(Episode
8)
DENY,
SANG YATIM PIATU
Pagi esok hari, Deny
sudah muncul di Gereja Yesus Satu-Satunya Juruselamatku (GeYeSKu) sebelum waktunya.
Ia ingin menunjukkan bahwa ia ingin serius untuk mendapatkan pekerjaan.
Yakob pun
menemui Deny.
“Halo Deny! Apa
kabar?” sapa Yakob saat melihatnya sambil mengulurkan tangannya.
“Baik Kak” Deny
menjulurkan tangannya menyambut tangan Yakob.
“Kamu sudah
makan pagi?” Yakob bertanya.
“Eh….” Deny
terdiam.
“??? “ Yakob tidak mengerti. Namun dengan cepat
ia dapat mengambil kesimpulan.
“Bagaimana kalau
kita makan dahulu?” Yakob lalu menggenggam tangan Deny.
Dengan cepat
Yakob membawa Deny ke ruang makan. Karena tidak ada stock makanan di meja,
terpaksa Yakob mengambil stock supermie-nya.
“Kamu bisa makan
supermie?” Yakob menawarkan.
“Saya makan
apapun yang bisa dimakan Kak. Saya bukan tipe pemilik” Deny menjawab.
“Kamu lebih suka
supermie rasa ayam bawang atau supermie goreng?” Yakob menawarkan pilihan.
“Ayam bawang
saja Kak.” Deny lebih suka mie yang berkuah.
Yakob langsung
mengambil supermie jumbo yang berisi 2 porsi. Lalu diambilnya juga telor 2
buah. Yakob memang berencana membuat 2 porsi supermie.Namun setelah ia berpikir
lagi, jumlahnya ditambah! Perhitungannya : kemarin pagi ia memberikan Deny
seporsi nasi tim. Lalu kalau setelah itu ia tidak makan lagi, maka saat ini
pasti Deny sekarang sudah sangat kelaparan. Jadi Yakob membuat 3 porsi
supermie.
Dengan cepat
Yakob membuatnya. Dengan menambah telur dan sayur-sayuran, maka akhirnya
lengkap sudah 3 porsi supermie. Deny yang memang sedang kelaparan, mencium bau
yang sedap semakin menambah nafsu makannya. Namun ia tetap menjaga sopan santun,
walau perutnya seakan-akan sudah mau berontak.
Sudah semalaman
ia kelaparan.Ia memang bertekad ingin hidup lurus. Selama beberapa hari ia
memang telah khilaf. Ia telah membuat nama keluarganya tercemar. Selama ini, ia
sudah diwanti-wanti untuk hidup lurus. Lebih baik mati daripada harus mencuri. Ia
sudah berusaha bertahan dengan hanya minum tanpa makan. Namun perutnya sudah
melilit menahan lapar. Ia malu untuk meminta-minta. Makanya ia nekad mencuri.
Kemarin saat
tertangkap tangan Yakob, ia sudah khawatir bahwa ia akan di penjara.
Bila hal itu
terjadi, maka namanya akan tercoreng. Ia akan benar-benar memalukan
keluarganya. Ia merasa beruntung Yakob tidak melaporkannya, malah ia mendapat
seporsi nasi tim. Ia sudah menikmatinya kemarin, namun manusia perlu makan
sehari 3 kali. Kemarin ia sudah melewati 2 kali waktu makan, pagi ini pun ia
belum makan. Perutnya sudah melilit menahan lapar.
Melihat Yakob
membuatkan supermie, ia sangat bersyukur.
Ia benar-benar
merasa Yakob mengetahui kebutuhannya.
Melihat supermie
sudah terhidang begitu banyak, ia menjadi bingung.
Bagaimana untuk
membaginya.
“Hayo diambil.
Langsung saja makan” Yakob mempersilahkan.
Deny ingin
mengambil, namun ia bingung karena hanya ada 1 mangkok besar supermie. Lalu
bagaimana membaginya?
“Lho, kenapa
kamu bingung? Ini buat kamu semuanya. Ayo makanlah” Yakob belum menyadari
kealpaannya menjelaskan.
“Maksud Kakak,
ini buat saya semua?” Deny tidak percaya.
“Benar! Kamu kan
lapar kan. Jadi tugas pertama kamu di sini menghabiskan super mie ini. Kalau
tidak habis, tidak diterima jadi supir lho” Yakob pura-pura mengancam.
“Oh begitu.
Baiklah! Akan saya habiskan semua. Saya makan dulu ya Kak” Deny pun mengambil
mangkok besar yang disodorkan.
“Jangan lupa
berdoa ya” Yakob mengingatkan.
“Eh.. baiklah.
Ya Allah terima kasih untuk makanan ini. Terima kasih untuk Kak Yakob yang
sudah menyediakannya. Amin” Deny berdoa apa adanya. Itu saja yang pernah dia
dengar waktu ada yang berdoa.
“Nah, selamat
makan ya. Jangan terburu-buru makannya” Yakob meninggalkan Deny.
Deny memandang
takjub. Ia tidak menyangka akan mendapat makanan dengan porsi yang begitu
banyak. Ia ingin segera menyerbunya, tapi ia tahu kebenaran perkataan Yakob. Kalau ia tidak memakannya secara perlahan,
maka perutnya akan bertambah sakit. Jadi ia pun menikmati super mie yang
disajikan. Inilah makanan ternikmat yang pernah disantapnya walau hanya
supermie tapi ia benar-benar menikmatinya. Benar-benar luar biasa! Supermie
dengan sayur, telur dan bumbu-bumbunya sangat lezat sekali. Secara perlahan, ia
bisa menghabiskan 3 porsi supermie. Membuat perutnya benar-benar kenyang.
“Nah ini
minumannya” tiba-tiba Yakob muncul kembali.
“Kak Yakob,
terima kasih banyak untuk makanan dan minumannya. Saya tidak tahu bagaimana
membalasnya” Deny mencium tangan Yakob. Yakob balas memeluk Deny.
“Jadilah orang
yang berguna sesuai dengan kehendak Allah. Itu saja yang Kakak kehendaki
darimu” Yakob membalasnya.
“Saya akan
belajar dari Kakak” Deny berkata dengan tulus.
“Nah setelah
selesai minum, Kakak ingin menjelaskan sedikit peraturan tentang bekerja di
sini ya” Yakob menunda perkataannya sampai Deny selesai minum.
“Deny sudah
selesai Kak” Deny menaruh gelasnya.
“Baiklah.
Pekerjaan supir ini sebenarnya adalah pekerjaan Pak Arman. Pak Arman adalah
orang yang dompetnya hampir kamu curi. Tetapi karena ia mengalami kecelakaan
kemarin, maka ia tidak dapat melakukan tugasnya. Kemungkinan besar, ia masih
lama pulihnya. Karena itu gereja membutuhkan pengemudi pengganti. Namun bila
Pak Arman sudah bisa bekerja, maka pekerjaan ini menjadi milik Pak Arman
kembali” Yakob menjelaskan faktanya. Ia tidak ingin memberi harapan yang tidak
benar.
“Baik Kak. Saya
bisa menerima bila nanti saya diberhentikan setelah Pak Arman kembali” Deny
menjawab dengan rela hati. Ia merasa bersyukur sudah mendapat pekerjaan. Urusan
diberhentikan, biarlah lihat nantinya bagaimana.
“Kedua, kamu
akan menjalani masa percobaan. Poin yang utama adalah kemampuan kamu mengemudi
dan kejujuran. Bila gagal, maka terpaksa kamu tidak bisa lagi bekerja di sini”
Yakob menyambung penjelasannya.
“Saya mengerti.
Saya akan berusaha mengemudi dengan hati-hati dan bertanggung jawab. Saya juga
akan bersikap jujur, walau mungkin gagal” Deny sepertinya tidak yakin.
“Yang terakhir
adalah gajimu. Kamu akan menerima gaji harian sebesar Rp 100.000 / hari. Apakah
kamu bisa menerimanya?”Yakob kembali menawarkan.
‘Tentu saja.
Saya menerimanya dengan senang hati” Deny merasa senang membayangkan ia akan
memiliki uang sehingga ia bisa mandiri.
“Nah kamu dapat
menempati mess yang ada di gereja. Tapi kamu menjaga kebersihan dan kerapiannya.
Mari kita melihat kamar mess mu” Yakob langsung membimbing Deny ke kamarnya. Deny
kemudian membawa tasnya.
“Nah ini
kamarmu. Jangan lupa dirawat. Bila lampu atau pintu rusak, kamu haur melaporkan
atau memperbaikinya sendiri. Kamu juga harus mencuci baju sendiri” Yakob
mempersilahkan Deny menaruh tas di tempat yang sudah disediakan.
Setelah itu
Yakob mengajak Deny berkeliling lingkungan gereja. Ia pun memperkenalkan Deny
pada Pastor Peter, Ev. Debora, Hasan ,petugas keamanan gereja dan James ,sekretariat
gereja. Setelah itu, Yakob meminta Deny untuk membersihkan mobil. Yakob ingin
tahu seberapa baik pekerjaan Deny.
--o0o—
Deny pun dengan
cepat kemudian kembali ke kamarnya. Ia mengganti bajunya dengan kaos lusuh. Ia kemudian berusaha
mencari alat-alat yang dibutuhkan. Ternyata semua telah tersedia yakni dari
ember, selang air, sikat, lap dan sabun.
Mula-mula ia
membersihkan bagian dalam mobil. Semua karpet di dalam mobil dikeluarkan lalu
dicucinya. Ia pun mengambil kemoceng lalu membersihkan bagian dalam dengan
seksama. Setelah itu ia pun membersihkan bagian luar. Diisinya ember dengan
air. Disiapkannya sabun untuk mencuci ban dan badan mobil. Dibasahinya mobil
dengan air. Keempat ban disikatnya dengan air sabun, setelah selesai diguyurnya
dengan air. Lalu dengan cepat dibersihkan mobil dari atap, kaca lalu berurutan
dari depan ke belakang. Tampaknya ia bekerja dengan sistematis.
Usai mencuci,
membasahi dan melapnya akhirnya ia melakukan sentuhan akhir. Di lap kembali
semua bagian mobil dengan lap kering. Lalu ia menemukan semir mobil. Digosoknya
seluruh cat mobil dengan teliti sehingga selesailah sudah acara pembersihan
mobil. Diperiksanya lagi semua bagian mobil apakah masih ada yang kotor.
Puas melihat
hasil pekerjaannya, ia pun merapikan semua peralatan mencucinya dan menaruh
pada tempat semula. Yakob memperhatikan cara Deny bekerja dan ia merasa puas. Pekerjaannya
tidak di bawah Pak Arman! Test yang pertama ini Deny dinyatakan lulus.
Namun sepertinya
Deny tidak berhenti sampai di situ saja. Walaupun Yakob hanya memintanya
membersihkan mobil, tapi kemudian ia juga memeriksa semua perlengkapan mobil. Diperiksanya
semua perlengkapan yang ada, apakah masih berfungsi. Bahkan ia juga memeriksa
ban cadangan, apakah sudah kempis atau tidak.
Lalu
diperiksanya indikator kendaraan seperti air accu, oli dan lain-lain.
Setelah itu ia
pun memanasi mesin mobil selama beberapa menit. Di-starternya mesin, diceknya
semua fungsi otomatis dari mobil dari power-window
dan lampu-lampu. Yakob memandang takjub. Sepertinya Deny bekerja secara
professional. Darimana ia belajar semua itu? Bukankah usianya masih muda?
“Kak, mobilnya
sudah dibersihkan. Silahkan Kakak memeriksanya” Deny memberitahu Yakob setelah
berhasil mencarinya di kamarnya.
Yakob sendiri
memang masuk kembali ke kamarnya setelah selesai mengamati pekerjaan Deny dari
lantai 3 pastori.
“Wah cepat ya
sudah selesai” Yakob memuji Deny.
“Semoga Kakak
puas dengan pekerjaan saya” Deny berharap.
“Ini namanya
tenaga ekstra ya… berkat supermie telor” Yakob menggoda Deny.
“Ha..ha… Kakak
bisa saja” Deny malu.
“Setelah ini
kamu istirahat sebentar ya. Karena biasanya shi
mu akan pergi berbelanja” Yakob teringat kebiasaan ibu pendeta setiap hari.
“Baik Kak.
Setelah ini, saya akan membereskan kamar saya dahulu” Deny rupanya sudah punya
rencana.
Yakob dan Deny
sudah sampai ke tempat Deny mencuci mobil di tempat parkir mobil.
Yakob dengan
cepat memeriksa hasil pekerjaan Deny. Tampak air masih sedikit menggenang di
tempat Deny mencuci mobil. Memang perlu dikeringkan dengan sapu lidi. Yakob
kemudian melihat ban dan velg-nya. Ternyata baik ban dan velgnya sudah bersih. Kemudian Yakob
melihat rongga dekat ban. Sudah cukup bersih, walau tidak bersih sempurna. Bagian
dalam sudah bersih, bahkan pada tempat sampah kecil yang ada, tidak terdapat
kotoran. Bagian luar juga sudah baik. Jadi secara keseluruhan memang hasilnya
cukup memuaskan.
“Deny
pekerjaanmu sudah baik. Terus dipertahankan ya. Hanya untuk genangan air yang
ada, harus dikeringkan dengan menggunakan sapu lidi.” Yakob memberikan
penilaian seobjektif mungkin.
“Terima kasih
Kak. Akan saya perhatikan selanjutnya” Deny senang karena pekerjaannya tidak
mengecewakan.
“Tetap semangat
ya. Kamu lebih baik kembali ke kamar untuk beres-beres.” Yakob menyarankan.
“Baik Kak. Saya
ke kamar dulu ya”Deny pamit
“Silahkan. Nanti
kalau shi mu (ibu pendeta) mau pergi,
kamu antar ya” pesan Yakob sebelum berlalu.
“Iya Kak” Deny
pun kembali ke kamarnya.
Di kamar ia
mengeluarkan isi tasnya. Di susunnya baju-bajunya di lemari pakaian. Dengan
cepat ia membereskan baju dan celananya. Dipisahkannya baju tangan pendek, baju
tangan panjang, celana panjang, celana pendek dan pakaian dalam sesuai dengan
banyaknya rak-rak di lemari. Memang bajunya tidak banyak sehingga dengan cepat
ia membereskannya. Lalu ia membuka laci yang ada di lemari. Tiba-tiba ia
terpana.
Di dalam laci
itu ada selembar kertas berwarna merah. Walau pun ia jarang memegangnya, ia
tahu itu adalah uang dengan pecahan Rp 100.000 an! Tangannya gemetaran
mengambil uang itu. Ia jarang memiliki uang , apalagi dalam jumlah besar. Sekarang
ia seperti mendapat durian runtuh. Ada uang Rp 100.000 di laci kamarnya yang
kosong. Ia merasa dorongan yang kuat untuk segera mengambil dan memiliki uang
tersebut!
Sudah beberapa
hari ini ia tidak punya uang sama sekali. Karena itulah ia nekad mencuri. Ia
memang punya alasan kuat untuk mencuri. Demi tidak mati kelaparan! Tiba-tiba ia
teringat. Ia baru saja mendapat makanan. Ia sudah kenyang dengan makan 3 porsi
supermie sekaligus! Lalu untuk apa lagi ia punya uang? Dengan perut kenyang
seperti itu ia bisa tahan sampai malam. Urusan malam kalau tidak dapat makan,
ia pun masih dapat menahannya. Ia sudah terbiasa tidak makan sama sekali. Hatinya
jadi bimbang.
Ia bisa
mengambil uang itu begitu saja, tapi tidak mungkin uang itu ada di situ. Pasti
ada yang punya uang itu dan orang itu pasti kehilangan. Namun kalau mendengar
cerita dari Yakob , kamar itu sudah tiga minggu tidak dipakai, kemungkinan
besar tidak ada yang merasa kehilangan. Jadi kesimpulannya ia bisa
mengambilnya. Ia sudah biasa menekan hati nuraninya sehingga ia berani mencuri.
Tidak ada yang peduli dengan kebutuhannya selama ini.
Setelah orang
tuanya meninggal dalam musibah kecelakaan, hidupnya benar-benar menderita. Ia
bukan saja sulit mendapat tempat tinggal, ia juga sulit untuk bisa makan bahkan
sekali saja dalam sehari. Ia ingin memprotes kondisi ini, tapi protes kepada
siapa? Tidak ada yang peduli. Semua orang di sekitarnya tidak peduli. Yang ada
mata yang melotot kepadanya saat ia minta diberi makan atau uang untuk makan.
Katanya ia masih
muda dan bisa mencari kerja sendiri. Ia
pun mengerti dan ia pun ingin bekerja. Namun dengan perut kelaparan, bagaimana
ia bisa bekerja? Namun di sisi lain, ia ingin memulai lembaran baru. Ia tidak
ingin lagi mencuri. Itu perbuatan yang memalukan. Orang tuanya sudah
mendidiknya untuk tidak melakukan perbuatan seperti itu. Ia sudah tertangkap
tangan oleh Yakob saat mencuri kemarin dan ia sudah diberikan pembebasan tanpa
syarat. Ia bahkan sudah menerima kebaikan Yakob. Kemarin ia mendapat seporsi
nasi tim dan pagi ini ia mendapat 3 porsi supermie sekaligus!
Ia bahkan sudah
diterima bekerja sebagai pengemudi di gereja ini karena ia diberikan
kepercayaan oleh Yakob dan GeYeSKu walaupun ia sudah tertangkap tangan mencuri!
Selama ini ia sudah tahu bahwa orang yang ketahuan mencuri akan sulit untuk
mendapat pekerjaan. Ia juga teringat akan pesan Yakob yang menjadikan dirinya
sebagai jaminan bagi dirinya untuk dapat bekerja di GeYeSKu. Kalau ia mencuri
lagi dan ketahuan, maka bukan saja dirinya yang diberhentikan tetapi
kepercayaan dan nama baik Yakob pun ikut terkena.
Deny bergumul hebat
dalam hatinya. Membuatnya menjadi terbengong-bengong. Ia pun lupa meneruskan
pekerjaan untuk merapikan bajunya di lemari. Masalah Deny mungkin sederhana
bagi orang yang berpunya. Uang Rp 100.000 yang dianggapnya besar, bagi orang lain
mungkin tidak ada artinya. Tetapi bagi Deny uang sebesar itu menimbulkan godaan
yang sangat besar. Tekadnya untuk jujur seperti yang diminta Yakob menjadi
goyah. Uang memang bisa membuat orang khilaf. Uang memang bisa mengubah
pendirian orang yang tidak kukuh. Uang bisa mengubah seseorang yang sedang
terdesak kebutuhan. Uang bisa mengakibatkan malapetaka bagi orang yang memiliki
dan yang tidak memiliki.
Sementara itu
tanpa sepengetahuan Deny, ada sepasang tangan yang mendoakan agar Deny bisa
melewati ujian kejujuran yang sedang dihadapinya. Biar bagaimana pun ia
bertanggung jawab atas kehadiran Deny. Yakob bertekun dalam doa bagi Deny. Yakob
melihat potensi yang besar dalam diri Deny. Dilihat dari caranya bekerja,
terlihat ia bisa melakukan pekerjaan secara professional. Gereja membutuhkan
tenaga kerja seperti Deny.
--o0o—
Namun
bukan Yakob saja yang berkepentingan terhadap Deny, ada sosok tanpa kasat mata
yang menanti-nantikan Deny. Hanya bedanya Yakob berdoa agar Deny mampu
mengatasi keinginan daging untuk memiliki uang yang bukan haknya, sedangkan
mahluk roh itu berupaya agar Deny mengikuti nafsu pribadinya.
--o0o—
Pk 11 Pastor
Peter dan Ev Debora turun untuk membesuk Arman dan keluarganya. Yakob pun
memanggil Deny untuk mempersiapkan mobilnya. Deny yang sedang
terbengong-bengong langsung mengambil uang di laci tersebut, lalu secepatnya menaruh sisa pakaiannya di lemari.
Segera ia pun keluar dari kamar. Setelah ia men-starter mobil, lalu ia membuka
pintu mobil untuk Pastor Peter dan Ev Debora. Demikian pula dengan Yakob.
Pastor Peter,
Ev. Debora dan Yakob sangat terkesan. Yakob mencatatnya dalam hati.
Memang Deny ini
sebenarnya anak baik, sayang ia tidak punya uang yang cukup untuk melanjutkan
sekolah. Yakob dalam hati berjanji, kalau Deny lulus sebagai supir, maka ia
akan berusaha mencarikan dana agar Deny dapat melanjutkan pendidikan di
universitas.
“Selamat pagi
Pak , Ibu dan Kak Yakob. Kita akan pergi ke mana?” Deny bertanya dengan sopan.
“Pagi Deny. Kita
mau ke rumah sakit. Rumah Sakit Karmel tepatnya. Kamu tahu?” Pastor Peter
bertanya..
“Saya tahu Pak” Deny
bersyukur, tujuannya tempat umum. Jadi ia bisa mencapainya.
Lalu Deny mulai
membawa mobilnya dengan hati-hati sehingga terkesan agak lambat. Memang Deny
belum terlalu mahir membawa mobil. Jadi dia berusaha membawanya dengan penuh
kewaspadaan. Yakob menyadari bahwa Deny memang belum terbiasa membawa mobil,
namun ia dapat mengemudi dengan baik. Jadi hanya perlu latihan saja.
Walau tidak
cepat, namun tidak lama kemudian mobil tiba di Rumah Sakit Karmel. Setelah
memarkirkan mobil, Yakob mengajak Deny membesuk keluarga Arman. Tujuan Yakob
ada dua, yakni agar Deny mengenal keluarga Arman dan yang kedua adalah agar Deny
tidak dibiarkan sendiri dengan mobil. Mereka berempat pun lalu menuju kamar
rawat Arman.
“Pagi Pak Arman”
sapa Yakob.
“Pagi Yakob, mu shi dan shi mu” balas Arman.
“Pak Arman masih
ingat dengan Deny? Dia yang kita kenal kemarin pagi saat di pasar” Yakob mencoba
mengingatkan Arman.
“Selamat pagi
Pak Arman. Nama saya Deny” Deny memberi salam.
“Halo Deny!”
balas Arman.
“Pak Arman
bagaimana kabarnya? Deny kembali bertanya basa-basi.
“Saya sudah jauh
lebih baik. Ini karena pertolongan TuhanYesus” Arman hatinya meluap penuh suka
cita.
“Oh Pak Arman
Kristen ya?” Deny bertanya polos.
“Betul. Baru
kemarin saya berdoa minta diselamatkan. Yakob ini yang menolong saya untuk
mengenal Tuhan Yesus.”Arman berkata dengan bangga.
“Hmm….. Sungguh
Pak Arman beruntung.” Deny merasa kagum akan iman Arman.
“Ha…ha… kalau
saya belum bertemu Kristus, menghadapi kecelakaan seperti ini, saya sudah akan putus asa dan mungkin bunuh diri… Kamu
sendiri sudah percaya Kristus?”Arman ganti bertanya.
“Hmm….. belum.
Saya pernah mendengar, namun saya masih mencari …” Deny tidak melanjutkan
perkataannya.
“Deny, kamu
cobalah percaya kepada Kristus. Undang Yesus masuk dalam hatimu maka kamu akan
merasakan hadiratNya nyata dalam hidupmu. Saya sudah menunda begitu lama.
Untung tidak terlambat” Arman mencoba membagikan imannya.
“Saya akan
mendoakannya dulu” Deny tidak serta-merta menerima usulan Arman.
“Betul begitu.”
Arman setuju.
“Arman, ada hal
yang ingin kami sampaikan kepadamu.” Pastor Peter tiba-tiba berbicara.
“Eh , ada apa mu shi? Ada kejadian apa?” Arman
tiba-tiba merasa was-was.
“Hal ini tentang
keluargamu” Pastor Peter memberi isyarat agar Yakob membawa Deny ke luar.
Arman menyadari
kejadiannya pasti penting. Ia sudah mengenal Pastor Peter. Namun ia tidak enak
kalau Deny dan Yakob harus keluar.
“Sampaikan saja mu shi. Biarlah Deny juga berada di
sini. Saya akan belajar kuat menerimanya” Arman seperti tahu apa yang akan
disampaikan.
“Kemarin setelah
kamu dioperasi dan sedang tidur, Tami, Bayu dan Ayu di antar Pak Simon ke stasiun kereta untuk pulang
karena besoknya Bayu dan Ayu akan sekolah. Rencananya Tami akan datang pagi
ini. Namun semalam ada kejadian. Tami, Bayu dan Ayu mengalami penganiayaan di
rumah dan Yakob dimintai tolong. Yakob sampai di rumahmu dalam keadaan istri
dan kedua anakmu sedang terkapar tak berdaya. Rupanya mereka mendapat perlakuan
keras sehingga tubuh mereka mengalami luka” Pastor Peter diam ingin melihat
reaksi Arman. Arman menyimaknya dengan penuh konsentrasi. Menyadari Pastor
Peter berhenti, ia pun tidak sabaran.
“Apakah mereka….
Meninggal?” Arman terlihat sangat was-was.
“Puji Tuhan…..
walau luka mereka agak mengkhawatirkan, mereka semua selamat. Hanya mereka juga
sekarang dirawat di rumah sakit ini. Mungkin setelah membaik, mereka dapat
mampir kembali membesukmu!” Pastor Peter mencoba menyampaikannya tidak terlalu
langsung.
“Tuhan …maha
baik. Siapakah yang melakukannya…?” Arman suaranya bergetar. Nada sedihnya
tidak bisa disembunyikan.
“Kami belum
tahu. Semalam Tami tidak sadarkan diri setelah kami jemput. Dia hanya sempat
berkata bahwa Abah marah karena Bang Arman percaya Kristus setelah itu tak
sadarkan diri” Pastor Peter hanya bisa menyampaikan sedikit data ini.
“Hmm….. tidak
heran Abah marah. Memang Abah tidak bisa menerima hal seperti ini. Dia lebih
baik kehilangan orang dekatnya daripada mendengar hal ini…” mata Arman
berpendar. Ada titik air yang muncul.
Deny yang
melihatnya ikut merasakan kesedihan Arman. Ia tahu rasanya kehilangan
orang-orang dekatnya. Bahkan ia sendiri sekarang hidup sebatang kara di kota
Jakarta yang keras.
“Beruntung
lukanya sekarang sudah tertangani baik. Kemarin Ayu sempat mengalami kondisi
kritis. Bahkan dokter sempat berkata bahwa Ayu sudah meninggal dunia. Tanda
kehidupan sudah tidak ada lagi. Hal ini persis yang dialami Arman sendiri. Ayu
pun mengalami keajaiban. Dia bisa hidup kembali! Benar-benar mirip kejadiannya
denganmu, Arman. Pasti Tuhan ingin menunjukkan sesuatu melalui peristiwa ini”
Pastor Peter membagikan makna hal yang dialami keluarga Arman.
“Puji Tuhan…!
Kasihnya sungguh besar. TanpaNya saya sudah kehilangan keluarga saya” mulut
Arman memuji Tuhan walaupun hatinya sedih tapi ia percaya perkataan yang
diucapkan Pastor Peter.
Deny
mendengarkan dengan takjub. Ia sudah mengalami kehilangan keluarganya dan ia
sulit bangkit kembali. Bahkan sampai saat ini ia belum bisa melupakan kepahitan
yang dialami dengan musibah yang dialami keluarga dan dirinya sendiri.
“Bagaimana
mungkin Pak Arman bisa mengucap syukur? Bukankah baru saja Pak Arman menitikkan
air mata tanda kesedihannya?” Deny bertanya-tanya dalam hatinya.
“Itu pasti
karena Kristus yang Pak Arman percayai! Karena perbedaan antara Pak Arman
dengan saya sendiri hanya satu yaitu Kristus!” tiba-tiba pikiran ini
menyadarkannya.
“Ah… saya ingin
punya kekuatan seperti Pak Arman. Saya ingin bangkit dari keterpurukan.”
Peristiwa yang dialami Pak Arman membuka wawasan baru dalam dirinya.
“Betul Arman.
Walaupun dunia meninggalkan kita, tapi kita masih punya aset yang paling
berharga yaitu Tuhan Yesus Kristus. Dialah tempat perlindungan dan pertolongan
kita. Walaupun kita mungkin kehilangan keluarga kita di dunia ini, suatu kali
kita akan berkumpul kembali di sorga bila semua keluarga kita telah
diselamatkan oleh darah Kristus” Pastor Peter membenarkan.
“Mu Shi apa saya bisa melihat istri dan
anak-anak saya?” Arman ingin bertemu dengan keluarganya.
“Begini saja.
Kita akan coba minta pihak rumah sakit agar kamu sekeluarga di tempatkan di
satu kamar. Bagaimana?” Pastor Peter memberikan opsi.
“Ide mu shi bagus sekali. Maaf kalau keluarga
saya merepotkan mu shi. Hari ini saya
belum bisa berjalan, jadi mohon kesediaan mu
shi atau Yakob untuk mengurusnya” Arman merasa tidak enak hati.
“Tenang saja Pak
Arman. Akan saya urus sekarang juga” Yakob menjawab dengan cepat.
“Mu shi
saya langsung ke bagian pendaftaran ya!’ Yakob minta ijin.
Pastor Peter
mengangguk memberi persetujuan.
“Ayu Deny, kita
urus hal ini” Yakob mengajak Deny. Ia ingin mengajarkan cara mengurus
administrasi di rumah sakit.
Setelah Yakob
dan Deny keluar. Pastor Peter memberikan makanan rohani berupa renungan singkat
dan kemudian berdoa. Pastor Peter ingin memberikan kekuatan bagi hati Arman
yang baru saja mengalami guncangan. Setelah itu Pastor Peter dan Ev. Debora
meninggalkan kamar Arman untuk melihat kondisi Tami, Bayu dan Ayu.
--o0o--
“Selamat pagi
Tami, Bayu dan Ayu” Pastor Peter langsung memberi salam saat melihat mereka
bertiga di satu ruangan.
“Pagi mu shi” balas ketiganya.
Rupanya mereka
sudah siuman dan sudah bisa makan. Bahkan Ayu yang paling lemah pun sudah bisa
bangun dan makan sendiri! Luar biasa ajaib.
“Bagaimana kabar
pagi ini?” Ev. Debora gantian bertanya.
“Sudah membaik
Ibu. Terima kasih sudah datang.” Tami tampaknya lebih baik.
“Bagaimana
dengan luka-lukanya? Masih sakit?”Ev. Debora melihat memar di tubuh Tami dan
anak-anaknya.
“Masih Ibu.
Tetapi sudah jauh berkurang. Perawat sudah mengoleskan obat di luka-luka kami”
Tami memperlihatkan luka-lukanya.
“Puji Tuhan.
KasihNya atas keluarga Arman sungguh besar. Ia terus melindungi keluarganya.
Bagaimana dengan Bayu dan Ayu?” Pastor Peter kembali bertanya.
“Anak-anak sudah
mulai baik. Bayu walau masih sakit tapi sudah bisa bangun. Kata dokter yang
menangani, kami akan bisa pulang besok. Karena tinggal memulihkan diri saja” Tami
menjelaskan perkataan dokter yang belum lama membesuknya.
“Syukurlah. Luka
fisik bisa cepat berlalu, tetapi ada luka batin yang juga harus disembuhkan”
Debora mengingatkan.
“Betul Ibu.
Karena Abah sudah membuang saya sekeluarga. Jadi sekarang saya sudah bertekad
untuk mengikuti jejak Bang Arman. Kami mau menyerahkan hidup kami untuk Tuhan
Yesus juga” Tami berkata dengan tekad bulat.
“Puji Tuhan.
Rupanya peristiwa ini malah membuat keluarga Arman malah mengenal Sang
Penyelamat sejati” Pastor Peter mengucap syukur.
“Saya memilih
suami saya dibanding Abah, karena saya saat ini lebih mempercayakan hidup saya
bersamanya karena saya tahu ia tidak pernah akan melukai saya seperti yang Abah
lakukan terhadap saya” Tami menjelaskan lebih jauh.
“Walaupun demikian
saya percaya Tami tetap mengasihi Abah kan?” Pastor Peter ingin memastikan.
“Benar. Saya
tidak mungkin melupakan jasa baik Abah yang telah membesarkan saya sejak kecil
sampai saya menikah.” Tami matanya menerawang membayangkan kasih sayang yang
telah diterima dulu dari Abahnya.
“Jadi saya
percaya Tami akan terus mendoakan Abah. Janganlah membencinya karena telah
menyiksa. Bencilah kelakuannya tapi jangan orangnya. Suatu kali Abah akan
menyadari kekeliruan perlakuannya terhadap anaknya yang sangat menyayanginya”
Pastor Peter terus memberi wejangan.
Tami tertegun. Ia
terbiasa untuk diajarkan prinsip mata ganti mata, gigi ganti gigi. Kalau kita disakiti,
maka balaslah. Setidaknya jangan lagi mendekati orang tersebut.
Namun kali ini
mendapat ajaran yang sungguh berbeda. Bagaimana bisa kita tidak membenci orang
yang telah menyakiti kita? Bagaimana bisa kita malah mendoakan dan tetap
menyayangi orang yang telah menyakiti kita? Tami belum dapat mencernanya dengan
dalam. Ia hanya merasa ajaran ini sangat sesuai dengan keinginan hatinya.
Biar bagaimana
pun ia tidak mungkin membenci Abah yang telah membesarkannya.
Lagipula Tami
tahu maksud Abahnya baik dalam sudut pandangannya. Mungkin Abah mengira bahwa
Arman akan berubah setia terhadap dirinya seperti ia telah tidak setia dengan
agamanya semula. Abah mungkin ingin melindungi hidup anak dan keluarganya. Hanya
cara Abah keliru. Tidak mungkin mencapai tujuan bila menggunakan kekerasan. Bukankah
kekerasan akan berbuah kekerasan? Pastor Peter melihat Tami termenung. Ia tidak
ingin mengganggunya. Ia membiarkannya seperti itu sampai akhirnya Tami
menyadari kehadiran Pastor Peter dan Ev. Debora kembali.
“Terima kasih
Pak Pendeta. Saya merasa hati saya menjadi damai. Sebelumnya hati saya sangat
galau. Saya takut kalau saya tetap masih mencintai Abah maka Bang Arman akan
marah. Tetapi mendengar pengajaran mu shi,
sekarang saya percaya bahwa bang Arman juga tidak akan membenci Abah. Mungkin
suatu kali saya dan Abah dapat bersatu kembali. Abah dapat menerima saya dan bila
mungkin Abah malah percaya juga kepada Yesus sebagai Juruselamatnya” akhirnya
Tami menjelaskan panjang lebar hasil renungannya.
“Sungguh luar
biasa. Tami dapat menangkap intisarinya. Pasti Roh Kudus menggerakan hati Tami
sehingga tidak lagi membenci kelakuan orang yang telah menyakiti hati Tami”
Pastor Peter memuju Tami.
“Ini berkat
ajaran Pak Pendeta. Setelah sembuh, saya ingin belajar lebih banyak tentang
kasih yang sangat unik ini. Saya rasa hanya Allah sendiri yang bisa mengajarkan
kasih seperti ini” Tami sepertinya sudah dapat memahami ajaran ini lebih jauh.
“Bukan saya yang
bisa menerangi hati Tami, tetapi Roh Kudus. Banyak orang yang mendengar tentang
keselamatan dari Yesus Kristus, tetapi hanya sedikit orang yang mau
menerimanya. Jadi kalau Tami dapat memahami ajaran Yesus Kristus, berarti Tami
sudah menjadi murid Yesus. Belajarlah kebenaran firman Tuhan melalui Alkitab di
bawah bimbingan orang yang dapat diandalkan. Mintalah Roh Kudus untuk bekerja
dalam hati Tami” Pastor Peter ingin meluruskan pendapat Tami.
Banyak orang
yang mengandalkan perkataan hamba Tuhan semata tanpa memeriksa apakah ajaran
nya sesuai dengan apa yang disampaikan Allah di dalam Kitab Suci. Berapa banyak
orang yang lebih mementingkan mengajarkan pemikiran pribadi bukan pengajaran
tentang kehendak Allah sendiri. Berapa banyak hamba Tuhan yang telah
menyesatkan jemaatnya? Pastor Peter sendiri masih bergumul setiap hari akan
pelayanan dan kebenaran ajarannya. Ia tidak ingin pelayanan dan kelakuannya
menjadi batu sandungan buat jemaat yang dilayaninya. Bila terjadi demikian,
maka ia tahu hukuman terhadap pengajar-pengajar palsu akan lebih berat.
“Tami, Bayu dan
Ayu, tadi kami sudah membesuk Arman. Arman juga sedang memulihkan diri setelah
operasi kemarin. Kami bermaksud menyatukan kalian berempat dalam satu kamar
sehingga kalian bisa saling memperhatikan dan bercakap-cakap. Jadi kalian tidak
akan kesepian di sini” Pastor Peter menjelaskan rencananya.
“Terima kasih Mu Shi!” Bayu dan Ayu senang mendengar
rencana ini.
“Terima kasih Mu Shi. Maaf kami telah merepotkan Mu Shi” Tami merasa tidak enak hati
“Ha…ha…. Tentu
kami senang kalau kalian dapat bersatu kembali walau di tempat yang tidak
semestinya Namun kami percaya, kalian dapat merasakan punya keluarga yang utuh”
Pastor Peter senang usulnya bisa diterima.
Tiba-tiba
masuklah Yakob dan Deny.
“Halo Bu Tami ,
Bayu dan Ayu. Bagaimana kabarnya?” Yakob langsung menyapa ketiganya sekaligus.
“Kami sudah
lebih baik”Tami membalas.
“Syukurlah.
Nanti Pak Simon akan datang membawa salep yang mujarab untuk menyembuhkan
luka-luka luar dan dalam.” Yakob menjelaskan rencana Simon. Rupanya sewaktu
mengurus administrasi Simon menelponnya. Simon akhirnya mengetahui masalah
keluarga Arman dan kebetulan ia punya obat mujarab tersebut.
“Wah terima
kasih banyak ya..” Tami hanya dapat bersyukur. Walau ia sakit, tapi perhatian
orang-orang dari gereje GeYeSKu membuat hatinya hangat.
“Jangan
dipikirkan Bu. Sesama umat percaya harus saling menolong. Bahkan kita juga
harus menolong orang lain tanpa memandang agama, ras atau pun hal lainnya.
Menolong orang dalam kesusahan merupakan tugas mulia agar kita dapat membalas
kebaikan Tuhan Yesus yang telah menebus kita dengan darahNya sendiri” Yakob
berusaha menentramkan hati Tami.
Lagi-lagi Tami
merasa tertegun. Bukankah ini adalah ajaran yang mulia? Menolong orang yang
berbeda kepercayaan, bukan malah membuat sulit seperti yang banyak didengarnya
selama ini. Hatinya benar-benar mantap mengikuti jejak suaminya.
“Yakob,
bagaimana dengan urusan administrasi untuk memindahkan Arman agar dapat menjadi
satu dengan istri dan anaknya?” tiba-tiba Ev. Debora melontarkan pertanyaan
yang didorong keingintahuannya.
“Ha..ha.. sampai
lupa menyampaikannya. Masalah administrasi sudah selesai. Sebentar lagi Pak
Arman dapat berkumpul dengan Ibu Tami , Bayu dan Ayu” Yakob menjelaskan
intinya.
“Hore… ayah akan
bersama kami lagi” Bayu senang mendengarnya.
“Benar Kak. Kita
sekeluarga akan berkumpul lagi. Ayu rindu dengan ayah” Ayu yang masih kecil
memang sangat sayang dengan papanya itu.
Bayu dan Ayu
yang masih kecil, tiba-tiba merasa penyakit nya seperti sembuh. Baru semalam
mereka menderita akibat ulah kakeknya, sekarang mereka seperti sudah pulih
kembali .
“Oh iya,
sekalian saya perkenalkan. Ini Deny. Ia yang menjadi supir cadangan selama Pak
Arman tidak dapat mengemudi” Yakob menjelaskan.
“Halo Bu Tami,
Bayu dan Ayu” Deny mencoba menyapa dan bersikap ramah.
“Halo Deny.
Terima kasih sudah mau datang” balas Tami.
“Sama-sama. Saya
kebetulan diajak Kak Yakob. “ Deny menjelaskan.
“Kak Deny, nanti
kalau kami sudah sembuh, kita main bersama ya?” Bayu tiba-tiba ikut
bercakap-cakap. Mungkin ia melihat Deny usianya tidak beda jauh.
“Eh… Boleh
juga.” Deny hanya bisa menjawab singkat.
Ia takut Yakob
atau Pastor Peter melarangnya. Namun setelah menunggu sejenak, Pastor Peter dan
Yakob tidak menolaknya sehingga Deny lebih berani.
“Bayu dan Ayu
cepat sembuh ya. Saya senang punya orang
yang dapat saya anggap sebagai adik saya sendiri” Deny dengan polos
mengungkapkan isi hatinya. Ia sudah lama mengidam-idamkan punya adik.
“Baik Kak” jawab
Bayu dan Ayu serentak.
Deny tersenyum.
Tiba-tiba pintu
kamar terbuka kembali.
Kali ini ada
beberapa perawat yang datang berkunjung. Mereka membawa sebuah ranjang yang
mereka dorong masuk ke dalam. Seraut wajah yang mereka kenal, tiba-tiba
menyampaikan pesan dengan ringan.
“Halo semua.
Saya sekarang pindah ke mari” Arman menyapa.
“Bang…!” Tami
tak bisa bicara. Hatinya sangat bersukacita.
“Ayah…!” Bayu
dan Ayu pun serempak membalas dengan semangat.
“Ha…Ha… Kita
susah berkumpul di rumah. Sekarang malah berkumpul di rumah sakit. Biar
bagaimana pun kita bisa berkumpul. Maaf Ayah belum bisa bangun!”Arman tertawa
gembira. Di tengah duka-cita yang dilanda keluarganya. Ia merasa bebannya ringan
saat berada bersama seluruh anggota keluarganya.
“Mu shi, shi mu, Yakob dan Deny… selamat
bertemu kembali” Arman tak lupa menyapa para penolongnya.
“Nah Arman
sepertinya kami harus kembali dulu ke gereja. Nanti kami akan datang kembali.
Biarlah kalian semua melepas rindu dahulu” Pastor Peter minta diri. Ia melihat
keluarga kecil ini ingin berbagi cerita, jadi ia tidak ingin mengganggu mereka.
“Terima kasih
banyak mu shi semuanya. Tanpa
pertolongan mu shi semua kami tidak
bisa bersatu” Arman bersyukur.
“Terima kasih
Pak Pendeta dan Ibu, Yakob dan Deny” Tami juga bersyukur.
“Makasih ya
semuanya… Datang lagi ya” Bayu dan Ayu juga menyampaikan rasa syukur mereka.
“Ha…Ha… Tentu
kami akan kembali” Yakob membalasnya dengan senang. Dia terharu kedua anak Pak
Arman bisa mengucapkan kalimat yang merindukan kedatangan mereka.
Berarti di
kemudian hari , keduanya akan lebih mudah dibimbing. Pastor Peter, Ev. Debora,
Yakob dan Deny kemudian meninggalkan rumah sakit. Saat meninggalkan rumah
sakit, mereka bertemu dengan majelis Simon. Seperti yang sudah dijanjikan ia
membawa salep untuk mempercepat pemulihan luka luar dan dalam yang sudah teruji
khasiatnya.
Yakob
memberitahu kamar keluarga Arman dan menjelaskan kepada pemindahan kamar Arman
dengan menggabungkannya dengan keluarganya. Yakob pun sempat mem-broadcast nomor kamar keluarga Arman ke group BB nya
sehingga para jemaat dapat mengetahui bila ingin membesuknya.
Deny kembali
mengemudi mobil kembali ke gereja. Kali ini sudah lebih menguasai mobil dan bisa
dengan cepat kembali. Memang bagi pengemudi yang sudah lama tidak mengemudi,
bisa terkesan kaku bila membawa mobil.
--o0o—
Sesampainya di
gereja, Deny memanggil Yakob untuk bicara secara pribadi. Yakob merasa heran
atas permintaannya , namun ia pun memenuhinya.
“Kak Yakob, saya
minta maaf terlebih dahulu” Deny membuka dengan kalimat penyesalan yang membuat
Yakob heran.
“Memang ada apa Deny?
Kok jadi misterius sih”
“Begini Kak.
Tadi sewaktu membereskan kamar sebelum pergi ke rumah sakit, saya menemukan
uang Rp 100.000. Saya tidak tahu itu punya siapa, tapi tadi saya sempat
terpikir untuk memilikinya. Buat saya nilai itu sangat besar, apalagi saya
memang tidak punya uang bahkan untuk makan sekalipun! Tapi saya menyadari
kelemahan saya ini dan tidak ingin mengulang kesalahan saya!” Deny berkata
dengan tegas.
“Oh begitu.
Memang pasti uang itu ada yang punya. Hanya tidak jelas siapa yang memilikinya.
Begini saja, kita akan tanyakan pada
orang-orang yang pernah menempati kamar itu. Kalau ia tidak merasa kehilangan,
berarti uang itu menjadi milikmu! Yang pasti kamu sudah menang melawan
keinginan untuk memiliki barang orang lain” puji Yakob.
“Baiklah. Saya
berikan uang ini kepada Kak Yakob saja” Deny yang tadi sempat mengambil uang
ini sekembali dari rumah sakit membuka dompetnya dan menyerahkan selembar uang
Rp 100.000 kepada Yakob.
Yakob pun
menerimanya. Deny merasa lega. Beban berat yang melandanya tadi sudah
terangkat. Walaupun sebagian dirinya menyesali keputusannya, namun ia tahu itu
adalah keputusan yang benar. Ia tidak mau lagi diperbudak oleh nafsu serakahnya
walau dengan alasan apa pun. Yakob juga merasa lega. Satu lagi ujian Yakob
telah dilewati. Setelah ujian kerajinan dan kebersihan, sekarang ujian
kejujuran. Belum lagi ujian ketrampilan mengemudi. Yakob senang semuanya sudah
berhasil dilewati.
Sementara
itu roh jahat yang diutus untuk mengawasi dan menggoda Deny merasa ketakutan.
Tugas yang diembannya untuk menjatuhkan Deny telah gagal. Ia tahu konsekuensi
berat yang harus ia terima atas kegagalannya itu. Ia sudah melihat banyak
contoh dari rekan-rekannya yang gagal melaksanakan tugas. Namun hal itu tidak
bisa dihindari.
“Oh iya.
Sebentar lagi saya mau membuat bubur untuk Ibu Amy. Saya ingin meminta tolong
kamu untuk membawakan bubur ini untuk Ibu Amy. Alamatnya di Jalan Teguh no.
11c.” Yakob meminta bantuan.
“Baik Kak”
Dengan cepat
Yakob menyiapkan beras dan bahan-bahan lain yang dibutuhkan untuk membuat
bubur. Tidak lama kemudian ia mulai meramunya. Kali ini ia mencoba bubur tiga
rasa. Maksudnya bubur yang terdiri dari 3 macam daging yakni ikan, ayam dan
udang. Yakob membuatnya cukup banyak
termasuk untuk dirinya dan Deny. Deny menatap kagum saat Yakob menyiapkan bubur
tersebut. Ia sendiri hanya bisa memasak supermie.
“Nah sebelum
pergi, lebih baik kamu makan dulu.” Yakob langsung mengambilkan semangkuk bubur
untuk Deny.
“Wah saya masih
kenyang Kak” Deny memang telah memakan 3 porsi supermie tadi.
“Kan bubur ini
encer. Jadi kamu makan juga tidak terasa kenyang lagi. Ayo kita makan bersama”
Yakob membujuknya.
“Hmm…. Baiklah
Kak.” Akhirnya Deny menyerah.
Mereka berdua
menikmati bubur buatan Yakob.
“Enak sekali.
Kakak pintar membuatnya!” puji Deny.
“Terima kasih.
Semoga Ibu Amy dan Jonas menyukainya juga” Yakob pun menjelaskan tentang
keduanya.
Akhirnya selesai
juga bubur masing-masing.
“Nah biar Kakak
yang mencuci mangkoknya. Kamu pergi ke rumah Ibu Amy. Dan ini rantang bubur
yang perlu kamu bawa. Minta mereka makan secepatnya agar masih hangat” Yakob
menjelaskan secara rinci.
“Terima kasih ya
Kak. Maaf saya telah merepotkan Kakak!” Deny merasa tidak enak hati dengan
kebaikan Yakob.
“Ah tidak lah.
Jangan berkata begitu!” Yakob mengelus rambut Deny. Deny merasa nyaman.
“Oh iya, saya
ingin menitip uang untuk Ibu Amy juga.” Lalu Yakob mengeluarkan amplop putih.
Diberikannya
amplop itu kepada Deny.
--o0o—
Deny pun
mengantarkan bubur dan uang itu ke Ibu Amy. Tidak sulit ia mencari rumah Ibu Amy.
Diketuknya pintu rumah Ibu Amy. Sesosok remaja datang membukakan pintu.
“Mau cari
siapa?” Jonas menyapa.
“Mau mencari Ibu
Amy. Saya diutus Kak Yakob untuk membawa bubur buat Ibu Amy dan Jonas” Deny
menjelaskan.
“Oh begitu.
Silahkan masuk.” Jonas membukakan pintu rumahnya.
Deny masuk
sambil menyerahkan rantang ke Jonas. Jonas pun menerima rantang dari Deny dan
memindahkan isinya ke mangkuk di rumahnya.
“Ma… Kak Yakob membawakan
bubur untuk mama” Jonas berkata dengan keras.
“Wah… Yakob
benar-benar perhatian.” Amy keluar kamarnya dan melihat Deny.
“Oh ini yang
membawanya. Kamu siapa? Terima kasih ya” Amy menyapa Deny.
“Saya Deny Bu. Saya diminta Kak Yakob membawa bubur dan
amplop ini” Deny mengeluarkan amplop putih yang dititip Yakob.
“Apa ini”? Amy
heran.
“Saya kurang
jelas Bu. Mungkin ada catatan yang menjelaskannya” Deny mengingatkan.
“Benar juga.!”
Ibu Amy pun langsung membuka amplop.
Tiba-tiba
tersembul keluar beberapa lembar uang Rp 100.000. Ada juga kertas putih yang
berisi pesan. Ibu Amy kemudian mengambil dan membaca pesannya. Ia merasa
terharu. Rupanya ia mendapat bantuan dari gereja. Bantuan ini diharapkan dapat
digunakan selama Ibu Amy dalam masa pemulihan. Ibu Amy kemudian mengambil uang
Rp 10.000 lalu diberikan kepada Deny.
“Terima kasih
Nak Deny. Ini untuk Deny yang sudah mengantarkan bubur dan amplop ini” Ibu Amy
memang orang yang murah hati. Dia sudah menerima anugerah dan bantuan. Ia pun ingin
membagikannya untuk Deny.
“Terima kasih
Ibu. Ini tugas saya. Tak boleh saya mengambil uang tip.”Deny menolak.
“Baiklah. Semoga
Tuhan membalas budi baikmu” Amy memasukkan kembali uang tersebut.
“Kalau begitu
saya sekarang pamit dulu” Deny minta diri.
‘Terima kasih
sekali lagi ya” Jonas berkata sambil mengantar Deny keluar rumahnya.
Deny dengan
cepat sudah kembali ke gereja. Dilihatnya alat-alat makan sudah dicuci oleh
Yakob. Yakob masih membereskan dapur. Ia ingin agar dapur tetap bersih walaupun
untuk itu ia harus mengeluarkan tenaga ekstra. Yakob memang penyuka kebersihan.
“Sudah pulang Deny?
Bagaimana kabar Ibu Amy dan Jonas?” Yakob menyapa.
“Mereka
baik. Kak, tadi Ibu Amy sempat mau
memberikan saya tip. Tapi saya tolak” Deny tanpa diminta menjelaskan. Ia
sekalian membawa rantang yang tadi berisi bubur ke dapur untuk dibersihkan.
“Eh… biar saya
sekalian bersihkan” Yakob menyambut rantang yang dibawa Deny.
“Biar saya saja
Kak.” Deny merasa tidak enak hati.
Yakob baginya
semacam dewa penolong. Orang baik dan patut menjadi teladannya.
“Sudah tidak
apa-apa. Sekalian saya saja yang cuci. Nanti giliran kamu. Ngomong-ngomong
mengapa kamu menolak tip dari Ibu Amy?” Yakob tertarik ingin mendengar alasan Deny.
“Ada beberapa
alasan, saya tidak ingin menerima tip” Deny mulai menceritakan alasannya.
“Mengapa?” Yakob
penasaran.
“Pertama saya
melihat Ibu Amy orangnya sederhana. Ia bukan orang yang berada. Jadi pasti ia
membutuhkan uang itu juga. Saya tidak ingin mendapat uang dari orang-orang seperti
Ibu Amy. Bukan memandang rendah tapi karena mereka memang juga membutuhkan.
Saya tahu bagaimana rasanya tidak punya uang” Deny berbicara sambil merenung.
“Bagus sekali
prinsipmu. Kamu tidak membabi buta dalam menerima uang” Yakob senang mendengar alasan
Deny.
“Kedua. Saya
baru mulai bekerja hari ini. Saya belum tahu kebiasaan bekerja di sini. Apakah
menerima tip diperbolehkan atau tidak?” Deny rupanya punya etika bekerja
sendiri.
“Oh begitu.
Setahu saya, tidak ada aturan yang melarang menerima tip. Hanya prinsipnya, ada
atau tidak ada tip tidak boleh mempengaruhi kualitas pekerjaan. Kalau sulit
menjalankannya, maka ada baiknya tidak menerimanya” Yakob memberi pendapatnya
sendiri.
“Itu dia. Saya
tidak ingin tip mempengaruhi kualitas pekerjaan saya.” Deny menjawab seperti
seorang pekerja professional.
“Ketiga. Saya
ingin memiliki teman dan sahabat bahkan bila mungkin ingin mendapatkan keluarga
angkat. Entah mengapa saya merasa Ibu Amy dan Jonas adalah orang-orang yang
baik. Saya ingin mengenal mereka dengan baik.” Deny rupanya ingin memiliki
keluarga pengganti setelah orang tua dan saudaranya meninggal dalam kecelakaan
pesawat.
“Kalau yang ini,
kamu bukan saja memperoleh 1 keluarga baru, tetapi semua jemaat Tuhan adalah
satu keluarga. Kita semua saling bersaudara secara rohaniah. Jadi kamu bisa
memanggil orang-orang sepantaran kamu dengan menyebutnya ‘bro’” Yakob dengan
senang hati menjelaskan.
“Wah luar biasa
sekali. Saya senang punya keluarga besar. Saya rindu dengan keluarga saya” Deny
kembali termenung.
“Deny, jadikan
kami saudaramu. Ceritakan kepada kami masalah-masalahmu. Bila mungkin, kami
akan membantunya” Yakob menawarkan.
“Terima kasih
Kak. Saya berharap dapat bekerja di sini secara tetap. Saya senang dengan
suasana kerja di sini” Deny yang baru beberapa jam rupanya sudah punya
pandangan sendiri.
“Syukurlah kalau
kamu bisa menyesuaikan diri di sini. Saya juga senang sekali kamu bisa cocok
bekerja di sini.” Yakob senang dengan prinsip Deny.
“Hmm…. Kak.
Bolehkah saya minta tolong Kakak?” Deny sepertinya punya beban.
“Tentu saja Deny.”
Yakob senang dia diberi kepercayaan oleh Deny.
“Kak, saat ini
saya tidak punya uang untuk membeli makanan dan keperluan pribadi lainnya. Saya
tidak tahu bagaimana mengatasinya” Deny mengutarkan masalahnya.
“Betul juga.
Kalau kamu punya uang, tentu kamu tidak kesulitan untuk membeli makanan. Begini
saja, selama kamu belum punya uang , kita akan makan bersama. Saya akan berbagi
makanan denganmu. Karena saya sendiri tidak punya uang berlebih. Biasanya uang
yang saya terima habis untuk saya sendiri dan menolong orang-orang lain” Yakob
berterus terang.
“Terima kasih
banyak Kakak. Tanpa pertolongan Kakak,
saya tidak tahu apakah saya bisa hidup di jalan benar. Nanti setelah menerima
gaji, saya akan membayarnya” janji Deny.
“Ha…ha… tidak
perlu. Saya bukan meminjamkan uang, tetapi saya akan berbagi apa yang saya
punya denganmu. Jadi selama saya punya, akan saya bagikan. Kecuali kalau uang
saya sudah habis.” Yakob mengutarakan apa adanya.
“Maaf, memang
Kakak juga suka tidak punya uang?” Deny merasa heran.
“Betul. Uang
saya memang tidak banyak. Kalau ada yang butuh bantuan, saya akan berbagi dengannya
seperti denganmu” Yakob mengutarakan kondisinya kembali.
“Kalau Kakak
tidak punya, bagaimana Kakak akan makan?” Deny jadi penasaran.
“Sama seperti
kamu. Menahan lapar atau mengurangi jatah makan. Tetapi bersyukur ada jemaat di
sini yang suka memberikan supermie. Jadi Kakak simpan saja. Kalau sedang tidak
punya uang, Kakak akan masak supermie.” Yakob dengan sederhana mengungkapkan
cara mengatasi masalahnya.”Jadi kita sama saja” Yakob mengangkat tangannya
untuk melakukan hi-five.
Deny yang
mengetahui maksud Yakob kemudian mengangkat tangannya dan menyambutnya. Mereka
berdua tampak bahagia. Di dalam ketiadaan mereka memiliki. Di dalam kekurangan
mereka menikmatinya dengan berbagi. Menghadapi masalah yang sepertinya
sederhana, mereka menjadi satu. Kesulitan memang bukan untuk ditangasi tetapi
diatasi. Tidak perlu muluk-muluk.
“Jadi selama ini
Kakak sering makan supermie?” Deny jadi ingin tahu.
“Ha…ha… kamu
jadi kepo ya…. Puji Tuhan, sampai saat ini Kakak tidak pernah kekurangan
makanan. Dengan berhemat, Kakak dapat mencukupi kebutuhan gizi. Kakak tidak
sering makan supermie.” Yakob membuka rahasia dapurnya.
“Jadi mulai sore
ini menu makanannya apa nih Kak?” Deny ingin menggoda Yakob.
“Inginnya sih
makan nasi goreng Bang Rocky. Kamu belum kenal kan?” Yakob memang ingin bertemu
kembali dengan Rocky yang terkenal dengan “Nagoya Baki”.
“Wah asyik. Kita
akan masak goreng” Deny dengan muka sukacita menyambutnya.
“Ngomong-ngomong,
Kakak sudah menghubungi orang yang menempati kamar kamu sebelumnya. Tadi Kakak
tanyakan apakah ia kehilangan atau ketinggalan uang. Menurutnya , ia sama
sekali tidak ketinggalan atau kehilangan uang. Berarti sekarang uang ini Kakak
kembalikan ke kamu. Kamu dapat menyimpan dan memakainya.” Jelas Yakob sambil
menyodorkan uang Rp 100.000 an yang diambil dari dompetnya.
“Wah sungguh
rejeki. Saya bisa membeli keperluan pribadi. Saya ingi membeli sikat gigi,
odol, sabun mandi, sabun cuci dan lain-lain.” Deny menerimanya dengan penuh
sukacita.
Yakob dalam hati
juga mengucap syukur. Tidak sia-sia ia mengorbankan uang Rp 100.000 nya sebagai
modal Deny untuk keperluan sehari-hari. Deny tidak tahu bahwa sebelum Deny,
ialah yang tinggal di situ. Jadi mudah sekali menghubunginya kan?
Yakob sendiri
tidak punya banyak uang. Kalau mengandalkan kompensasi yang diberikan oleh
gereja, tentu tidak akan cukup. Beruntung gereja memberikan ijin bagi para
hamba Tuhan yang melayani untuk menyampaikan khotbah di gereja lain, sehingga
ia tidak mengandalkan apa yang diterima dari gereja. Selama ini ia tidak pernah
kekurangan. Walaupun ia tidak punya berlebihan, tapi semuanya cukup. Itulah
pemeliharaan Tuhan. Providensia.
Allah selalu
mencukupi anak-anakNya. Tidak berlebihan, tapi berkecukupan. Kalau sekarang ia
harus berbagi dengan Deny, itu semua membuatnya merasa berarti. Memang Yakob
sudah memahami makna hidupnya. Ia akan bekerja dan melayani Tuhan dengan
sepenuh hatinya. Tidak ada hal yang dapat menggoyahkannya.
“Kalau begitu
sekarang, Kakak akan bersiap-siap dulu ya. Sebentar lagi Kakak harus mengajar
di SeYeSKu” Yakob pamit untuk mereview apa yang akan disampaikan kepada para
siswa sekolah.
Satu per satu
masalah selesai. Bukankah hidup itu indah? Bersama Dia dan berada dalam
hadiratNya pasti puas!
-o0o-

No comments:
Post a Comment