Sunday, December 20, 2015

Coram Deo Ep 8 - Deny, Sang Anak Yatim Piatu


Coram Deo
(Episode 8)

DENY, SANG YATIM PIATU

Pagi esok hari, Deny sudah muncul di Gereja Yesus Satu-Satunya Juruselamatku (GeYeSKu) sebelum waktunya. Ia ingin menunjukkan bahwa ia ingin serius untuk mendapatkan pekerjaan.

Yakob pun menemui Deny.

“Halo Deny! Apa kabar?” sapa Yakob saat melihatnya sambil mengulurkan tangannya.

“Baik Kak” Deny menjulurkan tangannya menyambut tangan Yakob.

“Kamu sudah makan pagi?” Yakob bertanya.

“Eh….” Deny terdiam.

“???   “ Yakob tidak mengerti. Namun dengan cepat ia dapat mengambil kesimpulan.

“Bagaimana kalau kita makan dahulu?” Yakob lalu menggenggam tangan Deny.

Dengan cepat Yakob membawa Deny ke ruang makan. Karena tidak ada stock makanan di meja, terpaksa Yakob mengambil stock supermie-nya.

“Kamu bisa makan supermie?” Yakob menawarkan.

“Saya makan apapun yang bisa dimakan Kak. Saya bukan tipe pemilik” Deny menjawab.

“Kamu lebih suka supermie rasa ayam bawang atau supermie goreng?” Yakob menawarkan pilihan.

“Ayam bawang saja Kak.” Deny lebih suka mie yang berkuah.

Yakob langsung mengambil supermie jumbo yang berisi 2 porsi. Lalu diambilnya juga telor 2 buah. Yakob memang berencana membuat 2 porsi supermie.Namun setelah ia berpikir lagi, jumlahnya ditambah! Perhitungannya : kemarin pagi ia memberikan Deny seporsi nasi tim. Lalu kalau setelah itu ia tidak makan lagi, maka saat ini pasti Deny sekarang sudah sangat kelaparan. Jadi Yakob membuat 3 porsi supermie.

Dengan cepat Yakob membuatnya. Dengan menambah telur dan sayur-sayuran, maka akhirnya lengkap sudah 3 porsi supermie. Deny yang memang sedang kelaparan, mencium bau yang sedap semakin menambah nafsu makannya. Namun ia tetap menjaga sopan santun, walau perutnya seakan-akan sudah mau berontak.

Sudah semalaman ia kelaparan.Ia memang bertekad ingin hidup lurus. Selama beberapa hari ia memang telah khilaf. Ia telah membuat nama keluarganya tercemar. Selama ini, ia sudah diwanti-wanti untuk hidup lurus. Lebih baik mati daripada harus mencuri. Ia sudah berusaha bertahan dengan hanya minum tanpa makan. Namun perutnya sudah melilit menahan lapar. Ia malu untuk meminta-minta. Makanya ia nekad mencuri.

Kemarin saat tertangkap tangan Yakob, ia sudah khawatir bahwa ia akan di penjara.
Bila hal itu terjadi, maka namanya akan tercoreng. Ia akan benar-benar memalukan keluarganya. Ia merasa beruntung Yakob tidak melaporkannya, malah ia mendapat seporsi nasi tim. Ia sudah menikmatinya kemarin, namun manusia perlu makan sehari 3 kali. Kemarin ia sudah melewati 2 kali waktu makan, pagi ini pun ia belum makan. Perutnya sudah melilit menahan lapar.
Melihat Yakob membuatkan supermie, ia sangat bersyukur.
Ia benar-benar merasa Yakob mengetahui kebutuhannya.
Melihat supermie sudah terhidang begitu banyak, ia menjadi bingung.
Bagaimana untuk membaginya.

“Hayo diambil. Langsung saja makan” Yakob mempersilahkan.

Deny ingin mengambil, namun ia bingung karena hanya ada 1 mangkok besar supermie. Lalu bagaimana membaginya?

“Lho, kenapa kamu bingung? Ini buat kamu semuanya. Ayo makanlah” Yakob belum menyadari kealpaannya menjelaskan.

“Maksud Kakak, ini buat saya semua?” Deny tidak percaya.

“Benar! Kamu kan lapar kan. Jadi tugas pertama kamu di sini menghabiskan super mie ini. Kalau tidak habis, tidak diterima jadi supir lho” Yakob pura-pura mengancam.

“Oh begitu. Baiklah! Akan saya habiskan semua. Saya makan dulu ya Kak” Deny pun mengambil mangkok besar yang disodorkan.

“Jangan lupa berdoa ya” Yakob mengingatkan.

“Eh.. baiklah. Ya Allah terima kasih untuk makanan ini. Terima kasih untuk Kak Yakob yang sudah menyediakannya. Amin” Deny berdoa apa adanya. Itu saja yang pernah dia dengar waktu ada yang berdoa.

“Nah, selamat makan ya. Jangan terburu-buru makannya” Yakob meninggalkan Deny.

Deny memandang takjub. Ia tidak menyangka akan mendapat makanan dengan porsi yang begitu banyak. Ia ingin segera menyerbunya, tapi ia tahu kebenaran perkataan Yakob.  Kalau ia tidak memakannya secara perlahan, maka perutnya akan bertambah sakit. Jadi ia pun menikmati super mie yang disajikan. Inilah makanan ternikmat yang pernah disantapnya walau hanya supermie tapi ia benar-benar menikmatinya. Benar-benar luar biasa! Supermie dengan sayur, telur dan bumbu-bumbunya sangat lezat sekali. Secara perlahan, ia bisa menghabiskan 3 porsi supermie. Membuat perutnya benar-benar kenyang.

“Nah ini minumannya” tiba-tiba Yakob muncul kembali.

“Kak Yakob, terima kasih banyak untuk makanan dan minumannya. Saya tidak tahu bagaimana membalasnya” Deny mencium tangan Yakob. Yakob balas memeluk Deny.

“Jadilah orang yang berguna sesuai dengan kehendak Allah. Itu saja yang Kakak kehendaki darimu” Yakob membalasnya.

“Saya akan belajar dari Kakak” Deny berkata dengan tulus.

“Nah setelah selesai minum, Kakak ingin menjelaskan sedikit peraturan tentang bekerja di sini ya” Yakob menunda perkataannya sampai Deny selesai minum.

“Deny sudah selesai Kak” Deny menaruh gelasnya.

“Baiklah. Pekerjaan supir ini sebenarnya adalah pekerjaan Pak Arman. Pak Arman adalah orang yang dompetnya hampir kamu curi. Tetapi karena ia mengalami kecelakaan kemarin, maka ia tidak dapat melakukan tugasnya. Kemungkinan besar, ia masih lama pulihnya. Karena itu gereja membutuhkan pengemudi pengganti. Namun bila Pak Arman sudah bisa bekerja, maka pekerjaan ini menjadi milik Pak Arman kembali” Yakob menjelaskan faktanya. Ia tidak ingin memberi harapan yang tidak benar.

“Baik Kak. Saya bisa menerima bila nanti saya diberhentikan setelah Pak Arman kembali” Deny menjawab dengan rela hati. Ia merasa bersyukur sudah mendapat pekerjaan. Urusan diberhentikan, biarlah lihat nantinya bagaimana.

“Kedua, kamu akan menjalani masa percobaan. Poin yang utama adalah kemampuan kamu mengemudi dan kejujuran. Bila gagal, maka terpaksa kamu tidak bisa lagi bekerja di sini” Yakob menyambung penjelasannya.

“Saya mengerti. Saya akan berusaha mengemudi dengan hati-hati dan bertanggung jawab. Saya juga akan bersikap jujur, walau mungkin gagal” Deny sepertinya tidak yakin.

“Yang terakhir adalah gajimu. Kamu akan menerima gaji harian sebesar Rp 100.000 / hari. Apakah kamu bisa menerimanya?”Yakob kembali menawarkan.

‘Tentu saja. Saya menerimanya dengan senang hati” Deny merasa senang membayangkan ia akan memiliki uang sehingga ia bisa mandiri.

“Nah kamu dapat menempati mess yang ada di gereja. Tapi kamu menjaga kebersihan dan kerapiannya. Mari kita melihat kamar mess mu” Yakob langsung membimbing Deny ke kamarnya. Deny kemudian membawa tasnya.

“Nah ini kamarmu. Jangan lupa dirawat. Bila lampu atau pintu rusak, kamu haur melaporkan atau memperbaikinya sendiri. Kamu juga harus mencuci baju sendiri” Yakob mempersilahkan Deny menaruh tas di tempat yang sudah disediakan.

Setelah itu Yakob mengajak Deny berkeliling lingkungan gereja. Ia pun memperkenalkan Deny pada Pastor Peter, Ev. Debora, Hasan ,petugas keamanan gereja dan James ,sekretariat gereja. Setelah itu, Yakob meminta Deny untuk membersihkan mobil. Yakob ingin tahu seberapa baik pekerjaan Deny.

--o0o—

Deny pun dengan cepat kemudian kembali ke kamarnya. Ia mengganti bajunya  dengan kaos lusuh. Ia kemudian berusaha mencari alat-alat yang dibutuhkan. Ternyata semua telah tersedia yakni dari ember, selang air, sikat, lap dan sabun.

Mula-mula ia membersihkan bagian dalam mobil. Semua karpet di dalam mobil dikeluarkan lalu dicucinya. Ia pun mengambil kemoceng lalu membersihkan bagian dalam dengan seksama. Setelah itu ia pun membersihkan bagian luar. Diisinya ember dengan air. Disiapkannya sabun untuk mencuci ban dan badan mobil. Dibasahinya mobil dengan air. Keempat ban disikatnya dengan air sabun, setelah selesai diguyurnya dengan air. Lalu dengan cepat dibersihkan mobil dari atap, kaca lalu berurutan dari depan ke belakang. Tampaknya ia bekerja dengan sistematis.

Usai mencuci, membasahi dan melapnya akhirnya ia melakukan sentuhan akhir. Di lap kembali semua bagian mobil dengan lap kering. Lalu ia menemukan semir mobil. Digosoknya seluruh cat mobil dengan teliti sehingga selesailah sudah acara pembersihan mobil. Diperiksanya lagi semua bagian mobil apakah masih ada yang kotor.

Puas melihat hasil pekerjaannya, ia pun merapikan semua peralatan mencucinya dan menaruh pada tempat semula. Yakob memperhatikan cara Deny bekerja dan ia merasa puas. Pekerjaannya tidak di bawah Pak Arman! Test yang pertama ini Deny dinyatakan lulus.

Namun sepertinya Deny tidak berhenti sampai di situ saja. Walaupun Yakob hanya memintanya membersihkan mobil, tapi kemudian ia juga memeriksa semua perlengkapan mobil. Diperiksanya semua perlengkapan yang ada, apakah masih berfungsi. Bahkan ia juga memeriksa ban cadangan, apakah sudah kempis atau tidak.
Lalu diperiksanya indikator kendaraan seperti air accu, oli dan lain-lain.
Setelah itu ia pun memanasi mesin mobil selama beberapa menit. Di-starternya mesin, diceknya semua fungsi otomatis dari mobil dari power-window dan lampu-lampu. Yakob memandang takjub. Sepertinya Deny bekerja secara professional. Darimana ia belajar semua itu? Bukankah usianya masih muda?

“Kak, mobilnya sudah dibersihkan. Silahkan Kakak memeriksanya” Deny memberitahu Yakob setelah berhasil mencarinya di kamarnya.

Yakob sendiri memang masuk kembali ke kamarnya setelah selesai mengamati pekerjaan Deny dari lantai 3 pastori.

“Wah cepat ya sudah selesai” Yakob memuji Deny.

“Semoga Kakak puas dengan pekerjaan saya” Deny berharap.

“Ini namanya tenaga ekstra ya… berkat supermie telor” Yakob menggoda Deny.

“Ha..ha… Kakak bisa saja” Deny malu.

“Setelah ini kamu istirahat sebentar ya. Karena biasanya shi mu akan pergi berbelanja” Yakob teringat kebiasaan ibu pendeta setiap hari.

“Baik Kak. Setelah ini, saya akan membereskan kamar saya dahulu” Deny rupanya sudah punya rencana.

Yakob dan Deny sudah sampai ke tempat Deny mencuci mobil di tempat parkir mobil.

Yakob dengan cepat memeriksa hasil pekerjaan Deny. Tampak air masih sedikit menggenang di tempat Deny mencuci mobil. Memang perlu dikeringkan dengan sapu lidi. Yakob kemudian melihat ban dan velg-nya. Ternyata baik ban  dan velgnya sudah bersih. Kemudian Yakob melihat rongga dekat ban. Sudah cukup bersih, walau tidak bersih sempurna. Bagian dalam sudah bersih, bahkan pada tempat sampah kecil yang ada, tidak terdapat kotoran. Bagian luar juga sudah baik. Jadi secara keseluruhan memang hasilnya cukup memuaskan.

“Deny pekerjaanmu sudah baik. Terus dipertahankan ya. Hanya untuk genangan air yang ada, harus dikeringkan dengan menggunakan sapu lidi.” Yakob memberikan penilaian seobjektif mungkin.

“Terima kasih Kak. Akan saya perhatikan selanjutnya” Deny senang karena pekerjaannya tidak mengecewakan.

“Tetap semangat ya. Kamu lebih baik kembali ke kamar untuk beres-beres.” Yakob menyarankan.

“Baik Kak. Saya ke kamar dulu ya”Deny pamit

“Silahkan. Nanti kalau shi mu (ibu pendeta) mau pergi, kamu antar ya” pesan Yakob sebelum berlalu.

“Iya Kak” Deny pun kembali ke kamarnya.

Di kamar ia mengeluarkan isi tasnya. Di susunnya baju-bajunya di lemari pakaian. Dengan cepat ia membereskan baju dan celananya. Dipisahkannya baju tangan pendek, baju tangan panjang, celana panjang, celana pendek dan pakaian dalam sesuai dengan banyaknya rak-rak di lemari. Memang bajunya tidak banyak sehingga dengan cepat ia membereskannya. Lalu ia membuka laci yang ada di lemari. Tiba-tiba ia terpana.
Di dalam laci itu ada selembar kertas berwarna merah. Walau pun ia jarang memegangnya, ia tahu itu adalah uang dengan pecahan Rp 100.000 an! Tangannya gemetaran mengambil uang itu. Ia jarang memiliki uang , apalagi dalam jumlah besar. Sekarang ia seperti mendapat durian runtuh. Ada uang Rp 100.000 di laci kamarnya yang kosong. Ia merasa dorongan yang kuat untuk segera mengambil dan memiliki uang tersebut!

Sudah beberapa hari ini ia tidak punya uang sama sekali. Karena itulah ia nekad mencuri. Ia memang punya alasan kuat untuk mencuri. Demi tidak mati kelaparan! Tiba-tiba ia teringat. Ia baru saja mendapat makanan. Ia sudah kenyang dengan makan 3 porsi supermie sekaligus! Lalu untuk apa lagi ia punya uang? Dengan perut kenyang seperti itu ia bisa tahan sampai malam. Urusan malam kalau tidak dapat makan, ia pun masih dapat menahannya. Ia sudah terbiasa tidak makan sama sekali. Hatinya jadi bimbang.

Ia bisa mengambil uang itu begitu saja, tapi tidak mungkin uang itu ada di situ. Pasti ada yang punya uang itu dan orang itu pasti kehilangan. Namun kalau mendengar cerita dari Yakob , kamar itu sudah tiga minggu tidak dipakai, kemungkinan besar tidak ada yang merasa kehilangan. Jadi kesimpulannya ia bisa mengambilnya. Ia sudah biasa menekan hati nuraninya sehingga ia berani mencuri. Tidak ada yang peduli dengan kebutuhannya selama ini.

Setelah orang tuanya meninggal dalam musibah kecelakaan, hidupnya benar-benar menderita. Ia bukan saja sulit mendapat tempat tinggal, ia juga sulit untuk bisa makan bahkan sekali saja dalam sehari. Ia ingin memprotes kondisi ini, tapi protes kepada siapa? Tidak ada yang peduli. Semua orang di sekitarnya tidak peduli. Yang ada mata yang melotot kepadanya saat ia minta diberi makan atau uang untuk makan.
Katanya ia masih muda dan bisa mencari kerja sendiri.  Ia pun mengerti dan ia pun ingin bekerja. Namun dengan perut kelaparan, bagaimana ia bisa bekerja? Namun di sisi lain, ia ingin memulai lembaran baru. Ia tidak ingin lagi mencuri. Itu perbuatan yang memalukan. Orang tuanya sudah mendidiknya untuk tidak melakukan perbuatan seperti itu. Ia sudah tertangkap tangan oleh Yakob saat mencuri kemarin dan ia sudah diberikan pembebasan tanpa syarat. Ia bahkan sudah menerima kebaikan Yakob. Kemarin ia mendapat seporsi nasi tim dan pagi ini ia mendapat 3 porsi supermie sekaligus!

Ia bahkan sudah diterima bekerja sebagai pengemudi di gereja ini karena ia diberikan kepercayaan oleh Yakob dan GeYeSKu walaupun ia sudah tertangkap tangan mencuri! Selama ini ia sudah tahu bahwa orang yang ketahuan mencuri akan sulit untuk mendapat pekerjaan. Ia juga teringat akan pesan Yakob yang menjadikan dirinya sebagai jaminan bagi dirinya untuk dapat bekerja di GeYeSKu. Kalau ia mencuri lagi dan ketahuan, maka bukan saja dirinya yang diberhentikan tetapi kepercayaan dan nama baik Yakob pun ikut terkena.

Deny bergumul hebat dalam hatinya. Membuatnya menjadi terbengong-bengong. Ia pun lupa meneruskan pekerjaan untuk merapikan bajunya di lemari. Masalah Deny mungkin sederhana bagi orang yang berpunya. Uang Rp 100.000 yang dianggapnya besar, bagi orang lain mungkin tidak ada artinya. Tetapi bagi Deny uang sebesar itu menimbulkan godaan yang sangat besar. Tekadnya untuk jujur seperti yang diminta Yakob menjadi goyah. Uang memang bisa membuat orang khilaf. Uang memang bisa mengubah pendirian orang yang tidak kukuh. Uang bisa mengubah seseorang yang sedang terdesak kebutuhan. Uang bisa mengakibatkan malapetaka bagi orang yang memiliki dan yang tidak memiliki.

Sementara itu tanpa sepengetahuan Deny, ada sepasang tangan yang mendoakan agar Deny bisa melewati ujian kejujuran yang sedang dihadapinya. Biar bagaimana pun ia bertanggung jawab atas kehadiran Deny. Yakob bertekun dalam doa bagi Deny. Yakob melihat potensi yang besar dalam diri Deny. Dilihat dari caranya bekerja, terlihat ia bisa melakukan pekerjaan secara professional. Gereja membutuhkan tenaga kerja seperti Deny.


--o0o—

Namun bukan Yakob saja yang berkepentingan terhadap Deny, ada sosok tanpa kasat mata yang menanti-nantikan Deny. Hanya bedanya Yakob berdoa agar Deny mampu mengatasi keinginan daging untuk memiliki uang yang bukan haknya, sedangkan mahluk roh itu berupaya agar Deny mengikuti nafsu pribadinya.

--o0o—

Pk 11 Pastor Peter dan Ev Debora turun untuk membesuk Arman dan keluarganya. Yakob pun memanggil Deny untuk mempersiapkan mobilnya. Deny yang sedang terbengong-bengong langsung mengambil uang di laci tersebut, lalu  secepatnya menaruh sisa pakaiannya di lemari. Segera ia pun keluar dari kamar. Setelah ia men-starter mobil, lalu ia membuka pintu mobil untuk Pastor Peter dan Ev Debora. Demikian pula dengan Yakob.

Pastor Peter, Ev. Debora dan Yakob sangat terkesan. Yakob mencatatnya dalam hati.
Memang Deny ini sebenarnya anak baik, sayang ia tidak punya uang yang cukup untuk melanjutkan sekolah. Yakob dalam hati berjanji, kalau Deny lulus sebagai supir, maka ia akan berusaha mencarikan dana agar Deny dapat melanjutkan pendidikan di universitas.

“Selamat pagi Pak , Ibu dan Kak Yakob. Kita akan pergi ke mana?” Deny bertanya dengan sopan.

“Pagi Deny. Kita mau ke rumah sakit. Rumah Sakit Karmel tepatnya. Kamu tahu?” Pastor Peter bertanya..

“Saya tahu Pak” Deny bersyukur, tujuannya tempat umum. Jadi ia bisa mencapainya.

Lalu Deny mulai membawa mobilnya dengan hati-hati sehingga terkesan agak lambat. Memang Deny belum terlalu mahir membawa mobil. Jadi dia berusaha membawanya dengan penuh kewaspadaan. Yakob menyadari bahwa Deny memang belum terbiasa membawa mobil, namun ia dapat mengemudi dengan baik. Jadi hanya perlu latihan saja.

Walau tidak cepat, namun tidak lama kemudian mobil tiba di Rumah Sakit Karmel. Setelah memarkirkan mobil, Yakob mengajak Deny membesuk keluarga Arman. Tujuan Yakob ada dua, yakni agar Deny mengenal keluarga Arman dan yang kedua adalah agar Deny tidak dibiarkan sendiri dengan mobil. Mereka berempat pun lalu menuju kamar rawat Arman.

“Pagi Pak Arman” sapa Yakob.

“Pagi Yakob, mu shi dan shi mu” balas Arman.

“Pak Arman masih ingat dengan Deny? Dia yang kita kenal kemarin pagi saat di pasar” Yakob mencoba mengingatkan Arman.

“Selamat pagi Pak Arman. Nama saya Deny” Deny memberi salam.

“Halo Deny!” balas Arman.

“Pak Arman bagaimana kabarnya? Deny kembali bertanya basa-basi.

“Saya sudah jauh lebih baik. Ini karena pertolongan TuhanYesus” Arman hatinya meluap penuh suka cita.

“Oh Pak Arman Kristen ya?” Deny bertanya polos.

“Betul. Baru kemarin saya berdoa minta diselamatkan. Yakob ini yang menolong saya untuk mengenal Tuhan Yesus.”Arman berkata dengan bangga.

“Hmm….. Sungguh Pak Arman beruntung.” Deny merasa kagum akan iman Arman.

“Ha…ha… kalau saya belum bertemu Kristus, menghadapi kecelakaan seperti ini, saya sudah  akan putus asa dan mungkin bunuh diri… Kamu sendiri sudah percaya Kristus?”Arman ganti bertanya.

“Hmm….. belum. Saya pernah mendengar, namun saya masih mencari …” Deny tidak melanjutkan perkataannya.

“Deny, kamu cobalah percaya kepada Kristus. Undang Yesus masuk dalam hatimu maka kamu akan merasakan hadiratNya nyata dalam hidupmu. Saya sudah menunda begitu lama. Untung tidak terlambat” Arman mencoba membagikan imannya.

“Saya akan mendoakannya dulu” Deny tidak serta-merta menerima usulan Arman.

“Betul begitu.” Arman setuju.

“Arman, ada hal yang ingin kami sampaikan kepadamu.” Pastor Peter tiba-tiba berbicara.

“Eh , ada apa mu shi? Ada kejadian apa?” Arman tiba-tiba merasa was-was.

“Hal ini tentang keluargamu” Pastor Peter memberi isyarat agar Yakob membawa Deny ke luar.

Arman menyadari kejadiannya pasti penting. Ia sudah mengenal Pastor Peter. Namun ia tidak enak kalau Deny dan Yakob harus keluar.

“Sampaikan saja mu shi. Biarlah Deny juga berada di sini. Saya akan belajar kuat menerimanya” Arman seperti tahu apa yang akan disampaikan.

“Kemarin setelah kamu dioperasi dan sedang tidur, Tami, Bayu dan Ayu di antar  Pak Simon ke stasiun kereta untuk pulang karena besoknya Bayu dan Ayu akan sekolah. Rencananya Tami akan datang pagi ini. Namun semalam ada kejadian. Tami, Bayu dan Ayu mengalami penganiayaan di rumah dan Yakob dimintai tolong. Yakob sampai di rumahmu dalam keadaan istri dan kedua anakmu sedang terkapar tak berdaya. Rupanya mereka mendapat perlakuan keras sehingga tubuh mereka mengalami luka” Pastor Peter diam ingin melihat reaksi Arman. Arman menyimaknya dengan penuh konsentrasi. Menyadari Pastor Peter berhenti, ia pun tidak sabaran.

“Apakah mereka…. Meninggal?” Arman terlihat sangat was-was.

“Puji Tuhan….. walau luka mereka agak mengkhawatirkan, mereka semua selamat. Hanya mereka juga sekarang dirawat di rumah sakit ini. Mungkin setelah membaik, mereka dapat mampir kembali membesukmu!” Pastor Peter mencoba menyampaikannya tidak terlalu langsung.

“Tuhan …maha baik. Siapakah yang melakukannya…?” Arman suaranya bergetar. Nada sedihnya tidak bisa disembunyikan.

“Kami belum tahu. Semalam Tami tidak sadarkan diri setelah kami jemput. Dia hanya sempat berkata bahwa Abah marah karena Bang Arman percaya Kristus setelah itu tak sadarkan diri” Pastor Peter hanya bisa menyampaikan sedikit data ini.

“Hmm….. tidak heran Abah marah. Memang Abah tidak bisa menerima hal seperti ini. Dia lebih baik kehilangan orang dekatnya daripada mendengar hal ini…” mata Arman berpendar. Ada titik air yang muncul.

Deny yang melihatnya ikut merasakan kesedihan Arman. Ia tahu rasanya kehilangan orang-orang dekatnya. Bahkan ia sendiri sekarang hidup sebatang kara di kota Jakarta yang keras.

“Beruntung lukanya sekarang sudah tertangani baik. Kemarin Ayu sempat mengalami kondisi kritis. Bahkan dokter sempat berkata bahwa Ayu sudah meninggal dunia. Tanda kehidupan sudah tidak ada lagi. Hal ini persis yang dialami Arman sendiri. Ayu pun mengalami keajaiban. Dia bisa hidup kembali! Benar-benar mirip kejadiannya denganmu, Arman. Pasti Tuhan ingin menunjukkan sesuatu melalui peristiwa ini” Pastor Peter membagikan makna hal yang dialami keluarga Arman.

“Puji Tuhan…! Kasihnya sungguh besar. TanpaNya saya sudah kehilangan keluarga saya” mulut Arman memuji Tuhan walaupun hatinya sedih tapi ia percaya perkataan yang diucapkan Pastor Peter.

Deny mendengarkan dengan takjub. Ia sudah mengalami kehilangan keluarganya dan ia sulit bangkit kembali. Bahkan sampai saat ini ia belum bisa melupakan kepahitan yang dialami dengan musibah yang dialami keluarga dan dirinya sendiri.

“Bagaimana mungkin Pak Arman bisa mengucap syukur? Bukankah baru saja Pak Arman menitikkan air mata tanda kesedihannya?” Deny bertanya-tanya dalam hatinya.

“Itu pasti karena Kristus yang Pak Arman percayai! Karena perbedaan antara Pak Arman dengan saya sendiri hanya satu yaitu Kristus!” tiba-tiba pikiran ini menyadarkannya.

“Ah… saya ingin punya kekuatan seperti Pak Arman. Saya ingin bangkit dari keterpurukan.” Peristiwa yang dialami Pak Arman membuka wawasan baru dalam dirinya.

“Betul Arman. Walaupun dunia meninggalkan kita, tapi kita masih punya aset yang paling berharga yaitu Tuhan Yesus Kristus. Dialah tempat perlindungan dan pertolongan kita. Walaupun kita mungkin kehilangan keluarga kita di dunia ini, suatu kali kita akan berkumpul kembali di sorga bila semua keluarga kita telah diselamatkan oleh darah Kristus” Pastor Peter membenarkan.

Mu Shi apa saya bisa melihat istri dan anak-anak saya?” Arman ingin bertemu dengan keluarganya.

“Begini saja. Kita akan coba minta pihak rumah sakit agar kamu sekeluarga di tempatkan di satu kamar. Bagaimana?” Pastor Peter memberikan opsi.

“Ide mu shi bagus sekali. Maaf kalau keluarga saya merepotkan mu shi. Hari ini saya belum bisa berjalan, jadi mohon kesediaan mu shi atau Yakob untuk mengurusnya” Arman merasa tidak enak hati.

“Tenang saja Pak Arman. Akan saya urus sekarang juga” Yakob menjawab dengan cepat.

Mu shi  saya langsung ke bagian pendaftaran ya!’ Yakob minta ijin.

Pastor Peter mengangguk memberi persetujuan.

“Ayu Deny, kita urus hal ini” Yakob mengajak Deny. Ia ingin mengajarkan cara mengurus administrasi di rumah sakit.

Setelah Yakob dan Deny keluar. Pastor Peter memberikan makanan rohani berupa renungan singkat dan kemudian berdoa. Pastor Peter ingin memberikan kekuatan bagi hati Arman yang baru saja mengalami guncangan. Setelah itu Pastor Peter dan Ev. Debora meninggalkan kamar Arman untuk melihat kondisi Tami, Bayu dan Ayu.

--o0o--

“Selamat pagi Tami, Bayu dan Ayu” Pastor Peter langsung memberi salam saat melihat mereka bertiga di satu ruangan.

“Pagi mu shi” balas  ketiganya.

Rupanya mereka sudah siuman dan sudah bisa makan. Bahkan Ayu yang paling lemah pun sudah bisa bangun dan makan sendiri! Luar biasa ajaib.

“Bagaimana kabar pagi ini?” Ev. Debora gantian bertanya.

“Sudah membaik Ibu. Terima kasih sudah datang.” Tami tampaknya lebih baik.

“Bagaimana dengan luka-lukanya? Masih sakit?”Ev. Debora melihat memar di tubuh Tami dan anak-anaknya.

“Masih Ibu. Tetapi sudah jauh berkurang. Perawat sudah mengoleskan obat di luka-luka kami” Tami memperlihatkan luka-lukanya.

“Puji Tuhan. KasihNya atas keluarga Arman sungguh besar. Ia terus melindungi keluarganya. Bagaimana dengan Bayu dan Ayu?” Pastor Peter kembali bertanya.

“Anak-anak sudah mulai baik. Bayu walau masih sakit tapi sudah bisa bangun. Kata dokter yang menangani, kami akan bisa pulang besok. Karena tinggal memulihkan diri saja” Tami menjelaskan perkataan dokter yang belum lama membesuknya.

“Syukurlah. Luka fisik bisa cepat berlalu, tetapi ada luka batin yang juga harus disembuhkan” Debora mengingatkan.

“Betul Ibu. Karena Abah sudah membuang saya sekeluarga. Jadi sekarang saya sudah bertekad untuk mengikuti jejak Bang Arman. Kami mau menyerahkan hidup kami untuk Tuhan Yesus juga” Tami berkata dengan tekad bulat.

“Puji Tuhan. Rupanya peristiwa ini malah membuat keluarga Arman malah mengenal Sang Penyelamat sejati” Pastor Peter mengucap syukur.

“Saya memilih suami saya dibanding Abah, karena saya saat ini lebih mempercayakan hidup saya bersamanya karena saya tahu ia tidak pernah akan melukai saya seperti yang Abah lakukan terhadap saya” Tami menjelaskan lebih jauh.

“Walaupun demikian saya percaya Tami tetap mengasihi Abah kan?” Pastor Peter ingin memastikan.

“Benar. Saya tidak mungkin melupakan jasa baik Abah yang telah membesarkan saya sejak kecil sampai saya menikah.” Tami matanya menerawang membayangkan kasih sayang yang telah diterima dulu dari Abahnya.

“Jadi saya percaya Tami akan terus mendoakan Abah. Janganlah membencinya karena telah menyiksa. Bencilah kelakuannya tapi jangan orangnya. Suatu kali Abah akan menyadari kekeliruan perlakuannya terhadap anaknya yang sangat menyayanginya” Pastor Peter terus memberi wejangan.

Tami tertegun. Ia terbiasa untuk diajarkan prinsip mata ganti mata, gigi ganti gigi. Kalau kita disakiti, maka balaslah. Setidaknya jangan lagi mendekati orang tersebut.
Namun kali ini mendapat ajaran yang sungguh berbeda. Bagaimana bisa kita tidak membenci orang yang telah menyakiti kita? Bagaimana bisa kita malah mendoakan dan tetap menyayangi orang yang telah menyakiti kita? Tami belum dapat mencernanya dengan dalam. Ia hanya merasa ajaran ini sangat sesuai dengan keinginan hatinya.
Biar bagaimana pun ia tidak mungkin membenci Abah yang telah membesarkannya.
Lagipula Tami tahu maksud Abahnya baik dalam sudut pandangannya. Mungkin Abah mengira bahwa Arman akan berubah setia terhadap dirinya seperti ia telah tidak setia dengan agamanya semula. Abah mungkin ingin melindungi hidup anak dan keluarganya. Hanya cara Abah keliru. Tidak mungkin mencapai tujuan bila menggunakan kekerasan. Bukankah kekerasan akan berbuah kekerasan? Pastor Peter melihat Tami termenung. Ia tidak ingin mengganggunya. Ia membiarkannya seperti itu sampai akhirnya Tami menyadari kehadiran Pastor Peter dan Ev. Debora kembali.

“Terima kasih Pak Pendeta. Saya merasa hati saya menjadi damai. Sebelumnya hati saya sangat galau. Saya takut kalau saya tetap masih mencintai Abah maka Bang Arman akan marah. Tetapi mendengar pengajaran mu shi, sekarang saya percaya bahwa bang Arman juga tidak akan membenci Abah. Mungkin suatu kali saya dan Abah dapat bersatu kembali. Abah dapat menerima saya dan bila mungkin Abah malah percaya juga kepada Yesus sebagai Juruselamatnya” akhirnya Tami menjelaskan panjang lebar hasil renungannya.

“Sungguh luar biasa. Tami dapat menangkap intisarinya. Pasti Roh Kudus menggerakan hati Tami sehingga tidak lagi membenci kelakuan orang yang telah menyakiti hati Tami” Pastor Peter memuju Tami.

“Ini berkat ajaran Pak Pendeta. Setelah sembuh, saya ingin belajar lebih banyak tentang kasih yang sangat unik ini. Saya rasa hanya Allah sendiri yang bisa mengajarkan kasih seperti ini” Tami sepertinya sudah dapat memahami ajaran ini lebih jauh.

“Bukan saya yang bisa menerangi hati Tami, tetapi Roh Kudus. Banyak orang yang mendengar tentang keselamatan dari Yesus Kristus, tetapi hanya sedikit orang yang mau menerimanya. Jadi kalau Tami dapat memahami ajaran Yesus Kristus, berarti Tami sudah menjadi murid Yesus. Belajarlah kebenaran firman Tuhan melalui Alkitab di bawah bimbingan orang yang dapat diandalkan. Mintalah Roh Kudus untuk bekerja dalam hati Tami” Pastor Peter ingin meluruskan pendapat Tami.

Banyak orang yang mengandalkan perkataan hamba Tuhan semata tanpa memeriksa apakah ajaran nya sesuai dengan apa yang disampaikan Allah di dalam Kitab Suci. Berapa banyak orang yang lebih mementingkan mengajarkan pemikiran pribadi bukan pengajaran tentang kehendak Allah sendiri. Berapa banyak hamba Tuhan yang telah menyesatkan jemaatnya? Pastor Peter sendiri masih bergumul setiap hari akan pelayanan dan kebenaran ajarannya. Ia tidak ingin pelayanan dan kelakuannya menjadi batu sandungan buat jemaat yang dilayaninya. Bila terjadi demikian, maka ia tahu hukuman terhadap pengajar-pengajar palsu akan lebih berat.

“Tami, Bayu dan Ayu, tadi kami sudah membesuk Arman. Arman juga sedang memulihkan diri setelah operasi kemarin. Kami bermaksud menyatukan kalian berempat dalam satu kamar sehingga kalian bisa saling memperhatikan dan bercakap-cakap. Jadi kalian tidak akan kesepian di sini” Pastor Peter menjelaskan rencananya.

“Terima kasih Mu Shi!” Bayu dan Ayu senang mendengar rencana ini.

“Terima kasih Mu Shi. Maaf kami telah merepotkan Mu Shi” Tami merasa tidak enak hati

“Ha…ha…. Tentu kami senang kalau kalian dapat bersatu kembali walau di tempat yang tidak semestinya Namun kami percaya, kalian dapat merasakan punya keluarga yang utuh” Pastor Peter senang usulnya bisa diterima.

Tiba-tiba masuklah Yakob dan Deny.

“Halo Bu Tami , Bayu dan Ayu. Bagaimana kabarnya?” Yakob langsung menyapa ketiganya sekaligus.

“Kami sudah lebih baik”Tami membalas.

“Syukurlah. Nanti Pak Simon akan datang membawa salep yang mujarab untuk menyembuhkan luka-luka luar dan dalam.” Yakob menjelaskan rencana Simon. Rupanya sewaktu mengurus administrasi Simon menelponnya. Simon akhirnya mengetahui masalah keluarga Arman dan kebetulan ia punya obat mujarab tersebut.
“Wah terima kasih banyak ya..” Tami hanya dapat bersyukur. Walau ia sakit, tapi perhatian orang-orang dari gereje GeYeSKu membuat hatinya hangat.

“Jangan dipikirkan Bu. Sesama umat percaya harus saling menolong. Bahkan kita juga harus menolong orang lain tanpa memandang agama, ras atau pun hal lainnya. Menolong orang dalam kesusahan merupakan tugas mulia agar kita dapat membalas kebaikan Tuhan Yesus yang telah menebus kita dengan darahNya sendiri” Yakob berusaha menentramkan hati Tami.

Lagi-lagi Tami merasa tertegun. Bukankah ini adalah ajaran yang mulia? Menolong orang yang berbeda kepercayaan, bukan malah membuat sulit seperti yang banyak didengarnya selama ini. Hatinya benar-benar mantap mengikuti jejak suaminya.

“Yakob, bagaimana dengan urusan administrasi untuk memindahkan Arman agar dapat menjadi satu dengan istri dan anaknya?” tiba-tiba Ev. Debora melontarkan pertanyaan yang didorong keingintahuannya.

“Ha..ha.. sampai lupa menyampaikannya. Masalah administrasi sudah selesai. Sebentar lagi Pak Arman dapat berkumpul dengan Ibu Tami , Bayu dan Ayu” Yakob menjelaskan intinya.

“Hore… ayah akan bersama kami lagi” Bayu senang mendengarnya.

“Benar Kak. Kita sekeluarga akan berkumpul lagi. Ayu rindu dengan ayah” Ayu yang masih kecil memang sangat sayang dengan papanya itu.

Bayu dan Ayu yang masih kecil, tiba-tiba merasa penyakit nya seperti sembuh. Baru semalam mereka menderita akibat ulah kakeknya, sekarang mereka seperti sudah pulih kembali .

“Oh iya, sekalian saya perkenalkan. Ini Deny. Ia yang menjadi supir cadangan selama Pak Arman tidak dapat mengemudi” Yakob menjelaskan.

“Halo Bu Tami, Bayu dan Ayu” Deny mencoba menyapa dan bersikap ramah.

“Halo Deny. Terima kasih sudah mau datang” balas Tami.

“Sama-sama. Saya kebetulan diajak Kak Yakob. “ Deny menjelaskan.

“Kak Deny, nanti kalau kami sudah sembuh, kita main bersama ya?” Bayu tiba-tiba ikut bercakap-cakap. Mungkin ia melihat Deny usianya tidak beda jauh.

“Eh… Boleh juga.” Deny hanya bisa menjawab singkat.

Ia takut Yakob atau Pastor Peter melarangnya. Namun setelah menunggu sejenak, Pastor Peter dan Yakob tidak menolaknya sehingga Deny lebih berani.

“Bayu dan Ayu cepat sembuh ya. Saya senang  punya orang yang dapat saya anggap sebagai adik saya sendiri” Deny dengan polos mengungkapkan isi hatinya. Ia sudah lama mengidam-idamkan punya adik.

“Baik Kak” jawab Bayu dan Ayu serentak.

Deny tersenyum.

Tiba-tiba pintu kamar terbuka kembali.
Kali ini ada beberapa perawat yang datang berkunjung. Mereka membawa sebuah ranjang yang mereka dorong masuk ke dalam. Seraut wajah yang mereka kenal, tiba-tiba menyampaikan pesan dengan ringan.

“Halo semua. Saya sekarang pindah ke mari” Arman menyapa.

“Bang…!” Tami tak bisa bicara. Hatinya sangat bersukacita.

“Ayah…!” Bayu dan Ayu pun serempak membalas dengan semangat.

“Ha…Ha… Kita susah berkumpul di rumah. Sekarang malah berkumpul di rumah sakit. Biar bagaimana pun kita bisa berkumpul. Maaf Ayah belum bisa bangun!”Arman tertawa gembira. Di tengah duka-cita yang dilanda keluarganya. Ia merasa bebannya ringan saat berada bersama seluruh anggota keluarganya.

Mu shi, shi mu, Yakob dan Deny… selamat bertemu kembali” Arman tak lupa menyapa para penolongnya.

“Nah Arman sepertinya kami harus kembali dulu ke gereja. Nanti kami akan datang kembali. Biarlah kalian semua melepas rindu dahulu” Pastor Peter minta diri. Ia melihat keluarga kecil ini ingin berbagi cerita, jadi ia tidak ingin mengganggu mereka.

“Terima kasih banyak mu shi semuanya. Tanpa pertolongan mu shi semua kami tidak bisa bersatu” Arman bersyukur.

“Terima kasih Pak Pendeta dan Ibu, Yakob dan Deny” Tami juga bersyukur.

“Makasih ya semuanya… Datang lagi ya” Bayu dan Ayu juga menyampaikan rasa syukur mereka.

“Ha…Ha… Tentu kami akan kembali” Yakob membalasnya dengan senang. Dia terharu kedua anak Pak Arman bisa mengucapkan kalimat yang merindukan kedatangan mereka.

Berarti di kemudian hari , keduanya akan lebih mudah dibimbing. Pastor Peter, Ev. Debora, Yakob dan Deny kemudian meninggalkan rumah sakit. Saat meninggalkan rumah sakit, mereka bertemu dengan majelis Simon. Seperti yang sudah dijanjikan ia membawa salep untuk mempercepat pemulihan luka luar dan dalam yang sudah teruji khasiatnya.

Yakob memberitahu kamar keluarga Arman dan menjelaskan kepada pemindahan kamar Arman dengan menggabungkannya dengan keluarganya. Yakob pun sempat mem-broadcast  nomor kamar keluarga Arman ke group BB nya sehingga para jemaat dapat mengetahui bila ingin membesuknya.

Deny kembali mengemudi mobil kembali ke gereja. Kali ini sudah lebih menguasai mobil dan bisa dengan cepat kembali. Memang bagi pengemudi yang sudah lama tidak mengemudi, bisa terkesan kaku bila membawa mobil.

--o0o—

Sesampainya di gereja, Deny memanggil Yakob untuk bicara secara pribadi. Yakob merasa heran atas permintaannya , namun ia pun memenuhinya.

“Kak Yakob, saya minta maaf terlebih dahulu” Deny membuka dengan kalimat penyesalan yang membuat Yakob heran.

“Memang ada apa Deny? Kok jadi misterius sih”

“Begini Kak. Tadi sewaktu membereskan kamar sebelum pergi ke rumah sakit, saya menemukan uang Rp 100.000. Saya tidak tahu itu punya siapa, tapi tadi saya sempat terpikir untuk memilikinya. Buat saya nilai itu sangat besar, apalagi saya memang tidak punya uang bahkan untuk makan sekalipun! Tapi saya menyadari kelemahan saya ini dan tidak ingin mengulang kesalahan saya!” Deny berkata dengan tegas.

“Oh begitu. Memang pasti uang itu ada yang punya. Hanya tidak jelas siapa yang memilikinya. Begini saja,  kita akan tanyakan pada orang-orang yang pernah menempati kamar itu. Kalau ia tidak merasa kehilangan, berarti uang itu menjadi milikmu! Yang pasti kamu sudah menang melawan keinginan untuk memiliki barang orang lain” puji Yakob.

“Baiklah. Saya berikan uang ini kepada Kak Yakob saja” Deny yang tadi sempat mengambil uang ini sekembali dari rumah sakit membuka dompetnya dan menyerahkan selembar uang Rp 100.000 kepada Yakob.

Yakob pun menerimanya. Deny merasa lega. Beban berat yang melandanya tadi sudah terangkat. Walaupun sebagian dirinya menyesali keputusannya, namun ia tahu itu adalah keputusan yang benar. Ia tidak mau lagi diperbudak oleh nafsu serakahnya walau dengan alasan apa pun. Yakob juga merasa lega. Satu lagi ujian Yakob telah dilewati. Setelah ujian kerajinan dan kebersihan, sekarang ujian kejujuran. Belum lagi ujian ketrampilan mengemudi. Yakob senang semuanya sudah berhasil dilewati.

Sementara itu roh jahat yang diutus untuk mengawasi dan menggoda Deny merasa ketakutan. Tugas yang diembannya untuk menjatuhkan Deny telah gagal. Ia tahu konsekuensi berat yang harus ia terima atas kegagalannya itu. Ia sudah melihat banyak contoh dari rekan-rekannya yang gagal melaksanakan tugas. Namun hal itu tidak bisa dihindari.

“Oh iya. Sebentar lagi saya mau membuat bubur untuk Ibu Amy. Saya ingin meminta tolong kamu untuk membawakan bubur ini untuk Ibu Amy. Alamatnya di Jalan Teguh no. 11c.” Yakob meminta bantuan.

“Baik Kak”

Dengan cepat Yakob menyiapkan beras dan bahan-bahan lain yang dibutuhkan untuk membuat bubur. Tidak lama kemudian ia mulai meramunya. Kali ini ia mencoba bubur tiga rasa. Maksudnya bubur yang terdiri dari 3 macam daging yakni ikan, ayam dan udang.  Yakob membuatnya cukup banyak termasuk untuk dirinya dan Deny. Deny menatap kagum saat Yakob menyiapkan bubur tersebut. Ia sendiri hanya bisa memasak supermie.

“Nah sebelum pergi, lebih baik kamu makan dulu.” Yakob langsung mengambilkan semangkuk bubur untuk Deny.

“Wah saya masih kenyang Kak” Deny memang telah memakan 3 porsi supermie tadi.

“Kan bubur ini encer. Jadi kamu makan juga tidak terasa kenyang lagi. Ayo kita makan bersama” Yakob membujuknya.

“Hmm…. Baiklah Kak.” Akhirnya Deny menyerah.

Mereka berdua menikmati bubur buatan Yakob.

“Enak sekali. Kakak pintar membuatnya!” puji Deny.

“Terima kasih. Semoga Ibu Amy dan Jonas menyukainya juga” Yakob pun menjelaskan tentang keduanya.

Akhirnya selesai juga bubur masing-masing.

“Nah biar Kakak yang mencuci mangkoknya. Kamu pergi ke rumah Ibu Amy. Dan ini rantang bubur yang perlu kamu bawa. Minta mereka makan secepatnya agar masih hangat” Yakob menjelaskan secara rinci.

“Terima kasih ya Kak. Maaf saya telah merepotkan Kakak!” Deny merasa tidak enak hati dengan kebaikan Yakob.

“Ah tidak lah. Jangan berkata begitu!” Yakob mengelus rambut Deny. Deny merasa nyaman.

“Oh iya, saya ingin menitip uang untuk Ibu Amy juga.” Lalu Yakob mengeluarkan amplop putih.

Diberikannya amplop itu kepada Deny.

--o0o—

Deny pun mengantarkan bubur dan uang itu ke Ibu Amy. Tidak sulit ia mencari rumah Ibu Amy. Diketuknya pintu rumah Ibu Amy. Sesosok remaja datang membukakan pintu.

“Mau cari siapa?” Jonas menyapa.

“Mau mencari Ibu Amy. Saya diutus Kak Yakob untuk membawa bubur buat Ibu Amy dan Jonas” Deny menjelaskan.

“Oh begitu. Silahkan masuk.” Jonas membukakan pintu rumahnya.

Deny masuk sambil menyerahkan rantang ke Jonas. Jonas pun menerima rantang dari Deny dan memindahkan isinya ke mangkuk di rumahnya.

“Ma… Kak Yakob membawakan bubur untuk mama” Jonas berkata dengan keras.

“Wah… Yakob benar-benar perhatian.” Amy keluar kamarnya dan melihat Deny.

“Oh ini yang membawanya. Kamu siapa? Terima kasih ya” Amy menyapa Deny.

“Saya Deny  Bu. Saya diminta Kak Yakob membawa bubur dan amplop ini” Deny mengeluarkan amplop putih yang dititip Yakob.

“Apa ini”? Amy heran.

“Saya kurang jelas Bu. Mungkin ada catatan yang menjelaskannya” Deny mengingatkan.

“Benar juga.!” Ibu Amy pun langsung membuka amplop.

Tiba-tiba tersembul keluar beberapa lembar uang Rp 100.000. Ada juga kertas putih yang berisi pesan. Ibu Amy kemudian mengambil dan membaca pesannya. Ia merasa terharu. Rupanya ia mendapat bantuan dari gereja. Bantuan ini diharapkan dapat digunakan selama Ibu Amy dalam masa pemulihan. Ibu Amy kemudian mengambil uang Rp 10.000 lalu diberikan kepada Deny.

“Terima kasih Nak Deny. Ini untuk Deny yang sudah mengantarkan bubur dan amplop ini” Ibu Amy memang orang yang murah hati. Dia sudah menerima anugerah dan bantuan. Ia pun ingin membagikannya untuk Deny.

“Terima kasih Ibu. Ini tugas saya. Tak boleh saya mengambil uang tip.”Deny menolak.

“Baiklah. Semoga Tuhan membalas budi baikmu” Amy memasukkan kembali uang tersebut.

“Kalau begitu saya sekarang pamit dulu” Deny minta diri.

‘Terima kasih sekali lagi ya” Jonas berkata sambil mengantar Deny keluar rumahnya.

Deny dengan cepat sudah kembali ke gereja. Dilihatnya alat-alat makan sudah dicuci oleh Yakob. Yakob masih membereskan dapur. Ia ingin agar dapur tetap bersih walaupun untuk itu ia harus mengeluarkan tenaga ekstra. Yakob memang penyuka kebersihan.

“Sudah pulang Deny? Bagaimana kabar Ibu Amy dan Jonas?” Yakob menyapa.

“Mereka baik.  Kak, tadi Ibu Amy sempat mau memberikan saya tip. Tapi saya tolak” Deny tanpa diminta menjelaskan. Ia sekalian membawa rantang yang tadi berisi bubur ke dapur untuk dibersihkan.

“Eh… biar saya sekalian bersihkan” Yakob menyambut rantang yang dibawa Deny.

“Biar saya saja Kak.” Deny merasa tidak enak hati.

Yakob baginya semacam dewa penolong. Orang baik dan patut menjadi teladannya.

“Sudah tidak apa-apa. Sekalian saya saja yang cuci. Nanti giliran kamu. Ngomong-ngomong mengapa kamu menolak tip dari Ibu Amy?” Yakob tertarik ingin mendengar alasan Deny.

“Ada beberapa alasan, saya tidak ingin menerima tip” Deny mulai menceritakan alasannya.

“Mengapa?” Yakob penasaran.

“Pertama saya melihat Ibu Amy orangnya sederhana. Ia bukan orang yang berada. Jadi pasti ia membutuhkan uang itu juga. Saya tidak ingin mendapat uang dari orang-orang seperti Ibu Amy. Bukan memandang rendah tapi karena mereka memang juga membutuhkan. Saya tahu bagaimana rasanya tidak punya uang” Deny berbicara sambil merenung.

“Bagus sekali prinsipmu. Kamu tidak membabi buta dalam menerima uang” Yakob senang mendengar alasan Deny.

“Kedua. Saya baru mulai bekerja hari ini. Saya belum tahu kebiasaan bekerja di sini. Apakah menerima tip diperbolehkan atau tidak?” Deny rupanya punya etika bekerja sendiri.

“Oh begitu. Setahu saya, tidak ada aturan yang melarang menerima tip. Hanya prinsipnya, ada atau tidak ada tip tidak boleh mempengaruhi kualitas pekerjaan. Kalau sulit menjalankannya, maka ada baiknya tidak menerimanya” Yakob memberi pendapatnya sendiri.

“Itu dia. Saya tidak ingin tip mempengaruhi kualitas pekerjaan saya.” Deny menjawab seperti seorang pekerja professional.

“Ketiga. Saya ingin memiliki teman dan sahabat bahkan bila mungkin ingin mendapatkan keluarga angkat. Entah mengapa saya merasa Ibu Amy dan Jonas adalah orang-orang yang baik. Saya ingin mengenal mereka dengan baik.” Deny rupanya ingin memiliki keluarga pengganti setelah orang tua dan saudaranya meninggal dalam kecelakaan pesawat.

“Kalau yang ini, kamu bukan saja memperoleh 1 keluarga baru, tetapi semua jemaat Tuhan adalah satu keluarga. Kita semua saling bersaudara secara rohaniah. Jadi kamu bisa memanggil orang-orang sepantaran kamu dengan menyebutnya ‘bro’” Yakob dengan senang hati menjelaskan.

“Wah luar biasa sekali. Saya senang punya keluarga besar. Saya rindu dengan keluarga saya” Deny kembali termenung.

“Deny, jadikan kami saudaramu. Ceritakan kepada kami masalah-masalahmu. Bila mungkin, kami akan membantunya” Yakob menawarkan.

“Terima kasih Kak. Saya berharap dapat bekerja di sini secara tetap. Saya senang dengan suasana kerja di sini” Deny yang baru beberapa jam rupanya sudah punya pandangan sendiri.

“Syukurlah kalau kamu bisa menyesuaikan diri di sini. Saya juga senang sekali kamu bisa cocok bekerja di sini.” Yakob senang dengan prinsip Deny.

“Hmm…. Kak. Bolehkah saya minta tolong Kakak?” Deny sepertinya punya beban.

“Tentu saja Deny.” Yakob senang dia diberi kepercayaan oleh Deny.

“Kak, saat ini saya tidak punya uang untuk membeli makanan dan keperluan pribadi lainnya. Saya tidak tahu bagaimana mengatasinya” Deny mengutarkan masalahnya.

“Betul juga. Kalau kamu punya uang, tentu kamu tidak kesulitan untuk membeli makanan. Begini saja, selama kamu belum punya uang , kita akan makan bersama. Saya akan berbagi makanan denganmu. Karena saya sendiri tidak punya uang berlebih. Biasanya uang yang saya terima habis untuk saya sendiri dan menolong orang-orang lain” Yakob berterus terang.

“Terima kasih banyak  Kakak. Tanpa pertolongan Kakak, saya tidak tahu apakah saya bisa hidup di jalan benar. Nanti setelah menerima gaji, saya akan membayarnya” janji Deny.

“Ha…ha… tidak perlu. Saya bukan meminjamkan uang, tetapi saya akan berbagi apa yang saya punya denganmu. Jadi selama saya punya, akan saya bagikan. Kecuali kalau uang saya sudah habis.” Yakob mengutarakan apa adanya.

“Maaf, memang Kakak juga suka tidak punya uang?” Deny merasa heran.

“Betul. Uang saya memang tidak banyak. Kalau ada yang butuh bantuan, saya akan berbagi dengannya seperti denganmu” Yakob mengutarakan kondisinya kembali.

“Kalau Kakak tidak punya, bagaimana Kakak akan makan?” Deny jadi penasaran.

“Sama seperti kamu. Menahan lapar atau mengurangi jatah makan. Tetapi bersyukur ada jemaat di sini yang suka memberikan supermie. Jadi Kakak simpan saja. Kalau sedang tidak punya uang, Kakak akan masak supermie.” Yakob dengan sederhana mengungkapkan cara mengatasi masalahnya.”Jadi kita sama saja” Yakob mengangkat tangannya untuk melakukan hi-five.

Deny yang mengetahui maksud Yakob kemudian mengangkat tangannya dan menyambutnya. Mereka berdua tampak bahagia. Di dalam ketiadaan mereka memiliki. Di dalam kekurangan mereka menikmatinya dengan berbagi. Menghadapi masalah yang sepertinya sederhana, mereka menjadi satu. Kesulitan memang bukan untuk ditangasi tetapi diatasi. Tidak perlu muluk-muluk.

“Jadi selama ini Kakak sering makan supermie?” Deny jadi ingin tahu.

“Ha…ha… kamu jadi kepo ya…. Puji Tuhan, sampai saat ini Kakak tidak pernah kekurangan makanan. Dengan berhemat, Kakak dapat mencukupi kebutuhan gizi. Kakak tidak sering makan supermie.” Yakob membuka rahasia dapurnya.

“Jadi mulai sore ini menu makanannya apa nih Kak?” Deny ingin menggoda Yakob.

“Inginnya sih makan nasi goreng Bang Rocky. Kamu belum kenal kan?” Yakob memang ingin bertemu kembali dengan Rocky yang terkenal dengan “Nagoya Baki”.

“Wah asyik. Kita akan masak goreng” Deny dengan muka sukacita menyambutnya.

“Ngomong-ngomong, Kakak sudah menghubungi orang yang menempati kamar kamu sebelumnya. Tadi Kakak tanyakan apakah ia kehilangan atau ketinggalan uang. Menurutnya , ia sama sekali tidak ketinggalan atau kehilangan uang. Berarti sekarang uang ini Kakak kembalikan ke kamu. Kamu dapat menyimpan dan memakainya.” Jelas Yakob sambil menyodorkan uang Rp 100.000 an yang diambil dari dompetnya.

“Wah sungguh rejeki. Saya bisa membeli keperluan pribadi. Saya ingi membeli sikat gigi, odol, sabun mandi, sabun cuci dan lain-lain.” Deny menerimanya dengan penuh sukacita.

Yakob dalam hati juga mengucap syukur. Tidak sia-sia ia mengorbankan uang Rp 100.000 nya sebagai modal Deny untuk keperluan sehari-hari. Deny tidak tahu bahwa sebelum Deny, ialah yang tinggal di situ. Jadi mudah sekali menghubunginya kan?

Yakob sendiri tidak punya banyak uang. Kalau mengandalkan kompensasi yang diberikan oleh gereja, tentu tidak akan cukup. Beruntung gereja memberikan ijin bagi para hamba Tuhan yang melayani untuk menyampaikan khotbah di gereja lain, sehingga ia tidak mengandalkan apa yang diterima dari gereja. Selama ini ia tidak pernah kekurangan. Walaupun ia tidak punya berlebihan, tapi semuanya cukup. Itulah pemeliharaan Tuhan. Providensia.

Allah selalu mencukupi anak-anakNya. Tidak berlebihan, tapi berkecukupan. Kalau sekarang ia harus berbagi dengan Deny, itu semua membuatnya merasa berarti. Memang Yakob sudah memahami makna hidupnya. Ia akan bekerja dan melayani Tuhan dengan sepenuh hatinya. Tidak ada hal yang dapat menggoyahkannya.

“Kalau begitu sekarang, Kakak akan bersiap-siap dulu ya. Sebentar lagi Kakak harus mengajar di SeYeSKu” Yakob pamit untuk mereview apa yang akan disampaikan kepada para siswa sekolah.

Satu per satu masalah selesai. Bukankah hidup itu indah? Bersama Dia dan berada dalam hadiratNya pasti puas!




-o0o-

No comments:

Post a Comment