Saturday, December 19, 2015

Coram Deo - Ep 3 - Sang Pengemudi

Coram Deo
(Episode 3)
SANG PENGEMUDI

Pagi hari Yakob bangun dengan tubuh yang segar. Ia pun mengambil gitar kesayangannya dan mulai memetik gitar. Disenandungkannya sebuah lagu untuk memuji Tuhan

Saat pagi hari ku datang lagi
Menghadap Tuhan dan rendahkan diri
Mengucap syukur buat hari yang Kau beri
Memuji Tuhan dengan sepenuh hati

Ku sembah Kau Allah maha kudus
Ku tinggikan Allah maha tinggi
Ku serahkan tubuh, jiwa, rohku
Dalam pimpinanMu, Tuhan (oh Tuhan).

Ia pun membaca renungan dari Perjanjian Lama. Setelah itu ia pun mencurahkan waktunya untuk berdoa mengucapkan syukur untuk hari baru yang diberikan dan juga menyerahkan rencana kunjungannya ke rumah Jonas dan seluruh kegiatan hari itu. Setelah itu Yakob mandi dan mampir ke dapur untuk menyiapkan menu paginya.

Sementara itu secara tidak kasat mata, sesosok demon memantau apa yang dilakukan oleh Yakob. Ia diberi tugas khusus oleh Legion untuk mengawasi kegiatan Yakob dari waktu ke waktu.Demon itu diminta untuk mencari kelemahan dari Yakob.
Seluruh riwayat hidup Yakob dari kecil sampai sekarang sudah diminta dari demon yang dulu mengawasinya.

“Pagi Pak Arman” sapa Yakob sewaktu melihat Arman yang sedang membersihkan mobil gereja.

“Pagi Yakob!” balas Arman.

“Sudah sarapan?”

“Belum. Nanti saja setelah cuci mobil!” Arman memang sedang tenggelam dalam pekerjaannya.

“Mau saya buatkan supermie?” Yakob menawarkan.

“Eh…. Tidak perlu. Nanti saya buat sendiri saja! Takut sudah dingin nanti” Arman memang masih cukup lama selesai mencucinya.

“Kalau begitu, biar saya bantu Pak Arman mencuci mobil dulu. Setelah itu baru kita sama-sama makan!” dengan cepat Yakob mempelajari cara Pak Arman mencuci mobil.

“Eh… tidak usah Yakob. Nanti baju kamu basah!” Arman merasa sungkan.

Tidak pernah ada orang yang membantunya mencuci mobil selama ini. Pekerjaan yang mungkin dianggap remeh bahkan hina.

“Tenang saja Pak Arman. Saya dulu mantan pencuci mobil!” Yakob pun sudah bisa menyimpulkan bantuan yang akan dia berikan.

Diambilnya lagi sebuah ember yang rencananya akan digunakan untuk lap basah terakhir.

“Pak Arman boleh tidak saya memberi saran?” Yakob meminta ijin.

“Tentu saja!” Arman berkata ingin tahu.

“Agar supaya cepat selesai, ember Pak Arman akan kita gunakan sebagai cairan sabun. Jadi setelah saya menyiram air ke sisi mobil, lalu Pak Arman memberi sabun pada bagian itu sambil digosok. Setelah itu saya guyur dengan air. Jadi tugas Bapak untuk menyabuni dan membersihkannya sedangkan saya mengguyur dengan air, menyiapkan dan mengganti air sabun dan melap bersih bagaimana?” Yakob meminta pendapat.

“Boleh juga. Mari kita coba!” Arman jadi bersemangat karena ada rekan kerja.

“Kita mulai dari bagian atap mobil ya Pak!” Yakob menyiram atap mobil dengan air.

Dengan cepat Arman menyabuni atap mobil dan menggosoknya. Yakob menyiapkan lap basah lainnya agar bisa digunakan Arman untuk menyabuni atap mobil. Setelah itu ia minta Arman mengganti lap sabun yang sudah kotor dengan yang baru yang sudah disiapkannya. Arman menyambut lap baru tersebut dan langsung memakainya.
Sedangkan Yakob membersihkan lab yang sudah kotor lalu memberikannya kembali kepada Arman.

Setelah bagian atap mobil selesai. Sasaran kedua adalah kaca mobil.Dimulai dari kaca bagian depan. Diangkatnya wiper mobil lalu disiramnya dengan air. Arman langsung menyabuni bagian itu dengan cepat. Yakob mengambil lap yang sudah dibersihkan dan diberi air sabun baru dan diberikannya ke Arman sebagai ganti lap sabun yang sudah kotor.

Usai kaca depan, dilanjutkan dengan kap mobil dan bagian depan mobil. Lalu dengan arah berputar dari sisi kanan mobil, bagian belakang mobil dan terakhir sisi kirinya. Setelah itu baru keempat ban mobil.Karena dikerjakan secara simultan dan berkelanjutan, dengan cepat seluruh mobil sudah disabuni.

Terakhir dimulailah pekerjaan membersihkan sabun.Dimulai dari urutan yang sama yakni atap. Setelah Yakob membasahi dengan air lalu Armn melap nya.Yakob menyiapkan lap baru untuk digunakan dan ditukarkan dengan lap Arman yang sebelumnya. Karena dikerjakan berdua dan secara sistematis, maka dengan cepat mobil gereja sudah bersih! Benar-benar bersih!

“Nah selesai sudah pekerjaan kita Pak Arman!” Yakob memandang puas hasil cucian mereka.

“Terima kasih Yakob sudah bantu Bapak!” Arman merasa bersyukur punya rekan yang mau membantu.

“Sama-sama Pak. Sekarang Bapak bersihkan bekas cucian dan masukan peralatannya ya. Saya akan siapkan supermie buat kita berdua! Bagaimana?” Yakob meminta persetujuan.

“Baiklah! Akur!” Arman tambah semangat. Biasanya dia sendiri yang membuat makanan paginya.

--oo0oo-

Yakob segera mencuci tangan lalu menyiapkan peralatan yang diperlukan. Kemudian ia mengambil 2 bungkus supermie ukuran jumbo. Maklum mereka berdua baru saja mengeluarkan tenaga ekstra untuk membersihkan mobil. Yakob kemudian menyiapkan kompor dan menaruh panci yang telah berisi air matang di atasnya.

Dinyalakannya kompor dengan nyala maksimum. Dibukanya supermie lalu dimasukkannya ke panci. Lalu diambilnya dua buah mangkok besar. Diambilnya pisau lalu dibukanya bumbu-bumbu supermie. Setelah air dirasa cukup  mendidih, lalu dibuangnya air tadi karena dikhawatirkan mengandung zat lilin. Setelah itu baru dipanaskannya lagi air dan setelah agak mendidih dimasukkannya telur. Hasilnya telur mata sapi terbentuk. Barulah dimasukkan kembali supermienya agar benar-benar matang.
Hanya dalam hitungan detik, ia pun mematikan api kompor. Lalu dbaginya supermie ke dalam 2 mangkok. Diaduknya dengan bumbu-bumbunya kecuali bawang goreng. Setelah rata barulah telurnya dikeluarkan ke atas dan ditaruhnya bawang goreng. Bau harum supermie dan bawang menyebar. Sedap! Memang cara merebusnya lebih lama, namun Yakob meyakini lebih sehat. Yakob sudah membaca artikel tentang orang yang menderita penyakit gara-gara kebanyakan makan supermie yang tidak diolah dengan benar!

“Wah.. sedap sekali baunya!” Arman yang sudah selesai membereskan peralatannya segera duduk di meja.

Yakob juga sudah selesai membersihkan sampah plastik supermie dan bumbu-bumbunya lalu dibuangnya ke tong sampah. Diambilnya 2 buah gelas minuman , diisinya lalu ditaruhnya di meja.

“Mari kita berdoa” Yakob memimpin doa makan.

Arman yang tidak pernah berdoa makan, merasa sungkan. Terpaksa ia diam dan mengikuti doa makan ini. Benar-benar aneh hamba Tuhan yang satu ini! Membantu  orang-orang sepertinya dan mengajarinya cara memulai acara makan!

“Amin!” Yakob membuka matanya lalu berkata,”Mari Pak Arman kita serbu!”

Tanpa sungkan Yakob dan Arman menikmati menu sarapan pagi mereka. Sederhana tapi nikmat.

“Ehm.. Yakob…. Semalam kamu merasakan ada hal yang aneh tidak?” Arman mengajak bicara sambil menikmati supermienya.

“Maksudnya?” Yakob bertanya balik ingin memastikan.

“Saya dan Hasan merasa merinding semalam. Anjing-anjing melolong di mana-mana. Sangat berisik!” Arman menjelaskan.

“Jam berapa?” Yakob ingin mecocokkan waktu.

“Sekitar …. setengah dua belas!” Arman mengingat-ingat.

“Oh… saya waktu itu sedang mau tidur. Memang seperti ada hal yang aneh seakan ada mahluk-mahluk yang ingin mengganggu!” kata Yakob.

“Betul! Saya hanya bisa meringkuk tidak berani bergerak! Tubuh saya menggigil gemetaran. Saya takut sekali!” Arman dengan gamblang menjelaskan apa adanya.

“Saya juga merasakan hal yang sama. Namun begitu mendapat ancaman seperti itu, saya langsung teringat Roh Allah yang ada di dalam kita lebih besar dari apapun di dunia ini. Hal ini menentramkan dan saya pun mengambil gitar lalu menyanyi serta berdoa minta perlindungan Tuhan!” Yakob juga mengingat kejadian semalam.

“Herannya.. waktu saya sudah tidak bisa apa-apa karena ketakutan, saya mendengar ada yang menyanyi lagu yang sering dinyanyikan di gereja …. Sepertinya ada kata ‘darah’ dan ‘anak domba’” Arman sudah tidak bisa mengingat seluruh syair yang didengarnya semalam.

“Maksudnya lagu Ada kuasa dalam darahNya?” Yakob langsung teringat lagu yang dinyanyikan semalam.

“Eh… saya tidak tahu judulnya. Coba kamu nyanyikan!” pinta Arman.

Yakob menunda makannya lalu bersenandung.


Ada kuasa dalam darahNya, darah Domba Allah
Ada kuasa dalam darahNya, dalam darah Domba Allah

“Persis! Itu dia lagunya!”Arman berseru gembira.

“Memang itu lagu yang saya nyanyikan semalam.” Yakob memberitahukan.

“Tetapi tidak mungkin suara kamu bisa terdengar dari sini. Bahkan di lantai 3 saja, suaramu hanya terdengar di dalam kamar saja! Jadi darimana suara itu berasal?” Arman bingung.

Yakob juga bingung. Dia tahu apa yang disampaikan Arman itu benar. Tidak mungkin suaranya bisa terdengar di lantai 1, karena kamarnya kedap suara! Lagipula dia sudah mengenal suara Yakob, Pastor Peter dan Ev. Debora. Itu bukan suara mereka. Juga bukan suara diaken atau jemaat di gereja yang sudah dikenalnya.

“Jadi suara siapakah yang didengar Arman?” Yakob pun bertanya-tanya.

Sambil merenungkan kejadian itu, ia pun mulai menyantap supermienya. Tidak terasa piring supermie nya tandas. Semua isinya sudah berpindah ke perut Yakob. Demikian pula Arman.

“Bagaimana cara mengatasi rasa takut seperti semalam?” Arman tidak ingin kejadian semalam terulang.

“Kalau menurut Bapak bagaimana?” Yakob balik bertanya. Yakob sudah mendapat informasi bahwa Arman memang sudah keras hatinya untuk menerima Tuhan Yesus sebagai Juruselamat.

“Eh…. Justru saya tidak tahu. Kalau saya tahu untuk apa saya tanya?” Arman protes.

“Selama ini menurut keyakinan Bapak bagaimana?” Yakob juga tidak ingin langsung menanggapi.

“Saya juga tidak tahu” Arman mengangkat bahunya.

“Kalau saya menghadapi hal seperti semalam tidak takut!” Yakob mengungkapkan posisinya.

“Kenapa bisa begitu? Bukankah kita mengalami hal yang sama semalam?” Arman tidak mengerti.

“Karena saya percaya, sejak saya percaya kepada Yesus Kristus sebagai Juruselamat, maka saya sudah mengundangnya masuk ke dalam hati saya. Nah Yesus itu adalah Allah yang menjelma menjadi manusia. Kalau Allah ada di pihak kita, mengapa takut serangan roh jahat seperti itu?” Yakob balik bertanya.

 “Eh….” Arman hanya bisa terdiam. Ia sudah biasa membantah berita Injil yang disampaikan siapa pun juga. Namun kali ini mengapa ia merasa berbeda? Apakah karena Yakob sudah membantunya? Ataukah karena perkataannya seperti punya kuasa? Jiwa Arman terketuk.

“Yakob, Bapak punya keyakinan yang berbeda dengan kamu! Saya tidak bisa berkata dan memohon kepada Tuhan Yesus!” Arman secara perlahan menyampaikan pikirannya.

“Pak Arman, kalau Bapak merasa keyakinan Bapak dapat menolong Bapak, silahkan. Namun kalau Bapak sudah mencobanya dan tidak berhasil, Bapak jangan putus asa. Masih ada Yesus Kristus, yang mau menolong Bapak asal Bapak mau percaya kepadaNya!” Yakob menatap Arman.

Arman merasakan ketulusan perkataan dan tatapan Yakob.

“Baik. Bapak akan coba renungkan!” Arman memberi janji.

Yakob merasa senang. Tugasnya memang hanya menyampaikan kebenaran. Tidak masalah apakah orang yang diberitakan Injil itu mau percaya atau tidak. Baginya tugas yang diembannya sudah dilaksanakan dengan sungguh-sungguh.

--o0o—

Sementara itu demon yang mendengar apa yang dipercakapkan Yakob dengan Arman, melaporkannya kepada Sang Bos. Sang Bos menjadi geram. Selama ini ia sudah berhasil membuat Arman menentang kabar baik yang diberitakan kepadanya. Ia sudah mengatur strategi agar teman-teman Arman membuatnya mengeraskan hati.Banyak sudah alasan palsu yang dikemukakan kepadanya. Sekarang Yakob ingin membongkar semua alasan palsu itu. Yakob sudah menanamkan pikiran yang berbeda. Ini merupakan ancaman. Kalau Arman dapat dipengaruhi, maka Hasan pun dapat dipengaruhi juga. Hal ini harus dicegah! Walaupun semalam pertempuran dengan para malaikat batal, namun mereka tetap harus berupaya mencegah Yakob melakukan hal-hal yang merugikan Dunia Kelam.

--o0o—

Yakob pun segera mencuci piringnya. Arman yang ingin membantu , kalah cepat.
Memang Yakob dapat bekerja dengan sangat cepat. Arman hanya dapat menggeleng-gelengkan kepala.

Saat itu Pastor Peter dan Ev. Debora turun dari lantai 2. Mereka ingin mempersiapkan doa pagi untuk jemaat di sekitar gereja.

“Pagi mu shi (=panggilan untuk pendeta dalam bahasa Mandarin,red)” sapa Yakob dan Arman hampir bersamaan.

Yakob segera menghampiri Pastor Peter. Dituntunnya Pastor Peter menuruni tangga.
Memang Pastor Peter mengalami gangguan di kakinya setelah ia terkena serangan stroke ringan.

“Pagi….! Sudah makan ya?” tanya Pastor Peter sambil melangkah perlahan digandeng Yakob, sedangkan Ev. Debora segera pergi ke ruang kebaktian memeriksa kesiapan untuk persekutuan doa pagi.

“Sudah!” Yakob menjawab lagi hampir berbarengan dengan Arman.

“Yakob , semalam saya dan shi mu (=panggilan untuk isteri pendeta dalam bahasa Mandarin, red) mengalami kejadian yang aneh!” kata Pastor Peter yang membuat Yakob penasaran.

“Oh ya? Bagaimana ceritanya mu shi?” Yakob tertarik.

“Saat saya dan shi mu sedang tidur, kami mengalami mimpi yang sama!” Pastor Peter berhenti sejenak.

“Mimpi apa mu shi?” Arman yang menguping pembicaraan ikut penasaran.

“Saat saya sedang berjalan , tiba-tiba ada seekor singa besar melompat ke saya! Saya merasa terkejut hingga terbangun dari tidur!” Pastor Peter dengan ringkas menceritakan mimpinya.

“Wah mimpi-nya seram sekali mu shi!” Arman berkomentar.

“Jadi shi mu juga mimpi diterkam singa juga?” Yakob menarik kesimpulan.

“Benar! Sesaat setelah bangun, shi mu juga terbangun. Lalu shi mu menceritakan hal yang sama! Aneh bukan?” Pastor Peter tidak habis mengerti.

“Itu pasti pertanda buruk! Jam berapa mu shi dan shi mu mimpinya?” Yakob menyelidiki.

“Sekitar pk 11.30 !” Pastor Peter mengira-ngira.

“Apa? Bukankah saat itu saya dan Hasan merinding dan merasa ketakutan?” Arman heran.

“Jadi kamu juga merasakan hal yang sama? Sungguh aneh! Pasti telah terjadi sesuatu yang genting!” Pastor Peter menyimpulkan.

“Kalau begitu saya menduga, bukan hanya kita yang merasakan. Pasti ada lagi yang mengalami kejadian ini!” Yakob instingnya jalan.

Tiba-tiba ada sesosok tubuh bergabung di ruang itu.

“Selamat pagi!” sapa sosok tersebut.

“Pagi Pak Simon!” balas Yakob, Pastor Peter dan Arman hampir bersamaan.

“Bagaimana kabarnya Pak Simon?” Pastor Peter menyapa.

“Baik. Mu shi, semalam mu shi dan yang lainnya merasa ada yang aneh di gereja?” Simon sepertinya tidak ingin menunda pertanyaan yang sudah dicanangkannya sejak semalam.

“Eh…. Kamu juga mengalami perasaan yang aneh?” Pastor Peter semakin heran.

“Benar mu shi! Semalam saya dan Andreas bersama sekeluarga merasakan hal yang sepertinya membuat kami tertekan. Maka terpaksa saya mengadakan mezbah doa keluarga malam-malam!” Simon menjelaskan.

Akhirnya mereka saling menceritakan pengalaman masing-masing.

Sungguh pengalaman rohani yang menguatkan mereka. Terbuka bahwa orang-orang percaya bisa bersatu dalam roh untuk menyembah , memuji dan berdoa kepadaNya!

Arman yang mendengar kesaksian mereka membuatnya berpikir kembali. Ia merasa bahwa kehadiran Allah sungguh nyata semalam. Bagaimana mungkin orang-orang yang berada pada tempat yang berbeda bisa berdoa bersama untuk hal yang sama? Itu pasti bukan kebetulan!

Setelah itu para hamba Tuhan, pengurus dan jemaat Gereja Yesus Satu-Satunya Juruselamatku (GeYesKu) bersama-sama bersatu hati memanjatkan doa ucapan syukur dan doa-doa lainnya.

--o0o-

Beberapa demon yang berada di sekitar sana ikut mendengarkan kesaksian para prajurit Allah itu. Mereka akhirnya maklum bahwa kekalahan mereka semalam karena adanya kesatuan hati dari para prajurit Allah yang tekun berdoa dan berada bersama Allah. Tidak mengherankan kalau mereka dilindungi oleh para malaikat Tuhan yang membentengi mereka senantiasa! Mereka tidak berani mendekati ruang persekutuan doa karena mereka tidak kuat menahan enersi rohani yang dipancarkan oleh kumpulan orang-orang percaya! Lebih baik mereka mengawasinya dari jauh saja. Mereka mengamati bahwa jumlah jemaat yang berdoa sudah cukup meningkat. Dahulu yang berdoa hanya Pdt. Peter dan Ev. Debora saja. Setelah datang Yakob, jumlah yang berdoa awalnya hanya bertiga saja.

Herannya walau hanya 2-3 orang yang berdoa, mereka tetap berdoa. Yang lebih mengherankan lagi enersi yang terpancar dari doa mereka tidak bisa diremehkan sama sekali.Sebagai demon pengawas gereja mereka sudah dibekali pengetahuan bahwa bila ada dua atau tiga orang berkumpul dalam Nama Tuhan Yesus, maka roh Tuhan ada di tengah-tengah mereka.

“Jangan kamu sekali-kali berada di dekat persekutuan orang-orang percaya yang sedang berdoa!” Sang Bos atasan mereka berpesan.

“Memangnya kenapa Bos?” tanya mereka.

“Kamu susah sekali ya dikasih pengertian!” Sang Bos marah-marah.

Ia malas menjelaskan ke bawahannya. Karena penasaran, suatu kali para demon itu mendekati orang-orang percaya yang sedang berdoa dengan sungguh-sungguh di dalam Tuhan.

“ARGGGHHHH!” para demon itu tiba-tiba merasa panas luar biasa.

Bagaimana mungkin? Seperti ada enersi tak tampak yang membentengi orang-orang percaya. Enersi itu membakar para roh jahat yang mencoba mendekati. Awalnya mereka heran. Namun suatu kali mereka ikut mendengarkan khotbah yang disampaikan Pastor Peter. Bila ada minimal 2 orang percaya yang berdoa dalam Nama Tuhan maka roh Allah sendiri berada di tengah-tengah mereka!Itu berarti enersi yang terpancar pasti enersi Allah sendiri!

Sebenarnya enersi ini pernah mereka rasakan dulu.Hanya sejak mereka memihak kepada Lucifer, pemimpin tertinggi para demon, enersi mereka sendiri berubah. Dulu enersi yang mereka miliki seperti enersi itu, tetapi sekarang justru berlawan dengan enersi itu. Sehingga mereka hampir melupakan enersi itu.

Sejak Lucifer memberontak kepada Allah, maka ia dan malaikat pengikut-nya diusir dari surga. Sejak itu enersi mereka mengalami mutasi. Enersi mereka tidak lagi sama dengan enersi saat mereka masih berada di sorga. Malaikat pengikut Lucifer berubah menjadi demon. Demikian pula dengan enersi angelic yang mereka milik berubah menjadi enersi demonik. Enersi mereka tetap dahsyat, hanya enersi mereka tidak dapat menembus atau mengalahkan enersi yang sejati yaitu enersi ilahi.

Semua orang yang sungguh-sungguh percaya, memiliki enersi ilahi.Jadi para demon tidak berani mendekati orang-orang percaya. Mereka hanya berdiri jauh untuk melihat kesempatan saat orang-orang percaya sedang lengah. Mereka akan masuk dan terus menggoda orang-orang percaya. Tujuannya agar orang-orang percaya jatuh. Saat jatuh maka orang-orang percaya tidak lagi mengandalkan Tuhan. Mereka mengandalkan enersi nya sendiri yang sangat terbatas.Sedangkan enersi yang dimiliki para demon memang melebihi enersi manusia biasa. Dengan demikian manusia membutuhkan enersi ilahi yang bersumber dari Allah sendiri. Tanpa enersi ilahi, manusia akan mudah dikalahkan para demon!

Bukan itu saja. Setiap orang percaya memiliki malaikat pelindung. Mereka berada dan membentengi setiap orang percaya.Para malaikat itu merupakan lawan yang tidak ringan. Kekuatan mereka hampir berimbang. Karena sebenarnya demon sendiri adalah para malaikat yang sudah jatuh. Malaikat memiliki kelebihan karena mereka memiliki enersi ilahi yang dulu mereka miliki juga.

Demon yang ditugasi mengawasi Pdt. Peter, Ev. Debora, Yakob dan jemaat lainnya juga merasa segan dengan kumpulan malaikat yang menjagai orang-orang tersebut!

--o0o—

Usai berdoa bersama, Yakob menghampiri Pastor Peter.

“Mu shi, saya semalam bertemu dengan seorang anak SMA Sekolah SeYeSKu. Namanya Jonas. Mamanya sakit. Saya rencana ke rumahnya pagi ini!” Yakob memberi informasi sekaligus minta ijin.

“Oh begitu... Silahkan kunjungi ya. Maaf, mu shi tidak bisa ikut walau ingin. Maklum sekarang mu shi agak sulit berjalan jauh. Setelah kaki mu shi bertambah kuat, mu shi akan ke sana juga.” Pesan Pastor Peter.

“Iya, tidak apa-apa mu shi. Semoga cepat baik mu shi kakinya!” harapan Yakob.

“Sip… Selama saya tidak leluasa berjalan, kamu bantu pembesukan ya?” Pastor Peter berharap banyak pada Yakob.

“Siap!” Yakob memberi salam militer.

“Ha…ha… kamu benar-benar gaya anak muda. Cocok buat jadi pembina pemuda-remaja! Ngomong-ngomong, kemarin kepala sekolah YeSKu datang, minta bantuan mencarikan seorang guru agama.” Pastor Peter memberi informasi.

“Sekolah itu di bawah GeYesku ya mu shi?” Yakob sudah mendapat informasi sedikit tentang sekolah yang berada dalam naungan yang sama dengan gereja.

“Benar! Karena di gereja hanya ada 3 hamba Tuhan, sedangkan saya dan shi mu sudah berumur, maka saya mencalonkan kamu. Apakah kamu bersedia?” Pastor Peter menawarkan.

“Eh…. Menarik juga mu shi. Boleh saya doakan dahulu mu shi?” Yakob meminta waktu untuk konfirmasi dengan Sang Pencipta.

“Tentu saja! Kamu perlu memastikan apakah sekolah menjadi bagian pelayananmu atau tidak.” Pastor Peter setuju.

“Memang saya pegang sekolah kelas berapa mu shi?” Yakob meminta rincian.

“Kamu akan pegang pelajaran agama Kristen kelas SMA 1 sampai 3.” Pastor Peter memberi penjelasan.

“Berapa kelas ya mu shi?” Yakob ingin mengukur lamanya waktu yang harus dipersiapkan.

“Hanya 6 kelas! Karena kalau terlalu banyak, nanti akan mengganggu pelayananmu di gereja.” Pastor Peter mengemukakan pikirannya.

“Baik mu shi. Saya akan bawakan dalam doa! Sekarang mu shi mau kembali ke atas?” Yakob ingin membantu Pastor Peter kembali ke kamarnya.

“Betul Yakob. Saya mau menyiapkan bahan untuk khotbah minggu ini!”

“Kalau begitu, saya tuntun mu shi ke kamar” kata Yakob yang melihat shi mu masih sibuk membereskan ruang persekutuan.

“Yakob, kamu ada mau beli sesuatu? Shi mu mau ke pasar, kalau mau kamu bisa sekalian ikut!”mu shi berkata sambil menaiki tangga.

“Boleh juga.. saya mau beli keperluan sehari-hari. Sudah banyak yang habis!” Yakob terus menuntun Pastor Peter.

“Oh iya… sekalian kamu bantu Arman melihat-lihat jalan karena banyak bahaya di jalan!” Pastor Peter seperti punya firasat.

“Betul. Sekarang banyak pengemudi tidak mentaati aturan” Yakob membenarkan. Ia sendiri merasa ngeri membawa motor di Jakarta karena begitu semrawutnya kondisi lalu lintas di sini.

“Nah sudah sampai! Terima kasih bantuanmu Yakob! Saya senang kamu mau melayani di gereja ini dan memberi banyak bantuan di sini!” Pastor Peter memuji Yakob.

“Ah bisa aja mu shi. Nanti kepala saya membesar lho… jam 12 malam berubah lagi!” Yakob bercanda.

“Maksudmu?” Pastor Peter tidak mengerti.

“Itu lho mu shi. Cerita Cinderella kan semua keajaiban yang terjadi akan kembali ke asal pk 12 malam. Itu hanya kegembiraan sekejap. Jadi kalau saya dipuji orang, saya bersyukur tapi sedikit waspada karena semua yang sudah saya lakukan nanti berubah dan tiba-tiba saya berubah lalu jatuh karena sombong!” Yakob menjelaskan.

“Ha..ha… bisa saja kamu!” Pastor Peter senang dengan Yakob karena rajin membantu dan orangnya sersan.. serius tapi santai. Tidak pernah mendengar keluhannya. Sungguh anak muda yang luar biasa.

“Ok mu shi. Saya pamit dulu ya. Sekalian mau ikut belanja dengan shi mu dan Arman!” Yakob bergegas mengambil dompet di kamarnya dan turun ke bawah.

-o0o-

Shi mu , kata mu shi , shi mu mau belanja di pasar ya? Saya ikut ya?”pinta Yakob begitu melihat Ev. Debora sedang bersiap berangkat dengan Arman.

“Wah mau borong apa nih? Ayo naik!” Ev Debora langsung mempersilahkan Yakob ikut.

Yakob pun duduk di samping Arman setelah membukakan pintu dan mempersilahkan Ev. Debora duduk di belakang.

Demon yang mengawasi Yakob melihat kesempatan telah tiba. Mereka tahu titik lemah dari penumpang di mobil itu adalah pada Arman , sang pengemudi. Jadi kalau mau mencelakakan Yakob , caranya mudah! Incar saja Arman. Kalau dia ceroboh maka sekali tepuk 3 korban digapai! Maka para demon pun bekerjasama untuk mencelakakan mobil dan seluruh penumpangnya.Mereka perlu mencelakakan Arman, karena sepertinya ia sudah termakan omongan Yakob tadi.Para demon takut Arman berubah pikiran dan menjadi pengikut Yesus.

Arman dan Yakob mengenakan sabuk pengaman. Setelah Arman men-starter mobil dan menjalankannya keluar pintu gerbang gereja. Hasan yang usianya juga sudah setengah abad membukakan pintu. Ia bersama Arman telah bekerja di gereja dari awal berdirinya GeYeSKu.

“Terima kasih ya Pak Hasan! Kami mau pergi dulu ke pasar. Ada yang mau dibeli?” Yakob menawarkan.

“Eh tidak. Terima kasih! Hati-hati ya di jalan” Hasan pun kembali menutup gerbang setelah mobil yang dikemudikan Arman bergulir ke luar.

“Pak Arman ada mau titip beli sesuatu nanti?” Yakob hampir lupa menawarkan.

“Eh… tidak perlu! Saya baru kemarin membeli keperluan saya!” Arman berkata setelah berpikir sejenak.

“Pak Arman, nanti kalau lewat dekat jembatan hati-hati lho. Kemarin ada kecelakaan di sana. Ada pengemudi sepeda motor yang meninggal di sana karena ditabrak mobil yang ngebut!”Yakob mengingatkan.

“Betul. Jalan di sana rawan kecelakaan!”Pak Arman meningkatkan kewaspadaannya.

“Pak Arman … REM!!! REM!!!” tiba-tiba Yakob berseru.

Pak Arman menginjak pedal rem-nya tanpa bertanya penyebabnya.

“Lihat Pak itu sepeda motor melawan arus menuju ke arah kita!” Yakob menunjuk ke sebuah motor yang melaju dengan oleng dan tiba-tiba terjatuh beberapa meter di depan mobil yang dikemudikan Arman.

Beruntung Arman sudah lebih dulu menginjak rem, kalau tidak mobilnya melaju dan menabrak motor yang terjatuh itu!

Tiba-tiba tampak segerombolan orang mendekati pengemudi motor yang terjatuh itu. Heran darimana datangnya orang-orang itu. Bukankah tidak sampai semenit motor itu jatuh? Sepertinya orang-orang itu sudah siap bahkan sebelum motornya jatuh. Arman pun melihat beberapa orang yang dia kenal sebagai preman. Berarti itu semua tipuan preman? Mereka sudah menyiapkan jebakan bagi mobil yang diincarnya. Pengemudi motor itu akan pura-pura jatuh di depan mobil dan para preman itu kemudian akan memeras pengemudi mobil. Arman yang sudah lama mengemudi mobil tiba-tiba sadar. Itu komplotan yang berbahaya yang sedang mengincarnya!

“Puji Tuhan! Haleluya!” tanpa sadar dari mulutnya terlontar kata-kata yang dari dulu tidak pernah dia ucapkan!

Yakob dan Ev. Debora yang mendengarnya hanya mencatatnya dalam hati. Ev. Debora yang sangat mengenal Arman tersenyum dalam hati. Selama ini dia bersama suaminya sudah mendoakan Arman. Mereka rindu agar Arman juga menjadi orang percaya. Namun hatinya seperti batu. Tidak bergeser sedikit pun dengan kabar baik yang disampaikan. Mengapa saat ini dia bisa melontarkan ucapan syukur seperti itu?
Haleluya! Roh Allah seperti sudah bekerja di dalam hatinya.

-o0o-

Demon yang diberi tugas untuk mengawasi mereka bertiga memberi laporan ke Sang Bos.

“Lapor Bos!” sang demon memberi hormat.

“Bagaimana hasilnya? Apakah mereka sudah celaka?” Sang Bos menanti kabar baik.

“Maaf Bos! Mereka berhasil lolos!” sang demon ketakutan.

“BODOH!! Urusan kecil saja kamu tidak bisa tangani!” tiba-tiba “PLAKKK…!!” terdengar suara saat Sang Bos menghajar sang demon.

Sang demon terpental jatuh kesakitan.

“Saya beri kamu kesempatan lagi! Celakai dulu Arman. Gagalkan usahanya mengirim uang kepada keluarganya!” Sang Bos memberi perintah.

“Baik Bos!” sang demon memberi hormat.

“Cepat pergi dari sini!” Sang Bos menendang sang demon.

-o0o-

Akhirnya tiba juga mereka di pasar. Ev. Debora dan Yakob turun sedangkan Arman menjaga mobil. Ev. Debora dan Yakob dengan cepat membeli keperluan sehari-hari. Mereka tidak membeli hal-hal yang tidak dibutuhkan. Setelah selesai berbelanja mereka bermaksud kembali ke mobil gereja. Saat melewati toko yang menjual nasi tim, tiba-tiba Yakob teringat. Apakah Jonas dan mamanya sudah makan pagi? Bukankah mama Jonas sedang sakit? Siapa yang akan membuatkan makanan untuknya? Apakah Jonas akan pergi keluar membeli makan lagi? Yakob tergerak untuk membelikan nasi tim 2 porsi untuk Jonas dan mamanya.

Ia sebenarnya heran juga. Bukankah ia janjian pk 10, pasti mereka sudah makan! Tiba-tiba hatinya tergerak untuk menambah lagi 1 porsi. Kalau 2 porsi pertama jelas untuk Jonas dan mamanya. Lalu yang 1 lagi? Dia juga tidak tahu. Lalu untuk apa dia memboroskan uangnya? Padahal ia saja sudah menghemat mati-matian agar uangnya cukup untuk kebutuhan selama sebulan. Uang yang sudah ia keluarkan semalam ditambah pagi ini sudah mengurangi jatah uang belanjanya bulan itu. Kemungkinan uangnya tidak cukup sampai akhir bulan! Namun hatinya seperti tergerak untuk melakukannya. Dalam hati ia berkata, biarlah makanan yang dia belikan ini bisa menjadi berkat buat Jonas dan mamanya.

“Buat siapa makanan itu Yakob?” Ev. Debora heran. Bukankah Yakob sudah makan pagi?

“Eh buat orang yang akan saya kunjungi , shi mu. Kemarin bertemu di tempat jualan nasi goreng. Mamanya sedang sakit, jadi dia terpaksa beli nasi goreng karena mamanya tidak bisa masak” Yakob menjelaskan panjang lebar.

“Oh begitu. Sungguh mulia hatimu!” puji Ev. Debora. Ia kagum dengan Yakob yang benar-benar suka membantu orang lain.

Bukan hanya di gereja tapi juga di luar! Sungguh GeYesKu beruntung mendapatkannya. Ev. Debora dan suaminya memang sudah tidak segesit saat masih muda. Walau semangat masih menyala, namun tidak dapat dipungkiri usia mulai mengambil alih kesehatan dan stamina.Yakob yang masih sangat muda benar-benar dapat diandalkan untuk mengatasi kelemahan mereka. Selesai semuanya, mereka berdua dengan cepat kembali ke mobil.

Arman sedang duduk santai menunggu kembalinya Ev. Debora dan Yakob. Dia memperhatikan orang-orang lalu lalang di sekitarnya. Sehingga Arman tidak menyadari bahwa dia sedang diincar. Seorang remaja sedang mencari kesempatan yang tepat. Dia tahu sebentar lagi waktunya tiba. Secara perlahan ia mengendap ke belakang Arman. Tiba-tiba ada kuli pengangkut barang yang lewat di depan Arman.

“Minggir-minggir!!” para kuli yang mengangkat barang berat di punggungnya minta orang lainnya menyingkir.

Namun karena jalanan sempit, kuli-kuli itu bersentuhan dengan pejalan kaki lainnya.
Arman yang sedang menunggu di pinggir jalan terpaksa menyingkir perlahan-lahan.
Kesempatan ini digunakan oleh sang remaja untuk ikut berdesak-desakan. Kemudian dengan cepat sang remaja mendorong tubuh Arman. Gerakan itu dilakukan secara wajar, seakan-akan ia ingin menghindari kuli-kuli pengangkut barang. Saat tubuh Arman terdorong, ia pura-pura membantu menopang tubuh Arman. Sang remaja kemudian dengan mudah memasukkan jari tangannya ke saku celana belakang Arman.

Arman hanya merasakan sedikit dorongan dan sentuhan sang remaja. Hilangnya dompet tidak dirasakannya. Saat ia kembali ke posisi yang normal, dompetnya sudah berada di tempat si remaja. Sang remaja sungguh lihai. Sepertinya tidak ada yang memperhatikannya. Namun pada yang bersamaan, Yakob yang melihat Arman terdorong cepat-cepat berlari ingin membantunya. Karena memang Yakob memperhatikan Arman secara cermat, ia dapat melihat ulah sang remaja! Yakob terkejut melihat aksi sang remaja yang mencuri dompet Arman. Maka begitu tiba di samping Arman, ia pun menegur sang remaja.

“Hai kamu! Kembalikan dompet Bapak ini!” tegur Yakob.

Sang remaja yang merasa tertangkap basah merasa malu dan kesal karena ulahnya diketahui. Arman yang disadarkan, langsung meraba bagian belakang celananya.

“Astaga! Kemana dompetku?” Arman pucat.

Terbayang uang yang sebentar lagi mau diberikan ke istrinya hilang! Uang itu sangat diperlukan keluarganya. Mata Arman langsung beralih ke remaja yang ditegur Yakob. Remaja itu bergeming. Ia tidak mau mengeluarkan dompet Arman. Terpaksa Arman mencari sendiri di tubuh sang remaja.Akhirnya Arman menemukan dompetnya. Ia pun memeriksa isi dompetnya. Masih utuh.

“Puji Tuhan!” Arman bersyukur.

“Kenapa kamu mencuri?” Yakob menatap sang remaja.

“Maaf Kak. Saya tidak punya uang. Saya lapar!” sang remaja memasang wajah memelas.

“Memang keluargamu tidak memberi makan?” Yakob penasaran. Ia takut sang remaja berbohong.

“Saya hidup sebatang kara! Keluarga saya sudah meninggal waktu kapalnya tenggalam saat ke Jakarta!” sang remaja matanya berkaca-kaca.

“Siapa nama bapakmu?” Yakob bertanya.

“Rama, Kak!” sang remaja merasa takut bila tidak memberi jawaban.

“Hmh…. Jadi nama ibumu … Sati?” Yakob teringat akan artikel yang dibacanya sebulan yang lalu.

“Betul Kak!” sang remaja agak terkejut Yakob bisa mengetahui nama ibunya.

“Berarti namamu Deny?” Yakob lagi-lagi mengkonfirmasi.

“Bagaimana Kakak tahu nama-nama saya dan orang tua saya?” Deny heran.

“Peristiwa tenggelamnya kapal yang ditumpangi keluargamu telah berhari-hari diberitakan di surat kabar. Saya membaca artikel yang memuat kisah keluargamu!” Yakob menjelaskan.

“Betul. Saya bahkan sempat diwawancara. Namun karena sejak keluarga tidak mengirim uang lagi, maka saya berusaha mencari kerja. Tapi karena saya belum lulus, maka susah mencari pekerjaan.” Deny menjelaskan.

“Oh begitu. Jadi kamu sekarang tinggal di mana? Kamu punya keahlian apa?” Yakob menggali potensi Deny.

“Saya sudah belajar mengemudi!” Deny menjelaskan.

“Kamu punya handphone?” Yakob rupanya punya rencana sendiri.

“Eh …punya Kak. Hanphone jadul Kak” Lalu disebutkannya nomornya. Yakob langsung memasukkannya ke phone book handphonenya, lalu menelpon nomor itu. Dari saku Deny terdengar suara telepon masuk. Lalu ia mengeluarkan handphonenya. Memang telpon yang benar-benar jadul, namun masih berfungsi baik.

“Kamu simpan nomor Kakak ya!” Yakob memintanya.

“Baik!” Deny langsung menyimpan nomor Yakob.

“Nama Kakak siapa?” Deny ingin memasukkan nama Yakob di handphone.

“Yakob!”

Dengan cepat Deny memasukkan ke dalam phone booknya.

“Bagaimana Pak Arman? Apakah ada yang hilang?” Yakob mengkonfirmasi.

“Tidak ada.” Arman menjawab pasti.

“Apakah Pak Arman mau memaafkan Deny?” Yakob tidak ingin melangkahi Arman.

“Hmh…. Sebenarnya saya ingin menghajarnya! Hampir saja uang untuk keluarga saya lenyap. Tapi sudahlah, karena kamu sudah menolong saya menyelamatkan dompet saya, saya maafkan dia!” Arman berlalu dengan sedikit kesal. Arman kesal karena Yakob terlalu baik. Bagaimana kalau dompetnya hilang? Rasanya tangannya sudah gatal menghajar anak itu. Namun dalam hati Arman menghargai Yakob yang telah menolongnya. Arman pun berlalu menuju ke mobil. Dilihatnya Ev. Debora membawa barang belanjaannya, maka ia pun menolong membawakannya.

“Ada apa Arman?” Ev. Debora ingin tahu.

Arman pun menceritakan kejadian barusan.

-o0o-

Sementara Yakob memandang kepada Deny.

“Nah Deny , kami tidak ingin menyerahkan kamu ke polisi. Namun tidak berarti kamu bebas melakukan pencurian lagi. Kalau kamu tetap mencuri, saya tidak segan-segan melaporkannya.” Yakob sengaja mengancam Deny, agar ia tidak lagi mencuri.

“Baik Kak!” Deny pasrah.

“Ngomong-ngomong, kamu belum makan ya?” Yakob teringat alasan Deny mencuri.

“Benar Kak!” Deny menjawab singkat.

“Nah ini Kakak punya bekal. Makanlah! Semoga besok saya sudah bisa memberi kabar kepadamu!” Yakob menyodorkan satu nasi tim yang memang dia beli lebih tadi.

“Terima kasih Kak! Sekarang maukah kamu meminta maaf pada Pak Arman yang tadi dompetnya kamu curi?” Yakob memancing.

Agak takut-takut, Deny menuju ke tempat Arman.

“Pak maafkan saya. Saya khilaf mencuri dompet Bapak!” Ahamd mencium tangan Arman.

Arman memandang Deny. Ia teringat akan anaknya sendiri di rumah. Memang tidak sebesar Deny. Tapi ia rindu dengan anak-anaknya yang masih kecil, Bayu dan Ayu.

“Baiklah. Tapi kamu tidak boleh mencuri lagi ya!” Arman meminta kepastian.

“Baik Pak!” Deny pun kemudian berlalu dan pergi.

Ev. Debora menyaksikan kejadian itu dan memandangi kepergian Deny. Ia pun berjanji akan mendoakan anak ini agar tidak tersesat. Setelah itu Yakob pun kembali ke mobil dan membagikan kisah Deny kepada Ev. Debora.

“Baik,nanti kita coba pikirkan, apa yang bisa kita bantu ke Deny!” Ev. Debora mendukung Yakob. Mereka bertiga pun kembali ke gereja.

--o0o--
Sang Bos lagi-lagi marah kepada demon yang mengawasi Yakob dan Arman. Dihajarnya demon itu sampai tunggang langgang.Sang Bos tidak sungkan menghukum anak buahnya yang gagal melakukan tugas.Sang demon mengaduh-aduh kesakitan saat dihajar pulang pergi.

“Ampun Bos! Beri kesempatan lagi!” sang demon meminta belas kasihan.

“Saya sudah kasih dua kali kesempatan dan kamu gagal! Mau apa lagi?” Sang Bos dengan sadis tetap menghajar sang demon.

“Kali ini tidak akan gagal Bos!” sang demon berjanji.

“Baik. Saya beri kesempatan sekali lagi untuk mencelakakan Arman! Kalau gagal lagi, kamu tahu akibatnya!” Sang Bos menendang sang demon jauh-jauh

--o0o—

Yakob membantu Ev. Debora membawa barang-barang belanjaannya. Barang belanjaannya sendiri sangat sedikit. Dengan cepat ia sudah membawa dan meletakkan barang belanjaan Ev. Debora di lantai 2. Lalu ia segera naik ke lantai 3 tempat tinggalnya dan meletakkan barang-barang belanjaannya dengan rapi. Ditatapnya jam di handphone nya.

“Masih 1 jam lagi sebelum pk 10!” gumamnya dalam hati.

Berarti ia masih bisa melakukan hal-hal lain sebelum pergi ke rumah Jonas. Saat ia berada di kamarnya, tiba-tiba aiphone di lantai 3 berbunyi. Karena ia satu-satunya penghuni di lantai yang terdiri dari beberapa kamar itu, maka ia bergegas ke luar kamar mengangkat aiphone.

“Halo!” sapanya.

“Yakob. Ini Pak Arman. Bisa bicara sebentar?” suara dari seberang terdengar.

“Tentu saja Pak Arman. Bapak ingin saya turun atau Bapak mau bicara di lantai 3 saja?” Yakob menawarkan.

“Eh… lebih leluasa di lantai 3 saja. Karena jarang ada yang lalu lalang” Arman memberi alasan.

“Kalau begitu saya tunggu ya sekarang!” Yakob memberi kepastian.

“Terima kasih ya Yakob!” terdengar suara klik di seberang.

-o0o-

“Ayo silahkan duduk Pak Arman!” begitu Yakob melihat Arman sampai di lantai 3.
Sepertinya Arman agak sedikit terengah-engah. Mungkin termakan usianya yang lebih dari setengah abad.

“Begini Yakob. Saya ingin minta pendapat.” Arman membuka percakapan setelah nafasnya mulai teratur.

“Tentang apa Pak Arman?” tanya Yakob.

“Semalam saya bermimpi 2 kejadian. Yang pertama mimpi saya menyeramkan! Saya bermimpi dipatuk burung gagak. Di kampong saya, kalau ada orang bermimpi seperti itu, berarti dalam waktu dekat ia akan meninggal!” Arman langsung menyampaikan kegalauannya.

“Oh ya? Tapi mimpi itu kan buah dari tidur. Belum tentu benar walau mungkin saja bisa terjadi!” Yakob membesarkan hati Arman.

“Betul! Setelah kejadian aneh itu, saya merasa ketakutan. Saya seperti dalam bayang-bayang maut dan tidak ada yang menolong saya!” Arman mengutarakan kekhawatirannya. Yakob tidak memberi komentar. Ia menantikan kelanjutan cerita Arman.

“Saya mencari-cari pertolongan, tapi tidak ada orang yang mau menolong!” Arman melanjutkan.

Yakob terus menanti.

“Anehnya saat itu di depan saya ada sebuah mata air. Airnya begitu jernih. Tiba-tiba ada suara yang berkata : Akulah air kehidupan. Barang siapa datang kepadaKu dan meminum air ini, ia tidak akan haus lagi!” Arman bercerita dengan perlahan.

Yakob tertarik mendengar mimpi Arman.

“Saya kemudian sadar bahwa itulah Allah nya orang Kristen. Saya pernah mendengar perkataan ini dan saya tahu itu perkataan dari Yesus Kristus! Saya sempat ragu untuk meminumnya. Tapi saat melihat jernihnya air, saya pun meminumnya. Cuma-Cuma!” mata Arman seperti bersinar saat menceritakannya.

“Saya kemudian meneguknya lagi. Saya benar-benar mendapat kelegaan. Setelah itu saya terbangun dan merasa damai! Saya tidak pernah mengalami hal ini sebelumnya!” Arman menggeleng-gelengkan kepala seakan takjub.

Setelah beberapa saat Arman tidak berbicara, Yakob bertanya,”Pak Arman ingin bertanya apa dari hal tersebut?”

“Eh…. Saya merasa bahwa saya benar-benar akan meninggal. Saya takut setelah meninggal saya tidak mendapat tempat di sorga! Saya ingin mendapat air kehidupan itu. Saya semalam sudah memutuskan untuk menyerahkan hidup saya kepada Tuhan Yesus!” Arman mengutarakan keputusannya.

Yakob terkejut namun senang mendengarnya.

Bukan hanya Yakob, malaikat di sorga juga bertepuk tangan dan memuji Tuhan untuk kebaikanNya.

“Bisakah kamu memimpin saya untuk itu?”Arman menatap Yakob meminta pertolongan.

“Tentu saja Pak Arman. Saya akan memimpin Pak Arman untuk berdoa. Bapak nanti mengikuti ucapan saya ya?” Yakob balik menatap Arman.

“Baik! Silahkan dimulai!” Arman seperti tidak sabar.

“Mari kita menutup mata dan melipat tangan kita!” Yakob mempersiapkan hati Arman untuk masuk dalam doa.

“Bapak di dalam sorga. Saya yang bernama Arman mengucap syukur untuk kasihMu” Yakob memulai doanya yang segera diikuti Arman.

“Saya tahu saya adalah orang yang penuh dosa dan hanya Engkau saja yang mampu menyelamatkan saya dari dosa melalui PutraMu Yesus Kristus. Saat ini saya ingin mengundangMu untuk masuk ke dalam hati saya!” Yakob menyampaikan kalimat demi kalimat yang segera diikuti Arman.

“Saya menerima PutraMu Yesus Kristus sebagai Allah dan Juruselamatku satu-satunya!” Yakob terus mengarahkan Arman.

“Saya menyerahkan hidup saya dalam tanganMu. Kiranya Roh Kudus mengajar dan memimpin kehidupan saya selanjutnya!” Yakob menambahkan yang terus diikuti Arman.

“Terima kasih Bapak telah memberi saya kesempatan untuk percaya kepadaMu, PutraMu dan Roh Kudus!” Yakob menyaksikan keberadaan Allah Tritunggal yang segera diikuti Arman.

“Hanya di dalam nama Tuhan Yesus, Juruselamatku, saya alaskan doa ini. Amin!”Yakob mengakihiri doa dan diikuti dengan Arman.

Yakob pun membuka matanya, lalu ia memeluk Arman.

“Selamat datang dalam persaudaraan orang percaya Pak Arman!” Yakob sangat senang.

“Terima kasih Yakob. Tolong bimbing saya!” Arman memohon petunjuk.

“Tentu Pak Arman. Bapak akan mengikuti kelas pelajaran pendidikan kekristenan yang dikenal sebagai katekisasi!” Yakob menjelaskan.

“Baiklah. Saya akan mengikutinya!” Arman mengikuti petunjuk Yakob.

“Pak Arman tunggu sebentar ya!” Yakob meminta kesabaran Arman dan masuk ke kamarnya.

Tidak lama kemudian Yakob keluar membawa satu buku Alkitab.

“Terimalah Alkitab ini. Bacalah setiap hari. Mintalah Roh Kudus menerangi hati Pak Arman!”

Yakob menyerahkan buku kitab suci itu ke Arman. Arman menerimanya dengan senang hati. Setelah itu ia pamit. Wajahnya berseri-seri memancarkan sinar ilahi! Yakob memandang kepergian Arman dengan penuh sukacita!

--o0o—

Demon yang melihat hal itu merasa takut!Tugas yang diembannya untuk menyesatkan manusia gagal dilaksanakan.Apa yang akan terjadi dengan dirinya saat Sang Bos menerima laporan ini?Dia pun menjadi ketakutan!Namun ia tidak mungkin menghindar.Karena hukumannya pasti lebih dahsyat.Mau tak mau demon itu menghadap ke Sang Bos.

“Ada apa?” tanya Sang Bos

“Siap! Mau melapor!” jawab sang demon dengan suara gemetar.

“Lalu menunggu kapan laporannya? Cepattt!!! Saya tidak punya banyak waktu!” Sang Bos marah.

“Siap! Arman sudah mengaku Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamatnya!” sang demon berkata dengan takut-takut.

“APPPAAAA? **&*%^#@#” Sang Bos matanya mendelik murka.”Bagaimana mungkin terjadi?” Sang Bos langsung menghantam sang demon sehingga terjatuh jauh.

Sang Bos merasa tidak perlu menerima alasan apa pun dari anak buahnya itu.Tidak puas dengan hukumannya, Sang Bos mengejar ke arah jatuhnya sang demon. Dihantamnya lagi dengan enersi yang lebih tinggi. Sang demon sudah tidak mampu melawan. Tidak mungkin juga dia melawan.Enersinya tidak mungkin mengalahkan enersi Sang Bos.

Tidak puas-puasnya Sang Bos menghajar Sang Demon.
Sayap hitam sang demon rusak di sana-sini.
Kaki Sang Bos yang besar pun menghujam tubuh Sang Demon.Sang demon sudah terluka parah. Memang itu hukuman yang pantas buat demon yang gagal. Hukuman yang berlaku di dunia roh jahat. Setelah beberapa waktu, barulah Sang Bos menyudahi aksinya. Ditinggalnya demon itu terkapar tanpa daya.Sendirian!Tidak ada demon lain yang berani membantunya.Karena hukumannya akan lebih parah.Sang demon yang terluka parah hanya dapat mengaduh. Butuh waktu lama untuk memulihkannya kembali.Beruntung ia tidak dibunuh oleh Sang Bos.

-o0o-

Yakob pun bersiap-siap pergi ke rumah Jonas karena waktunya sudah hampir pk 10.
Dengan sukacita ia bersenandung. Mengumandangkan pujian bagi Sang Raja

Di hadiratMu kusujud menyembah
kucari wajahMu dan bukan berkatMu
Kau yang maha tahu dalamnya hatiku
Tiada yang lain seperti diriMu

Segenap hidupku kumengasihimu
Yesusku kucinta padaMu
Bawaku mendekat padaMu
Tinggal di dalam hadiratMu

Di hadiratMu kusujud menyembah
kucari wajahMu dan bukan berkatMu
Kau yang maha tahu dalamnya hatiku
Tiada yang lain seperti diriMu

Segenap hidupku kumengasihimu
Yesusku kucinta padaMu
Bawaku mendekat padaMu
Tinggal di dalam hadiratMu


-o0o-

No comments:

Post a Comment