Ev. Debora dan Yakob. Dia memperhatikan
orang-orang lalu lalang di sekitarnya. Sehingga Arman tidak menyadari bahwa dia
sedang diincar. Seorang remaja sedang mencari kesempatan yang tepat. Dia tahu
sebentar lagi waktunya tiba. Secara perlahan ia mengendap ke belakang Arman. Tiba-tiba
ada kuli pengangkut barang yang lewat di depan Arman.
“Minggir-minggir!!”
para kuli yang mengangkat barang berat di punggungnya minta orang lainnya
menyingkir.
Namun karena
jalanan sempit, kuli-kuli itu bersentuhan dengan pejalan kaki lainnya.
Arman yang
sedang menunggu di pinggir jalan terpaksa menyingkir perlahan-lahan.
Kesempatan ini
digunakan oleh sang remaja untuk ikut berdesak-desakan. Kemudian dengan cepat
sang remaja mendorong tubuh Arman. Gerakan itu dilakukan secara wajar,
seakan-akan ia ingin menghindari kuli-kuli pengangkut barang. Saat tubuh Arman
terdorong, ia pura-pura membantu menopang tubuh Arman. Sang remaja kemudian
dengan mudah memasukkan jari tangannya ke saku celana belakang Arman.
Arman hanya
merasakan sedikit dorongan dan sentuhan sang remaja. Hilangnya dompet tidak
dirasakannya. Saat ia kembali ke posisi yang normal, dompetnya sudah berada di
tempat si remaja. Sang remaja sungguh lihai. Sepertinya tidak ada yang
memperhatikannya. Namun pada yang bersamaan, Yakob yang melihat Arman terdorong
cepat-cepat berlari ingin membantunya. Karena memang Yakob memperhatikan Arman
secara cermat, ia dapat melihat ulah sang remaja! Yakob terkejut melihat aksi
sang remaja yang mencuri dompet Arman. Maka begitu tiba di samping Arman, ia
pun menegur sang remaja.
“Hai kamu!
Kembalikan dompet Bapak ini!” tegur Yakob.
Sang remaja yang
merasa tertangkap basah merasa malu dan kesal karena ulahnya diketahui. Arman
yang disadarkan, langsung meraba bagian belakang celananya.
“Astaga! Kemana
dompetku?” Arman pucat.
Terbayang uang
yang sebentar lagi mau diberikan ke istrinya hilang! Uang itu sangat diperlukan
keluarganya. Mata Arman langsung beralih ke remaja yang ditegur Yakob. Remaja
itu bergeming. Ia tidak mau mengeluarkan dompet Arman. Terpaksa Arman mencari
sendiri di tubuh sang remaja.Akhirnya Arman menemukan dompetnya. Ia pun
memeriksa isi dompetnya. Masih utuh.
“Puji Tuhan!”
Arman bersyukur.
“Kenapa kamu
mencuri?” Yakob menatap sang remaja.
“Maaf Kak. Saya
tidak punya uang. Saya lapar!” sang remaja memasang wajah memelas.
“Memang
keluargamu tidak memberi makan?” Yakob penasaran. Ia takut sang remaja berbohong.
“Saya hidup
sebatang kara! Keluarga saya sudah meninggal waktu kapalnya tenggalam saat ke
Jakarta!” sang remaja matanya berkaca-kaca.
“Siapa nama
bapakmu?” Yakob bertanya.
“Rama, Kak!”
sang remaja merasa takut bila tidak memberi jawaban.
“Hmh…. Jadi nama
ibumu … Sati?” Yakob teringat akan artikel yang dibacanya sebulan yang lalu.
“Betul Kak!”
sang remaja agak terkejut Yakob bisa mengetahui nama ibunya.
“Berarti namamu Deny?”
Yakob lagi-lagi mengkonfirmasi.
“Bagaimana Kakak
tahu nama-nama saya dan orang tua saya?” Deny heran.
“Peristiwa
tenggelamnya kapal yang ditumpangi keluargamu telah berhari-hari diberitakan di
surat kabar. Saya membaca artikel yang memuat kisah keluargamu!” Yakob
menjelaskan.
“Betul. Saya
bahkan sempat diwawancara. Namun karena sejak keluarga tidak mengirim uang
lagi, maka saya berusaha mencari kerja. Tapi karena saya belum lulus, maka
susah mencari pekerjaan.” Deny menjelaskan.
“Oh begitu. Jadi
kamu sekarang tinggal di mana? Kamu punya keahlian apa?” Yakob menggali potensi
Deny.
“Saya sudah
belajar mengemudi!” Deny menjelaskan.
“Kamu punya
handphone?” Yakob rupanya punya rencana sendiri.
“Eh …punya Kak.
Hanphone jadul Kak” Lalu disebutkannya nomornya. Yakob langsung memasukkannya
ke phone book handphonenya, lalu menelpon nomor itu. Dari saku Deny terdengar
suara telepon masuk. Lalu ia mengeluarkan handphonenya. Memang telpon yang
benar-benar jadul, namun masih berfungsi baik.
“Kamu simpan
nomor Kakak ya!” Yakob memintanya.
“Baik!” Deny
langsung menyimpan nomor Yakob.
“Nama Kakak
siapa?” Deny ingin memasukkan nama Yakob di handphone.
“Yakob!”
Dengan cepat Deny
memasukkan ke dalam phone booknya.
“Bagaimana Pak
Arman? Apakah ada yang hilang?” Yakob mengkonfirmasi.
“Tidak ada.”
Arman menjawab pasti.
“Apakah Pak
Arman mau memaafkan Deny?” Yakob tidak ingin melangkahi Arman.
“Hmh….
Sebenarnya saya ingin menghajarnya! Hampir saja uang untuk keluarga saya
lenyap. Tapi sudahlah, karena kamu sudah menolong saya menyelamatkan dompet
saya, saya maafkan dia!” Arman berlalu dengan sedikit kesal. Arman kesal karena
Yakob terlalu baik. Bagaimana kalau dompetnya hilang? Rasanya tangannya sudah
gatal menghajar anak itu. Namun dalam hati Arman menghargai Yakob yang telah
menolongnya. Arman pun berlalu menuju ke mobil. Dilihatnya Ev. Debora membawa
barang belanjaannya, maka ia pun menolong membawakannya.
“Ada apa Arman?”
Ev. Debora ingin tahu.
Arman pun
menceritakan kejadian barusan.
-o0o-
Sementara Yakob
memandang kepada Deny.
“Nah Deny , kami
tidak ingin menyerahkan kamu ke polisi. Namun tidak berarti kamu bebas
melakukan pencurian lagi. Kalau kamu tetap mencuri, saya tidak segan-segan
melaporkannya.” Yakob sengaja mengancam Deny, agar ia tidak lagi mencuri.
“Baik Kak!” Deny
pasrah.
“Ngomong-ngomong,
kamu belum makan ya?” Yakob teringat alasan Deny mencuri.
“Benar Kak!” Deny
menjawab singkat.
“Nah ini Kakak
punya bekal. Makanlah! Semoga besok saya sudah bisa memberi kabar kepadamu!”
Yakob menyodorkan satu nasi tim yang memang dia beli lebih tadi.
“Terima kasih
Kak! Sekarang maukah kamu meminta maaf pada Pak Arman yang tadi dompetnya kamu
curi?” Yakob memancing.
Agak
takut-takut, Deny menuju ke tempat Arman.
“Pak maafkan
saya. Saya khilaf mencuri dompet Bapak!” Ahamd mencium tangan Arman.
Arman memandang Deny.
Ia teringat akan anaknya sendiri di rumah. Memang tidak sebesar Deny. Tapi ia
rindu dengan anak-anaknya yang masih kecil, Bayu dan Ayu.
“Baiklah. Tapi
kamu tidak boleh mencuri lagi ya!” Arman meminta kepastian.
“Baik Pak!” Deny
pun kemudian berlalu dan pergi.
Ev. Debora
menyaksikan kejadian itu dan memandangi kepergian Deny. Ia pun berjanji akan
mendoakan anak ini agar tidak tersesat. Setelah itu Yakob pun kembali ke mobil
dan membagikan kisah Deny kepada Ev. Debora.
“Baik,nanti kita
coba pikirkan, apa yang bisa kita bantu ke Deny!” Ev. Debora mendukung Yakob. Mereka
bertiga pun kembali ke gereja.
--o0o--
Sang
Bos lagi-lagi marah kepada demon yang mengawasi Yakob dan Arman. Dihajarnya
demon itu sampai tunggang langgang.Sang Bos tidak sungkan menghukum anak
buahnya yang gagal melakukan tugas.Sang demon mengaduh-aduh kesakitan saat
dihajar pulang pergi.
“Ampun
Bos! Beri kesempatan lagi!” sang demon meminta belas kasihan.
“Saya
sudah kasih dua kali kesempatan dan kamu gagal! Mau apa lagi?” Sang Bos dengan
sadis tetap menghajar sang demon.
“Kali
ini tidak akan gagal Bos!” sang demon berjanji.
“Baik.
Saya beri kesempatan sekali lagi untuk mencelakakan Arman! Kalau gagal lagi,
kamu tahu akibatnya!” Sang Bos menendang sang demon jauh-jauh
--o0o—
Yakob membantu
Ev. Debora membawa barang-barang belanjaannya. Barang belanjaannya sendiri
sangat sedikit. Dengan cepat ia sudah membawa dan meletakkan barang belanjaan
Ev. Debora di lantai 2. Lalu ia segera naik ke lantai 3 tempat tinggalnya dan
meletakkan barang-barang belanjaannya dengan rapi. Ditatapnya jam di handphone
nya.
“Masih 1 jam
lagi sebelum pk 10!” gumamnya dalam hati.
Berarti ia masih
bisa melakukan hal-hal lain sebelum pergi ke rumah Jonas. Saat ia berada di
kamarnya, tiba-tiba aiphone di lantai 3 berbunyi. Karena ia satu-satunya
penghuni di lantai yang terdiri dari beberapa kamar itu, maka ia bergegas ke
luar kamar mengangkat aiphone.
“Halo!” sapanya.
“Yakob. Ini Pak
Arman. Bisa bicara sebentar?” suara dari seberang terdengar.
“Tentu saja Pak
Arman. Bapak ingin saya turun atau Bapak mau bicara di lantai 3 saja?” Yakob
menawarkan.
“Eh… lebih
leluasa di lantai 3 saja. Karena jarang ada yang lalu lalang” Arman memberi
alasan.
“Kalau begitu
saya tunggu ya sekarang!” Yakob memberi kepastian.
“Terima kasih ya
Yakob!” terdengar suara klik di seberang.
-o0o-
“Ayo silahkan
duduk Pak Arman!” begitu Yakob melihat Arman sampai di lantai 3.
Sepertinya Arman
agak sedikit terengah-engah. Mungkin termakan usianya yang lebih dari setengah
abad.
“Begini Yakob.
Saya ingin minta pendapat.” Arman membuka percakapan setelah nafasnya mulai
teratur.
“Tentang apa Pak
Arman?” tanya Yakob.
“Semalam saya
bermimpi 2 kejadian. Yang pertama mimpi saya menyeramkan! Saya bermimpi dipatuk
burung gagak. Di kampong saya, kalau ada orang bermimpi seperti itu, berarti
dalam waktu dekat ia akan meninggal!” Arman langsung menyampaikan kegalauannya.
“Oh ya? Tapi mimpi
itu kan buah dari tidur. Belum tentu benar walau mungkin saja bisa terjadi!”
Yakob membesarkan hati Arman.
“Betul! Setelah
kejadian aneh itu, saya merasa ketakutan. Saya seperti dalam bayang-bayang maut
dan tidak ada yang menolong saya!” Arman mengutarakan kekhawatirannya. Yakob
tidak memberi komentar. Ia menantikan kelanjutan cerita Arman.
“Saya
mencari-cari pertolongan, tapi tidak ada orang yang mau menolong!” Arman
melanjutkan.
Yakob terus
menanti.
“Anehnya saat
itu di depan saya ada sebuah mata air. Airnya begitu jernih. Tiba-tiba ada
suara yang berkata : Akulah air kehidupan. Barang siapa datang kepadaKu dan
meminum air ini, ia tidak akan haus lagi!” Arman bercerita dengan perlahan.
Yakob tertarik
mendengar mimpi Arman.
“Saya kemudian
sadar bahwa itulah Allah nya orang Kristen. Saya pernah mendengar perkataan ini
dan saya tahu itu perkataan dari Yesus Kristus! Saya sempat ragu untuk
meminumnya. Tapi saat melihat jernihnya air, saya pun meminumnya. Cuma-Cuma!”
mata Arman seperti bersinar saat menceritakannya.
“Saya kemudian
meneguknya lagi. Saya benar-benar mendapat kelegaan. Setelah itu saya terbangun
dan merasa damai! Saya tidak pernah mengalami hal ini sebelumnya!” Arman
menggeleng-gelengkan kepala seakan takjub.
Setelah beberapa
saat Arman tidak berbicara, Yakob bertanya,”Pak Arman ingin bertanya apa dari
hal tersebut?”
“Eh…. Saya
merasa bahwa saya benar-benar akan meninggal. Saya takut setelah meninggal saya
tidak mendapat tempat di sorga! Saya ingin mendapat air kehidupan itu. Saya
semalam sudah memutuskan untuk menyerahkan hidup saya kepada Tuhan Yesus!”
Arman mengutarakan keputusannya.
Yakob terkejut
namun senang mendengarnya.
Bukan
hanya Yakob, malaikat di sorga juga bertepuk tangan dan memuji Tuhan untuk
kebaikanNya.
“Bisakah kamu
memimpin saya untuk itu?”Arman menatap Yakob meminta pertolongan.
“Tentu saja Pak
Arman. Saya akan memimpin Pak Arman untuk berdoa. Bapak nanti mengikuti ucapan
saya ya?” Yakob balik menatap Arman.
“Baik! Silahkan
dimulai!” Arman seperti tidak sabar.
“Mari kita
menutup mata dan melipat tangan kita!” Yakob mempersiapkan hati Arman untuk
masuk dalam doa.
“Bapak di dalam
sorga. Saya yang bernama Arman mengucap syukur untuk kasihMu” Yakob memulai
doanya yang segera diikuti Arman.
“Saya tahu saya
adalah orang yang penuh dosa dan hanya Engkau saja yang mampu menyelamatkan
saya dari dosa melalui PutraMu Yesus Kristus. Saat ini saya ingin mengundangMu
untuk masuk ke dalam hati saya!” Yakob menyampaikan kalimat demi kalimat yang
segera diikuti Arman.
“Saya menerima
PutraMu Yesus Kristus sebagai Allah dan Juruselamatku satu-satunya!” Yakob
terus mengarahkan Arman.
“Saya
menyerahkan hidup saya dalam tanganMu. Kiranya Roh Kudus mengajar dan memimpin
kehidupan saya selanjutnya!” Yakob menambahkan yang terus diikuti Arman.
“Terima kasih
Bapak telah memberi saya kesempatan untuk percaya kepadaMu, PutraMu dan Roh
Kudus!” Yakob menyaksikan keberadaan Allah Tritunggal yang segera diikuti
Arman.
“Hanya di dalam
nama Tuhan Yesus, Juruselamatku, saya alaskan doa ini. Amin!”Yakob mengakihiri
doa dan diikuti dengan Arman.
Yakob pun
membuka matanya, lalu ia memeluk Arman.
“Selamat datang
dalam persaudaraan orang percaya Pak Arman!” Yakob sangat senang.
“Terima kasih
Yakob. Tolong bimbing saya!” Arman memohon petunjuk.
“Tentu Pak
Arman. Bapak akan mengikuti kelas pelajaran pendidikan kekristenan yang dikenal
sebagai katekisasi!” Yakob menjelaskan.
“Baiklah. Saya
akan mengikutinya!” Arman mengikuti petunjuk Yakob.
“Pak Arman
tunggu sebentar ya!” Yakob meminta kesabaran Arman dan masuk ke kamarnya.
Tidak lama
kemudian Yakob keluar membawa satu buku Alkitab.
“Terimalah
Alkitab ini. Bacalah setiap hari. Mintalah Roh Kudus menerangi hati Pak Arman!”
Yakob
menyerahkan buku kitab suci itu ke Arman. Arman menerimanya dengan senang hati.
Setelah itu ia pamit. Wajahnya berseri-seri memancarkan sinar ilahi! Yakob
memandang kepergian Arman dengan penuh sukacita!
--o0o—
Demon
yang melihat hal itu merasa takut!Tugas yang diembannya untuk menyesatkan
manusia gagal dilaksanakan.Apa yang akan terjadi dengan dirinya saat Sang Bos
menerima laporan ini?Dia pun menjadi ketakutan!Namun ia tidak mungkin
menghindar.Karena hukumannya pasti lebih dahsyat.Mau tak mau demon itu
menghadap ke Sang Bos.
“Ada
apa?” tanya Sang Bos
“Siap!
Mau melapor!” jawab sang demon dengan suara gemetar.
“Lalu
menunggu kapan laporannya? Cepattt!!! Saya tidak punya banyak waktu!” Sang Bos
marah.
“Siap!
Arman sudah mengaku Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamatnya!” sang demon berkata
dengan takut-takut.
“APPPAAAA?
**&*%^#@#” Sang Bos matanya mendelik murka.”Bagaimana mungkin terjadi?”
Sang Bos langsung menghantam sang demon sehingga terjatuh jauh.
Sang
Bos merasa tidak perlu menerima alasan apa pun dari anak buahnya itu.Tidak puas
dengan hukumannya, Sang Bos mengejar ke arah jatuhnya sang demon. Dihantamnya
lagi dengan enersi yang lebih tinggi. Sang demon sudah tidak mampu melawan. Tidak
mungkin juga dia melawan.Enersinya tidak mungkin mengalahkan enersi Sang Bos.
Tidak
puas-puasnya Sang Bos menghajar Sang Demon.
Sayap
hitam sang demon rusak di sana-sini.
Kaki
Sang Bos yang besar pun menghujam tubuh Sang Demon.Sang demon sudah terluka
parah. Memang itu hukuman yang pantas buat demon yang gagal. Hukuman yang
berlaku di dunia roh jahat. Setelah beberapa waktu, barulah Sang Bos menyudahi
aksinya. Ditinggalnya demon itu terkapar tanpa daya.Sendirian!Tidak ada demon
lain yang berani membantunya.Karena hukumannya akan lebih parah.Sang demon yang
terluka parah hanya dapat mengaduh. Butuh waktu lama untuk memulihkannya
kembali.Beruntung ia tidak dibunuh oleh Sang Bos.
-o0o-
Yakob pun
bersiap-siap pergi ke rumah Jonas karena waktunya sudah hampir pk 10.
Dengan sukacita
ia bersenandung. Mengumandangkan pujian bagi Sang Raja
Di
hadiratMu kusujud menyembah
kucari
wajahMu dan bukan berkatMu
Kau
yang maha tahu dalamnya hatiku
Tiada
yang lain seperti diriMu
Segenap
hidupku kumengasihimu
Yesusku
kucinta padaMu
Bawaku
mendekat padaMu
Tinggal
di dalam hadiratMu
Di
hadiratMu kusujud menyembah
kucari
wajahMu dan bukan berkatMu
Kau
yang maha tahu dalamnya hatiku
Tiada
yang lain seperti diriMu
Segenap
hidupku kumengasihimu
Yesusku
kucinta padaMu
Bawaku
mendekat padaMu
Tinggal
di dalam hadiratMu
-o0o-

No comments:
Post a Comment